
Sore hari. Setelah membuat janji temu pada Arka, Rendy dan Rena telah bersiap pergi ke tempat yang sudah di janjikan.
"Kak.. " Panggil Rena saat hendak masuk ke dalam mobil.
"Ada apa ? mengapa kau berdiri saja ? cepat masuk !" Titah Rendy.
Rena terlihat bingung.
"Apa sebaiknya aku tidak usah pergi ?!"
"Apa maksudmu ?" Tanya Rendy bingung.
"Aku.. aku merasa malu untuk menemuinya saat ini." Jelas Rena kikuk.
Arka keluar dari mobil dan segera mendorong adik masuk ke dalam mobil.
"Kaak.. aku sangat malu.. " Ucap Rena mengeluh.
"Dengar Rena, aku memang kakakmu, tapi ini adalah masalahmu. Belajarlah menghadapinya meskipun kau harus menebalkan wajahmu." Ucap Rendy sembari memasangkan sabuk pengaman adiknya.
Setelah menutup pintu, ia kembali masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengaman miliknya. Kemudian melaju, menuju tempat yang akan menjadi tujuan mereka saat ini.
••
Di sebuah bangunan cafe yang cukup elit. Terlihat Arka sudah tiba lebih dulu, Rendy sedikit terkejut melihat Arka yang sudah duduk dengan secangkir kopi terpatri di depannya. Ia tidak menyangka Arka akan secepat itu tiba lebih dulu dengan jadwalnya yang padat.
Melihat kedatangan Rendy dan juga Rena. Arka segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka.
Sedang Rena yang masih merasa malu, berusaha menyembunyikan wajahnya dengan masker dan juga topi. Bukan hanya itu saja, dia terus berjalan di balik punggung kakaknya.
"Rena, ada apa denganmu ?" Bisik Rendy merasa risih.
"Diamlah ! atau aku akan melarikan diri."
Arka yang melihat kelakuan Rena hanya bisa tersenyum lucu sedang Rendy hanya bisa menampilkan tawa pasrah karna kelakuan adiknya.
"Rena.. !" Sapa Arka.
"Em-hai.. !" Jawabnya sambil mengangkat tangannya sebelah kemudian duduk di kursi yang ada di belakang Rendy.
"Hei, mengapa kau duduk di situ ? meja kita ada disini !" Tegur Rendy.
"Kau saja yang duduk di situ, aku akan memesan meja ini." Jawab Rena kikuk.
Rendy lagi-lagi hanya menghembuskan nafasnya pasrah.
"Kau tidak bisa duduk di kursi itu sebelum memesannya, tempat ini tidak sama dengan cafe yang sering kau kunjungi." Jelas Rendy.
Bagaimana jika seseorang telah memesannya ?" Imbuhnya.
"Biarkan saja, toh orangnya juga belum tentu datang."
"Bagaimana kau bisa mendengar apa yang di katakan Arka jika kau duduk di situ ?"
"Kau pikir aku memiliki gangguan pendengaran ? tenanglah, aku pasti mendengarnya. Lagian tidak bisa kah kau diam dan duduk saja ? kau bawel sekali !" Ketus Rena.
Lagi-lagi Arka hanya bisa tersenyum lebar melihat tingkah Rena, dan juga pertengkaran mereka.
Rendy berdecak kesal, kemudian duduk membelakangi adiknya.
"Maafkan aku Arka !" Ucap Rendy sedikit berwibawa. Namun sia-sia, karna Rena sudah menurunkan harga dirinya lebih dulu.
"Tidak masalah !" Jawab Arka santai namun masih terlihat berwibawa.
Sungguh, Rendy sangat iri. Bagaimana bisa calon CIO sepertinya kalah wibawa oleh seorang dokter ? dirinya kesal dan merasa malu karna adiknya itu.
"Ini masalah Ren-"
"Aku mengerti." Sela Arka dengan senyum.
Dia pasti masih belum mempercayaiku dan memaksamu untuk menemuiku bukan !?." Terkanya.
"Hahaa kau bijak sekali." Jawab Rendy dengan tawa hambarnya.
Ia merasa Rena mengoloknya dari belakang, segera berbalik dan menjitak kepala adiknya.
