Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Hari Patah Hati



Gadis itu terus mondar mandir didepan pintu rumahnya, entah sudah berepa kali ia menghela nafasnya kasar. Sesekali Ia menatap arloji yang terpasang di pergelangan tangannya, dan kali ini jaram pendek itu telah mengarah di angka 10.


("Hmmp yang benar saja ? aku sudah munuggunya selama 2 jam, tapi, mengapa dia belum datang juga ? Argh.. sangat menyebalkan !") Batinnya


Gadis itu berbalik masuk ke dalam rumahnya, dan membanting pintu dengan keras. Hingga menggema di seluruh penjuru ruangan.


Paaak !


Rani yang sedang menyusun konsep makanan untuk acara putrinya nanti, terkejut mendengar gemaan suara bantingan pintu. Ia segera terperanjat dari duduknya, memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah tiba di ruang utama, ia tidak melihat siapa pun di ruangan itu. Bahkan Rena yang tadinya berdiri di depan pintu pun tak ada.


("Apa yang terjadi ? dimana Rena ?") Batinnya.


Ia memutuskan untuk pergi mencari anaknya di kamar.


Ting !


Pintu lift terbuka.


Rani dengan cepat menuju kamar Rena dan segera membuka pintu.


"Rena "


"Ia Bun !" Jawab Rena lesu


"Apa yang terjadi ?" Tanya Rani dan berjalan mendekati putrinya.


"Hmmp tidak ada !"


"Lalu, mengapa kau membanting pintu sekeras itu ? tahukah kau betapa terkejutnya Bunda, apa kau benar-benar ingin melihat Bunda jantungan !"


"Maaf Bunda, aku tidak akan mengulanginya lagi !"


"Hmp, sekarang, katakan pada Bunda, apa yang membuatmu sangat kesal hingga membanting pintu seperti itu ?"


"Aku kesal karna Rangga membuatku menunggu lama !"


"Hanya karna itu ?" Tanya Rani mengerutkan alisnya.


"Emm, ya !"


"Rena, kau tidak bisa terus seperti itu ! jangan selalu memikirkan kehendakmu sendiri ! apalagi kau akan segera menikah ! itu sangat tidak baik untuk suatu hubungan. Kau harus sedikit lebih pengertian, mungkin saja Rangga mengalami kemacetan panjang atau kecelakaan kecil. Apa kau sudah nencoba menghubunginya ?"


"Sudah, dan dia tidak menjawabnya !"


"Bersabarlah ! setahu Bunda, Rangga tidak pernah mengingkari janji."


Lagi-lagi Rena hanya bisa menghela nafasnya


"Hmmp Baiklah." Ucapnya


"Rena, kau harus tahu satu hal. Setelah kau menikah, kau akan menjadi seorang Istri. Bersikaplah lebih dewasa, lebih pengertian dan lebih bersabar menghadapi segala hal. Kalau kau selalu bertingkah seperti ini, sesabar apapun seorang lelaki, pasti akan menyerah menghadapi sikapmu yang masih kekanakan. Apa kau tidak malu dengan umurmu yang sekarang ?"


Rena hanya bisa tertunduk diam mendengar nasehat dari Ibunya, sepertinya, itu terasa membosankan menurutnya, entah sudah berapa kali ia mendapatkan isi nasehat yang sama, saat melakukan kesalahan.


Melihat ekspresi Rena yang sedikit mengabaikannya, Rani hanya bisa mengancamnya.


"Baiklah, kalau begitu, bagaimana kalau acara tunangannya di batalkan saja !" Ucap Rani


Rena yang mendengar ucapan Ibunya segera melongo menatap tanya pada Ibunya.


"Apa maksud Bunda ? kalau acaranya di batalkan, bagaimana dengan pernikahanku ?"


