
Ketika pagi menjelang, sang cakrawala kian menyapa, langit yang gelap kini perlahan menunjukkan cerahnya.
"Pagi Ayah.. !" Sapa Rena pada Ayahnya yang baru saja bergabung di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.
"Pagi !" Jawab Jaya.
Jadi, kemana tujuanmu hari ini ?" Tanyanya
"Emm aku ing-in ber-te-mu--" Rena sedikit ragu untuk mengutarakannya.
"Baiklah, tapi Rendi akan terus menemanimu !" Ucap Jaya tanpa menatap anaknya, ia hanya terus fokus memakan roti berlapisi slai srauberi yang ada di piringnya.
"Emm bukankah dia Asisten pribadi Ayah, bagaimana jika Ayah tiba-tiba membutuhkannya ?!"
"Dia lebih dari Asisten pribadi Ayah, saat ini hanya dia yang bisa Ayah percayakan untuk menjagamu."
"Tapi Yah.. !" Rena mencoba menolak. Tapi Rani segera memegang tangan Rena memberi isyarat.
Dengan intens Rena menatap Ibunya, Rani hanya menggelengkan kepalanya, menandakan agar Rena tidak membantah lagi.
Kemudian Rena hanya bisa pasrah dan menghembuskan nafasnya pelan.
"Oke !" Ucapnya singkat.
Tiba-tiba Bi Hanum berjalan dengan cepat menghampiri Tuannya.
"Maaf Tuan, di depan ada den Rendi." Ucap wanita tua itu mengkonfirmasi kedatangan Rendi.
"Em suruh dia masuk dan bergabung sarapan bersama kami." Titah Jaya.
"Baik Tuan !" Ucap wanita itu dan mengundurkan diri kemudian kembali menghampiri Rendi.
"Yah ! bukannya itu terlalu berlebihan untuk menyuruhnya bergabung makan bersama kita ?" Tanya Rani. Ia sedikit curiga dengan suaminya, di karenakan baru kali ini ia melihat suaminya memperlakukan asistennya secara berlebihan.
"Berlebihan ? ini hanya sarapan biasa, dan dia adalah orang kepercayaan Ayah. Jadi tidak ada salahnya jika dia bergabung makan bersama kita." Ucap Jaya santai.
"Tapi Ayah tidak pernah memperlakukan asisten sebelumnya seperti ini."
"Sudahlah sayang, apa hanya karna makan bersama asisten kau juga akan mempermasalahkannya ?"
"Tidak, bukan maksudku seperti itu--" Rani tidak melanjutkan kalimatnya ketika Rendi telah tiba di ruangan itu.
"Pagi Pak,Bu !" Sapa Rendi sembari membungkukkan badannya sedikit.
"Pagi,
Duduklah !" Ucap Jaya dan disertai senyuman dari Rani.
"Baik Pak !"
Rendi menarik salah satu kursi yang ada di samping Rena, ia melirik ke arah Rena sebelum akhirnya ia benar-benar mendaratkan bokongnya.
Ini adalah pertama kalinya ia makan bersama dengan keluarga yang di anggapnya sedari kecil.
"Sayang, berikan Rendi Rotinya." Pinta Jaya pada Rani.
Namun lagi-lagi Rani hanya menatap bingung pada suaminya.
("Ada apa dengannya ?") Batinnya
"Ah biar saya saja pak, saya bisa sendiri."
"Eh, sini, biarkan tante membantumu !" Ucap Rani secara cepat meraih bungkusan roti tawar yang ada di depannya.
Kau ingin slai apa ?" Tanyanya
"Coklat kacang Bu," Jawab Rendi sedikit gerogi.
"Sama seperti Rena ya, Rena juga menyukai coklat kacang.,
Kalau di luar kantor, panggil saja saya tante." Ucap Rani dengan senyum sembari mengaplikasikan selai diatas roti. Ia tahu, jika suaminya sudah bersikap sedemikian, berarti orang itu telah dianggapnya bagian dari keluarganya.
Apa kau juga ingin minum susu ?" Tanyanya.
"Eh aku--" Rendi tak bisa untuk berkata, tenggorokannya seakan tercekat oleh sesuatu hingga membuatnya terasa nyeri, matanya mulai memerah seakan ingin mengeluarkan setetes cairan bening. Ia sangat terharu dan tersentuh oleh keramahan Ibu angkatnya itu.
Rena yang sesekali melirik memperhatikan pria yang ada di sampingnya, kemudian sedikit terkejut ketika melihat pria itu memalingkan wajahnya kesamping dan menyeka matanya.
"Apa kau menangis ?" Tanya Rena intens.
