Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 137



"Pagi semua" Sapa Rena saat bergabung di meja makan.


"Pagi sayang." Jawab Rani sembari meletakkan susu di depan Rena. Sedangkan Ayah dan kakaknya hanya memberi senyuman yang hangat.


"Apa kau ada acara hari ini ?" Tanya Jaya saat melihat putrinya yang sudah terlihat rapih.


"Iya, aku sudah berjanji pada Tika untuk menemuinya kalau aku sudah tiba, hitung-hitung untuk menebus karna tidak bisa mengikuti acara bridal shower-nya waktu itu." Jelas Rena.


Rani dan Jaya terlihat mengangguk.


"Jadi, kapan kamu punya waktu untuk Bunda ?" Tanya Rani dengan wajah memelas.


Membuat Rena tertawa kecil Melihatnya.


"Nanti, kalau acara kakak sudah selesai. Lagipula aku juga berencana ingin mengajak Bunda berlibur ke London." Janji Rena, mencoba menghibur Ibunya. Ia memang sudah merencanakan hal ini sejak lama, mengingat selama ini ia tidak pernah punya waktu untuk Ibundanya.


Rani yang mendengarnya seketika merasa senang dengan mata yang berbinar.


"Benarkah ?"


"Emmm." Jawab Rena dengan anggukan kecil yang disertai dengan senyuman.


"Apa kau tidak akan mengajak Ayah ?" Tanya Jaya terlihat cemburu.


"No. Ini hanya untuk perjalanan wanita." Jawab Rena.


Rani yang mendengarnya hanya bisa tertawa dan kemudian memukul pelan pundak suaminya.


"Sabar ya sayang."


Atau, bagaimana kalau Ayah juga melakukan perjalanan bersama Rendy ? bukankah sudah lama kalian tidak liburan bersama ?" Tanya Rani memberi saran.


Jaya terlihat ingin mengembangkan senyum, sepertinya yang dikatakan Istrinya memang ada benarnya. Namun seketika harapannya pupus saat mendengar penolakan cepat dari Rendy.


"Tidak, maaf ya yah. Untuk dalam waktu dekat ini, itu tidak mungkin."


Jaya menaikkan alisnya sedikit kesal. Dia merasa dirinya juga butuh liburan bersama keluarga.


"Kenapa ?"


"Ayolah Ayah, dua hari lagi aku akan menikah. Aku tidak mungkin menghabiskan waktu berbulan maduku bersama Ayah." Jelas Rendy.


Rani ingin kembali tertawa. Tapi, saat melihat suaminya menghela nafasnya kasar. Ia menjadi tidak tega.


"Kalau begitu Ayah berangkat kerja dulu. Dan kamu, cepat selesaikan pekerjaanmu kalau ingin mendapatkan izin berbulan madu." Ucap Jaya menatap ke arah Rendy masih dengan wajah kesalnya.


"Siap.. Ayah !!" Jawab Rendy mengangkat tangannya memberi hormat.


Rani dan Rena hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi wajah Jaya yang memelas.


•••


Hotel Royal.


Tika dan Rena sedang bercengkrama ria sembari menikmati hidangan-hidangan yang sudah di siapkan oleh pihak hotel atas perintah Rendy.


Ya, Hotel Royal adalah milik Atmajaya yang saat ini di kembangkan oleh Rendy.


"Kau tahu ? aku masih tidak percaya bahwa kau dan kak Rendy akan menikah." Ucap Rena sembari menikmati segelas wine di tangannya.


Tika yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil, mengingat bagaimana Rendy berusaha mati-matian mendekatinya.


Hingga ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan baru saja masuk.


"Aku sudah tiba."


"Benarkah ? baiklah, segera kesini, aku sudah sangat merindukanmu." Balas Tika dengan cepat.


"Siapa ?" Tanya Rena.


"Emm, seseorang yang sudah lama tidak kau temui." Jawab Tika sumringah.


