Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Kalah Telak



"Aku tidak percaya kalau gadis itu telah berubah menjadi rubah licik seperti itu.


Aku akan mencoba berbicara pada Gilbert." Ucap John pada Rangga. Kemudian berdiri bersiap untuk pergi.


Obati lukamu !" Imbuhnya


•••


Kediaman Atmajaya


"Ayah, kemana Rendi membawa putri kita ?" Tanya Rani yang sedari tadi menunggu kehadiran putrinya, ia sangat cemas atas apa yang telah menimpa putrinya beberapa saat yang lalu.


"Aku menyuruh Rendi untuk membawa Rena ke AS." Jawab Jaya singkat.


"Apa maksudmu ? saat ini putri kita membutuhkan kehadiran kita di sisinya, tapi kau malah mengirimnya ke luar negri bersama pria asing ?!"


"Dia tidak bersama pria asing, dia bersama asisten pribadiku."


"Bagaimana bisa kau sesantai ini atas apa yang baru saja menimpa putri kita ?" Tanya Rani penuh amarah.


"Sayang, berhentilah untuk merasa cemas, tapi ini adalah keputusan terbaik untuk putri kita." Jawab Jaya mencoba menengangkan istrinya.


"Apa ? yang terbaik ? bagaimana bisa kau mengatakan hal itu, ketika kau mengirim putrimu pergi saat dia membutuhkan kehadiran kita berdua ?!"


"Kalau begitu duduklah, biarkan aku menjelaskannya padamu !" Ajak Jaya penuh sabar,


Ia meraih tangan Rani dan membantunya duduk di sampingnya.


"Maafkan aku ! aku tahu kau pasti marah akan keputusanku ini, maka dari itu, aku tidak memberitahukanmu sebelumnya.


Sebenarnya aku sudah mengetahui segalanya saat Rena masuk Rumah Sakit. Salah satu teman Rena memberitahuku, kalau Rangga telah menghamili Monica. Karna aku belum percaya,diam-diam aku menyuruh Rendi untuk mencari informasi. Hingga aku mengetahui kebenarannya."


"Lalu mengapa kau tidak memberitahuku ? dan tetap mengizinkan Rena menikah dengan anak itu ?!"Sela Rani dengan amarah semakin menjadi.


"Ssst, dengarkan dulu." Titah Jaya.


"Apa kau lupa bahwa kau juga ikut bertindak atas perbuatan putrimu ?! kau mengabaikanku hanya karna aku tidak menuruti keinginan putrimu !" Tanya Jaya menaikkan alisnya sebelah.


"Itu karna aku tidak mengetahuinya !" Jawab Rani tak ingin disalahkan.


Jaya hanya pasrah dan tersenyum kecil melihat tingkah istrinya. Bagaimana bisa wanita yang kini telah mencapai usia empat puluhan tapi masih bertingkah seperti seorang anak.


"Baiklah, itu salahku !" Pasrah Jaya.


"Lalu, katakan padaku, mengapa kau harus mengirim putrimu ke AS ?!"


"Aku tahu, kalau dia berada disini, maka Rangga akan terus berusaha menemuinya, kemudian dia akan ragu, dan aku takut kalau dia kembali mengambil keputusan yang salah !


Aku tahu sejak awal ini adalah kesalahan kita yang telah menjodohkannya dengan keluarga itu, tapi aku tidak berharap semua ini akan terjadi. Karna itu aku akan memperbaiki kesalahanku dan tidak ingin Rena mengambil keputusan yang salah karna tinggal di sekitar Rangga."


"Oh betapa kasihannya putriku, dia pasti merasa sangat hancur dengan kejadian ini !" Ratap Rani tanpa daya sembari menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.


Jaya merangkul pundak istrinya dan berkata.


"Aku yakin, setelah kejadian ini, putri kita akan lebih memahami makna dari setiap hubungan. Dimana dia tak bisa percaya begitu saja pada seseorang,dan dia telah melewati fase di mana dia harus menderita, dia akan tumbuh semakin dewasa setelah ini."


"Kalau begitu, pesankan aku tiket ke AS !" Pinta Rani.


"Apa, apa kau juga ingin pergi ? lalu bagaimana denganku ?! kau tidak pernah bepergian tanpaku."


"Kalau begitu kita pergi bersama !"


"Bagaimana bisa, pekerjaanku masih sangat banyak !"


Begini saja, kita akan pergi setelah pekerjaanku telah selesai." Rayu Jaya.


"Tidak, kali ini biarkan aku pergi, aku tidak tahu bagaimana keadaan putri kita saat ini, aku harus mempersiapkan segala keperluannya selama dia di sana !"


"Aku sudah menyiapkan segalanya jauh sebelumnya untuk Rena. kau tidak perlu merasa khawatir."


"Tidak sayang, aku harus melihat putriku. berikan aku waktu walau hanya tiga hari !" Bujuk Rani.


Jaya tak bisa berkata lagi. Ia hanya bisa pasrah akan keinginan istrinya. Jika menyangkut istrinya ia akan selalu kalah telak.


"Hmmmp baiklah ! aku akan mengurus keberangkatanmu segera."


