Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 98



"Ren.. " Sapa Arka dengan memegang pundak Rena.


"Eh.. ?!" Rena menoleh menatap Arka.


Ia kemudian memegang wajah Arka dan menyentuh ujung bibirnya yang memar.


"Apa ini sakit ?" Tanyanya.


Arka menatap dalam mata Rena. Kemudian perlahan menarik tangan Rena dan menaruhnya di dada.


"Ini lebih sakit." Ucapnya, mengisyaratkan hatinya sedikit terluka.


Cukup lama mereka saling menatap, melihat keraguan di antara mereka. Kemudian Arka melepaskan tangan Rena dan pergi.


••


Di sisi lain Dara membantu Rangga untuk berbaring kembali di tempatnya.


"Aku akan memanggil dokter !" Ucapnya.


Rangga mengangguk pelan.


.


.


.


Hingga beberapa saat telah berlalu, dan dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Dara.. " Sapa Rangga.


Dara secara intens menatap Rangga.


Untuk sesaat, Rangga seakan melihat Rena saat berumur 20 an. Dara terlihat persis sepertinya, cantik, aktif dan ceria. Hanya saja Dara sedikit ceroboh sama sepertinya.


"Kak Rangga !" Ucap Dara, menyadarkan Rangga dari lamunannya.


"Eh ?"


Dara menatap Rangga menelisik.


"Apa kak Rangga membutuhkan sesuatu ?!" Tanyanya.


"Oh, tidak. Aku hanya ingin bertanya bagaimana kau tiba-tiba berada di sana."


"Itu karna aku mencarimu." Jawab Dara.


Saat aku terbangun aku sedikit terkejut karna tidak melihatmu di tempat tidur.


Aku mencarimu di kamar kecil, tapi tidak menemukanmu. Kemudian aku keluar untuk mencarimu dan menanyakan ke beberapa perawat. Dan salah satu dari mereka mengatakan telah melihatmu berada di sekitar ruangan dr.Rena." Jelasnya kemudian.


Rangga terdiam.


Dara menghela nafasnya pelan.


"Boleh aku bertanya ?"


"Emmm.." Jawab Rangga.


"Apa kakak masih mencintai dr.Rena ?!" Tanyanya ingin tahu.


Rangga terdiam cukup lama, entah apa yang ia fikirkan.


"Baiklah, kak Rangga tidak perlu menjawabnya." Ucap Dara sedikit kecewa.


Hanya saja jika aku boleh memberi saran, sebaiknya jangan menyimpan perasaan kakak sendirian. Terkadang kita perlu berbicara dan mengungkapkan apa yang kita fikirkan dan apa yang mengganjal di hati, agar bisa merasa lebih baik." Imbuhnya.


"Hei, apa kau tidak sadar ? kau berbicara seakan kau lebih tua dariku !


Apa kau sekarang ingin mengajariku ?!"


"Tidak.


Aku memang jauh lebih muda dari kak Rangga, tapi bukan berarti aku tidak bisa berfikir lebih baik.


Lagi pula aku hanya ingin memberi saran. Kalau kak Rangga tidak ingin mendengarkan, ya sudah." Jawab Dara sinis kemudian melangkah pergi dan duduk di sofa.


Rangga memperhatikannya dari jauh. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menelfon seseorang. Setelahnya, dia kembali menelfon, namun kali ini dia menelfon Reno.


"Halo Ren, apa kau masih sibuk ?"


"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku, ada apa ?"


"Aku ingin kau meretas keamanan CCTV yang ada di rumah sakit ini."


"Apa lagi yang ingin kau lakukan ? tidak bisakah kau membuatku istirahat sebentar saja ?!" Jawab Reno sedikit lelah.


"Kau bisa beristirahat setelah kau menyelesaikan apa yang aku perintahkan !"


Reno terdengar menghela nafasnya pasrah.


"Sebaiknya kau membayarku dua kali lipat dari biasanya !"


"Aku tidak akan membayarmu sepeser pun jika kau terus mengeluh !"


"Baiklah.. baiklah.. !" Pasrah Reno.


Beritahu aku rekaman apa yang sebenarnya kau inginkan !" Ucapnya kemudian.


"Aku ingin kau memeriksa setiap pergerakan Arka dari tiga hari yang lalu."


"Baiklah, aku mengerti."


Telfon terputus.


Rangga kembali memperhatikan Dara, diam-diam wanita itu memasang telinga untuk menguping pembicaraan Rangga di telfon.


"Dara.. !" Panggil Rangga.


Dara berbalik dan menatapnya.


Rangga memanggilnya dan memberinya isyarat untuk mendekat.


