Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Ciuman Pertama



Sekolah Menengah Atas (SMA).


Bel baru saja berbunyi menandakan waktu istirahat telah tiba.


Satu persatu terlihat siswa dan siswi keluar dari ruangan kelas mereka masing-masing, dan memulai aktivitas mereka seperti biasanya.


Kebanyakan dari mereka memilih menghabiskan waktu bersama di kantin atau di perpustakaan yang ada di sekolah tersebut. Dan sisanya lebih memilih menikmati waktu tersebut dengan gaya hidup mereka masing-masing.


Salah satunya adalah Rangga, yang sejak SMP gemar bermain basket hingga sampai saat ini. Beberapa kali ia mendapat tawaran dari pelatih basket untuk bergabung menjadi salah satu anggota tim basket di sekolah mereka, namun ia terus menolaknya.


Menurutnya bermain basket hanyalah salah satu dari hobinya, bukan cita-citanya. Dan kini ia sedang menikmati hobinya tersebut bersama kedua sahabatnya.


Sedangkan Rena, ia baru saja keluar dari ruang perpustakaan bersama kedua sahabatnya. Mereka terus berjalan melewati beberapa koridor sekolah sembari membaca buku yang baru saja di pinjamnya dari perpustakaan tersebut.


Rena yang begitu serius membaca dan membuka halaman selanjutnya tidak menyadari akan bahaya yang akan menimpanya.


Buuuk..


Sebuah bola mendarat dengan keras di kepalanya, hingga membuatnya terjatuh dan tidak sadarkan diri.


Bruuukh..


Anggi dan Tika yang juga tidak menyadari hal tersebut merasa terkejut dengan apa yang menimpa Rena.


"Rena..!" Seru keduanya sembari duduk dan mencoba membangunkannya.


"Ren,bangun Ren.. !!" Ucap Anggi menepuk-nepuk pelan wajah Rena.


"Ren, jangan bercanda dong !"Imbuh Tika sembari mengguncang tubuh sahabatnya tersebut.


Rangga dan kedua sahabatnya yang masih tertawa dengan apa yang ia lakukan tiba-tiba terdiam saat melihat Tika dan Anggi yang mulai panik mencoba membangunkan Rena.


Dirinya tidak menyangka kalau perbuatannya itu akan membuat Rena jatuh pingsan. Dengan cepat ia berlari menghampiri kerumunan siswa yang tengah penasaran dengan apa yang terjadi dan menyusup di antara kerumunan tersebut.


"Rena.. !" Serunya panik dan merangkul tubuh Rena dengan cepat.


"Kau sengaja bukan ?!" Tanya Anggi menatap tajam ke arah Rangga.


Mendengar pertanyaan itu, Rangga refleks mengangkat wajahnya menatap Anggi dengan tatapan yang di penuhi rasa penyesalan. Namun ia tidak begitu berani mengatakannya.


"Ren.., Rena.. aku hanya bercanda." Ucapnya dengan raut wajah cemas sembari memegang pipi Rena.


Melihat tak ada reaksi apapun dari Rena, ia segera berdiri dan mengangkatnya kemudian bergegas membawa ke ruang UKS.


Monica yang juga melihat kejadian tersebut mengikuti mereka dan berakhir berhenti di depan pintu ruangan tersebut.


Unit Kesehatan Sekolah.


Rangga membaringkan tubuh Rena di atas brankar secara perlahan dan kembali mencoba untuk membangunkannya.


"Ren, Rena.., sadarlah.. !"Ucapnya menggenggam erat tangan Rena dengan cemas.


Monica yang sedari tadi berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka tersebut terus memperhatikan Rangga yang terlihat begitu mencemaskan Rena. Hal itu membuatnya kembali merasa kesal dan terbakar api cemburu.


("Kau bohong Rangga. Kau menyukai gadis itu.") Batinnya dengan mata berkaca-kaca.


Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat kemudian pergi meninggalkan pemandangan yang terus membuatnya sakit hati.


Rangga yang tidak menyadari hal itu, dengan panik terus berusaha membangunkan Rena.


Beberapa kali ia terlihat memberikan aroma teraphy,berharap gadis itu segera sadar. Namun tetap saja tak kunjung berhasil,membuatnya kehabisan cara dan terduduk lemah menatap Rena dalam diam. Hingga ia terfikirkan sesuatu yang kemungkinan akan berhasil.


Ia dengan cepat berdiri kemudian perlahan membungkuk menatap Rena dalam diam, ada keraguan yang tercetak jelas di wajahnya.


"Maafkan aku." Ucapnya lirih kemudian memejamkan matanya bersiap memberikan nafas buatan.


Ia sebenarnya ragu apakah ini adalah keputusan yang tepat untuk memberikan Rena nafas buatan atau tidak. Jika ia melakukannya, maka secara tidak langsung mereka telah berciuman dan ini akan menjadi ciuman pertamanya pada seorang wanita.


Rangga menggelengkan kepalanya pelan.


("Tidak.Ini bukan waktunya memikirkan hal-hal yang seperti itu, untuk sekarang aku harus fokus menolongnya.") Batinnya dan semakin membungkukkan tubuhnya dengan mata terpejam.