Tak
"Aaaw..!" Rintih Rena kesakitan sembari memegang kepalanya di bagian belakang.
"Jadi, bisakah kau menjelaskannya sekarang ?!" Tanya Rendy kembali.
Arka tersenyum dan menyodorkan ponselnya.
"Kau bisa melihatnya sendiri. Ini adalah rekaman sisi tv yang ada di apartemenku beserta kamarku." Ucap Arka dengan senyum wibawanya.
Rendy mengambil ponsel itu dan melihatnya sdengan seksama. Dari saat Arka masuk ke dalam apartemennya dan membawa Rena masuk ke dalam kamarnya.
Ia juga melihat bagaimana Arka mencoba menelfonnya dan bagaimana Rena memuntahkannya. Arka juga terlihat menutup tubuh Rena dengan selimut dan melepaskan pakaiannya dengan susuah payah. Kemudian menggantikannya dengan handuk besar miliknya. hingga ia membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh Rena.
Beberpa menit kemudian, Arka yang sudah kembali membawa Rena ke tempat tidur mencoba melepaskan kalungan Rena dari lehernya, namun Rena menahan dan kemudian menariknya. Ia terlihat mengatakan sesuatu dan terus menangis tersedu. Hingga akhirnya ia benar-benar tertidur dalam pelukan Arka.
Saat itu Arka berusaha bangun dan mencoba memakaikan Rena kemeja besar miliknya.
"Apa yang kau lihat ?" Tanya Rena sedikit berbisik namun masih terdengar jelas oleh Arka.
"Kau pikir apa ?! Aku tengah melihat kekonyolan yang kau lakukan bodoh !" Jawab Rendy kemudian memberikan ponsel yang ada di tangannya.
Rena hanya bisa memukul pelan jidatnya karna merasa sangat bodoh dan memalukan.
"Sekarang, apa kau sudah bisa tenang ?" Tanya Arka.
Rena melipat bibirnya. Ia malu, saangat malu.
"Sepertinya, semuanya sudah jelas." Ucap Rendy kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Arka tersenyum menanggapi.
"Sekarang kau harus meminta maaf dan menyelesaikan masalah di antara kalian berdua." Ucap Rendy pada adiknya.
Rena menatap Rendy memohon.
"Tidak bisakah kau tinggal sedikit lebih lama ?" Tanya Rena dengan suara lirih.
Rendy menggelengkan kepalanya.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini ? Kau harus bisa belajar menyelesaikan masalahmu sendiri." Ucap Rendy kemudian melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Rena masih tidak ingin meninggalkan tempat duduknya dan menemui Arka. Namun Arka tidak ingin membuang waktunya dan dengan cepat ia berpindah dan duduk tepat di depan Rena.
Rena yang masih merasa sangat malu dengan cepat menundukkan wajahnya dengan gerogi.
Arka tersenyum. Melihat penampilan Rena yang seperti itu. Ia dengan cepat melesat merebut topi yang di pakainya.
Rena memalingkan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan ?!" Hardiknya.
"Kau terlihat seperti seorang yang mencurigakan memakai topi di dalam ruangan seperti ini." Jawab Arka dengan senyum jahilnya.
Merasa belum puas, ia dengan cepat melepas masker yang menutupi wajah gadis itu.
"Lihatlah, kau terlihat lebih cantik jika seperti ini." Ucapnya menggoda.
Rena yang tidak ingin menggubris, kini menutup wajahnya dengan telapak tangannya sebelah.
"Hmmp, Baikalah.. jika kau tidak ingin melihatku. Mungkin sebaiknya aku pergi saja." Ucap Arka kemudian beranjak untuk berdiri.
Namun Rena dengan cepat menahannya dengan memegang tangannya sebelah.
"Maafkan aku !" Lirihnya merasa bersalah.
Tidak seharusnya aku mencurigaimu seperti itu !" Imbuhnya
Arka tersenyum kemudian kembali mendaratkan bokongnya.
"Apa seperti itu caramu meminta maaf ?" Tanya Arka komplain.
Mengapa kau tidak menatapku ? apa wajahku begitu buruk untuk kau lihat ?!"
Rena melipat dan menggigit bibirnya pelan.
