
Pukul 08.20.
Rena mengerjapkan matanya saat cahaya matahari pagi mulai memenuhi ruangan tersebut dengan silaunya.
Hidungnya mulai menghirup aroma roti yang telah terpanggang sempurna dengan di lapisi selai kesukaannya.
Sepertinya ini adalah pagi yang manis baginya, di tambah lagi dengan sebuah tangan kekar yang melingkari perutnya, mendekapnya dengan hangat.
Perlahan ia membuka matanya dengan senyum yang mengembang. Untuk pertama kali ia terbangun di pagi hari dengan seseorang tepat di sampingnya menatapnya dengan lembut.
"Apa tidurmu nyenyak ?" Tanya Arka dengan lembut.
Rena hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
Arka ikut tersenyum kemudian mengecup mesra pucuk kepala Rena.
Setelah merasa cukup puas, Arka beranjak dari tempat tidur.
"Baiklah, kalau begitu aku akan keluar."
Rena kembali mengangguk pelan dan akhirnya melihat Arka pergi menghilang dari pandangannya.
Untuk sesaat ia melihat ke arah dimana sepiring roti yang di letakkan dengan rapi dan segelas susu putih di atas meja.
Ia tersenyum kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.
.
.
.
Rena yang sudah selesai menghabiskan sarapannya berjalan keluar mencari keberadaan Arka.
"Kemana perginya ?" Lirihnya, saat mendapati ruangan yang biasanya tempat Arka bekerja terlihat kosong.
Ia mulai menyusuri ruangan yang lain, berharap menemukan sosok yang di carinya.
Namun harapannya nihil. Arka tidak berada di mana pun.
Rena menghela nafasnya pelan dan duduk menyenderkan tubuhnya di atas sofa.
Baru saja ia ingin menelfon, suara pintu terbuka membuatnya sedikit terkejut dan membatalkan panggilannya.
Ia berdiri.
"Kau darimana saja ?" Tanya Rena saat melihat Arka yang baru saja masuk dengan rambut yang masih basah karna keringat.
"Aku dari tempat latihan gym !"
Ada apa ? Apa kau mencariku ?" Tanyanya.
"Emmm !!" Ucap Rena kembali duduk.
"Maafkan aku !" Ucap Arka dan duduk menghampiri Rena mengusap pelan rambutnya.
"Aku ingin mandi, apakah kau melihat pakaianku ?" Tanya Rena yang sebelumnya memang kesusahan mencari pakaiannya.
Semalam ia memang mengganti pakaian yang ia kenakan dengan kemeja putih milik Arka.
"Oh, aku lupa memberitahumu, kalau aku membawanya ke loudry tadi pagi saat kau masih tidur." Jawab Arka.
"Emmm, lalu kapan aku bisa mengambilnya ? bukankah akan memakan waktu ?"
Arka tersenyum.
"Kau tenang saja, mereka akan mengantarnya secepat mungkin."
"Benarkah ?"
"Emm, aku sudah menjadi langganan di tempat mereka sejak lama." Jelas Arka.
Rena menghela nafas lega.
"Kalau begitu aku akan mandi, bisakah kau meminjamiku pakaianmu lagi ?" Tanya Rena.
Arka tersenyum.
"Tentu saja."
.
.
.
.
Di saat Rena sedang mengeramas rambutnya, tiba-tiba saja air berhenti mengalir, membuatnya sedikit kebingungan dan mencoba memutar kerannya.
"Mengapa airnya berhenti mengalir ?" Lirihnya. Ia menatap lampu yang masih hidup.
("Lampunya masih menyala, itu berarti tidak ada pemadaman listrik.")
"Arka..." Teriaknya.
"Ka.... Arka... !!"
"Ada apa ?" Tanya Arka dari balik pintu.
"Airnya, mengapa airnya berhenti mengalir ?" Tanya Rena.
"Apa kau sudah mencoba memutar kerannya ?" Tanya Arka.
"Ya, aku sudah mencobanya, tapi airnya tetap saja tidak mengalir."
Arka sedikit berfikir, lalu berkata.
"Bisakah aku masuk untuk memeriksanya ?"
Untuk sejenak Rena berfikir, kemudian meraih handuk dan membalut tubuhnya.
