
Klinik Bersalin Sejahtera.
Rena baru saja masuk di ruangan bersalin di mana Dara sudah berbaring di atas ranjang, siap untuk melahirkan.
"Bagaimana keadaannya ?" Tanya Rena pada dr.Dewi saat baru masuk di ruangan tersebut.
"Sudah pembukaan delapan." Jawab dr.Dewi santai. Pasalnya dia lebih berpengalaman dari dr.Rena.
Hanya saja pasien tidak bisa di ajak berkomunikasi dengan baik, sepertinya dia hanya mendengarkan ucapan dokter." Imbuhnya dengan berbisik.
Rena yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil, kemudian menepuk pelan pundak bawahannya tersebut.
"Apa kau sudah buang air kecil ?" Tanya Rena pada Dara sembari memasang sarung tangan plastik yang sudah di sterilkan.
Dara menggeleng pelan.
"Belum, tidak bisa keluar." Jawabnya lirih.
"Okay, jangan khawatir. Aku disini, santai saja ya." Ucap Rena dengan lembut mencoba memberi semangat.
"Mira, tolong siapkan keteter-nya." Titah Rena.
"Baik dokter."
Setelah alatnya sudah siap, Rena memberi isyarat pada dr.Dewi untuk memasangnya, sedangkan dirinya mencoba mengalihkan perhatian Dara agar tidak merasa tegang dan tidak menyadari rasa sakit yang akan menderanya.
"Aduh.." Ucapnya tatkala merasakan sakit di area vaginanya.
"Tidak apa-apa." Ucap Rena dengan senyum, kemudian menekan-nekan pohon perut Dara dengan lembut.
Dara sedikit membulatkan matanya kala air seninya keluar begitu saja. Pasalnya selama ini dia tidak pernah merasakan yang namanya di keteter.
"dr.Ren, sepertinya aku pipis." Ucapnya sedikit berbisik.
Rena hanya bisa tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, jangan di tahan. Okay ? biar persalinannya nanti lancar."
Dara akhirnya hanya bisa mengangguk mengerti.
Tiga puluh menit kemudian.
"dokter, sakiiiiit..." Ucap Dara lirih sembari memegang tangan Rena sebelah.
"Tahan yaa, aku tau kamu pasti kuat. Okay tarik nafas yang panjang... hembuskan..." Ucap Rena memberi arahan. Sedangkan dr.Dewi sudah siap di depan Dara membantu proses keluarnya bayi.
huhhhuffft...
huuuuft...
huuuf...
Eeeeeeeeem'
"Okay bagus, sekali lagi." Ucap Rena sembari memberi rangsangan pada permukaan perut Dara.
"Ayo, sedikit lagi, kepalanya sudah hampir keluar." Ucap dr.Dewi memberi semangat.
Dara hanya bisa menggelengkan kepalanya menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi.
huuuuuffft...
huuuuufft..
huuuuft...
Eeeeeeeeeeeeeem'a
.
.
.
.
.
Akhirnya suara bayi menangis menggema di ruangan tersebut.
"Kamu hebat Dara." Ucap Rena sembari menyeka peluh di wajah Dara, kemudian memberikan sentuhan pertama pada bayi.
"Bayi yang tampan." Puji Rena mengelus pelan kepala bayi.Sedangkan Dara hanya bisa tersenyum haru menatap bayinya.
Lima menit kemudian.
Mira yang sebagai asisten segera mengambil bayi tersebut dan membersihkannya.
Sedangkan di luar ruangan, Rangga dan Reno hanya bisa terdiam dengan rasa penuh kekhawatiran.
Keduanya terlihat berkali-kali menatap jam di pergelangan tangan mereka masing-masing.Sudah satu jam lebih mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda bahwa pintu akan terbuka.
Sedangkan di dalam ruangan, ketiganya mengambil peran mereka masing-masing, hingga Rena berjalan membuka pintu untuk sang Ayah.
Ceklek.
Rena sedikit tertegun di tempatnya menatap kedua lelaki yang sudah sama-sama berdiri dan menatapnya cemas dengan wajah yang menegang.
"Selamat, bayinya sudah lahir." Ucapnya kemudian, sembari menatap Rangga dengan senyum.
"Benarkah ?!" Tanya Rangga antusias.
Rena hanya menggunakan kepalanya pelan.
Rangga memutar matanya menatap Reno yang juga telah menatapnya.
Tos.
"Yes." Ucap mereka bersamaan dan saling berpelukan.
Rena yang melihatnya semakin bingung.
"Apa kami boleh masuk ?"Tanya Reno antusias.
Rena hanya bisa mengangguk karna masih bingung dengan situasi yang sebenarnya.
Rangga segera berlalu dan segera menghampiri sang bayi, sedangkan Reno dengan cepat menghampiri Dara yang sebelumnya sudah berganti pakaian.
"Waah, Reno ! kemarilah, lihat bayinya sangat lucu." Ucap Rangga dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih sayang." Ucap Reno pelan.
Rena yang melihat pemandangan yang ada di depannya kini hanya bisa mengerutkan alisnya bingung dengan hubungan ketiganya.
Sedangkan dr.Dewi dan Mira memilih keluar lebih dulu, mengingat orang-orang tersebut adalah sahabat dari atasannya.
Dara yang melihat ekspresi Rena yang seperti itu hanya bisa tersenyum dan menyikut tubuh Reno yang masih berdiri di sampingnya memberi kode.
"Ada apa ?" Tanya Reno pelan. Ia masih belum mengerti maksud Dara.
Dara hanya mengarahkan mata dan dagunya pada Rena. Membuat Reno berbalik dan menatap Rena dengan tawa kecilnya.
