
Rena terlihat kembali berpikir. Jika di pikir-pikir, dirinya juga trauma jika harus kembali membuat perencanaan dengan berbagai macam seperti undangan, fitting baju dan lain sebagainya.
Jika dia menunda kali ini, hanya karna perencanaan yang tidak begitu penting, dia takut kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya lagi. Sama seperti saat itu, dan saat dimana ia juga berencana menikah dengan Arka.
Bukankah langsung menikah seperti ini lebih baik ? hingga tidak perlu lagi merasa khawatir jika pernikahan mereka gagal. Menikah secara agama lebih dulu dan berikutnya bisa membuat resepsi sambil menyerahkan berkas pernikahan hingga sah secara Negara.
"Baiklah.." Ucapnya kemudian.
Rangga akhirnya bisa tersenyum lega.
"Tapi tunggu." Sekali lagi Rena mencoba menunda.
"Apa lagi ?" Tanya Rangga mulai merasa kehilangan kesabarannya.
"Kali ini apa kau juga akan menikahiku dengan tangan kosong ?" Rena bertanya sambil melirik ke arah jari manisnya.
Rangga yang mengerti sedikit berfikir. Dia tidak ingin menunda pernikahannya, tidak ingin terjadi sesuatu lagi jika dia harus menunda hanya karna ingin mendapatkan sebuah cincin.
"Tunggu sebentar." Ucapnya kemudian turun dari altar dengan tergesa-gesa berjalan ke arah Ibunya.
"Ada apa sayang ?" Tanya Mariah saat melihat Rangga yang datang menghampirinya.
Pasalnya tidak ada yang bisa mendengar apa saja yang sudah Rena dan Rangga bicarakan di atas altar sana. Mariah khawatir pernikahan putranya kali ini akan gagal lagi.
"Mah, bisa aku meminjamnya ?" Tanya Rangga sembari mengangkat tangan Ibunya memperlihatkan cincin yang bertahtakan berlian kecil di atasnya, melingkar indah di jari manisnya.
Mariah yang mengerti hanya bisa tersenyum dan segera melepaskan cincin tersebut.
"Kau tidak perlu meminjamnya sayang, semuanya untukmu, apapun itu. Bahkan jika harus memberikan cincin pernikahan Mamah." Jelas Mariah masih dengan senyum anggunnya.
"Terimakasih Mah, aku mencintaimu." Ucap Rangga memberi kecupan singkat di pipi Ibunya.
"Cepat sana, Rena sudah menunggumu." Titah Mariah sedikit mendorong tubuh putranya.
Rangga hanya melempar senyum, dan dengan cepat kembali ke altar pernikahan. Saat tiba, ia mengangkat sedikit tangannya memperlihatkan cincin tersebut pada Rena.
"Apa sudah bisa di mulai ?" Tanya sang pendeta.
Keduanya akhirnya berbalik dan mengangguk bersamaan dengan mantap.
Pendeta mengucapkan beberapa kata pembuka hingga pada akhirnya membantu keduanya mengikrarkan kata janji pernikahan, kemudian menutupnya dengan doa dan pesan singkat.
Semuanya merasa terharu dengan momen tersebut, tidak bisa membayangkan hal ini akan terjadi dengan sangat romantis.
Rena mengulurkan tangannya Rendah dan dengan Rangga yang meraihnya kemudian menyematkan cincin yang bertahtakan berlian di jari manis wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya.
"Raehana Khairani, aku mencintaimu." Ucapnya bersamaan dengan cincin yang tersemat sempurna, melingkar dengan indah. Kemudian meraihnya sedikit mendekat dan melepaskan kecupan indah di dahi wanitanya sedikit lama, meresapi segala kebahagiaan yang menyelimuti keduanya pada saat ini.
Mendapat perlakuan seperti itu, Rena hanya bisa memejamkan matanya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi wajahnya.
"Aku juga mencintaimu, Rangga Aberald. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama." Lirihnya.
Waktu terus berputar, hingga pernikahan tersebut usai, menyisakan kedua pasangan pengantin dengan keluarga inti dari ketiga pihak mempelai.
"Apa ini Rena ? kau menjadi topik utama di hari pernikahanku." Ledek Tika sedikit memanyunkan bibirnya.
Rena hanya bisa tersenyum dengan Rangga yang masih setia merangkul pinggangnya.
"Lengket terus.. kayak perangko." Sindir Reno pada Rangga. Membuat ketiga pasangan lainnya tergelak.
Rangga hanya bisa tersenyum malu sembari melirik ke arah Rena yang masih tertawa kecil mendapat ledekan dari sahabat-sahabatnya.
"Manis." Lirihnya.
Rena seketika mendongak menatap Rangga yang saat ini juga menatapnya dengan senyum.
"Apa kau baru saja mengatakan sesuatu ?"
Rangga menggeleng dengan senyum.
"Tidak."
"Jadi mau bulan madu dimana ?" Tanya Jaya tiba-tiba dengan beberapa pasangan lainnya yang tidak lain adalah orangtua dari Tika dan juga Rangga.
