
"Rangga.. !" Jerit Monica
Rangga yang melihat beberapa pengawal itu memberi ruang untuk Monica, Ia mengerti, kalau Atmajaya telah melakukan sesuatu di belakangnya.
Dengan terpaksa ia melepas genggaman tangannya dari kekasihnya itu dan segera pergi menghampiri Monica.
Monica yang melihat Rangga berlari kecil datang menghampirinya, merasa sedikit senang, karna akhirnya Rangga masih tetap mempedulikannya.
"Rangga !" Lirihnya di tengah isakan tangisnya.
"Monica." Sapa Rangga memegang kedua bahu milik Monica.
Dengan senyum kebanggaannya Monica menatap kasih lelaki di hadapannya kini.
"Rangga, aku tahu, kau masih memperdulikanku !"
Namun, sesuatu yang tak pernah ia fikirkan kini terjadi. Ia melihat mata lelaki itu berbeda, tak ada kasih ataupun cinta. Yang ada hanyalah tatapan menyalang penuh amarah.
"Rangga !" Lirihnya sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Camkan ini Monica ! jika pernikahanku gagal karna dirimu, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu ataupun anakmu !" Ancam Rangga
Jadi sekarang aku mohon pergilah dari sini sekarang juga, dan berhentilah membuat keributan !" Imbuhnya, kemudian berdiri dan berbalik berjalan meninggalkan Monica yang masih terduduk tersungkur memegangi perutnya yang sedikit buncit.
"Tidak, tidak, tidaaaaaak !" Histerisnya.
"Rangga ! jangan tinggalkan aku !" Jeritnya di campur isakan tangis.
"Monica ! sudah cukup !" Hardik Aberald. Ia merasa malu karna ulah dari gadis itu.
Dimana harga dirimu ! apa kau sudah tidak memiliki rasa malu ? Rangga tidak pernah mencintaimu ! tapi kau selalu saja mendekatinya bahkan sampai saat ini.
Kau telah membuat keributan di hari kebahagiaan putraku ! jika aku memiliki putri sepertimu, maka aku pasti akan sangat malu dan akan membuangnya."
Dengan tatapan menyalang di penuhi air mata yang berlinang, Monica meremas erat pakaiannya.
"Baiklah !"Lirihnya
"Rangga ! bagaimana bisa kau menikahi wanita itu sedang kau telah merusak wanita lain ?
Aku yang sudah menghabiskan waktuku dengan dirimu,
Aku telah mengorbankan segalanya,
Aku yang lebih dulu mencintaimu,
Tapi kau malah memilih wanita itu ?!" Jeritnya menjadi-jadi.
"Diamlah Monica !" Hardik Rangga. Namun, dirinya tak bisa menampik,kalau di hati kecilnya, ia merasa iba melihat Monica yang kini terlihat berantakan dengan memegangi perutnya.
"Tidak !" Jawabnya
Harga diri ? bahkan putramu juga tidak memiliki harga diri, setelah menghamiliku, lantas ia tidak mau bertanggung jawab dan malah menikah dengan wanita lain.
Dan rasa malu ? ya, aku kehilangan rasa maluku karna ingin mempertahankan hak atas anakku.
Apa aku salah ? bukankah yang seharusnya merasa malu adalah keluarga om ?" Tanya Monica sembari menatap sinis ke arah Aberald.
Di tengah perdebatan itu, kilas balik dari ingatan Rena kembali terputar di memorinya. Dimana ia mendengar dan menyaksikan secara langsung pengakuan dari lelaki yang selama ini di cintainya.
Hatinya kembali hancur mengingat semua kenangan itu, ia merasa sesak, lehernya tercekat dengan rasa perih tak tertahankan, dan akhirnya jatuh terduduk menangis pilu tak berdaya.
Hingga Rendi dengan sigap membantunya dan menggendongnya masuk ke dalam mobil, kemudian melaju pergi meninggalkan orang-orang yang masih tercengang dengan kejadian yang tak di inginkan itu.
Sedangkan Rangga, ia dengan paniknya membantu Ibunya yang kini tak sadarkan diri dan segera membawanya masuk ke dalam mobil. Menyisakan kedua kepala keluarga, yaitu ayahnya yang tidak lain adalah Tuan John Aberald dan Tuan Atmajaya.
Monica yang sudah berhasil menggagalkan pernikahan Rangga dan Rena juga pergi dari tempat itu di temani oleh ayahnya, Tuan Gilbert.
John yang mengetahui segalanya hanya bisa berlutut tak berdaya.
Melihat hal itu, Jaya mendekatinya dan mengatakan sesuatu.
"John, bukankah aku sudah memperingatkanmu agar jangan pernah menyakiti hati putriku ? aku sudah berkali-kali memaafkan kesalahan putramu, tapi lihatlah apa yang di lakukannya kali ini.
Dia bukan hanya menghancurkan hati putriku, tapi juga diriku dan juga persahabatan kita.