"Yaaa, pernikahannya juga akan di batalkan. Sampai kau benar-benar dewasa untuk melakukannya." Jawab Rani


"Tidak, tidak, baiklah, aku berjanji akan merubah sikapku !" Sahut Rena dan segera merangkul lengan Ibunya.


"Bun ! aku mohon ! jangan di batalkan." Rengeknya


Rani hanya bedecak melihat tingkah putrinya


"Ck,ck,ck, lihatlah dirimu, kau seperti anak kecil yang merengek menginginkan permen !"


"Bunda !"


Teng tong


Suara bel berbunyi, membuat bincangan mereka seketika terhenti. Rena yang mendengar suara itu, segera beranjak dan berlari keluar dari kamarnya menuruni anak tangga.


"Renaaaa, jangan berlari di tangga !" Seru Rani


Ceklek


"Hai say--"


"Mengapa kau sangat lama !" Seru Rena menyela sapaan Rangga.


"Maafkan aku, tadi saat di perjalanan tiba-tiba ban mobilku kempes karna sebuah paku, dan aku harus membawanya dulu ke bengkel."


"Benarkah seperti itu ? kau bukan hanya beralasan bukan ?!" Tanyanya, dengan menyenderkan tubuhnya di bingkai pintu sambil bersedekap.


"Astaga, apa kau ingin melihat nota pembayarannya ?!" Sambil merogoh saku kantong celananya.


"Tidak perlu, aku hanya bercanda ! hehee." Ucapnya dan terkekeh


Rangga memukul pelan pucuk kepala Rena.


"Hmmp,kau ini !


Apa kita jadi pergi ?" Tanya Rangga


"Em, kita bahasnya nanti di mobil saja !" Jawab Rangga


"Baiklah, aku ke atas dulu mengambil tas !"


Rangga hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.


•••


Setelah beberapa menit melajukan mobilnya, Rangga berbelok memasuki area parkiran.


"Untuk apa kita kesini ?" Tanya Rena yang melihat sebuah bangunan toko butik di depannya.


Namun Rangga hanya tersenyum tanpa jawaban, ia keluar dari mobilnya, disusul dengan Rena. Rangga menarik tangan Rena memasuki toko butik ternama itu.


"Untuk apa kita kesini ?" Tanyanya berbisik, dan terus merangkul lengan Rangga.


Rangga tersenyum dan kembali berbisik


"Aku hanya tidak sabar ingin melihatmu memakai gaun pengantin." Jawabnya


Rena hanya tersenyum malu mendengar jawaban Rangga.


Mereka duduk di dalam satu ruangan sambil melihat beberapa gambar di majalah butik tersebut.


"Em, bagaimana kalau kita mencoba yang ini !" Ucap mereka bersamaan dalam menunjuk gambar yang sama.


Mereka hanya bisa saling berpandangan dan tersenyum bahagia.


"Hmm, sepertinya selera kita sama !" Ucap Rangga.


"Em'hem." Rena mengangguk


"Baiklah, mari kita mencobanya." Seru Rangga


Akhirnya mereka masing-masing masuk ke dalam runang ganti. Saat Rangga selesai memakai kemejanya, tiba-tiba ponselnya berdering. Itu panggilan dari Monica.


Disisi lain, seorang Ibu dan pria muda juga memasuki butik tersebut.


"Selamat siang Bu, ada yang bisa kami bantu ?" Sapa dan tanya seorang karyawan.


"Aku ingin melihat gaun pesta rancangan terbaru butik ini !" Jawab wanita itu.


"Baiklah, silahkan tunggu disini !" Ucap Gadis bersanggul itu sambil mempersilahkan tamunya masuk pada satu ruangan.


Wanita itu sudah terlihat tua dengan keriput yang ada di dahi dan di bawah kelopak matanya, namun tak menampik bahwa ia masih terlihat segar dengan penampilannya yang elegan dan berkelas.


"Mah, memangnya mamah akan menghadiri pesta siapa ?" Tanya Pria muda yang sedari tadi mengikutinya dari belakang.


