
Kriiiiiing... kriiiiiiing...
Sebuah jam weker berbunyi menunjukkan waktu pukul 06:30
Rena perlahan mengucek matanya meraba jam yang berada di atas meja dan mematikannya
"Huuuaaaaf ! Selamat pagi dunia !!" Ia kemudian menyibak selimutnya dan menuju jendela untuk membuka gorden
Ia mengehla nafasnya pelan
"Hmmmp ! hari yang cerah, mengawali hari yang lelah !"
Rani yang tiba tepat di belakang Rena mendengar keluhan anaknya
"Loh, mengapa mengeluh seperti itu !? harus semangat dong !" Sahut Rani sambil memegang kedua bahu Rena
Rena segera berbalik
"Eh Bunda ! sejak kapan Bunda berada disini ?"
"Baru, saja ! bunda pikir kamu belum bangun !"
"Oowh." Rena hanya ber oh ria.
"Mandi sana ! Bunda tunggu di meja makan !" Perintah Rani
"Siap !!" Jawab Rena
Rena bergegas menuju kamar mandi, sedangkan Rani kembali turun ke dapur menyiapkan makanan.
Setelah selesai mempersiapkan segalanya, Rena segera berlari kecil menuruni anak tangga.Ini sudah menjadi kebiasaan Rena dan selalu membuat Ibunya geleng geleng kepala.
"Rena, Bunda sudah sering melarangmu jangan berlarian di tangga !" Seru Rani
Rena hanya terkekeh
"Hehee maaf Bunda,Rena lupa lagi !" Sembari mendekati Ibunya
"Hmmmp, Kamu harus mengurangi kebiasaan burukmu ini Rena, apa kamu ingin Bunda terlihat cepat tua karna setiap hari harus terus memarahimu ?!" Ucap Rani
"Ada apa sih nih ribut ribut ?!" Jaya mendekati Istrinya dan duduk di kursi yang sudah di siapkan Rani.
"Ini loh,anak kamu, setiap hari Bunda harus stres melihatnya selalu berlarian di tangga, kalau kakinya tergelincir bagaimana ?!" Keluh Rani
"Rena, apa kau tidak kasihan melihat Bundamu ?!" Tegur Jaya
"Maaf Bunda !" Ucap Rena
"Hmmp, hari ini maaf,dan besok akan di ulangi lagi !"
"Bagaimana kalau kita membangun lift untuk ke lantai atas m ?!" Tanya Jaya pada Rani sambil mengiris rotinya
"Lihatlah dirimu, kau terlalu memanjakan anakmu !"
"Kalau bukan dia, siapa lagi ?! ayah hanya mempunyai satu putri dan ayah harus memberikan segalanya padanya, tentu saja kalau dia selalu bersikap baik." Sambil melirik ke arah Rena dengan senyum.
"Baiklah, itu akan lebih baik jika kamu membangun satu lift dirumah ini."
Setelah selesai sarapan Rena berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Joko, dan Atmajaya ditemani oleh supir pribadinya
•••
Di dalam kelas, seperti biasa, Guru Pembimbing akan memberikan materi pembelajaran dan menjelaskannya, kali ini Rena belum menyadari kalau Rangga absen untuk hari ini.
Waktu terus berputar hingga bel jam istirahat berbunyi,Guru pembimbing segera meninggalkan kelas dan para siswa/siswi berhamburan keluar menikmati aktivitas mereka masing masing.
"Ren, ke kantin yuk !" Ajak Tika
"Kamu deluan saja ya Tik, aku sama Anggi mau ke Perpus dulu !" Jawab Rena
"Yaaah, kalian berdua memang kenyang, kalau habis baca buku ?" Celoteh Tika
"Otak kita yang kenyang ! tidak sepertimu, perut saja yang di kenyangin.Otak kelaperan !" Seru Anggi
Hahahaa
Anggi dan Rena tertawa bersamaan
Tika hanya bisa memanyunkan mulutnya, karna kenyataannya otaknya selalu lamban jika ditanya soal pelajaran.Entah akan jadi apa dia jika lulus nanti.
"Baiklah, aku akan ke kantin sendiri !"
"Uuuu tayang, jangan marah yah !?" Anggi meledek
"Siapa yang marah ?! baiklah, aku akan ke kantin,perutku tidak bisa menahannya lagi !" Tika beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi,sedang Rena dan Anggi keluar menuju Perpustakaan Sekolah.
"Gi, kalau lulus nanti, kamu mau mengambil jurusan apa ?!" Tanya Rena
"Dokter !"
"Ko bisa samaan sih !?"
"Yang benar ?" Tanya Anggi
Rena menganggukkan kepalanya
"Kalau begitu kita akan sering ketemu dan sekampus lagi ! hmmmp, jadi tidak sabar deh !"
••
Setelah meminjam beberapa buku,Anggi dan Rena keluar dari Ruang Perpus, mereka berencana menuju taman, namun..
Bruuuk
Seseorang mendorong Rena membuat Rena terjatuh, namun saat Rena berbalik,betapa terkejutnya dia karna Arka sudah berdiri di tempatnya berdiri sebelumya,dengan darah yang bercucuran dari kepalanya.
Rena segera berdiri dan berlari menangkap Arka yang jatuh tak sadarkan diri.
Beberapa siswa membantu mengangkat Arka menuju ruang UKS. Untung saja ada dokter yang bertugas hari itu
"Apa yang terjadi ?!" Tanya sang dokter
"Dia kejatuhan pot bunga dari atap !" Seru Anggi yang terlihat juga sangat khawatir
"Bagaimana bisa ?"