Mendengar perkataan itu, Rendi perlahan mendongakkan kepalanya menatap Rena yang kini menatapnya.Ia tidak menyangka jika gadis itu sedari tadi telah memperhatikannya. Dengan cepat ia berpaling dan menatap dua irisan roti yang kini ada di depannya.
"Ada apa sayang ?!" Tanya Rani pada Rena.
"Ah-itu- dia.. " Rena sedikit terbata sembari menunjuk ke arah Rendi.
"Maaf Nona, saya hanya kelilipan, ada sesuatu yang masuk ke mata saya." Ucap Rendi mencoba mendalih.
"Tapi, aku melihatmu menangis saat--" Rena kembali tak bisa melanjutkan kalimatnya ketika Ayahnya telah memotongnya.
"Rena..!" Tegur Jaya.
Ia tahu apa yang kini di rasakan anak angkatnya itu.
Sudah hampir satu setengah tahun Rendi kembali ke kota itu, namun baru kali ini ia dapat memanggil anak itu masuk ke dalam rumahnya dan bergabung bersama keluarganya. Jaya merasa sedikit bersalah akan hal itu.
Alasan utama Jaya tidak memberitahu Rani akan pengangkatan Rendi sebagai anaknya adalah, karna Rendi sendiri adalah anak dari mantan kekasih Atmajaya dan juga tidak lain adalah teman masa kecilnya. Jika Rani sampai mengetahuinya, ia pasti tak akan pernah setuju. karna Rani akan sangat sensitive jika berhubungan dengan mantan kekasih dari suaminya.
Sebelum bertemu Rani, Jaya menjalin hubungan dengan Fika, Ibu dari Rendi. Namun percintaan mereka kandas ketika Fika mengakui jika dirinya mencintai Jaya adalah sebuah kesalahan, dirinya tidak mencintai Jaya sebagai seorang kekasih pada umumnya, melainkan hanya seperti seorang sahabat. Fika menyadari hal itu ketika dirinya bertemu dengan ayah Rendi, Vrans.
Vrans sendiri adalah asisten dari mendiang Ayah Jaya.
Saat itu, Jaya hanya bisa menerimanya, sesakit apapun yang ia rasakan, tetap saja ia tak bisa untuk membenci teman dan juga wanita yang dicintainya. Sampai akhirnya Fika dan Vrans memutuskan untuk menikah. Setahun setelahnya Jaya juga akhirnya memutuskan menikahi maharani, wanita yang baru di kenalnya tiga bulan saat di universitas.
Namun, naas, ketika Fika mengandung Rendi dalam usia tua, Suaminya meninggal dalam kecelakaan pesawat, sepulangnya dari perjalanan bisnis keluarga Jaya. Saat mengethui hal itu, Fika merasa hancur dan depresi hingga ia mengalami kontraksi yang belum waktunya.
Jaya yang saat itu tengah menenangkan Fika, merasa sangat panik dan segera melarikan Fika ke rumah sakit.
Di perjalanan Fika terus menggenggam tangan Jaya dan meminta permohonan. Jika terjadi sesuatu padanya, ia meminta agar Jaya menyelamatkan putranya.
"Jaya, berjanjilah padaku !
Jika sesuatu terjadi padaku dan putraku, aku mohon selamatkan putraku !" Ucapnya sembari menahan sakit dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Apa maksudmu ? aku akan menyelamatkanmu, apa pun yang terjadi, jadi tenanglah." Ucap Jaya meyakinkan.
"Tidak Jaya, aku sudah kehilangan suamiku, aku juga tidak ingin kehilangan anakku."
"Tenanglah, kau dan anakmu akan baik-baik saja."
"Tidak Jaya, kali ini aku tidak bisa lagi berjanji untukmu."
"Berjanjilah untuk terus merawat putraku seperti anakmu sendiri."
"Tidak Fika."
Fika akhirnya tidak sadarkan diri. hingga oprasi persalinan cesar di lakukan.
Sudah sekian lamanya, namun, jika Jaya mengingat kembali kejadian itu, ia akan terus menitikkan air mata.
"Ayah.. !
"Ayah..!" Panggil Rena
Jaya yang terhanyut dalam lamunannya hanya bisa tersentak kaget mendengar panggilan putrinya.
"Eh-Ya !"
"Ayah menangis ?" Tanya Rena bingung.
"Ah-tidak, ayah hanya kelilipan." Dalihnya.
"Benarkah ?
Kenapa bisa sama ?" Ucapnya sembari melirik pria yang duduk dengan tegak berada di sampingnya.
"Eh-hahaa mungkin ini kebetulan." Ucapnya dengan tawa yang hambar.