Rena mengerutkan alisnya.


"Siapa ?"


Baru saja Tika ingin mengatakan, seseorang tiba-tiba membuka pintu, refleks mereka berdua menatap ke arah sumber suara.


Tika terlihat sangat bahagia saat melihat wanita yang kini berjalan ke arah mereka. Berbeda dengan Rena, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.


"Anggi.." Pekik Tika kemudian menghamburkan pelukan pada wanita tersebut.


Anggi tersenyum dan membalas pelukan sahabatnya.


"Ini untukmu." Ucap Anggi memberikan sebuah paper bag yang berlogo Hermes saat Tika melepaskan pelukannya.


"Waaaah.. terima kasih." Ucap Tika bersemangat. Lagipula siapa yang tidak bersemangat dan gembira saat di beri hadiah semahal itu ?


"Apa kau menyukainya ?" Tanya Anggi.


"Emmm.." Jawab Tika dengan anggukan.


Rena yang sedari tadi duduk, akhirnya berdiri. Tapi bukan untuk menyambut kedatangan Anggi, melainkan ingin pamit untuk pergi.


"Tik, maaf aku tidak bisa tinggal lebih lama. Ada hal yang harus aku lakukan." Ucap Rena sembari meraih Hand Bag nya.


Anggi yang melihat ekspresi Rena yang seperti itu, seketika diam, merasa tidak enak karna kedatangannya tidak di sambut baik oleh sahabatnya itu.


"Tapi Ren, Anggi baru saja datang. Tidak bisakah kau tinggal sedikit lebih lama ?" Tanya Tika sedikit merengek.


Rena memaksakan senyumnya menatap Tika.


Tika menekuk bibirnya merasa kecewa.


"Ya sudah, aku pergi." Ucap Rena memeluk sebentar pada Tika kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Tika yang sudah kehilangan moodnya hanya bisa merebahkan bokongnya dengan kasar di sofa sesekali menghela nafasnya secara kasar.


Sedangkan Anggi, dia yang ingin masalah diantara dirinya dan Rena segera selesai memberanikan diri dan berusaha mengejar Rena.


"Ren.." Sapanya.


Rena dengan refleks berbalik menatap wanita yang tadi di hindarinya.


"Anggi.."Lirihnya.


Untuk sesaat Anggi menatap dalam mata Rena, mencari tahu apa yang sebenarnya saat ini Rena rasakan terhadapnya, apakah benci ? kecewa ? ataukah..


Dengan refleks ia menjatuhkan kedua lututnya dan tertunduk. Sedangkan Rena hanya bisa terbelalak bingung dengan apa yang di lakukan Anggi.


"Maafkan aku Ren, sungguh, aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti atau mengkhianatimu." Ucap Anggi dengan suara yang bergetar sedikit tercekat.


"Anggi, apa yang kau lakukan ?!" Seru Rena dan membantu Anggi untuk segera berdiri.


Baru saja ia berdiri, dengan cepat ia memeluk Rena dengan erat.


"Ren, tolong maafkan aku." Pintanya.


Beberapa detik berlalu begitu saja, Tika yang tadinya juga menyusul kepergian Anggi hanya bisa terhenti, menyaksikan di balik pintu, karna tidak ingin mengganggu momen keduanya.


"Gi, kau tidak bersalah, seharusnya aku yang meminta maaf lebih dulu padamu. Maafkan aku." Ucap Rena kemudian membalas pelukan sahabatnya dengan sangat erat. Keduanya akhirnya menangis dengan bahagia.


Hoaaaaa... hiks hiks..


Keduanya sedikit terkejut mendengar suara Tika yang menangis histeris, mereka akhirnya melepaskan pelukan dan menatap ke arah sumber suara yang memperlihatkan Tika yang sudah berdiri di ambang pintu dengan Mike up yang sudah berantakan.