•••


Kini terlihat dua sosok pria tengah duduk berhadapan dalam diam,entah apa yang masing-masing mereka pikirkan saat ini, yang pasti semua demi kebaikan anak mereka.


Setelah beberapa saat, akhirnya John membuka suara dan berkata.


"Aku tidak ingin hubungan kita berantakan karna hal ini, aku harap kau segera memperbaiki segalanya !"


Dengan wajah yang masih tertunduk tanpa rasa bersalah Jeremy menjawab.


"Apa yang harus aku perbaiki ?" Tanyanya kembali dengan suara sinis.


Mendengar perkataan sahabat sekaligus asistennya itu, John mengernyitkan dahinya bingung.


"Apa kau tidak menyadari apa yang telah di lakukan putrimu ?" Tanya John penuh penekanan.


Jeremy hanya tersenyum hambar dan berkata.


"Apa kau belum juga sadar dengan apa yang di lakukan putramu ?"


"Jeremy !!" Hardik John dengan penuh amarah.


Perlahan Jeremy mengangkat wajahnya menatap tajam ke arah John, tatapan ini adalah untuk pertama kalinya ia tampakkan di depan atasan sekaligus sahabatnya itu.


"Apa yang akan kau lakukan John Aberald ?!"


John yang melihat tatapan itu,masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang, sahabat dan asisiten yang selalu membantunya dalam setiap masalah kini terlihat berubah seperti monster. Tidak ada lagi keramahan di wajah sahabatnya itu.


"Jeremy, aku tahu kau sangat menyayangi putrimu. Tapi, kau juga harus ingat kalau tindakan putrimu ini akan berakibat fatal pada perusahaan kita." Ucap John sedikit melemah.


"Aku tidak perduli !" Jawab Jeremy.


"Apa maksudmu tidak perduli, kita berdua akan hancur Jer !"


"Hahahaa.. hancur ? maksudmu kita berdua? kau sendiri yang akan hancur John !" Ucap Jeremy sembari menunjuk ke arah John.


John lagi-lagi semakin kebingungan akan perkataan dan prilaku sahabatnya tersebut.


Ketika dirinya masih dalam kebingungan, tiba-tiba ponselnya berbunyi tiada henti, memberitahukan bahwa pesan telah masuk di ponselnya.


Segera ia merogoh saku dan melihat ponselnya, itu adalah pemberitahuan penarikan dana atas proyek yang saat ini sedang ia bangun bersama Atmajaya dan pembatalan kontrak kerja sama. Selain itu, Jaya juga memberitahu bahwa yang selama ini bermain di perusahaannya adalah asistennya sendiri, dan diam-diam telah membeli saham perusahaannya dari pemegang saham lainnya.


Bukan hanya itu,pesan dari para pemegang saham lainnya mengkonfirmasi atas penjualan saham mereka dan di atas namakan Jeremy Gilbert.


John yang melihat semua pesan itu hanya bisa mengepalkan tangannya dan meremat ponselnya dengan kuat. Ia tidak percaya, ternyata orang yang selama ini ia percayai telah menghianatinya.


Jeremy yang melihat ekspresi John hanya bisa tersenyum penuh kemenangan.


"Dengarlah John, kau sudah hancur sekarang, bukan hanya perusahaanmu, tapi juga martabat keluargamu."


"Mengapa kau melakukan semua ini Jer ?" Tanya John.


"Mengapa ? bukankah kau tahu sendiri kalau setiap orang tua akan melakukan segalanya untuk anaknya, seperti kau melakukan segalanya untuk putramu, maka aku akan melakukan segalanya demi putriku."


Tapi tenanglah, aku berjanji akan mengembalikan segalanya asal dengan syarat, kau harus menikahkan putramu dengan putriku Monica !"


"Bagaimana mungkin ?"Ucap John kesal.


"Ayolah John, Atmajaya tidak akan pernah mungkin menerimamu lagi sebagai besannya.


Berfikirlah, ini demi masa depan perusahaan keluargamu ! kita bisa mengembangkannya bersama jika kau menerima syaratku !"


"Kau sengaja menjebakku !" Kesal John.


Setelah putrimu berhasil menjebak putraku, sekarang kau juga menjebakku dalam dilema ?" Imbuhnya.


"Kau sangat sombong John, kau selalu saja merendahkan putriku.


Baiklah, jika kau menolaknya, aku tidak akan rugi dengan itu. Ingatlah, sebagian besar saham perusahaan telah jatuh di tanganku, yang berarti posisimu sebagai CEO perusahaan akan segera ku gantikan." Ucapnya santai sembari memainkan kakinya sebelah di atas tumpuan kaki yang lainnya.


Kau tidak perlu menjawabnya sekarang John, aku akan memberimu kesempatan untuk berfikir, dan aku akan bersabar menunggunya demi putriku." Imbuhnya.


Setelah percakapan itu, John dengan cepat meninggalkan kediaman itu dengan penuh kesal dan kebimbangan di fikirannya.


Ia tidak menyangka, kunjungannya ke kediaman Jeremy dengan tujuan agar Jeremy bisa membujuk putrinya untuk mengakui kesalahannya, kini tak sesuai dengan yang ia harapkan.


Sekali lagi ia kalah telak oleh orang yang tidak ia harapkan akan menghianatinya.