
Kediaman Atmajaya
Rani berjalan masuk kedalam rumah, ia masih belum bisa meredam amarahnya, semenjak keluar dari kediaman Aberald. Ia terus menghentakkan kakinya menuju ruang kerja suaminya.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia segera membuka dan membantingnya.
Ceklek
Pak
Jaya yang awalnya fokus pada layar monitor, terkejut mendengar bantingan pintu, ia terperanjat dari duduknya menatap Rani dengan cermat.
"Apa yang membuatmu sangat marah, hingga membanting pintu sekeras itu ?!" Tanya Jaya sembari mendekati istrinya yang sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Rani masih terus membisu dengan tatapan menajam,mengepalkan kedua tangannya.
Jaya mengambil posisi duduk di samping Rani dan perlahan mengusap kedua pundaknya.
"Bunda ! " Ucap Jaya mencoba menghibur
Namun Rani masih saja tidak bergeming. Ia benar benar sangat murka kali ini.
"Tenanglah, jangan terlalu marah seperti ini, apa kau tidak khawatir dengan kesehatanmu ?!"
Perlahan, Rani menarik nafasnya dalam dalam, dan menghembuskannya dengan kasar. Ia merasa sedikit lega, kemudian menoleh ke arah suaminya.
"Ayah, cepat katakan padaku, bukankah kau sudah menyuruh John untuk menangani gadis itu ?!" Tanya Rani
Jaya menaikkan alisnya sebelah,mendengar pertanyaan yang tiba-tiba itu.
"Mengapa kau tiba-tiba menanyakannya ?!" Tanyanya
"Mengapa kau kembali bertanya ? cepat ! jawab dulu pertanyaanku !" Seru Rani
"John sudah mengurusnya, dia bahkan berbeda kampus dengan Rangga saat ini !" Jawab Jaya
"Apa kau yakin ?!"
"Hmm !"
"Tapi sepertinya itu belum cukup !" Ucap Rani
"Apa maksud Bunda ?!" Tanya Jaya dan menatap istrinya lebih lekat
"Kau harus membuatnya benar benar jauh dari Rangga terlebih dari anak kita !"
"Tidak, tidak ! Ayah tidak bisa melakukan hal yang lebih, biar bagaimanapun dia masih putri seseorang !" Jawab Jaya menolak
"Lantas, apa yang harus kita lakukan ? aku benar benar tidak tahan melihatnya yang terus menempel pada Rangga !" Kata Rani sedikit frustasi
Apa kau hanya akan membiarkannya ? apa kau ingin melihat putri kita kembali terluka karna perbuatannya ?!" Tegas Rani
"Sabarlah, semuanya butuh proses. Kita tidak bisa secara brutal memaksanya untuk menjauh dari Rangga, walau bagaimanapun, mereka sudah berteman sejak kecil ! kau juga harus memahami mereka !" Ujar Jaya
Mendengar tak ada respon yang baik dari suaminya, ia menghela nafasnya
"Hmmp sudahlah ! Bunda capek berdebat dengan Ayah !"Ucap Rani sambil berdiri dan pergi meninggalkan Jaya.
•••
Saat malam tiba,
Rani yang masih kesal dengan suaminya, memilih untuk mogok makan. Rena sudah mencoba menghiburnya sedari tadi, namun tak ada hasil yang ia dapatkan.
"Ayah ! Bunda kenapa sih ?!" Tanya Rena sedikit penasaran, ia sangat jarang melihat Ibunya marah, apalagi sampai mogok makan.
Jaya yang mendapatkan pertanyaan dari Putrinya, hanya mengedikkan bahunya tak tahu.
"Rena ! mulai sekarang jangan pernah menghubungi atau menemui Rangga lagi !" Titah Rani dengan nada datar
"Hii ! apa hubungannya dengan aku dan Rangga ?!" Tanya Rena tidak terima
"Rena ! apa kau juga tidak ingin mendengarkan Bunda ?" Bentak Rani
"Apaan sih Bun !" Ucap Rena kesal dan berlari menuju kamarnya
"Ck, ck, ck ! Anak sama Ayah, sama saja !" Umpatnya
Jaya yang sedari tadi memperhatikan Rani, menghela nafasnya kasar
"Hmmmp, sebenarnya ada apa denganmu ? mengapa kau sampai semarah ini ? dan, mengapa harus membentak Rena ?" Tanya Jaya
"Mengapa kau masih bertanya ? bukankah sudah jelas kalau aku marah padamu ?" Ucap Rani memalingkan wajahnya dari suaminya
"Apa kemarahanmu,masih mengenai masalah yang kita bicarakan tadi siang ? Tanya Jaya
Rani membisu.