Keduanya tertawa geli saat melihat Tika seperti itu.


"Dia tidak pernah berubah." Lirih Anggi.


"Emm, selalu saja bersikap berlebihan." Jawab Rena membenarkan.


Mereka akhirnya berjalan menghampiri sahabat satunya itu kemudian berpelukan. Akhirnya ketiga sahabat itu kembali bersatu setelah sekian lama.


.


.


.


Tika yang memangku bantal sofa dengan kedua tangan menopang dagunya, sesekali tersenyum menatap kedua sahabatnya yang kini duduk di depannya dengan bergandengan tangan.


"Gi, maafkan aku. Sebenarnya aku sangat malu bertemu denganmu." Ungkap Rena dengan wajah yang tertunduk.


"Kenapa minta maaf ? dan kenapa harus malu ? kau tidak bersalah dan tidak melakukan sesuatu yang memalukan." Ujar Anggi.


Rena tersenyum kecut.


"Tetap saja aku merasa bersalah dan malu karna dulu telah mencurigaimu dan berfikir kalau kau telah mengkhianatiku. Terlebih, aku juga sempat--" Rena tidak dapat melanjutkan kalimatnya, ia teringat kembali bagaimana dirinya memberi tamparan yang sangat keras di wajah sahabatnya kala itu.


Anggi yang mengerti hanya bisa tersenyum,kemudian memeluk kembali sahabatnya.


Tika yang tadinya merasa bahagia kini terlihat cemberut saat merasa dirinya diacuhkan.


"Hei, hari ini adalah pestaku, mengapa jadi tempat reuni kalian ?" Serunya mendengus kesal.


Lagi-lagi Anggi dan Rena hanya bisa tertawa.


"Siapa suruh kau duduknya disitu ?" Tegur Anggi dengan tawa.


Tanpa menunggu lama, Tika segera beranjak dan berpindah duduk di antara keduanya.


"Hei, aku masih merindukan Rena." Bentak Anggi.


"Apa kau hanya merindukan Rena ? tidakkah kau merindukanku juga ?" Seru Tika tak terima.


Ya, seperti itulah dia, selalu bertingkah berlebihan.


"Sudahlah, jangan bertengkar terus. Sebaiknya kita menikmati saja hari terakhir lajang Tika hari ini."Ucap Rena menengahi.


Tika dan Anggi akhirnya tertawa, dan berikutnya mereka terus bercengkrama menceritakan kisah-kisah yang sudah mereka lalui di Negara yang berbeda.


"Ohya Ren, jadi kapan kau juga berencana untuk menikah ?" Tanya Tika kemudian.


"Entahlah." Jawab Rena singkat.


"Bukankah ini lucu ? padahal kau yang lebih dulu berencana untuk menikah, bahkan kau sudah di jodohkan saat kita SMA, tapi sampai saat ini malah kau yang belum menikah." Celetuk Tika.


Anggi yang mendengarnya seketika membekap mulut sahabatnya yang ceplas-ceplos itu.


Rena yang mendengarnya hanya bisa tersenyum paksa, tapi setelah melihat perilaku kedua sahabatnya itu, dia kembali tertawa kecil.


"Tidak masalah kau bisa menikah lebih dulu. Aku dan Anggi akan menyusul nanti." Ucap Rena.


Anggi sedikit tertegun di tempatnya, sekali lagi ia merasa bersalah pada Rena. Tika yang sudah terbebas dari Anggi segera angkat bicara.


"Ren, kau harus tahu, Anggi sebenarnya sudah menikah."


Rena mengangkat alisnya, matanya sedikit membulat tak percaya, bagaimana bisa dia melewati banyak hal tentang Anggi ?


"Benarkah ?" Tanyanya sayu. Dia tidak tahu apakah dia harus turut gembira mendengarnya,ataukah harus merasa sedih karna tidak ada saat sahabatnya itu melakukan janji sakral pada lelaki pilihannya.