
"Halo."
"Ini aku, apa kau baik-baik saja ?" Tanya Rendy.
"Emm.. Ada apa ?"
"Tidak, Ayah khawatir takut terjadi sesuatu denganmu. Sejak malam itu kau tidak pernah memberi kabar, apa ada yang terjadi ?" Jelas Rendy kemudian bertanya di akhir kalimatnya.
Rena terdiam, ia baru kepikiran, beberapa hari ini dirinya memang belum pernah memberi kabar pada Ayah maupun Ibunya.
"Maafkan aku, aku benar-benar lupa." Sesalnya.
"Tidak masalah, tapi kenapa suaramu terdengar sengau ? Apa kau sakit ?"
"Aakh.. Iya, semalam aku memang demam, tapi sekarang sudah tidak apa-apa."
"Baiklah, jika ada kesempatan berkunjunglah ke rumah, Ayah pasti merindukanmu."
"Iya, katakan pada Ayah malam nanti aku dan Rangga akan makan malam di sana."
"Emm baiklah kalau begitu."
"Emmm."
Tut. Rena menutup telponnya dan kembali bergabung di meja makan.
"Mah, aku berencana untuk pindah hari ini ke apartemen." Ucap Rangga.
"Loh, kok mendadak ?" Tanya Mariah.
"Biar aku bisa lebih cepat pulang atau pergi ke kantor. Mamah tahu sendiri bagaimana macetnya kendaraan kalau dari arah sini."
"Yang di katakan Rangga memang ada benarnya, lagipula kasihan Dara yang tengah hamil harus mengurus anak yang mesin kecil sendiri, jika Rangga terus merepotkan Reno hanya karna lambat tiba di kantor, kapan Reno bisa memiliki waktu bersama keluarganya ?" Ucap John menyetujui keputusan putranya.
"Emm.. Padahal mamah masih ingin menghabiskan waktu dengan Rena."
"Sekali-kali aku dan Rena akan mengunjungi Mamah jika kami ada waktu senggang." Ucap Rangga mencoba menghibur Ibunya.
"Tapi sayang, aku berjanji akan makan malam bersama di rumah Ayah malam nanti, kalau kita pindah sekarang apa masih sempat ?" Tanya Rena.
"Emmm biar aku menyewa orang untuk membantu. Lagipula aku sudah menyiapkan segalanya, hanya tinggal membeli beberapa alat perabot dapurnya saja." Jelas Rangga dengan senyum.
"Kalau begitu kapan kamu bisa menemaniku berbelanja ?" Tanya Rena.
Rangga menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Sesudah ini bagaimana ?"
"Apa kau tidak sibuk ?"
"Sepertinya masih sempat, lagi pula aku tidak memiliki jadwal Rapat atau janji dengan client hari ini."
"Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu." Ucap Rena setelah menghabiskan gigitan terakhir rotinya.
Setelah kepergiannya, John baru memulai percakapan tentang masalah bisnis bersama putranya.
Kediaman Atmajaya.
Karna harus mengangkat telpon dari rekan bisnisnya, Rendy sedikit terlambat kembali bergabung di meja makan, bahkan yang lain telah menyelesaikan sarapannya.
"Maaf aku sedikit lama, tadi ada rekan bisnis yang menelfon." Jelas Rendy dan memulai sarapannya yang tertunda.
Semuanya masih duduk di meja makan, menunggu Rendy menyelesaikan sarapannya.
"Bagaimana kabar Rena ?" Tanya Tika saat Rendy baru saja meletakkan gelas minumnya.
"Tidak apa-apa, katanya malam ini dia akan berkunjung untuk makan malam bersama." Jelas Rendy dengan tenang.
Mendengar sahabatnya akan datang berkunjung, tentu saja membuat Tika merasa senang.
"Benarkah ?" Tanyanya untuk lebih memastikan, ia tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya sampai lengannya tak sengaja menyenggol gelas yang ada di sampingnya, hingga gelas tersebut terjatuh dan pecah.