"Entahlah !!" Jawab Anggi
"Baiklah, kalian boleh keluar, aku akan membersihkan lukanya dan merawatnya." Kata dokter itu
"Apa aku bisa membantu ?!" Tanya Rena dan Anggi bersamaan
Rena dan Anggi hanya bisa saling menatap bingung karna bersamaan ! Dokter itu hanya menatap heran dengan tingkah mereka berdua
"Emm, maksudku, apa temanku bisa membantumu ? walau bagaimanapun Arka teluka karna menolong Rena !" Jelas Anggi,ia tidak ingin Rena salah paham padanya.
"Baiklah, kamu bisa membantuku merawatnya !" Jawab Dokter Rima
Rena menatap Anggi bingung dengan sikapnya.
"Aku akan membawa bukumu dan menyusul Tika." Kata Anggi sambil meninggalkan Rena
Rena hanya mengangguk.
Pada kenyataannya, Anggi tidak bisa menahan sakit yang ada di hatinya,ia segera mengambil bukunya dan milik Rena dan menuju taman seorang diri.
Dan sampai ia duduk di salah satu kursi yang tersedia di taman itu. Ia kemudian menangis dalam diam,namun dia tidak pernah menyangka akan ada orang yang memperhatikannya sedari tadi.
"(Apa Rena benar benar sangat berarti baginya ? kenapa dia harus melakukan semua itu ?! bahkan dia sanggup mengorbankan dirinya sendiri !)"
Tiba tiba seseorang mendekatinya dan memberinya sapu tangan.
"Ini untukmu !"
Anggi mendongak, mengangkat wajahnya menatap orang yang menyodorkannya sapu tangan
"Maaf, kamu salah faham, ini bukan dariku, tapi seseorang yang dari tadi memperhatikanmu diujung sana !" Sambil menunjuk ke arah salah satu pohon
Anggi segera berbalik menatap arah yang ditunjukkan padanya, namun dia tidak melihat siapa pun.
Melihat tak ada siapapun di pohon itu, ia kembali menoleh ke arah sisiwi yang menyodorkan sapu tangan untuknya, namun siswi itu telah menghilang dari pandangannya, meninggalkan sapu tangan yang ia letakkan di atas buku miliknya.
Anggi segera meraih sapu tangan itu dan melihatnya secara seksama,di sisinya tercantum inisial "D"
"(D ? Siapa D ?!)" Tanpa fikir panjang lagi, ia memakai sapu tangan itu, menyeka air matanya dan mengeluarkan beberapa cairan dari hidungnya.
Namun seseorang masih terus memperhatikannya
"(Iiiw, cantik cantik jorok juga !)" Namun ia masih merasa senang karna Anggi sudah menerima sapu tangan darinya, ia tersenyum dan meninggalkan tempat persembunyiannya
Anggi yang sudah merasa lega, memilih untuk pergi, namun ia tidak bisa menampik kalau dirinya masih penasaran dengan seseorang yang memberinya sapu tangan. Ia mempercepat langkah kakinya pergi menyusul Tika.
•••
Rena masih duduk dengan sabar di samping Arka,Dokter yang merawatnya sedang keluar untuk membeli beberapa makanan untuknya.
Tiba tiba mata Arka terbuka perlahan, menyadari orang yang ia cintai duduk disampingnya, ia tidak bisa menahan senyumnya menatap Rena.
"Apa kau cemas ?!" Tanya Arka dengan suara seraknya
"Apa kau sudah bangun ?! Kau tahu,betapa khawatirnya aku !" Kata Rena yang mulai menangis tersedu
"Hei, aku baik baik saja ! kau tidak perlu menangisiku !" Seru Arka dengan tawa kecilnya
"Tetap saja, kau membuatku sangat takut dan khawatir, aku benar benar merasa bersalah !" Kata Rena
"Ini bukan karnamu,atau salahmu ! ini hanya kecelakaan Ren !" Jelas Arka menutupi yang sebenarnya terjadi
Sebenarnya, Arka tidak sengaja melihat seseorang ingin menjatuhkan pot bunga dari atap sekolah, sepertinya itu memang di posisikan untuk Rena.Dan pelakunya tidak lain adalah Monica
"Apa kau sudah makan ?" Tanya Arka
Rena hanya menggelengkan kepalanya
"Sebaiknya sekarang kamu harus pergi,aku tidak ingin kamu sampai jatuh sakit hanya karna menemaniku disini !"
"Tapi, bagaimana jika kau membutuhkan sesuatu ?" Tanya Rena
Tiba tiba seseorang menjawabnya dari arah belakang sambil menutup pintu dengan beberapa bungkus makanan di tangannya
"Aku akan merawatnya !" Jawab Dokter Rima
Rena menoleh dan tersenyum
"Baiklah, sekarang sudah ada Dokter yang akan merawatku, tidak lama lagi jam masuk pelajaran, kamu akan terlambat jika terus diam di tempatmu !" Arka kembali mengingatkannya
"Apa sekarang kau mengusirku ?!"
"Ayolah Rena, mengertilah, aku hanya tidak ingin kamu juga ikut sakit karna belum makan !"
Rena kemudian tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya
"Oke oke, aku akan pergi ! jaga dirimu baik baik ya ?!"
Rena berbalik menuju pintu keluar.Membuka pintu dan menutupnya kembali.