Dengan patuh,Dara segera beranjak dari sofa dan berjalan mendekati Rangga.


Rangga mengisyaratkan jarinya untuk Dara lebih mendekat, Dara sedikit tersenyum dan patuh.


Dengan keras Rangga menyentil jidat Dara, membuatnya meringis kesakitan.


"Aaw.. " Ucapnya dengan cepat mengusap jidatnya yng terasa sakit.


"Itu hukuman bagimu karna mengupingku saat menelfon !"


Dara tertunduk dan masih memegang jidatnya.


"Maafkan aku !"


"Dan, mengapa kau tiba-tiba merubah gaya bicaramu menjadi seformal itu denganku ?!" Tanya Rangga kemudian.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud apa pun. Aku hanya merasa dekat saja dengan kak Rangga." Ucapnya. Ia terlihat meneteskan air mata dan sesekali menghirup kembali cairan yang ingin keluar dari lubang hidungnya.


"Apa kau menangis ?" Tanya Rangga.


Dara menggelengkan kepalanya.


"Tidak." Ucapnya dengan masih menundukkan wajahnya.


Rangga berdecak kesal.Sebenarnya ia sama sekali tidak bermaksud ingin membuatnya menangis.


"Apa kau tahu ? aku sangat tidak suka melihat wanita yang cengeng !"


Siapa sangka perkataan Rangga semakin membuat Dara sedih dan memecahkan tangisannya.


Rangga semakin panik.


"Hei, berhenti menangis !" Titahnya.


Dara tidak perduli, ia terus menangis.


"Kalau kau tidak berhenti juga, aku akan menyuruh Reno untuk memecatmu !" Ucap Rangga sedikit mengancam.


"Lalu aku harus apa ? kau tidak ingin aku berbicara formal denganmu. dan mengatakan kalau kau tidak menyukai wanita yang cengeng. lalu sekarang kau ingin Pak Reno memcatku.


Lalu apa yang harus aku lakukan ? aku ingin terus berada di dekatmu." Ucapnya sesegukan dengan masih berlinangan air mata.


Rangga sedikit terkejut, secara tidak langsung Dara sebenarnya mengungkapkan perasaannya. Namun ia kemudian meredakan suaranya dan mencoba menghibur Dara.


Dara segera menghentikan tangisannya.


"Benarkah ?" Tanyanya sembari mengusap air matanya.


"Emmm.. anggap saja ini balasan karna sebelumnya kau telah menolongku dan telah merawatku !" Jawab Rangga.


"Tapi, apa aku akan di pecat ?" Tanyanya lagi.


Rangga menghela nafasnya pasrah.


"Tidak !!" Jawabnya.


"Terima kasih !!" Ucap Dara dan memeluk Rangga dengan sangat erat.


"Hei, mengapa kau memelukku !!" Bentak Rangga.


Dara melepaskan pelukannya.


"Aku hanya terlalu bersemangat." Ucapnya.


"Sebaiknya kau pulang saja !" Titah Rangga.


"Tapi, siapa yang akan menjagamu ?!" Tanya Dara.


"Sekarang aku baik-baik saja, aku hanya ingin beristirahat dan sendiri."


"Kak Rangga bisa beristirahat,aku akan duduk diam di sana." Ucap Dara menunjuk sofa.


"Tidak perlu, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang jika kau tetap berada disini."


Dara sedikit cemberut mendengar perkataan Rangga.


"Baiklah,aku akan pulang."


Tapi bagaimana jika Pak Reno memarahiku ?!" Tanyanya kemudian.


"Aku yang akan memberitahunya. Kau bisa pergi sekarang." Jawab Rangga.


"Okey,okey, aku akan pergi." Ucap Dara meraih tasnya kemudian keluar dari ruangan tersebut.


•••


Malam tiba.


Pukul 20.00.


Rena yang memakai mini dress berwarna putih berjalan memasuki lift dan menuju lantai 17. Ia terlihat sangat cantik malam itu.


Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift akhirnya terbuka. Ia segera keluar dan menuju apartemen Arka.


Ting Tong.


Rena menekan bel pintu beberapa kali, hingga Arka membukakan pintu untuknya.


"Hai.. " Sapanya dengan senyum.


Arka terlihat menatapnya dari bawah hingga ke atas.


"Kau sangat cantik malam ini !" Ucapnya memuji dan kemudian memeluk Rena.


"Ayo masuk !" Ajaknya kemudian.


Ruangan itu telah di dekor seromantis mungkin. Arka sengaja memadamkan semua lampu dan menerangi ruangan dengan lilin-lilin kecil berwarna putih.


Rena tersenyum bahagia melihat ruangan itu.


