
Kini di sebuah ruangan apartemen yang cukup luas, dengan desain memakai konsep American style.
Arka yang sudah membaringkan Rena di tempat tidur besar miliknya, merasa bingung harus bagaimana. Ia harus mengganti pakaian Rena yang sudah terkena percikan muntahnya sendiri.
Ia terus mondar-mandir sesekali melirik ke arah Rena yang sudah terbaring di atas pembaringan dengan sesekali meracau tak tentu.
Dengan cepat ia meraih ponselnya dan menelfon Rendy. Cukup lama ia menunggu dan akhirnya Rendy menjawab telfonnya.
"Halo ?" Ucap Rendy di seberang telfon.
"Apa yang harus aku lakukan pada adikmu ini hah ?" Tanya Arka tak berdaya.
"Kau membawanya ke mana ?" Tanya Rendy.
"Apartemenku ! aku tidak mungkin mengantarnya pulang kerumahnya dengan keadaan seperti itu." Jawab Arka.
"Lalu, apa yang membuatmu menelfonku ?"
"Apakah kau bisa menyuruh pembantu atau orangmu untuk datang kesini ?"
"Untuk apa ?"Tanya Rendy bingung.
"Baju yang ia kenakan sudah ia muntahkan. Dia tidak mungkin memakai pakaian itu saat tidur bukan ?!" Jelas Arka.
Rendy tergelak.
"Apa hanya karna hal ini kau menelfonku ?"
"Apa kau pikir ini lucu ?!" Kesal Arka.
"Kau sudah dewasa, lakukan sendiri. Aku masih harus bekerja !" Ucap Rendy.
"Apa yang kau katakan ?! apa kau tidak takut jika aku melakukan sesuatu padanya ?"
"Hahaa.. kau tahu sendiri akibatnya jika kau berani melakukan hal buruk pada adikku ! Lagipula aku percaya padamu sepenuhnya, aku yakin kau bukan tipe lelaki seperti itu bukan ?!" Ucap Rendy kemudian memutuskan telfon secara sepihak.
Arka terdiam sejenak mencerna segala perkataan Rendy yang baru saja ia dengar.
Dengan senyum samar, ia terlihat mengatakan sesuatu.
"Dasar ceroboh.. !" Lirihnya kemudian meletakkan ponselnya.
Ia duduk di samping Rena dan terus memandangi lekat wajah gadis itu. Telapak tangannya mengelus pelan rambut hingga wajah gadis yang kini tidak lagi sadarkan diri.
"Apa kau juga akan percaya padaku ?" Tanyanya dengan suara lirih.
Tiba-tiba saja Rena terbangun dan kembali muntah, dan sekali lagi baju yang ia kenakan harus terkena cairan busuk tersebut. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah tak berdaya.
"Mengapa kau sampai minum sebanyak ini jika tidak bisa mengontrolnya ?! Dasar gadis bodoh !" Umpatnya.
Dirinya tidak bisa lagi menahan bau alkohol di tambah aroma cairan yang baru saja Rena muntahkan. Ia bergegas pergi membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai dengan dirinya, ia kembali dan dengan cepat ia mengangkat tubuh Rena dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Ia membaringkannya di dalam bathtub dan memulai meramas rambut Rena dan membersihkan wajah dan tubuh Rena yang bisa ia jangkau.
Setelahnya, ia kembali menggendongnya dan membaringkannya kembali di pembaringan. Sedangkan Rena yang masih dalam pengaruh alkohol terus meracau dengan beberapa celotehan dan umpatan.
Melihatnya, Arka hanya bisa berdecak menggelengkan kepalanya.
"Entah siapa yang mengajarimu mengumpat seperti itu." Ungkapnya tak berdaya.
Ketika Arka ingin melepaskan kalungan tangan Rena dari lehernya. Dengan sangat kuat Rena menahan tangannya hingga tanpa sadar menarik Arka ke dalam pelukannya.
"Mengapa kau sangat berbeda malam ini ?" Ucapnya kemudian memukul-mukul pelan tubuh Arka. Seakan dirinya memukul sebuah bantal guling miliknya.
"Kau guling kesayanganku."
Arka hanya bisa meneguk salifanya ketika tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Rena yang kini masih mengenakan handuk besar.Dengan keadaan mereka yang sangat dekat seperti itu, membuat Arka ingin terus menatap wajah cantik itu dengan puas tanpa berkedip sedetikpun.
"Emm.. mengapa kau terasa sedikit keras dan kaku ?" Ucapnya meramas dada Arka yang berotot.
Ia kemudian menyelipkan kepalanya di dada bidang Arka dan menghirup bau tubuh maskulinnya dengan sangat dalam.
"Bahkan baumu lebih wangi dari sebelumnya." Kemudian ia memeluknya dengan erat.
Arka yang sebenarnya ingin mencium Rena hanya bisa tersenyum konyol mendengar celotehannya.
.
.
"Katakan padaku, mengapa takdir selalu mempermainkanku ?!" Rena kemudian terisak sedih.
Owh.. sungguh, nasib yang sangat sial."
Arka yang mendengar ungkapan hati Rena yang sebenarnya merasa ibah dan juga sakit karna harus melihat gadis yang ia cintai itu terlihat sangat buruk dan frustasi.Ia memperbaiki helai rambut Rena yang mulai mengering dan menyelipkannya ke belakang.
"Bukan nasibmu yang sial, hanya saja kau terlalu baik hingga mudah untuk di permainkan." Lirihnya menepuk pelan kepala Rena.