Tanpa ia sadari Rena sedari tadi telah menatapnya dalam diam. Ketika Rangga membuka matanya secara perlahan, betapa malunya dia saat mendapati Rena yang menatapnya sembari memasang ekspresi wajah jelek dan mengejek dirinya.


Dengan cepat ia berdiri.


"Kau !" Ucapnya sembari menunjuk ke arah Rena.


"Ya.. apa dari tadi kau hanya mempermainkan_ku ?!" Serunya terlihat kesal.


"Prank.. !!" Ucap Rena kemudian tertawa puas karna sukses telah mengerjai Rangga.


"Yaa.. apa kau pikir setiap orang yang tidak sadarkan diri harus di beri nafas buatan ?!" Tanya Rena segera duduk dan beranjak berdiri.


Rangga yang tidak terima di permainkan seperti itu dengan cepat mencekal tangan Rena dan mendorongnya ke dinding.


"Bukankah kau sengaja ?" Tanyanya menatap Rena dengan tajam.


"Menurutmu ? bukankah kau juga dengan sengaja melempari bola itu di kepalaku ? anggap saja kali ini kita impas." Ucap Rena dan menarik paksa lengannya.


Rangga bukan tidak suka Rena mempermainkannya hanya saja dia paling tidak suka kalau Rena mulai mempermainkan perasaannya.Dengan tatapan penuh kebencian Rangga meninggalkan ruangan itu dan membanting pintu dengan keras.


Namun ia tidak menyangka kedua sahabat Rena sudah berdiri di depan pintu yang entah kapan mereka berada di tempat itu. Tanpa mengucapkan apapun Rangga melewati kedua gadis tersebut dan pergi.


Tika dan Anggi saling melempar pandang satu sama lain setelah menyaksikan betapa menyeramkan nya Rangga saat marah. Kemudian keduanya dengan cepat masuk dan menghampiri Rena yang masih tersenyum puas.


"Ren, apa yang kau lakukan?" Tanya Anggi.


"Apa ? aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran." Jawab Rena.


"Kau benar-benar gila Ren. Aku pikir kau benar-benar pingsan tadi, ternyata kau hanya bercanda ?!" Seru Tika.


"Kali ini kau benar-benar kelewatan Ren." Ucap Anggi.


"Apa maksudmu ? aku malah berpikir kalau kita perlu merayakan hal ini karna telah sukses membuat pria menyebalkan itu benar-benar tertipu." Ucap Tika menyela ucapan Anggi.


Rena menganggukkan kepalanya merasa setuju dengan apa yang di katakan Tika.


"Ren, aku tahu kau melakukan semua ini karna ingin membalasnya, tapi kali ini kau bukan hanya sukses membalasnya, tapi juga sukses mempermainkan perasaannya Ren." Ucap Anggi mengingatkan.


"Salah sendiri, siapa suruh dia suka mengerjai Rena ? apa kau tidak ingat ? terakhir kali pria itu menaruh permen karet di rambut Rena dan membuat Rena harus memotong pendek rambutnya seperti ini." Jawab Tika tidak terima dengan cara berpikir Anggi.


"Sudah, sudah, mengapa kita yang jadi ribut ?!" Tanya Rena melerai keduanya.


"Aku berjanji, lain kali tidak akan mengulanginya lagi." Imbuhnya menatap Anggi dengan senyum.


"Kau berjanji ?" Tanya Anggi.


Rena mengangguk dengan tulus.


"Kenapa harus berjanji ?" Seru Tika.


"Tika..." Seru Anggi dan Rena secara bersamaan.


"Iya, iya.." Ucap Tika tak berdaya. Ketiganya akhirnya tertawa dan meninggalkan ruangan tersebut.


"Eh, apa tadi kau melihatnya ?" Tanya Tika pada Anggi.


"Apa ?"


"Ekspresi Rangga saat dia ingin memberi Rena nafas buatan.Sumpah, itu benar-benar lucu." Jawab Tika.


"Tapi.. kalau aku perhatikan, sepertinya dia belum berpengalaman deh dengan ciuman." Imbuhnya dengan ekspresi wajah yang serius.


Rena yang mendengarnya akhirnya tertawa lepas.


Hahahaaa..


"Yang benar saja, kau bilang dia belum pengalaman ?! Hahahaa kau lucu sekali. "Ucapnya sembari mencubit gemas pipi sahabatnya.


Tika menganggukkan kepalanya, membuat Rena kembali tertawa.


"Apanya yang lucu ?" Tanya Tika tidak mengerti.


"Anggi ayo katakan padaku, apa kau juga percaya kalau si otak mesum seperti dia belum berpengalaman ?" Tanya Rena menatap Anggi sembari menahan tawanya yang tidak ingin berhenti.


Anggi menggelengkan kepalanya pelan. Membuat Rena kembali tertawa.


"Apanya yang lucu ?" Bisik Tika ke telinga Anggi menatap heran ke arah Rena.