"Ayah." Ucap Rena sedikit dengan rona di wajahnya, ia sedikit malu setelah mendengar pertanyaan Ayahnya yang entah mengapa terdengar sedikit erotis di Indra pendengarannya.
"Sepertinya ke Dubai." Jawab Rendy sedikit berpikir, membayangkan betapa menyenangkannya bisa menghabiskan waktu dengan Tika.
"Ayah sedang tidak bertanya padamu, lagipula kau belum menyelesaikan pekerjaanmu. Sesuai kesepakatan, tidak ada bulan madu jika kau belum menyelesaikan tugasmu." Ucap Jaya datar, tapi semua tahu kalau pria baya itu sebenarnya hanya bercanda.
Rendy terdiam sedikit mengerucutkan bibirnya, membuat semuanya tertawa lucu saat melihat ekspresi yang ia berikan. Sedangkan Tika, dia hanya bisa mengelus pelan dada suaminya memberi semangat.
"Tenang saja, kita bisa berbulan madu dimana saja sayang." Bisik Tika, membuat Rendy menyeringai dengan senang.
"Rena.." Sapa Mariah, sembari meraih kedua tangan Rena dengan lembut.
Rena menatap Mariah dengan senyum.
"Terimakasih, terimakasih karna sudah mau menerima putraku." Ucapnya dengan mata yang berbinar haru.
Rena hanya bisa mengangguk dan memeluk lembut wanita baya yang kini berganti status menjadi Ibu mertuanya.
Cukup lama, hingga mereka melepaskan pelukan tersebut. Mariah menyeka air matanya yang menggenang, kemudian berlanjut memeluk putranya.
Sedangkan Rena, ia memeluk Ibunya yang kini juga telah menangis di pelukannya dalam diam.
"Ayah.." Rena berucap saat matanya tertuju pada Ayahnya yang juga sedang menatapnya dalam diam, sebelum akhirnya memeluk Ayahnya dengan sangat erat.
Pada akhirnya pesta tersebut benar-benar selesai. Semuanya telah kembali di kamar masing-masing yang sudah di persiapkan oleh pengurus hotel.
Tapi tidak dengan pasangan yang satu ini. Karna pernikahan yang tidak terencana sebelumnya, mereka tidak mendapatkan kamar pengantin layaknya milik Rendy dan juga Tika yang dipenuhi dengan bunga dan hiasan lainnya.
Biasa saja, itulah gambaran kamar pengantin mereka saat ini.Walau kamar tersebut adalah salah satu kamar VVIP yang tidak bisa di boking untuk sembarang orang.
Rena duduk di depan meja hias sembari menanggalkan satu persatu aksesoris yang menghias di beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Rangga, dia lebih memilih untuk duduk di sofa panjang yang tersedia di kamar tersebut.
Sebenarnya sejak memasuki ruangan ini secara bersamaan, mereka tidak dapat memungkiri kalau keadaan saat ini membuat diri mereka merasa canggung,malu, terlebih detak jantung keduanya seakan berpacu dengan sangat cepat.
Untuk itu Rena mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mengambil kesibukan tersendiri, duduk di depan meja hias dan menghapus mike up yang melekat di wajahnya. Sedangkan Rangga, sedari tadi sibuk menatap layar ponselnya sesekali mencuri pandang menatap Rena dari belakang.
Gluk..
Ia kembali meneguk salivanya hanya karna menatap punggung Rena yang sedikit terbuka.
Namun saat melihat Rena yang beranjak dari duduknya, ia kembali menatap layar ponselnya dengan sangat gugup. Takut jika Rena menangkap basah dirinya yang sedang mencuri pandang.
"Rangga.." Sapa Rena pelan.
Membuat Rangga seketika mendongak, ia tidak tahu bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Yang jelas dia sangat gugup. Berfikir, bagaimana jika Rena meminta malam pertama yang panas ?
"Ya.." Jawabnya cepat.
"Aku mandi dulu, apa kau tidak ingin mandi ?" Tanya Rena, sebenarnya dia juga sangat gemas melihat tingkah Rangga yang sebelumnya sudah berstatus duda tapi masih saja bertingkah malu-malu kucing terhadapnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja. membuat mata Rengga seketika membola.
("Apa dia baru saja mengajakku mandi bersama ?") Batinnya berbinar cerah.
Ia kembali meneguk salivanya.
"Oh, eh sedikit lagi. kau bisa mandi lebih dulu." Jawabnya menolak. Namun dengan cepat ia merutuki dirinya karna terlalu naif.
("Apa yang ku katakan ? Sial, seharusnya aku tidak menolaknya.") Batinnya mengumpat.
"Oh, baiklah." Ucap Rena kemudian berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi.
Baru saja pintu tertutup. Rangga mengerang kesal di bawah bantal, menyesali ucapannya sendiri. Sedangkan Rena, ia dengan cepat menyalakan keran wastafel dan membasuh wajahnya beberapa kali.
("Bodoh, mengapa aku bisa mengatakan hal seperti itu ? menawarnya mandi ? oh no, dia pasti merasa kalau aku sangat menginginkannya.") Batinnya kesal.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama, dia segera menanggalkan pakaiannya setelah mengisi bathtub dengan air hangat.