"Ada apa dr.Rena ? sepertinya kau terlihat sangat kebingungan ?" Tanyanya kemudian.
Rena yang tersadar hanya bisa mendongak menatap Reno dengan mulut yang sedikit menganga.
"Aaaa.." Ucapnya.
Rangga yang mendengar pertanyaan Reno juga ikut berbalik menatap Rena yang terlihat mulai canggung.
"Dara adalah istriku." Ungkap Reno, tidak ingin menggantung Rena lebih lama.
Mata Rena seketika membola tatkala mendengar ucapan Reno. Lagi-lagi Rena hanya bisa ternganga di tempatnya.Saat ini sepertinya otaknya sedang lalod (lambat loading).
Rangga yang melihat ekspresi Rena yang seperti itu hanya bisa tertawa kecil. Baginya sangat jarang bisa melihat dokter cantik itu dengan ekspresi bodohnya.
"Sangat menggemaskan." Lirihnya.
"Tapi, bukankah waktu itu---" Ucap Rena mengingat saat terakhir kali sebelum dirinya ke London Rangga mengumumkan kalau dia dan Dara akan menikah.
Dara terkikik melihat wajah Rena yang kebingungan seperti itu.
"dr.Rena, kak Reno adalah suamiku." Ucap Dara memperjelas.
Rena kemudian memutar bola matanya menatap Rangga yang kini berdiri bersedekap menatapnya dengan senyum yang mengembang.
Seketika ucapan-ucapan yang sebelumnya ia berikan pada Rangga kembali terngiang di pikirannya.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu selamat, tidak lama lagi kau akan menjadi seorang Ayah."
Rena semakin mengerutkan alisnya, ia begitu malu pada dirinya sendiri dengan wajah yang merona.
("Bodoh,bodoh,bodoh...") Batinnya mengumpat dirinya.
"Ohya, eh-aku, kalau begitu aku permisi dulu." Ucapnya kikuk, kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut.
Ketiganya hanya bisa saling melempar pandangan kemudian tertawa. Namun di detik berikutnya ekspresi Rangga tiba-tiba berubah menatap pasangan yang ada di depannya dengan tatapan mengintimidasi sembari berkacak pinggang.
"Apa kalian bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi ?"
Reno memutar bola matanya.
"Memangnya apa yang harus kami jelaskan ?" Tanyanya.
Rangga memincingkan matanya menatap Reno dengan tajam.
"Mengapa aku merasa ini terlalu kebetulan ? apa ini semua permainan kalian ?" Cecarnya.
Reno tergelak memaksa.
"Hahaa, permainan ? aku tidak mengerti apa maksudmu."
Dara yang melihat situasi suaminya tersudut, mencoba mengalihkan perhatian Rangga.
"Aduh.." Ucapnya tiba-tiba meringis kesakitan.
"Ada apa sayang ?" Tanya Reno seketika merunduk menatap Dara dengan cemas. Namun Dara mengedipkan matanya memberi kode kalau dirinya sedang bersandiwara.
"Itu, yang dibawah, rasanya sakit sekali." Ucapnya berakting.
"Yang mana ?" Tanya Reno memasukkan kepalanya ke bawah selimut.
Rangga yang tahu kalau mereka sedang bersandiwara hanya bisa berdecak sembari menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahan melihat pasangan itu terlalu terbuka di hadapannya.
"Baiklah,kali ini aku melepaskan kalian." Ucapnya kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Setelah pintu tertutup. Reno dengan cepat keluar dari bawah selimut.
"Apa dia sudah pergi ?" Tanyanya sembari menatap pintu yang tertutup.
Huuuft...
Ia menghela nafasnya lega. Kemudian menatap istrinya dengan senyum yang mengembang.
Tos.
Keduanya akhirnya tergelak dengan tawa bahagia.
Sebenarnya, jauh sebelumnya Reno selalu mencari kabar tentang keberadaan Rena tanpa sepengetahuan Rangga.
Ia berfikir walau bagaimanapun Rangga sudah membantunya bersatu dengan Dara. Jadi dia berinisiatif akan melakukan hal yang sama pada sahabatnya tersebut. Hingga satu Minggu yang lalu dia mengetahui kabar kalau Rena telah kembali sejak tiga bulan yang lalu.
Beruntung perusahaan mereka memiliki cabang di kota tersebut, sehingga dengan mudah Reno memanipulasi agar Rangga bisa pergi menyusulnya.
"Sayang, bukankah terakhir kali kita check up, prediksinya dua Minggu lagi ? mengapa tiba-tiba kau melahirkan hari ini ? apa bayinya baik-baik saja ?" Cecar Reno, pasalnya hal ini tidak termasuk dalam susunan rencananya.
Dara tersenyum.
"Kata dr.Rena bayinya sehat. Mungkin bayi kita tahu dengan rencana kita.
"Ohya ? jadi yang kemarin kamu sakit itu, tidak sedang berpura-pura ?" Tanya Reno.
Dara mengangguk dengan senyum.
"Emm, Sepertinya bayinya bisa di ajak bekerjasama."
"Benarkah ?" Tanya Reno masih tidak percaya dengan mata yang berbinar.
"Apa kau tidak ingin melihat bayinya ?" Tanya Dara.
Reno menganggukkan kepalanya antusias. Dan dengan cepat berjalan ke arah keranjang bayi, ia menatap bayinya cukup lama, hingga tanpa ia sadari air matanya menetes begitu saja.
"Apa kau sudah melihatnya ?" Tanya Reno tanpa memalingkan tatapannya sedikitpun dari sang bayi.
"Sudah." Jawab Dara pelan.
Reno akhirnya berbalik dan kembali menghampiri istrinya, kemudian memeluknya dengan penuh kebahagiaan.