
Malam harinya, Rena yang masih berhadapan dengan beberapa buku diatas mejanya terkejut dengan getaran ponselnya
Drrrt drrrrt
Ia meraih ponselnya dan membuka pesan
["Hei !?"]
WA dari Arka
["Hei, bagaimana kabarmu ?!"] Balas Rena
["Yaah, tidak begitu baik !"]
["Maafkan aku !π"]
["Bukan salahmu ! apa kau sedang belajar ?!"]
["Yap !"]
["Apa aku mengganggumu ?!"]
["Ya !"]
["Kalau begitu maafkan aku, lanjutkan !π"]
["Hahaa bercanda !π"]
["Aku serius !π"]
["Apa kau sudah mengganti perbanmu ? dan sudahkah kau meminum obatmu ?!"]
["Yap, kau tidak perlu khawatir, Ayahku adalah seorang dokter !π"]
["Benarkah ? aku lega mengetahuinya !"]
["Jika lulus nanti, apa rencanamu ?"]
["Aku akan masuk ke akademi kedokteran !"]
["Sudah ku duga !"]
["Bagaimana bisa ?]
["Kau terlihat sangat mahir dalam merawat luka !dan kau menikmatinya π"]
["Begitukah ?"]
["Yap !"]
["Kalau kamu ? apa kau akan menerima beasiswa ke luar Negri ?"]
["Entahlah, belum ku putuskan ! Lanjutkan brlajarmu, aku tak akan mengganggumu lagi ! ππ"]
Rena trbelalak melihat emoticon terakhir dari Arka
"(Hah.. Ada apa dengan emoticon itu ?! dia mulai menyebalkan !") Gumam Rena
Rena kemudian teringat dengan momen pada saat Arka menciumnya mesra di atap sekolah.
"Apa mungkin karna itu ? Aaargh ! sadarlah Rena !" Sambil memukul mukul pipinya pelan
β’β’β’
Keesokan harinya, di dalam kelas XII B. Rena mulai sadar dengan ketidak beradaan Rangga,
"(Hmmp ! apa dia terlambat lagi ?!)"
Hingga hari ke Lima namun Rena masih belum juga melihatnya.
"(Ada apa dengannya ? apa dia sakit ?)"
Rena terus memperhatikan kursi yang kosong itu, terkadang ia berkhayal jika Rangga duduk di kursi itu, saat dia tertidur atau menjaili teman sebangkunya. Perlahan senyumnya mengembang.
"Apa yang kau perhatikan ?!" Suara Tika membuyarkan lamunan Rena
"Ah, itu, sejak kapan Rangga tidak masuk sekolah ?!"
"Emm, sepertinya sudah Lima hari dia absen."
Jawab Tika sambil memainkan pulpennya
"Hah ?! Lima hari ? mengapa aku tidak menyadarinya ?!"
"Entahlah, mungkin karna kau terlalu sibuk dengan bukumu !" Jawab Tika
"Seingatku, terakhir kali aku melihatnya saat kau bersih keras ingin merawat lukanya !" Jawab Tika
Rena terdiam membisu, ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi.
"(Benar, terakhir kali,saat Monica merundung aku ! Apa yang terjadi setelahnya ? apa dia bertengkar hebat dengan Monica ?!)"
"Tapi, aku heran,sehari setelahnya, Monica juga ikutan absen hingga hari ini !" Sambung Tika
"Apa ?" Rena sedikit terkejut
"Ya, apa mungkin mereka janjian ?!" Kemudian Tika berbalik menatap Rena yang terlihat khawatir
"Ada apa ? apa kau khawatir ?!" Tanya Tika
"Hah ?! apa maksudmu ? buat apa aku khawatir dengannya ?!" Rena segera melanjutkan belajarnya
"Lantas, ada apa dengan wajahmu ? apa kau takut kalau Monica mengambil calonmu ?!" Ledek Tika
"Tika ! pelankan suaramu !"
"Baiklah !"
"Tika, Rena, apa yang kalian bicarakan ?!" Tanya Pak Wira yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua
"Maaf pak, kami hanya berdiskusi, aku hanya membantu Tika untuk menjelaskannya !" Jawab Rena
Karna Rena termasuk murid yang taat dan pintar, Guru Guru tak pernah menyusahkannya dan akan mempercayai setiap ucapannya.
"Baiklah, kalau begitu sebelum bel sekolah berbunyi,kita akan membuat kelompok dan membaginya !" Jelas Pak Wira
"Untuk apa pak ?" Tanya salah satu murid
"Begini, sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian yang akan menentukan Lulus dan tidaknya kalian ! Bapak ingin membagi kelompok agar kalian bisa belajar bersama dirumah !"
Pak Wira mulai membagi kelompok, karna muridnya berjumlah 27 Siswa Semuanya di bagi menjadi Tujuh kelompok,Setelah selesai Pak Wira meninggalkan kelasnya, dan Rena masuk di kelompok 3 yang beranggotakan
Rena,Anggi,Sasya dan Rangga
Melihat nama Rangga, Rena segera menyusul Pak Wira di Ruang Guru untuk komplain.
"Ada apa Rena ?!" Tanya Pak Wira yang melihat kedatangan Rena
"Pak, Rangga di ganti sama Tika saja yah !?" Sambil duduk
"Tidak boleh, ini sudah keputusan Bapak !"
"Kalau begitu, apa bisa di ganti dengan yang lain ?"
"Apa kau tidak menyukai keputusan Bapak ?!"
"Tidak, bukan maksudku seperti itu, aku hanya tidak cocok saja sama Rangga !" Jelas Rena
"Tapi menurut Bapak, Rangga lebih mendengarkanmu dari murid yang lainnya ! Bapak hanya berharap kamu bisa membantu Rangga !"
"Tapi Pak !"
Pak Wira hanya menatapnya,dan Rena mengerti dengan tatapan itu, bahwa tidak ada komplain dan keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi Pak !" Rena menundukkan kepalanya dan berbalik meninggalkan Ruang Guru
Sedangkan Tika, dia belum habis fikir karna dia masuk dalam kelompok 5 yang beranggotakan
Monica,Mia,Reno dan dirinya
"Apa apaan ini ? kenapa aku harus satu kelompok dengan orang orang ini ?" Seru Tika
"Dan aku harus sekolompok dengan si otak mesum itu !" Jawab Rena
"Aaah Pak Wira memang menyebalkan !?" Rengek Tika
"Sabar sabar !!" Ledek Anggi
"Apaan sih Gi, kalau gitu kita tukeran yah ?!"
"Emmm "
"Aku mohon, plissss! " Tika memohon
"Tidak ah,aku benar benar tidak sudi jika harus sekolompok dengan mereka, sudahlah, terima saja nasibmu !"
"Hmmmp ! kalian sangat menyebalkan !"
Tidak terasa bel sekolah berbunyi menandakan jam sekolah siswa/siswi telah usai. Semua murid berhamburan keluar menuju parkiran dan mengendarai kendaraan mereka masing masing.