"Apa kau suka ?!" Tanya Arka sedikit berbisik.


Rena menatapnya kemudian menganggukkan kepalanya.


"Kemari, aku telah menyiapkan sesuatu untukmu !" Ucap Arka menarik Rena menuju meja makan yang berbentuk bulat.


Dia atas meja juga ada lilin merah dan sebuket bunga mawar putih. Ia berjalan menuju dapur dan mengambil kue tart coklat dengan lilin kecil di atasnya.


Ia kemudian berjalan keluar dengan menyanyikan lagu selamat.


"Happy birthday to you.. happy birthday to you happy birthday, happy birthday, happy birthday to you !"


Rena sedikit tertawa, Ia merasa lucu mendengr Arka menyanyikan lagu itu dengan kaku. Untuk sesaat dia membuat permohonan kemudian meniup lilinnya.


"Happy birthday sayang !!" Ucap Arka kemudian mencium jidat Rena dengan lembut.


Waktu terus berputar, mereka melewatinya dengan bahagia. Setelah makan, meminum wine dan sedikit berdansa. Mereka akhirnya duduk beristirahat di depan TV.


Arka terus merangkul Rena dan sesekali menghirup aroma shampo di rambutnya.


"Terima kasih." Ucap Rena dengan tulus.


"Apa kau bahagia ?!" Tanya Arka.


Rena menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku senang jika kau bahagia." Ucap Arka dan mencium jidat Rena sangat dalam.


"Masalah tadi siang, aku minta maaf !!" Ucap Rena merasa bersalah.


"Tidak perlu di bahas. Aku ingin kita menikmati malam ini dengan cinta kita,tanpa membahas orang lain."


Rena terdiam. Ia tahu kalau Arka masih kesal.Ia semakin membenamkan kepalanya di pelukan Arka lalu memeluknya.


Arka mengusap pelan lengan Rena.


"Boleh aku menciummu ?!" Tanya Arka sembari melepaskan pelukan Rena agar bisa menatap wajahnya.


Rena mengangguk pelan.


Perlahan Arka merangkul wajah Rena dengan sebelah tangannya.Untuk beberapa saat mereka menikmatinya dengan sangat lembut dan menyudahinya.


Sedangkan di ruangan yang berbeda, Rangga yang telah menyewa satu apartemen yang berada tepat di samping Arka.


Sebelumnya ia telah membayar seseorang untuk memasang penyadap suara di setiap ruangan yang ada di apartemen Arka, dari dapur, meja makan, kamar mandi, meja yang ada di depan TV, hingga ranjang sekali pun.


Dan saat ini ia semakin gelisah, mendengar suara bahwa mereka sedang berciuman.


Ia berjalan mondar-mandir di ruangannya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dan sesekali ia akan menendang tembok yang menjadi pemisah di antara mereka.


Sementara itu, Rena dan Arka yang masih saling mentap, nafas mereka terlihat sedikit tidak beraturan, hidung mereka masih saling bersentuhan satu sama lain.


Arka kemudian kembali menangkap wajah Rena dengan kedua tangannya dan menciumnya dengan sedikit rakus.


Tangannya mulai turun ke leher Rena dan kemudian turun mengusap punggung Rena dengan lembut. Hingga tangannya jatuh ke paha Rena.


Rena yang tersadar, segera menghentikan aksi ciuman mereka. Nafas mereka semakin tidak beraturan.


"Arka.. !" Ucapnya dengan sedikit menolak.


.


.


"Apa kau ingin minum ?!" Tanya Arka terdengar menghela nafasnya tajam.


Rena tersenyum dan mengangguk, sembari memperbaiki rambutnya yang sedikit acak.


Arka segera berdiri dan berjalan ke arah dapur. Ia mengambil gelas di dalam lemari. Namun matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah rak penyimpanan obat. Ia terlihat berfikir dan melirik ke arah Rena.


Dengan cepat ia mengambil gelas dan menuangkan air ke dalamnya, lalu membawanya untuk di minum Rena.


"Ren.." Ucapnya dengan menyodorkan gelas yang sudah terisi air putih.


Rena meraihnya.


"Terima kasih." Ucapnya kemudian meminumnya hingga tak tersisa.


Sedang Arka,ia kembali duduk dan merangkul Rena sambil sesekali memainkan rambut wanitanya.


Untuk beberapa saat mereka terdiam.


Arka kemudian mulai kembali mencium Rena dan terus mengecup kulit lembutnya hingga sampai ke batang lehernya.


Rena yang merasa sedikit geli segere mengelak dan berusaha menjauhkan Arka darinya.


"Ada apa ?!" Tanya Arka.