Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 87



Waktu terus berlalu.


Jarum jam menunjuk angka 08.15 malam.


Tim Arka baru saja selesai melakukan oprasi pada pasien yang sebelumnya sudah di jadwalkan.


Tidak ada masalah sedikitpun dalam oprasi, hanya saja rekan yang lainnya sedikit tidak senang karna menurut mereka Arka terlalu memanjakan Rena.


Sebagai asisten satu yang harus terus menemani Arka dalam menjalani oprasi, kali ini Rena dibiarkan istirahat hanya karna masalah yang di hadapinya siang tadi.


Dan tentu saja mereka semakin kesal ketika seseorang mencoba mengkompori hubungan mereka dalam tim.


"Apa dia pikir ini Rumah Sakit milik Ayahnya ?!"


"Anggap saja seperti itu, bukankah sebentar lagi dia akan menjadi menantu Prof.Ferdiansyah ?!"


"Tapi tetap saja, tidak bisakah dia bertanggung jawab atas pekerjaannya ?!"


"Apa dia pikir ini taman bermain yang dia bisa bebas berbuat apa saja ?!"


"Dia bukan hanya lambat mengatasi pasien, tapi juga membuat kesalahan ! Dan kali ini dia juga tidak ikut dalam meja oprasi !"


Beberapa cibiran terus keluar dari mulut rekan-rekan yang lainnya, membuat Cindy tertawa bahagia di dalam hati.


Namun tidak dengan Anggi, dia hanya bersandar di dinding sembari bersedekap memeperhatikan semuanya dalam diam, hingga matanya tertuju pada Cindy yang saat ini terlihat menyembunyikan senyum liciknya.


Cindy tiba-tiba memalingkan wajahnya, ia melihat Anggi yang menatapnya tajam dalam diam, namun dia sama sekali tidak terkejut bahkan tidak mempedulikannya. Ia kemudian berbalik untuk pergi dari ruangan tersebut setelah puas akan semuanya.



Di Atap Rumah Sakit


Rena terlihat berdiri tersandar di pinggiran tembok yang membatasi, menikmati kesendirian di temani langit malam.


Tempat ini telah menjadi favorit Rena sejak bekerja di tempat itu.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Arka tidak membiarkannya ikut dalam oprasi yang di lakukan timnya. Ia tahu Rena saat ini masih syok dengan pengalaman pertamanya menangani pasien dan meninggal saat di tanganinya.


Arka tidak ingin dia kembali membuat masalah di meja oprasi. Yang mana itu akan semakin membuat imagenya dan kinerjanya di pertanyakan oleh rekan yang lainnya.


Dan Rena menyadari itu semua. Dia tahu, tidak ada yang lebih mengenal dan mengerti dirinya selain Arka dan juga sahabatnya, Anggi.


Ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya secara kasar. Kepalanya terasa penuh dengan segala pertanyaan dan umpatan untuk dirinya sendiri.


Terlalu banyak masalah datang di hidupnya sejak ia kembali ke kota ini. Dia berfikir, apa keputusannya untuk kembali saat itu adalah keputusan yang salah ?


Dia belum menyelesaikan masalahnya dengan Arka, namun Ayahnya menuntutnya agar segera menikah. Di tambah posisinya yang akhir-akhir ini masih di pertanyakan oleh beberapa pihak. Dan hari ini seorang pasien telah meninggal yang menurutnya itu adalah kesalahannya.


Ia terus termenung, merenungi hidupnya yang sedikit kacau dan tidak sesuai dengan peta hidup yang di inginkannya.


Namun tiba-tiba sebuah telapak tangan yang besar dan hangat meraih tangannya dengan erat.


Rena menoleh menatap seseorang yang kini telah berdiri di sampingnya.


Arka tidak mengatakan apa pun, ia hanya terus memegang tangan Rena dan menatap ke depan melihat kerlap-kerlip lampu di tengah kota.


Rena kemudian melihat tangan mereka yang kini saling bertautan. Sepintas terbesit di pikirannya.


("Apa memang sebaiknya ia menikah saja ? agar beban lainnya akan berkurang.")


"Maafkan aku..!" Ucapnya lirih.


"Mengapa meminta maaf ?!" Tanya Arka, namun tidak memalingkan wajahnya.


.


.


Butuh beberapa saat Rena membisu.


"Mengapa kau sangat ceroboh hari ini ?!" Tanya Arka kemudian.


Rena mengangkat wajahnya menatap Arka penuh tanya.


"Mengapa kau menangani pasien yang sudah jelas akan segera meninggal ?! Apa kau tidak tahu itu akan menjadi masalah untukmu ?!" Tanya Arka, membuat Rena mentapanya sedikit tidak percaya.


Terlihat jelas Rena tidak suka mendengar ucapan Arka dan dengan kasar melepaskan tangannya dan sedikit membuat jarak. Ia tertawa hambar dengan ekspresi tidak suka.


"Apa maksudmu ? apa kau ingin aku membiarkannya dan melihatnya mati begitu saja tanpa berusaha memberikan pertolongan ?!" Kesal Rena.


Arka kemudian berbalik dan menatap Rena. Ia memegang bahu Rena mencoba untuk menenangkannya, namun Rena segera menepisnya.


.


.


"Apa kau tidak melihat para tim medis lainnya mencoba untuk tidak terlibat ? mereka tidak berani menyentuhnya. Itu karna mereka tahu, jika pasien itu mati dalam penanganannya maka mereka akan di salahkan ! dan akan memungkinkan membuat posisi mereka tergeser dengan kinerja yang di pertanyakan !" Jelas Arka.


