Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 106



Di dalam ruangan yang cukup hangat, seorang Ibu akhirnya bisa meluapkan rasa rindu dan juga rasa kekhawatirannya selama ini.


Cukup lama Mariah terisak dalam dekapan putranya, hingga ia merasa puas dan secara perlahan melepaskan pelukannya.


"Bagaimana kabar mamah ?" Tanya Rangga menatap Ibunya lekat dan dipenuhi senyum kehangatan.


Mariah menyeka air matanya.


"Untuk apa kau peduli ? bukankah selama ini kau tidak pernah memperdulikan mamah ?!" Ucap Mariah dingin.


"Mah.. " Ucap Rangga mencoba merayu.


Mariah yang tidak bergeming, hanya berbalik dan menjitak kepala putranya pelan.


"Dasar anak nakal !! kapan kau akan kembali ke rumah ? apa kau tidak berfikir kalau mamah setiap hari harus menyeka dada karena selalu mengkhawatirkanmu ?!!" Seru Mariah.


"Aku memiliki banyak pekerjaan." Jawab Rangga membela diri sembari mengusap pelan kepalanya.


"Pekerjaan apa yang kau miliki ? bukankah selama ini kau hanya menghabiskan waktumu bersama Reno ? kau bahkan terus menempel padanya kemanapun ia pergi.


Apa kau tidak tahu apa yang orang pikirkan tentangmu ?!! bahkan mamah merasa malu untuk mendengarnya."


Rangga membulatkan matanya tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Ibunya. Secara tidak langsung Ibunya mengatakan kalau dia adalah seorang gay.


"It--" Ucapannya terhenti.


Ia ingin membela diri tapi dia tidak mungkin mengatakan kalau selama ini ia menjalani bisnis dan telah memiliki perusahaan baru bersama Reno.


Rangga terlihat menghela nafasnya pasrah.


Sedangkan Dara, ia hanya bisa menahan tawa karena melihat pemandangan langkah yang baru kali ini di lihatnya.


Semua orang di kantor tahu siapa dia, dan tidak ada satupun yang mampu menatapnya ketika dia marah. Dara tidak menyangka kalau pria tersebut sangat patuh pada Ibunya.


Rangga melirik Dara yang diam-diam menahan tawa, ia merasa sedikit malu dan segera mencari alasan untuk bisa pergi.


"Aku akan keluar sebentar !!" Ucapnya pelan.


Mariah menoleh menatap putranya.


"Kau mau kemana ? bukankah kau baru saja tiba ?!"


"Aku akan ke ruang administrasi, aku dengar seseorang sudah sangat bosan berada di ruangan ini !!" Jawab Rangga menyindir.


Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan semuanya.


Dan kau !" Ucapnya menunjuk ke arah Dara.


Ganti pakaianmu, aku akan mengantarmu pulang !" Imbuhnya kemudian.


"Lalu bagaimana dengan mamah ?!" Tanya Mariah menyela, sepertinya dia juga sangat ingin mendapat perhatian dari putranya.


"Bukankah mamah bersama pak Edy ?!" Tanya Rangga.


"I-iya, tapi mamah masih ingin menghabiskan waktu denganmu !"


"Lalu bagaimana dengan Moura ?! bagaimana jika dia menangis karna tidak melihat mamah ?" Tanya Rangga.


Mariah sedikit tercengang, untuk pertama kali Rangga peduli pada Moura.


Perlahan Mariah terlihat mengembangkan senyuman tipis dan kemudian pasrah akan peraturan putranya, setidaknya dia sudah merasa lega dan cukup puas karna melihat putranya mulai berubah dan dekat dengan seorang gadis seperti Dara.


"Baiklah, mamah akan pulang setelah kalian keluar dari Rumah Sakit ini." Ucapnya pelan.


Rangga menganggukkan kepalanya pelan dan kemudian berbalik melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.


•••


Tok.tok.tok.


Ceklek (Pintu terbuka.)


Seorang lelaki masuk dan berjalan menghampiri kekasihnya.


Muuuuachh..


Sebuah kecupan tiba-tiba mendarat di wajahnya, membuat Rena terkejut dan tersadar dari lamunannya, ia kemudian menoleh ke arah sang pelaku.


"Arka ?!" Ucapnya.


"Apa aku mengejutkanmu ?" Tanya Arka mengerutkan alisnya bingung.


"Eh- ?!"


"Apa yang membuatmu melamun seperti itu ? apa ada sesuatu yang menganggu pikiranmu ?"


"Em,tidak." Jawab Rena mencoba menutupi. Ia tidak ingin Arka salah mengerti dan membuatnya cemburu.


"Apa yang membawamu kemari ?!" Tanyanya kemudian.


Arka mengangkat segelas kopi.


"Aku membawakanmu ini !" Jawabnya kemudian meletakkan gelas kopi tersebut di atas meja.


Rena tersenyum.


"Thank you !!"


"Your welcome !"


"Apa hari ini kau sibuk ?" Tanya Arka kemudian.


"Tidak." Jawab Rena sembari menyeruput kopinya.


Melihat hal itu, Arka mengeluarkan senyuman kecil kemudian berkata.


