
Tiba-tiba suara gelak tawa terdengar menggema di ruangan yang cukup luas tersebut.
Reno mengerutkan alisnya, ia seperti tidak asing mendengarnya. Begitu juga dengan apa yang dipikirkan Rangga.
"Om Gilbert ?!" Lirihnya.
John memberi isyarat pada bawahannya untuk menarik kembali pistol yang mereka arahkan pada Reno dan Rangga.
Setelah itu, terdengar suara langkah kaki yang tegas berjalan mendekat ke arah mereka dari belakang.
Refleks Rangga menoleh, memastikan tebakannya.
Melihatnya, ia segera berdiri dengan ekspresi penuh tanya di wajahnya.
"Selamat datang Rangga." Ucap Gilbert dengan senyum mengerikan.
"Om Gilbert ?!" Ucapnya dengan sejuta tanya yang terpasang jelas di wajahnya.
Tiba-tiba memori tentang kejadian sebelumnya terekam kembali di ingatannya.
Ia mengingat saat tengah berbaring di atas hamparan pasir di tepi laut,seseorang tiba-tiba datang membekap mulutnya dan membiusnya, dengan beberapa orang yang berusaha menekan tangan dan juga kedua kakinya.
Ia kemudian melirik ke arah Reno dan berfikir mungkin hal yang sama juga telah terjadi padanya.
Hingga akhirnya Gilbert duduk di salah satu sofa tepat di hadapan mereka.
"Apa aku mengejutkanmu ?!" Tanya Gilbert dengan senyumnya.
Namun entah mengapa, Rangga merasa senyum itu terlihat begitu mengerikan.
Melihat Rangga dan Reno yang enggan untuk duduk. Gilbert kembali tertawa.
"Sepertinya kalian benar-benar terkejut dengan kedatanganku."
"Apa maksud dari semua ini ? mengapa om membawaku dan juga Reno ketempat ini ?" Tanya Rangga datar.
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, sebaiknya kalian duduk dulu." Ucap Gilbert dengan santai.
Pada akhirnya mau tidak mau Rangga dan juga Reno kembali keposisi mereka semula.
Untuk sesaat Gilbert menatap Reno dengan senyum, membuat Rangga semakin curiga dan perlahan mengkhawatirkan Reno.
"Apa kabar Rangga ? sudah lama sejak kita bertemu." Tanya Gilbert berbasa-basi dan mengalihkan pandangannya menatap Rangga.
Sejak kematian putriku Monica, kau tidak pernah lagi mengunjungiku." Imbuhnya.
"Jika soal Monica, om tidak perlu menculik temanku. Ini semua tidak ada hubungannya dengannya."
Gilbert tertawa.
"Ternyata kau masih sama saja seperti dulu, angkuh !!" Ungkapnya.
Kau salah Rangga, cepat atau lambat dia juga akan berurusan denganku !" Imbuhnya menyeringai menatap Reno dalam diam.
Reno yang masih belum mengerti dengan alur pembicaraan mereka hanya bisa menatap diam ke arah lelaki tua yang tidak lain adalah Ayah dari Monica, mantan mertua Rangga.
"Apa maksud om ?!" Tanya Rangga datar namun terdengar sinis.
"Star Light. Bukankah itu nama perusahaannya ?" Tanya Gilbert.
Atau haruskah aku mengatakan bahwa sebenarnya itu adalah perusahaan yang ia jalankan dibawah kuasamu ?!" Imbuhnya.
Rangga terdiam, sedikit terkejut mengetahui bahwa Gilbert ternyata telah mengetahui identitas perusahaan miliknya. Rangga mengangkat alisnya sebelah menatap Gilbert penuh tanya.
("Bagaimana bisa dia mengetahuinya ?! bukankah hanya aku,Reno,Dicky dan Dara yang mengetahuinya ? Selain mereka, siapa lagi ? Matanya seketika membola, Mungkinkah Dara seorang mata-mata suruhan om Gilbert ?!") Batinnya.
"Bagaimana om tahu ?" Tanya Rangga menelisik.
Gilbert tertawa.
"Apa kau meremehkan ku ? kau harusnya tahu sudah berapa lama aku bergelut di dunia bisnis,dan sudah berapa banyak kalangan elite yang aku kenal.
Apa kau pikir aku merampas perusahaan ayahmu hanya karna berhasil menipunya ?" Ungkap Gilbert dengan meyeringai.
"Itu semua karna aku lebih banyak memiliki koneksi dari pada Ayahmu !!" Imbuhnya.
Rangga mengepalkan kedua tangannya erat. Ia masih ingat, bagaimana Gilbert dan putrinya menipu keluarganya mati-matian.
Gilbert tersenyum melihat kemarahan di wajah Rangga.
"Kau tidak perlu marah Rangga, karna semua ini juga adalah kesalahan Ayahmu.
Seandainya saja dia menatap putriku dan tidak membelakangi ku, aku tidak akan bertindak sejauh itu."Tuturnya.
Rangga tersenyum geli, saat Gilbert mengenang putrinya, membuatnya kembali teringat betapa menjijikkannya keluarga mereka. Dan sekarang lelaki itu kini menyalahkan Ayahnya atas apa yang sudah ia lakukan.
"Sebaiknya om tidak perlu membahasnya, lagi pula semuanya telah berlalu."
Gilbert tertawa.
Tapi setelah perusahaannya kembali normal, apa yang aku dapatkan ? Dia bahkan tidak menerima tawaranku untuk menyatukanmu dengan putriku, dan memilih untuk berbesan dengan orang yang tidak mengorbankan apapun untuknya." Jelas Gilbert terkesan mendongeng.