Perlahan Arka mengulurkan tangannya dan mengangkat dagu Rena dengan jarinya.
"Lihat aku !" Titahnya.
Dag. Dik. Dug.
Begitulah jantung Rena saat ini yang berdegup kencang. Perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap langsung wajah lelaki yang menenagkan itu.
Deg..
Jantungnya berdegup semakin tidak stabil melihat tatapan lelaki itu layangkan padanya.
("Mengapa dia menatapku seperti itu lagi ?!") Batinnya.
Arka tersenyum.
"Mengapa wajahmu memerah seperti itu ?" Tanyanya jahil yang sebenarnya dia tahu kalau Rena sedang merasa sangat malu.
"Apa kau tidak bisa untuk tidak menatapku seperti itu ? apa kau benar-benar ingin aku mencolok matamu ?! dan mengeluarkan bijinya agar kau tidak bisa melihat lagi ?" Umpat Rena kesal.
Arka tergelak dan tertawa sangat keras sembari melepaskan tangannya dari dagu Rena.
"Hahahaa.. lihatlah, baru saja kau meminta maaf dan sekarang kau mengumpatku lagi !?"
"Itu salahmu !" Kesal Rena.
"Baiklah-baiklah.." Pasrah Arka.
Aku bertanya-tanya, siapa yang telah mengajarimu mengumpat seperti itu ?! seingatku, saat kita SMA dulu kau adalah wanita yang paling anggun diantara semua sisiwi yang ada di sekolah. " Ungkapnya.
"Entahlah.."Ucap Rena yang masih terlihat kesal. Ia hanya asik memandangi pemandangan yang ada di luar sana melalui jendela besar yang ada di dekatnya.
Tidak lama dari itu, Arka kemudian meraih tangan Rena dan memegangnya dengan erat.
"Ren.. !"
Dengan reflek Rena menatapnya dengan tanya.
"Aku mencintaimu..!" Ucap Arka sendu.
Rena terdiam.Ini adalah pernyataan Arka yang entah keberapa kalinya. Dirinya bingung apa yang harus menjadi keputusannya. Ia tidak mungkin menggantung Arka terus-menerus.
Jika menyangkut dengan perasaan Anggi, bukankah Anggi telah mengatakan kalau dia mengikhlaskan Arka jika itu dirinya ?
"Beri aku waktu untuk berfikir." Ucap Rena.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu ?" Tanya Arka frustasi. Ia ragu, kalau ini hanyalah jawaban Rena untuk menenangkannya saja.
"Tiga hari. beri aku waktu tiga hari !" Ucap Rena dengan mantap.
Saat itu, terlihat mata Arka berbinar dengan penuh harapan yang meyakinkannya bahwa Rena tidak lagi akan menggantungnya.
"Baiklah.. aku akan menunggu." Jawabnya dengan senyum bahagia.
"Emmm bisakah kau mengantarku pulang ?" Pinta Rena.
"Dengan senang hati." Jawabnya. Kemudian beranjak berdiri dan disusul oleh Rena.
Mereka berdua akhirnya berjalan dengan beriringan, Arka kembali meraih tangan Rena dan menggenggamnya dengan erat. Dan Rena hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Arka yang seperti itu.
"Hei.. aku belum menerimamu dan kau sudah berani memegang tanganku ?!" Tanya Rena sembari mengangkat tangan mereka yang telah menyatu.
"Lalu harus bagaimana ? aku tidak bisa lagi menahannya dan aku yakin kali ini kau pasti akan menerimaku." Jawab Arka sangat percaya diri.
"Kau terlalu percaya diri." Ledek Rena.
"Biarkan saja ! asal itu kau !" Jawab Arka dengan senyum kemenangan.
"Apa kau ingin tahu apa saja yang kau katakan padaku tadi malam ?" Bisik Arka.
Rena hanya mengangkat bahunya tidak peduli.
"Kau bilang kalau aku sangat wangi dan sangat nyaman untuk di peluk." Bisiknya kembali.
Refleks Rena mencubit lengannya dengan sangat keras.
"Tidak bisakah kau berhenti untuk membuatku merasa malu ?!" Gemas Rena.
Arka hanya bisa menahan sakitnya. Menurutnya ini adalah cubitan terbaik yang pernah di terimanya.