"Apa kau bisa membantuku ?" Tanyanya.


"Tentu saja, kau ingin aku membantumu tentang hal apa ?!"


"Kita akan membahasnya nanti, sebaiknya kau mengabiskan kopimu !" Jawab Arka mengusap pelan pucuk kepala Rena kemudian beranjak pergi meninggalkan Rena dengan wajah kebingungan.


•••


Pukul 15.54


Rena yang sebelumnya sudah merasa nyeri di sekitar kepalanya, tiba-tiba saja kehilangan keseimbangannya, beruntung Arka dengan cepat menangkapnya.


"Aaaah.." Ringisnya pelan sembari memegang kepalanya yang terasa nyeri.


"Ada apa ?!" Tanya Arka terlihat khawatir.


"Tidak, kepalaku hanya sedikit nyeri."


"Sebaiknya kita kembali, biar aku memeriksamu terlebih dahulu."


Rena menatap wajah Arka yang menatapnya penuh kekhawatiran, ia tersenyum.


"Tidak apa-apa, mungkin aku hanya kelelahan."


"Kalau begitu, biar aku akan mengantarmu pulang."


"Em ? lalu bagaimana dengan tugasmu ? bukankah kau membutuhkan bantuanku ?" Tanya Rena.


"Kita bisa menyelesaikannya besok atau lusa. Lagi pula aku juga belum harus menyetornya pada pimpinan."


Rena menghela nafasnya pelan.


"Kalau kau terus menundanya, pekerjaanmu akan semakin menumpuk !"


Dimana asistenmu ?" Imbuhnya.


"Dua hari yang lalu dia meminta cuti, kau sendiri tahu kalau dia akan segera menikah !" Jawab Arka sembari membantu Rena masuk kedalam mobil.


Ia kemudian menutup pintu dan berjalan ke sisi kemudi.


Setelah memakai sabuk pengaman, Arka menekan sistem dan menuju lokasi rumah Rena.


"Hei,sudah ku bilang aku tidak apa-apa, kita akan menuju apartemenmu !!" Ucap Rena menekan sistem dan mengubah lokasi tujuan mereka.


Masih dengan raut wajah yang khawatir, Arka menoleh menatap Rena.


"Apa kau yakin kau baik-baik saja ?!" Tanyanya sekali lagi mengusap pelan pucuk kepala Rena.


Rena tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Eemmm." Ucapnya meyakinkan.


Arka akhirnya mengemudikan mobilnya dan melaju membelah jalanan Ibu Kota.


••


Apartemen Arka terletak memang tidak begitu jauh dari Rumah Sakit, sehingga tidak harus memakan waktu lama untuk mereka tiba.



Apartemen Arka.


Rena perlahan duduk di sofa dan meletakkan tasnya di atas meja.


"Apa kau ingin minum sesuatu ?!" Tanya Arka.


"Tidak."


"Baiklah, aku akan membawakanmu air putih saja !"


Arka berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas yang ada di dalam lemari kemudian mengisinya dengan air.


Untuk sesaat ia melirik ke arah Rena yang duduk membelakanginya. Ia tersenyum dan kembali dengan membawa segelas air kemudian meletakkannya di atas meja.


"Terima kasih !" Ucap Rena meraih gelas tersebut lalu meminumnya.


Arka membalasnya dengan senyuman kemudian berjalan menuju ruang kerjanya dan mengambil tumpukan berkas pasien dan laporan Rumah Sakit.


Puuukh..


Arka meletakkannya di atas meja.


"Apa aku tidak salah lihat ?!" Tanya Rena melihat tumpukan kertas tersebut.


"Selama Tirta cuti, maka aku harus menyelesaikan pekerjaanku sendiri." Jawab Arka.


Rena yang mengerti hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan.


Tiba-tiba..


Rena memegang kepalanya, ia kembali merasa pusing dan nyeri di bagian kepalanya.


"Arka.. !" Panggilnya pelan.


"Emm ?!" Jawab Arka dan menoleh.


"Ada apa ?" Tanyanya sedikit khawatir dan memegang pundak Rena.


"Kepalaku, aku tidak tahu kenapa kepalaku terus terasa pusing !" Jawab Rena dan mendesis pelan.


"Sebaiknya kau istirahat saja." Ucap Arka.


Rena mengangguk.


Dengan pelan Arka mengangkat tubuh Rena dan membawanya masuk ke dalam kamar kemudian membaringkannya di tempat tidur.


"Maafkan aku telah merepotkanmu !!"


"Tidak apa-apa !!" Jawab Arka kemudian menyelimuti tubuh Rena.


"Apa kau merasa mual ?" Tanyanya kemudian.


Rena menggelengkan kepalanya pelan.


"Baiklah, sepertinya kau memang kecapean, sebaiknya kau tidur saja." Titah Arka sembari memijat pelan kepala Rena.


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu ?" Tanya Rena.


"Kita bisa menyelesaikannya setelah kau merasa baikan !!" Jawab Arka dengan lembut.


"Baiklah." Ucap Rena kemudian perlahan menutup matanya.


Sedang Arka, dia terus membelai pelan pucuk kepala Rena dan terus menatap wajah kekasihnya dengan senyum kemenangan.