Reno yang mendengarkan hanya terus diam dan mencerna, mencari solusi dari konflik permasalahan ketiga keluarga besar ini.
"Sebenarnya ayahku bukan tidak ingin, aku yang menolaknya. Aku tidak pernah menyimpan perasaan sedikitpun pada Monica." Jelas Rangga merasa ada kesalah pahaman di antara keluarga mereka.
Gilbert tersenyum.
"Tidak ada rasa ? lalu mengapa kau terus marah jika pria lain mendekati putriku ?"
"Itu karna aku peduli, dan menganggapnya sebagai seorang adik, aku tidak ingin dia salah memilih."
"Bulshit !!" Sela Gilbert.
•••
Sedangkan disisi lain. dr.Ferdiansyah baru saja mendapat laporan bahwa putranya baru saja di pukuli di dalam Rumah Sakit dan pelakunya adalah salah satu anggota keluarga Atmajaya.
Ia mengepalkan kedua tangannya erat. Kemudian bergegas keluar dan menemui Arka di ruangannya.
Suara pintu terbuka kemudian di tutup dengan bantingan yang cukup keras.
Arka menatap Ayahnya yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Sampai kapan kau akan seperti ini ?!" Tanya Ferdi membentak.
"Apa yang anda maksud ?" Tanya Arka tidak mengerti.
"Kau ! sampai kapan kau akan berhubungan dengan keluarga itu ?!"
Arka berdiri dari duduknya.
"Sampai aku mati !!"
Mendengar hal itu, membuat Ferdi berdecak dan ingin segera menampar wajah putranya, namun ia membatalkan niatnya setelah melihat beberapa luka lebam di wajah putranya.
"Kenapa ? ayo, pukul aku !" Tantang Arka
Kenapa tidak memukul ? apa sudah bosan ?" Cecarnya.
Ferdi terdiam, dan menyadari bahwa sekeras apapun dia pada putranya, Arka tidak akan pernah mau mendengarkannya. Dia bahkan sudah memukul putranya berulang kali sejak Arka masih kecil.
"Mengapa kau belum juga mengerti ? keluarga itu tidak cocok dengan keluarga kita." Ucap Ferdi dengan nada merendah namun masih terdengar tegas.
"Aku tidak peduli. Aku hanya tahu kalau aku mencintai Rena dan kami akan segera menikah !"
"Apa ? Menikah ?!" Tanya Ferdi dengan mata sedikit membola.
"Ya, kami akan segera menikah !"
"Tidak ! Ayah tidak setuju kau menikahinya. Tinggalkan dia !!" Titah Ferdi menegaskan.
"Tidak, aku tidak akan pernah mau meninggalkannya, dan aku tidak memerlukan persetujuan anda !"
Arka kemudian berjalan dan membantu membuka pintu, memberi isyarat pada Ayahnya untuk segera pergi.
Membuat Ferdi menghela nafasnya kasar dan pergi dari ruangan tersebut dengan kesal dan kembali ke ruangannya.
Dengan wajah penuh kekhawatiran, Ferdi duduk terdiam di ruangannya memikirkan keputusan putranya.
Jika sampai Arka menikah dengan Rena, maka Arka benar-benar akan meninggalkannya.
Perlahan timbul rasa penyesalan dan menyalahkan dirinya sendiri, karna selama ini tidak pernah mau membuka diri pada putranya.
Dan Arka, ia masih kesal dengan sikap Ayahnya yang terus saja mengekang dan tidak pernah menghargai setiap keputusannya.
Arka hanya tidak tahu mengapa Ayahnya selalu bersikap dingin kepadanya, dan mengapa saat itu Ayahnya mengusir Ibunya dan memisahkan mereka.
Sebenarnya, masalah yang membuat keluarganya retak pada saat itu adalah karna perbedaan agama dan status sosial.
Ibu Arka yang pada awalnya meninggalkan agamanya demi cintanya pada Ayahnya memutuskan kekerabatan pada keluarganya yang berstatus kalangan elite, membuat orang tua juga saudaranya marah, dan berimbas pada karier Ferdiansyah.Hingga suatu saat Ferdi tidak bisa bekerja di Rumah Sakit manapun.
Sejak saat itu, ia bertekad suatu saat akan membangun sebuah Rumah Sakit.
Akhirnya Ibu Arka, yang merasa bersalah dan membuat suaminya menderita akhirnya memilih kembali pada keluarganya dan kembali memeluk agama sebelumnya.
Pada awalnya ia menyembunyikannya dari suaminya dan diam-diam sesekali berkunjung ke rumah orangtuanya, namun Ferdi yang telah mengetahui hal itu lantas menceraikan istrinya dan mengusirnya dari rumah.
Arka yang masih kecil, tidak tahu apa-apa tentang hal itu berakhir terus menyalahkan Ayahnya hingga suatu saat ia mendengar bahwa Ibunya telah mengalami kecelakaan dan meninggal.
Dan keluarga Atmajaya adalah salah satu kerabat ibunya yang berasal dari keluarga Lion.
Setelah kematian Ibunya, lambat laun Arka semakin menjauh dari Ayahnya dan juga memilih mengikuti agama yang telah di yakini Ibunya. Membuat Ferdi semakin marah dan memilih tidak memberi perhatian ataupun kasih sayang sedikitpun pada Arka.
Alasan mengapa Ferdi sangat ingin menjodohkan putranya dengan putri Elianor, itu karna keluarga Elianor sangat berjasa padanya, hingga mampu membangun Rumah Sakit tersebut dan selain itu mereka juga seiman. Dia berharap putranya berubah dan akhirnya mengikuti agama yang ia yakini.