"Mengapa dia harus muncul kembali dalam kehidupku ?! Hiks hiks hiks." Lirihnya dengan sedih.
"Shuuust... shuust.. tenanglah." Arka menenangkannya dan terus menepuk pelan kepala Rena.
Hingga akhirnya Rena benar-benar berhenti meracau dan tertidur pulas dalam pelukannya.
Waktu kini telah menunjukkan arah pukul 09.15. Ponsel mereka terus berbunyi dengan nada panggilan telepon.
Merasa berisik dengan dua ponsel yang berbunyi secara bergantian membuat Rena mengerjapkan matanya. Perlahan ia membuka matanya yang sembab karna tangisannya semalam.
Saat membuka matanya, ia melihat samar sebuah pemandangan yang langkah. Ia kembali menutup matanya berharap dirinya hanya bermimpi dan membukanya sekali lagi untuk memastikan apa yang baru saja di lihatnya.
Matanya terpelotot manakala melihat dada seorang lelaki dengan beberapa irisan roti di perutnya. Perlahan ia mengangkat kepalanya dan menatap pelaku yang saat ini memeluknya dengan seenaknya tanpa meminta izin darinya.
Ia mengerutkan alisnya saat mengetahui kalau pelaku tersebut adalah lelaki yang sangat di kenalinya.
("Apa yang telah aku lakukan dengannya ?!") Batinnya.
Dengan sangat keras ia memukul tubuh Arka meminta penjelasan darinya.
"Arkaa... ! bangun..!" Serunya dengan pukulan beruntun.
"Aaw.. aduuh.. mengapa kau memukulku sangat keras !?"
"Apa yang telah kau lakukan padaku ?!" Kesalnya.
Arka bangun dan dengan cepat menangkap kedua tangan Rena dan menaruhnya di bawah kungkungannya.
Rena yang mendapati dirinya tidak dapat bergerak dan melawan menatap intens mata Arka yang kini menatapnya dalam dengan diam.
"Arka, apa yang ingin kau lakukan ?" Lirihnya sedikit takut.
Namun Arka tidak menggubrisnya dan hanya terus menatapnya lekat. Tentu saja hal ini membuat Rena sedikit malu bercampur khawatir. Ia memalingkan wajahnya yang rasanya ingin terbakar oleh tatapan mesra dari lelaki yang kini berada di atasnya.
Arka tersenyum manis melihat wajah Rena seperti itu.
"Mengapa kau memalingkan wajahmu seperti itu ? apa kau malu ?!" Tanyanya jahil.
Rena kesal. Ia kembali memberontak.
"Arkaaa... " Teriaknya.
Arka tertawa kemudian melepaskan tangan Rena dan beranjak untuk pergi.
"Kau mau kemana huh !" Seru Rena kesal.
"Kenapa ? apa kau masih ingin memelukku ?" Ucap Arka semakin jahil.
Rena bangun dan duduk.
"Apa yang kau lakukan padaku semalam ?!" Tanyanya.
"Apa kau benar-benar tidak mengingatnya ?" Tanya Arka kembali sembari memakai kemeja putihnya.
Rena memijat kepalanya yang masih terasa pusing.
"Katakan padaku dengan jelas."
"Apa kau yakin ingin mendengarnya ?" Tanya Arka menatap Rena dengan senyum jahilnya.
"Katakan saja, apa yang kita lakukan ? mengapa aku memakai kemejamu ?." Tanyanya yang menyadari pakaiannya telah terganti.
"Kau pikirkan saja. Menurutmu apa yang akan di lakukan dua orang dewasa jika mereka bersama dalam satu ruangan dan berbagi tempat tidur ?"
Rena terdiam, dan tidak lama ia pun menangis. Melihat hal itu membuat Arka tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaa.. mengapa kau menangis." Tanyanya dan duduk di samping Rena.
"Mengapa kau melakukan ini padaku ?"
"Bukan aku, tapi kau !"
Rena menatap bingung penuh tanya pada Arka. Arka kemudian mengangguk dan melanjutkan perkataannya.
"Semalam Rendy menelfonku dan menyuruhku untuk menjemputmu. Melihatmu sangat mabuk, aku tidak mungkin mengantarmu pulang dengan kondisimu yang seperti itu. Dan akhirnya aku berinisiatif membawamu kesini." Jelas Arka.
Kau terus memelukku dan tidak ingin melepaskanku. Kau juga terus mengatakan kalau aku sangat wangi. Sebenarnya, aku tidak ingin melakukannya. Tapi kau terus menggodaku dan tidak ingin melepaskan pelukanmu dariku. Sampai aku tidak mampu lagi untuk menahannya dan kita..--"
"Cukup !!" Sela Rena sembari menutup kedua telinganya.
"Aku tidak ingi mendengarnya lagi."
"Mengapa ? bukankah kita sudah sama-sama dewasa ?" Tanya Arka.
Rena bergegas beranjak dari tempat tidur dan mengumpulkan barang-barangnya dengan air mata yang menderai di pipinya.
Arka yang melihat Rena seperti itu kemudian berdiri dan berjalan memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku !" Lirihnya.
"Lepaskan aku ka !"
"Aku hanya ber--" Arka mencoba menjelaskan
"Aku benar-benar kecewa padamu !" Sela Rena.
Ia melepaskan dirinya dari pelukan Arka dengan kasar dan berlari pergi dengan rambutnya yang masih berantakan. Ia merasa semakin hancur dan frustasi dengan dirinya yang sangat bodoh dan ceroboh.