
Saat Arka berusaha menenangkan Rena, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Halo !"
"Arka.. bagaimana keadaan Rena saat ini ?!" Tanya Rendy.
"Dia sangat syok !!" Jawabnya.
"Bisakah kau membawanya keluar ? aku telah menyuruh seseorang menjemput Rena di parkiran yang ada di belakang rumah sakit !" Ucap Rendy.
"Baiklah.. aku mengerti !"
"Ok !!"
Tut.
Arka segera melepas seragam dokternya dan merubah gaya pakaiannya. Jika sebelumnya dia berpakaian rapi dan berwibawa, saat ini dia terlihat seperti seorang badboy dengan celana shobek dan t-shirt di lengkapi topi yang menutupi bagian kepala dan wajahnya.
Sebelum membawa Rena keluar dari ruangan, ia juga melepaskan seragam kedokteran Rena dan menggantikannya dengan jeket hodie.
"Ren.. tenangkan dirimu. Aku akan berusaha membawamu keluar." Ucap Arka kemudian membawa Rena keluar dan memeluknya tidak membiarkan orang mengenalinya.
Ketika sampai di lantai dasar Rumah Sakit, staf,perawat bahkan beberapa pasien keluar hanya untuk melihat aksi para wartawan yang mencoba menerobos masuk.
"Hmmp sangat di sayangkan !" Ucap salah satu perawat.
"Padahal dr.Rena adalah dokter favoritku ! aku tidak menyangka kalau dia bisa serendah ini."
"Jangan asal bicara, kalau kau mau selamat. Kau tidak tahu siapa orang tua dr.Rena."
"Kehidupan orang kaya memang penuh misteri."
"Aku dengar, bukan hanya dr.Arka,tapi ada beberapa pria lain lagi."
"Aku jadi merasa jijik jika harus di rawat dengannya lagi."
Mereka terus bergosip seakan melupakan jasa pelayanan dan keramahan yang telah Rena berikan pada mereka. Seperti memberi madu dan di balas air tuba.
Semua pernyataan itu sangat jelas di pendengaran Rena. Membuatnya semakin terpuruk sedih dan akhirnya dia tidak mampu mengontrol emosinya kemudian jatuh tak sadarkan diri.
Untung saja Arka selalu memeluknya hingga dengan cepat Arka menahan bobot tubuh Rena dan segera menggendongnya.
•
Sedang disisi lain, Rangga terus berusaha sekuat mungkin untuk bisa menemukan Rena.
Setelah merasa tidak menemukan Rena dimanapun, Rangga terdiam dan menghentikan langkah kakinya.
Ia terus berfikir, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya yang sedikit pincang.
Arka yang baru saja ingin keluar dari pintu belakang Rumah Sakit sedikit terkejut ketika melihat beberapa wartawan juga sedang menunggunya di sana.
Arka mengerutkan alisnya dan sedikit kesal.
"Bagaimana mereka bisa sampai di sini ?" Lirihnya.
Ia segera bersembunyi di balik tembok sebelum wartawan menyadari keberadaannya.
Rangga yang menebak kalau Rena akan melewati pintu belakang sedikit terkejut ketika merasa tebakannya benar.
Untuk sesaat ia menatap wajah sendu gadis yang di cintainya itu. Masih ada sisa air mata yang belum sempat mengering.
Sedangkan Arka juga tidak kalah terkejut saat melihat Rangga kini berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau lakukan disini ?!" Tanya Arka.
Perlahan Rangga mengalihkan pandangannya dari menatap Rena. Dan kini menatap Arka penuh tanya namun ada kepastian.
"Aku akan mengalihkan mereka." Ucap Rangga. Kemudian pergi,namun sebelumnya ia kembali menatap wajah Rena dan akhirnya berlalu menemui para awak media dan reporter.
Rangga berpura-pura berjalan keluar dari pintu Rumah Sakit. Awalnya semua orang hanya mengabaikannya, sampai ia merasa sedikit menjauh dan
Bruuukh..
Ia terjatuh.
"Aaakh.. !!" Jeritnya sembari memegang kakinya.
Entah karna rasa kemanusiaan, tiga orang reporter segera menolongnya.
"Terima Kasih.. !" Ucap Rangga.
Salah satu dari mereka menelisik dan memperhatikan wajah Rangga. Kemudian ia memelototkan matanya berseru.
"Hei.. bukankah kau adalah putra John Aberald ?!" Seru reporter itu membuat yang lainnya merasa penasaran dan akhirnya bergabung mendekati Rangga.
"Siapa itu ?!" Tanya yang lainnya.