Praaang...
Semuanya terdiam, sedikit terkejut dengan kekacauan yang terjadi. Terlebih lagi Tika, ia sontak menggigit bibir bawahnya dengan mata yang sedikit membola menatap pecahan gelas tersebut kemudian berganti menatap wajah sang Ayah mertua.
Melihat wajah pria paruh baya itu diam tanpa ekspresi, Tika tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri yang yang begitu ceroboh.
("Aaakh.. Bagaimana ini ?") Batinnya memalingkan muka dan segera turun dari kursinya mencoba membersihkan serpihan kaca tersebut.
"Eh Tika, biarkan saja, biar nanti bibi yang membersihkannya sayang." Seru Rani dengan lembut.
Tika hanya bisa terdiam, entah mengapa dirinya saat ini sangat takut, takut karna hal ini pria paruh baya itu akan semakin tidak menyukainya.
Hingga sebuah tangan memegang tangannya. Ia menoleh menatap pemilik tangan tersebut.
"Sayang." Lirihnya cemas.
Dengan senyum Rendy meyakinkan istrinya.
"Tidak apa-apa, ayo berdiri." Ucapnya pelan.
"Tapi pecahannya."
"Eh ? Baiklah." Jawab Tika, kemudian membungkuk meminta izin untuk pergi pada Ayah dan Ibu mertuanya.
"Yah,Bun,aku berangkat dulu." Pamit Rendy.
Jaya hanya bisa berdehem dan mengangguk pelan. Di susul Rani yang hanya bisa memberikan senyuman khasnya yang ramah.
Rani terus menatap kepergian putranya hingga menghilang di balik tembok pemisah.
"Yah, berhentilah bersikap dingin pada Tika, kau membuatnya takut. Biar bagaimanapun dia sudah menjadi menantu perempuanmu saat ini."Pinta Rani.
Namun Jaya sepertinya tidak begitu memperdulikannya, ia terlalu sibuk dengan tablet yang ada di tangannya. Hingga sebuah tangan menyentuh lengannya dengan lembut.
"Dari tadi kau sibuk dengan tabletmu, apa aku sudah begitu membosankan bagimu ?!" Tanya Rani dengan lembut namun masih terdengar menyindir.
Membuat Jaya hanya bisa menatap istrinya dan tersenyum.
"Mana bisa aku bosan padamu ? Bahkan dengan umur kita yang sekarang aku masih merasa kau adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku temui." Ucapnya merayu.
"Benarkah ? Lalu mengapa dari tadi kau hanya menatap tabletmu ? Apa yang kau lihat sehingga kau begitu serius ?" Cecar Rani.
"Aku sedang memeriksa perkembangan JA Group setelah kepemilikannya kembali pada John. Dan memperbaharui beberapa kontrak kerja sama yang pernah terjalin beberapa tahun yang lalu." Jelas Jaya.
"Apa kau ingin berinvestasi kembali di perusahaan itu ?" Tanya Rani.
Jaya mengangguk pelan.
"Bukankah itu sangat beresiko ? Perusahaan John pernah berada di urutan pertama untuk di akusisi, bagaimana jika akhirnya kau malah rugi banyak ? Mereka bahkan belum membayar hutang-hutang sebelumnya."
"Aku sudah membicarakan hal ini pada John, dan dia berjanji akan memberikan setengah dari saham perusahaannya untuk Rena jika aku bersedia membantunya." Jelas Jaya.
"Walau bagaimanapun mereka hanya memiliki satu penerus, dan Rena telah menjadi bagian dari keluarga mereka, sudah sepantasnya jika kita membantu." Imbuhnya.
Rani yang mendengar segala penjelasan suaminya akhirnya hanya bisa mengangguk setuju.
"Dan mengenai Tika." Ucap Jaya kemudian.