"Mamah akan menghadiri pesta tunangan anak teman arisan Mamah, dan asal kau tahu, mereka adalah keluarga terpandang di kota ini, jadi Mamah tidak ingin tampil mengecewakan." Jawabnya dengan senyum


"Hmmp, baiklah, aku ke sana sebentar !" Sahut pria itu.


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap kepergian anaknya.


Pria itu terus berjalan, hingga ia melihat gaun pernikahan yang sangat indah terpajang di beberapa patung. Seketika ia teringat akan seorang gadis yang selama ini telah mengisi ruang hati dan juga pikirannya. Dengan mengingatnya saja, ia bisa tersipu, dan tiba-tiba horden yang ada di sampingnya terbuka secara perlahan. Dengan refleks ia memutar badannya, melihat siapa di balik horden tersebut. Matanya seketika membola, melihat sosok yanga sekarang telah berdiri di hadapannya.


Gadis yang sedari tadi ia bayangkan, kini telah berdiri di hadapannya dengan memakai gaun putih panjang dan membiarkan rambutnya yang ikal terurai menutupi sedikit bahu dan dadanya yang terbuka.


Sedangkan wanita itu terus tersenyum bahagia memperhatikan gaun yang ia kenakan tanpa menyadari orang yang kini berada di hadapannya.


"Bagaimana ? apa aku terlihat " Dengan perlahan ia mengangkat wajahnya menatap orang yang ada di hadapannya sampai ia mengakhiri kalimatnya dengan pelan"Ca-n-tik"


Ucapnya


Gadis itu tidak menyangka, kalau orang yang akan pertama kali melihatnya memakai gaun itu adalah DIA. Sedangkan lelaki itu terus melihatnya dengan kagum dan terpesona.


"Arka ? bagaimana kau bisa berada disini ?" Tanya Rena


"Kau terlihat sangat cantik !" Jawabnya yang masih terpesona akan kecantikan Rena.


"Terima kasih ! tapi, apa yang kaulakukan disini ?"


"Oh, aku, aku sedang menemani Ibuku."


"Dan kau sendiri ? mengapa kau disini ? dan memakai itu ?" Tanyanya sambil menunjuk ke arah gaun yang di kenakan Rena.


"Oh, itu, aku--"


"Kami akan segera menikah !" Sahut Rangga yang tiba-tiba datang menyela kalimat Rena.


"Menikah ?" Tanya Arka sedikit tidak yakin dengan apa yang di dengarnya.


"Ya ! kami akan segera menikah !" Jawab Rangga mengulangi perkataannya.


Rannga kemudian menoleh menatap Rena lebih dalam.


"Wah, kau benar terlihat sangat cantik dengan gaun ini !" Imbuhnya, sambil memegang kedua bahu Rena.


Entah, bagaimana perasaan Arka saat ini, ia benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang dilihat dan di dengarnya, itu seperti bom waktu yang tiba-tiba meledak tanpa pemberitahuan.


Oh ya, kami akan mengadakan pesta pertunangan minggu depan di Hotel Royalty, aku dan Rena berharap agar kau datang di pesta kami." Ucap Rangga lebih lanjut


Arka yang mulai kesal dan emosi, hanya bisa mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia mencoba sebaik mungkin untuk bisa mengontrol emosinya.


"Hmmp aku turut berbahagia untuk kalian berdua, dan selamat untukmu Rena, aku hanya tidak menyangka kau akan menikah secepat ini !"Ucapnya sedikit sinis


Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Imbuhnya.


Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dengan sejuta kekecewaan yang terpasang di wajahnya. Ia tidak menyangka kalau hatinya begitu hancur saat mengetahui orang yang selama ini di cintainya akan segera menikah dengan orang lain. Sedangkan dirinya masih berharap akan ada waktu dimana Rena akan memutuskan Rangga dan dialah orang yang pertama yang akan meraihnya.