"Aku sangat yakin kau adalah pewaris tunggal JA Group !" Ucap reporter itu.
"Mari kita ambil gambarnya." Ucap temannya.
Semua orang terlihat sedikit berfikir.
"Apa kau yakin ? bagaimana dengan dr.Rena ? bukankah seseorang telah mengkonfirmasi bahwa dia akan keluar melewati pintu itu ?" Ucap yang lainnya.
Dari pada kita hanya terus berdiri menunggu tanpa kepastian dan tidak mendapatkan apa pun, lebih baik kita wawancarai saja pewaris JA Group itu !"
"Benar ! aku tidak ingin pulang dengan tangan kosong !"
"Mari kita mewawancarainya !"
Ucap para reporter itu sedikit berselisih. Namun hasilnya, Rangga mampu menarik semua perhatian mereka.
Beberapa pertanyaan terlontar padanya, ia hanya sedikit berbicara sembari menutupi wajahnya dengan tangannya.
Sedangkan Arka dengan sigap membawa Rena keluar dengan posisi para wartawan membelakanginya, Rangga dan Arka saling bertemu pandang memberi isyarat.
Dengan cepat Arka membawa Rena menuju mobil hitam yang sudah terparkir sejak lama menunggu kedatangan mereka.
Para wartawan tersadar saat mereka mendengar suara pintu mobil tertutup dan mesin mobil yang di nyalakan.
Mereka semua berpaling.
"Apa itu.. ?!"
"Apakah mungkin itu dr.Rena ?!"
"Ooh.. tidaak.. !" Teriak mereka mencoba mengejar mobil yang kini sudah melaju.
Sedangkan Rangga, diam-diam masuk ke dalam Rumah Sakit dan kembali ke kamarnya.
Para wartawan itu semakin kesal ketika tidak melihat keberadaan Rangga.
"Apa kita telah di permainkan ?"
"Mereka pasti telah menipu kita."
"Bisa jadi, bukankah Putra John Gilbert pernah hampir menikah dengan putri Atmajaya ?"
"Aaakh sial.. ! ini semua karnamu !"
"Seharusnya satu dari kita tetap waspada !"
Para wartawan itu terlihat saling menyalahkan.
••
Ceklek..
"Mah..!" Sapa Rangga yang kini sudah kembali di ruangannya.
"Rangga !" Ucap Mariah segera berdiri menghampiri putranya.
Kau dari mana saja ?!"
"Mamah tidak perlu khawatir. Sekarang lihatlah, aku sudah bisa berjalan walau masih menggunakan tongkat." Ucapnya mencoba menenangkan Ibunya.
"Syukurlah.. !" Ucap Mariah dan membantu Rangga naik di pembaringannya.
"Apa saja yang kau lakukan ? mengapa pakaianmu samapi basah seperti ini ?!" Tanya Mariah.
Rangga membisu.
"Apa kau ingin minum ?"
Rangga menganggukkan kepalanya.
Mariah segera menuang air di gelas dan memberikannya pada Rangga.
"Mah.. !" Panggil Rangga pelan.
Sebaiknya mamah pulang saja, aku yakin Moura pasti menunggu kepulangan Mamah di rumah !"
Jujur saja, Mariah memang sedikit mengkhawatirkan Moura, walaupun di rumah ada pengasuh dan penjaga. Tetap saja dirinya masih khawatir.
"Lalu bagaimana denganmu ?"
"Aku sudah menelfon Reno. Dia akan segera sampai !" Jelas Arka.
Mariah menatap putranya sedikit menelisik.
"Apa kau ingin melakukan sesuatu ?!" Terka Mariah.
Rangga menggelengkan kepalanya mendalih.
"Tidak.. ! aku hanya ingin menanyakan beberapa pekerjaan yang telah aku tinggalkan !"
Rangga mencoba selembut mungkin menutupi rencana yang akan ia susun. Ia tidak ingin Ibunya sampai tahu jika dirinya kali ini akan membantu Rena dan keluarga Atmajaya.
"Baiklah, kalau begitu jaga dirimu.Dan berhenti mencmpuri urusan Rena dan keluarganya.
Kau harus ingat bagaiman mereka beberapa kali berusaha menghancurkan bisnismu !"
Rangga menganggukkan kepalanya. Dia masih saja keras kepala seperti dulu. Tapi kali ini sedikit berbeda. Ia memiliki ciri khasnya sendiri dalam membangun perusahannya.
...~•~...
Kita akan melihat bagaimana ketiga pria ini akan bekerja sama dalam membersihkan skandal ini Rena dan menangkap pria misterius dalang di balik semua kejadian ini.