Aku bukan tidak menyukainya, aku hanya ingin melihat bagaimana sikapnya setelah menyandang nama Lion. Dan sepertinya dia harus lebih banyak belajar darimu. Aku tidak ingin suatu saat dia membuat malu nama keluarga kita dengan sikapnya yang ceroboh seperti itu."
"Tapi Yah, bukan berarti kau harus terus bersikap dingin padanya." Sela Rani
"Satu lagi, aku tidak suka dengan cara berpakaiannya itu, aku tahu dia seorang desainer ternama di London, tapi ketika menyandang nama Lion, dia seharusnya merubah gaya hidupnya yang berlebihan seperti itu." Ucap Jaya tanpa memperdulikan permintaan Rani.
Rani yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Selera suaminya memang tidak sembarang dan dia tahu betul hal itu.
•
"Sayang, aku tidak melihat mapnya, dimana kau menyimpannya ? Tanya Tika yang kini berdiri di samping mobil suaminya.
"Maaf ya.. aku lupa, ternyata semalam aku sudah menaruhnya di dalam tas, aku baru saja memeriksanya." Jawab Rendy dengan senyum mencoba menutupi kebohongannya.
Tika yang pada dasarnya memang lemot tentu percaya begitu saja dengan ucapan suaminya.
"Oh, syukurlah kalau begitu."
"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat kerja dulu." Pamit Rendy sembari memberikan kecupan singkat di kening istrinya.
Dan Tika hanya bisa mengangguk mengerti.
•••
Di tempat yang berbeda Rena dan Rangga sedang asik memilih beberapa perabot yang akan mereka perlukan. Rangga yang mendorong troli dan Rena yang asik memilih.
Rangga hanya bisa terus tersenyum menatap wajah istrinya yang kadang begitu serius ketika memilih sesuatu dan tersenyum kala dirinya menjahilinya, dan akan tiba-tiba marah bila ia tidak menggubris pertanyaan istrinya tersebut.
Inikah yang di sebut bahagia ? Batinnya seakan tak percaya bahwa impiannya kini menjadi nyata. Ataukah aku masih bermimpi? Kalau iya, aku tidak ingin bangun dari mimpi ini, dan tolong jangan bangunkan aku. Karna aku sudah sangat lama menunggu momen seperti ini.
•••
Dan di suatu rumah bergaya minimalis, Reno terlihat sedikit kerepotan saat memasang dasi dengan putranya yang terus merengek di sampingnya.
"Sayang, sarapannya sudah siap." Ucap Dara muncul di balik pintu dan berjalan ke arahnya.
"Dava, tidak sekarang sayang, Ayah ingin ke kantor." Bujuk Dara pada putranya.
Reno hanya bisa tersenyum mendengar Dara yang membujuk putranya seperti itu.
"Ok sudah siap." Ucapnya saat selesai menata rambutnya dengan rapih.
"Oooh anak Ayah, sini, sini, Dava ingin di gendong ya.." Bujuk Reno sembari menggendong putranya.
Dava yang tadinya terus merengek akhirnya tertawa riang dalam pelukan Ayahnya. Sedangkan Dara, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap kelakuan putra kecilnya itu.
"Sini, biar aku rapikan dasinya." Ucapnya, kemudian naik di sebuah bangku kecil yang sengaja dibuat khusus untuknya agar tidak kesusahan saat memperbaiki dasi suaminya.
Dan seperti inilah rutinitas mereka sehari-hari. Reno yang selalu sibuk di pagi hari karna harus buru-buru ke kantor, dan Dara yang disibukkan dengan aktivitas rumah tangga sekaligus mengurus putranya.
Dara sengaja tidak menyewa seorang pembantu atau baby sister, bukan karna mereka tidak mampu, tapi di karenakan dirinya ingin menikmati momen seperti ini dalam hidupnya.
Mengingat dulu dirinya hanyalah seorang yatim piatu yang hanya tinggal di sebuah gubuk reyot bersama teman-teman pengamennya, hingga suatu hari Jeremy Gilbert menemukannya dan mengangkatnya sebagai anak.