Hmmp, Ayah tidak tahu, kalau Bunda akan semarah ini !" Imbuhnya
"Baiklah, sebelum Ayah melakukan sesuatu, Ayah ingin mendengar penjelasan dulu darimu ! jadi sekarang, coba jelaskan padaku, mengapa kau tiba tiba sangat terusik dengan gadis itu ? ini sudah hampir satu setengah tahun sejak kejadian itu, bukankah itu sangat terlambat untuk membahasnya kembali ?" Tanya Jaya
"Kau tidak tahu saja, apa yang aku saksikan tadi siang !" Ketus Rani
"Memangnya, apa yang telah terjadi ? bukankah tadi siang kau menghabiskan waktumu bersama Mariah di kediamannya ?!" Tanya Jaya bingung
"Ya ! dan aku bertemu dengan gadis itu di rumah John !" Sahut Rani
"Lantas ? apa yang salah ? dia sudah berhubungan baik dengan keluarga John sejak kecil, tidak ada salahnya jika dia datang keruamah itu !"
"Yah, aku tahu ! aku tidak akan melarangnya jika dia hanya datang untuk bertamu, tapi, apa kau tahu ? Dia dengan sengaja mempermalukanku dengan wajah manisnya
Aaaargh.. Rani mengerang kesal mengingat senyuman rubah licik itu
Rasanya aku sangat ingin menampar wajahnya ! dia benar benar wanita licik ! aku takut jika dia melakukan sesuatu yang buruk pada anak kita !" Imbuhnya
"Tidak akan terjadi apa apa pada anak kita. Kau hanya terlalu berlebihan memikirkannya !" Ucap Jaya
"Huh, lihatlah ! aku sudah mencoba menjelaskannya padamu, tapi kau masih tidak ingin mendengarkanku ?" Rani merajuk
"Bukan seperti itu, Ayah hanya--"
Kalimat Jaya terputus ketika Rani melanjutkan perkataannya.
"Aku melihat gadis itu berlari memasuki kamar Rangga ! dan ia dengan sengaja melakukannya di hadapanku !
Apa kau pikir, aku akan diam saja melihat gadis itu bertingkah ?! Huh ! jangan harap." Rani mendengus kesal
Mendengar penuturan Istrinya, Jaya juga ikutan naik pitam.
"Apa katamu ? apa aku tidak salah mendengarnya ?" Tanya Jaya dengan sura sedikit meninggi
"Benar ! kau tidak salah mendengar Atmajaya !" Seru Rani
"Brengsek ! apa John sengaja mempermainkanku ? apa dia menganggap ancamanku hanya sebagai lelucon ?!" Ujarnya. Kini giliran Jaya yang murkah
"Apa kau baru menyadarinya huh ?!" Sahut Rani
"Lantas, apa yang dilakukan Mariah ? bukankah saat itu kau bersamanya ?! mengapa dia membiarkan gadis itu bertingkah ?"
"Menurutmu, apa yang bisa di lakukan seorang Ibu seperti Mariah ? dia sangat lemah untuk berurusan dengan gadis rubah seperti itu !
Aku bukan tidak percaya dengan Rangga. Tapi, siapa yang tahu apa yang akan mereka lakukan di dalam kamar berdua ?! kau tahu persis kelemahan seorang lelaki !" Imbuhnya
Jaya memijat alisnya mencoba berfikir. Ia sudah terlanjur memegang kendali atas akuisisi perusahaan John di rapat dewan direksi tiga hari yang lalu, dia tidak mungkin secara tiba tiba kembali membatalkan keinginannya untuk mempertahankan perusahaan John. Yang seharusnya sudah masuk dalam daftar akuisisi.
Sebenarnya bisa saja ia melakukannya, tapi, bukankah itu sama saja mempermalukan image nya sendiri ? keputusannya pasti di pertanyakan. Dan terlebih, dia akan di cap sebagai CEO yang tidak komputen dalam memutuskan sesuatu.
Beberapa saat telah berlalu, namun ia masih belum mendapatkan ide.
"Aaakh Sial ! apa John benar benar mempermainkanku ?!" Pekiknya
("Aku tak akan pernah membiarkannya memanfatkanku lagi. Dan tentu saja kali ini dia dan putranya harus menerima akibatnya. Karna mereka sudah berani memanfaatkan putriku !" ) Gumamnya
Jaya melangkahkan kakinya pergi, menuju ruang kerjanya. Sepertinya malam ini dia harus bekerja keras menguras otaknya, memikirkan cara, agar benar benar bisa mengendalikan perusahaan John kembali. Dengan begitu, John tak akan pernah berani lagi untuk mempermainkannya.
Begitulah cara hidup di dalam dunia berbisnis,
tidak ada kata Setia untuk lawan bisnis, entah itu sahabat ataupun kerabat. Hidup dan bekerja dengan mengesampingkan perasaan. Siapa yang di atas, itulah yang berkuasa. Ini bukan tentang siapa yang kuat dan siapa yang lemah. Tapi, ini adalah permainan Pikiran dan Srategi.