"Apa posisi lebih penting dari pada nyawa seorang pasien ? bagaimana jika--" Rena tidak dapat menyelesaikan perkataannya ketika tangisannya ingin pecah mengingat kembali wajah pasien tersebut.


"Aku tahu, kau pasti sangat tahu pasien itu tidak dapat lagi bertahan hidup dan harapannya untuk hidup sangatlah kecil. Tapi mengapa kau masih nekat untuk menanganinya ? bagaimana jika Ibu pasien itu menuntutmu ?"


Rena menggelengkan kepalanya.


Terlintas kembali mata pemuda itu saat menatap Rena dengan tatapan memohon. Memohon agar dia bisa di selamatkan.


.


.


Arka menghela nafasnya pasrah dan mencoba menenangkan Rena kembali, dengan pelan ia memegang bahu Rena dan kemudian mendekapnya dengan erat, memberinya tepukan pelan di punggungnya.


Itu hari yang cukup melelahkan buat Rena. Setelahnya, karna tidak ada lagi jadwal oprasi di malam itu, Arka memutuskan untuk mengantar Rena pulang kerumahnya.


•••


Kediaman Atmajaya.


Mendengar bel rumah berbunyi, Rani bergegas membuka pintu dan sedikit terkejut melihat putrinya dengan mata yang sembab.


"Ada apa ?!" Tanya Rani dengan cepat meraih pergelangan tangan anaknya.


Rena menggelengkan kepalanya dengan sedikit senyum.


"Aku lelah, aku ingin beristirahat !" Ucapnya pelan.


Rena kemudian berjalan dan menyisakan Ibunya dan Arka yang masih berdiri di depan pintu.


Setelah melihat punggung Rena menghilang, Arka dengan cepat berpamitan untuk pergi. Namun Rani segera menghentikannya dan mengundangnya masuk ke dalam rumah.



Di ruang keluarga.


Mereka kini duduk saling berhadapan menunggu sang pelayan selesai menuangkan teh hangat di setiap gelas.


Saat itu pula Rani memperhatikan Arka cukup lama, membuat Arka sedikit gugup. Namun kemudian Rani terlihat tersenyum cukup puas dan memulai percakapan.


"Silahkan diminum !" Ucap Rani mempersilahkan.


Arka hanya bisa mengangguk dan perlahan mengangkat cangkirnya dan menyeruput tehnya dengan pelan. Ia terlihat sangat berkelas.


Terpintas di pikiran Rani saat pertama kali bertemu Rangga. Dia bukan hanya sedikit tidak sopan, tapi juga selalu ceroboh dalam bertindak. Sepertinya Rani melihat perbedaan yang cukup jauh antara Arka dan juga Rangga.


Rani hanya tidak tahu kalau sebenarnya saat ini Rangga juga telah berubah delapan puluh derajat dari dirinya yang dulu.


"Apa yang terjadi dengan Rena ? apa kalian bertengkar ?!" Terka Rani.


Arka sedikit tersenyum.


"Tidak, kami tidak bertengkar. Hanya saja ada sedikit masalah yang terjadi di Rumah Sakit." Jelasnya.


Rani tertawa hambar.


"Oh hoho, aku pikir Rena menangis karna habis bertengkar denganmu." Ucapnya.


"Dia memang sedikit manja." Imbuhnya dengan senyum.


Arka ikut tersenyum.


"Dia pasti telah banyak menyusahkanmu bukan ?" Terka Rani.


"Eh, tidak juga. Saya malah lebih suka jika dia menyusahkanku, itu bisa membuatku untuk terus bisa membantunya !" Jelas Arka.


Rani semakin puas setelah mendengar jawaban itu.


("Dia memang pria yang tepat !") Batinnya.


"Eh, apa orantuamu tahu tentang hubungan kalian ?!" Tanya Rani berbasa-basi.


Arka tersenyum.


"Siapa yang tidak akan tahu ? kami baru saja mengumumkannya dua hari yang lalu." Ucapnya sedikit malu.


Rani kembali tersenyum, ia mengangkat cangir tehnya.


"Ayah Rena menginginkan agar kalian segera menikah, bagaimana menurutmu ?" Tanyanya, kemudian menyeruput tehnya dengan pelan.


Arka sedikit terkejut,namun lebih terlihat sangat senang mendengar perkataan Ibu Rena.


"Aku sangat senang mendengar berita ini." Ucapnya penuh kebahagiaan.


Rani melirik Arka kemudian meletakkan cangkir tehnya dengan tenang.


"Kalau begitu aku ingin kau membuat persiapan, namun jangan terlalu tergesa-gesa. Aku tidak ingin Rena merasa tertekan dengan pernikahannya kali ini. Kau mengerti bukan ?!"


Arka menatap Ibu Rena dengan keberanian, seolah ia berkata kalau Ibu Rena tidak perlu merasa khawatir, dia akan melakukan segalanya.


.


.


Hingga akhirnya obrolan itu berakhir dengan cukup menyenangkan. Dan kemudian Arka berpamitan untuk pergi.


Rani tersenyum dan mengantarnya hingga ke depan pintu utama. Ia terus melihat punggung Arka berjalan menjauh dan masuk ke dalam mobilnya, kemudian keluar dari kediaman tersebut.