Yang sebenarnya Tika hanya tidak tahu alasan kenapa Rena terus tertawa, ia hanya ingin menutupi kalau dirinya masih merasa degdegan mengingat kejadian tadi.Dan diam-diam ia memegang dadanya yang merasa jantungnya tidak mau berhenti berdetak dengan cepat sejak tadi.


Ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika saja Rangga tidak membuka matanya dengan cepat.


Mereka bertiga terus berjalan dan hampir sampai di ruang kelas mereka. Namun tiba-tiba saja Monica keluar dari ruangan tersebut dan menabrak Rena dengan segelas minuman yang ada di tangannya tumpah begitu saja di seragam Rena.


"Uuppssss.. maaf, aku tidak sengaja !" Ucap Monica kemudian berlalu meninggalkan Rena dengan senyum liciknya.


Tika yang melihat jelas senyuman itu merasa sangat kesal dan ingin menjambak rambut kriting Monica, namun Anggi dengan cepat menariknya. Sedangkan Rena hanya bisa menghela nafasnya kasar.


"Kalian masuk saja, aku ke toilet sebentar." Ucapnya dan bergegas pergi.


"Jangan lama-lama !!"Seru Tika yang mendapat lambaian tangan dari Rena.


Toilet Sekolah.


Rena baru saja membersihkan bajunya segera keluar dan membuka pintu, namun ia tiba-tiba terpeleset membuatnya kehilangan keseimbangannya.


Di saat yang sama, Rangga yang ternyata berada di toilet pria baru saja keluar dan membuka pintu, mendapati Rena yang akan terjatuh membuatnya dengan cepat menangkap tubuh gadis itu.


Yang membuat Rena semakin terkejut, saat melihat pria yang membuat jantungnya dari tadi berdetak tak menentu kini berada di hadapannya dan merangkul pinggangnya tanpa permisi.


Hal itu membuat jantungnya serasa ingin lompat dari tempatnya, membuat dirinya semakin tidak bisa menahan keseimbangannya dan di tambah lagi dengan keadaan lantai yang begitu licin, membuat Rena menarik kerah baju Rangga dengan kuat hingga keduanya akhirnya terjatuh ke lantai secara bersamaan.


Sebelum kepala Rena benar-benar membentur lantai, Rangga dengan cepat memposisikan tangannya di bawah kepala Rena.


Bruuukh..


Keduanya jatuh membentur lantai dengan sangat keras. Dan yang membuat keduanya semakin terkejut saat tanpa sengaja bibir mereka saling bersentuhan.


Rena membuka matanya perlahan dan menatap Rangga yang kini berbaring di atasnya yang kini juga menatapnya dengan tatapan yang sama.


Dengan cepat Rena mendorong tubuh Rangga ke samping kemudian bangun dan memperbaiki rambutnya.


Monica yang sebelumnya sudah merencanakan semua itu tidak menyangka kalau Rangga juga berada di toilet pria.


Rencana yang sudah ia siapkan sedemikian rupa benar-benar berantakan. Alih-alih ingin membuat Rena celaka, malah membuat Rena dan Rangga tak sengaja saling berciuman.


Ia menghentakkan kakinya dengan kesal kemudian pergi dari tempat tersebut sebelum Rangga menyadari keberadaannya.


"Kau..!" Tunjuk Rena kesal.


"Dasar otak mesum !" Imbuhnya asal. Ia sendiri tidak tahu apa yang harus ia katakan saat ini.


"Seharusnya kau berterima kasih padaku." Ucap Rangga sembari merapikan bajunya.


"Apa kau bilang ? terima kasih ? terima kasih karna kau telah menciumku ?!" Ucap Rena sedikit heboh.


Rangga sendiri tidak tahu mengapa gadis itu selalu saja membesarkan masalah.


"Apa kau pikir aku sangat suka menciummu ?aku juga tidak sengaja. Lagipula kau juga kan yang menarikku ?! " Jawab Rangga dengan jutek.


Rena terdiam, apa yang Rangga memang ada benarnya, seandainya saja dia tidak menarik kerah baju pria itu,mungkin akan berbeda lagi ceritanya.


Walau bagaimana pun, kali ini dia memang harus berterima kasih. Namun ia sangat malu untuk mengatakannya.


Rangga yang sudah berdiri mengulurkan tangannya.


Rena yang melihat uluran tangan tersebut meraihnya dan kemudian berdiri dengan bantuan Rangga.


"Apa kau masih tidak ingin berterima kasih ?" Tanya Rangga yang melihat Rena terus diam sembari memperbaiki seragamnya. Namun jawaban Rena benar-benar di luar ekspektasinya.


"Dasar otak mesum !!" Ucap Rena kemudian pergi begitu saja meninggalkannya.


Rangga yang terus menatap kepergian Rena diam-diam memegang dadanya merasakan irama jantungnya dengan irama yang sama saat pertama kali mereka bertemu.


Ia perlahan meraba bibirnya mengingat bagaimana merahnya wajah Rena saat tanpa sengaja mereka saling berciuman.


Hingga akhirnya ia meninggalkan tempat tersebut dengan senyum yang mengembang.