Maka dari itu, bersiaplah dan keluargamu harus membayar segalanya. Sampai saat putriku bisa memafkan putramu, maka sampai saat itu aku akan berhenti menghancurkan putramu. Camkan itu !" Ancam Jaya, kemudian berbalik dan berjalan pergi.
•••
"Kita akan ke AS !" Jawab Rendi dingin. Ia mencoba menahan rasa amarahnya dengan apa yang baru saja terjadi.
Dirinya marah, karna sampai detik terakhir Rangga tidak pernah mau mencoba mengakui kesalahannya, dan meminta maaf pada Rena.
"Tapi, bagaimana dengan Bunda ? dia pasti sangat syok mengetahui hal ini." Ucap Rena yang kemudian teringat akan Ibunya.
"Lalu bagaimana dengan dirimu ? apa kau tidak syok ? apa kau tidak terluka ? jangan pernah berpikir kalau kau baik-baik saja !" Hardik Rendi.
Melihat reaksi itu, Rena sedikit terkejut dan tak bisa berkata lagi. Hingga akhirnya mereka tiba di area parkir bandara.
"Maafkan aku jika aku berbicara kasar padamu ! aku hanya menjalani tugasku." Ucap Rendi pelan kemudian keluar dari mobil dan mengambil kopor di dalam bagasi.
Setelah menunggu beberapa menit, namun Rena belum juga turun dari mobil, membuat Rendi tak sabar dan mengetuk kaca jendela mobil.
"Rena, cepatlah, kita tidak punya banyak waktu." Ucapnya.
"Bagaimana aku bisa dengan pakaian seperti ini ?"
"Maaf, aku lupa, aku sudah menyiapkan pakaianmu di kursi belakang ! cepatlah !"
Dengan rasa sedih dan kecewa rena melepaskan gaunnnya dan segera mengganti pakaiannya.
•••
Kediaman Aberald
Mariah yang kini terbaring di kasurnya, akhirnya tersadar dan mendengar suara amukan dari suaminya. Ia sangat ingin menolong anaknya, tapi apa daya, dirinya juga sangat kecewa akan apa yang telah di lakulan putranya.
Jika saja Rangga bisa berterus terang dengan dirinya, mungkin Mariah masih bisa membuat solusi terbaik dan bisa menghindari kejadian ini.
Di sisi lain, Aberald hanya bisa mencambuk punggung putranya dengan sabuk hitamnya.
Ia sangat kecewa akan kelakuan putranya, putranya bukan hanya mempermalukan nama besar keluarganya, tapi juga menghancurkan masa depan perusahaannya.
Plak...
Plak...
Plak...
Suara cambukan itu terus menggema, Rangga yang duduk memegangi lututnya hanya bisa mengepalkan kedua tangannya menahan rasa sakit yang terus menerpa kulitnya.
"Apa aku pernah mengajarkanmu seperti ini ?"
Plak...
Plak...
Namun, meski dia merasa sangat murkah, Rangga tetaplah putranya.Ia merasa iba karna Rangga tak mengeluarkan suara ringisan sedikit pun walau kini punggungnya telah di penuhi memar dan bercak darah.
John melemparkan sabuknya dan membenturkan kepalanya di tembok. Ia merasa bodoh dan tidak becus mendidik putranya.
Melihat apa yang di lakukan ayahnya, dengan tertatih Rangga mencoba menahan apa yang di lakukan ayahnya.
"Pah, aku mohon, maafkan aku, jangan sakiti dirimu seperti ini." Ucap Rangga dengan isakan tangis yang kini berhasil keluar dari mulutnya.
Kau boleh menghukumku !" Dengan berlari dan tertatih dia kembali mengambil sabuk yang di lemparkan Ayahnya dan memberikannya kembali.
Jika kau belum puas, maka pukul aku pah ! ini adalah kesalahanku ! aku yang harus menanggungnya, jangan pernah sakiti dirimu hanya karna diriku !"
Dengan penuh penyesalan, John memeluk anaknya.
"Mengapa kau melakukan kesalahan ini, tanpa memberitahuku Rangga." Lirih John dengan isakan tangisnya.
"Maafkan aku pah, tapi aku terlalu takut untuk mengatakannya, aku takut kalau Rena pergi meninggalkanku."
"Seharusnya kau memberitahuku,agar aku bisa mengatasi segalanya." Ucap John sembari melepaskan pelukannya.
"Aku pikir, aku bisa dan telah mengatasinya. Aku hanya ingin mengatasi sesuatu yang telah aku perbuat, aku tidak bisa terus meminta bantuanmu darimu !"
"Dasar anak bodoh ! bagaimana bisa kau berkata seperti itu ? selama aku masih hidup, aku akan terus membantu dan mendukungmu, kau adalah anakku satu-satunya Rangga."
Sekarang, ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, papah akan mencoba memperbaiki segalanya dan meminta maaf pada keluarga Atmajaya."
Mereka berdua akhirnya duduk bersama, dan Rangga mulai menceritakan kronologi kejadiannya, bagaimana dengan liciknya Monica menjebaknya, hingga ia harus terus di landa rasa khawatir dan ketakukan selama ini.