Ceklek.
"Masuklah !!" Titahnya pada Arka.
Untuk sesaat Arka sedikit pangling melihat Rena yang saat ini hanya memakai balutan handuk di tubuhnya dengan rambut basahnya yang dibiarkan terurai.
Namun ia segera berpaling dan memeriksa keran shower yang memang sering tersumbat.
"Sepertinya airnya tersumbat lagi !!" Ucapnya pelan.
"Apa itu biasa terjadi ?" Tanya Rena.
"Emm, ini sudah terjadi beberapa kali dalam waktu dua minggu terakhir !"
"Lalu bagaimana caranya agar airnya kembali mengalir ?" Tanya Rena yang sedikit tidak nyaman dengan tubuhnya yang masih terasa licin karna busa sabun yang masih tertinggal.
"Apa itu akan berhasil ?" Tanya Rena terlihat ragu.
Lagi pula, mengapa kau tidak memanggil seseorang untuk memperbaikinya jika sudah terjadi beberapa kali ?" Imbuhnya.
"Kau sendiri tahu, betapa padatnya jadwalku akhir-akhir ini. Aku selalu lupa dengan hal-hal seperti ini." Jelas Arka yang masih terus mencoba sebisanya.
Arka memang selalu sibuk, selain menjadi dokter, ia juga mengajar di salah satu universitas ternama di kota itu.
Kehidupan kariernya memang selalu terbilang lancar juga sukses, dan ia juga termasuk salah satu pemuda idaman dari sepuluh daftar pria ideal di kota itu.
Dia cerdas dan juga berwibawa. Tapi tidak ada yang menyangka, di balik penampilannya yang selalu terlihat sempurna, ternyata di kehidupan pribadinya dia sangat berantakan. Bahkan AC di ruang kerjanya pun mulai tidak berfungsi.
Rena berdecak pelan dan menggeleng kepalanya. Ia menatap punggung Arka dan menghela nafasnya pasrah.
Sepertinya, untuk kedepannya ia harus siap melayani segala keperluan Arka dan menjadi Ibu rumah tangga yang baik dan bijak seperti Ibunya.
"Sepertinya ini tidak bisa lagi di gunakan !"Ucap Arka menggantung kembali shower tersebut dan berbalik menatap Rena.
"Apa kau masih membutuhkan air ?" Tanyanya kemudian.
Rena mengangguk pelan dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Apa segalon air akan cukup ?"
Rena mengerutkan alisnya.
("Apa sekarang dia akan menyuruhku mandi dengan air minum ?!") Batinnya.
Namun shower yang kembali di gantungnya tiba-tiba menyemburkan air dengan sangat kencang. Membuat mereka berdua terkejut dan bersamaan menatap ke arah shower tersebut.
Kemudian menatap satu sama lain.
Dan akhirnya mengeluarkan gelak tawa karna merasa lucu dan payah.
Mereka tertawa, bagaikan seorang anak yang senang bermain di bawah derainya air.
Perlahan, Arka memegang rambut Rena dan membantu membersihkan busa-busa shampo yang tersisa.
Deg.
Jantung Rena berpacu dengan sangat cepat.
Dia belum pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya. Membuat pipinya memerah dan terasa panas.
Apalagi dengan pemandangan di depannya saat ini.
Kaos putih yang di kenakan Arka terlihat transparan karna basah, membuat potongan-potongan otot di dadanya terlihat begitu...
"Wow." Lirihnya keceplosan.
"Eemm ?!" Tanya Arka ketika telinganya mendengar ucapan yang samar.
Rena mendongakkan kepalanya menatap Arka.
Sepertinya dia memikirkan sesuatu yang liar di kepalanya.
Ia mengerjapkan matanya dan beralih.
"Sepertinya aku sudah selesai." Ucapnya gugup dan ingin mengambil bathrobenya.
Namun Arka mencekalnya, ia menangkap tubuh Rena dan perlahan mendekatkan wajahnya, mengecup bibirnya mesrah penuh sensasi dan perlahan memabukkan.
Di bawah derainya air yang terus mengalir, dengan uap hangat yang di keluarkan oleh tubuh mereka satu sama lain.
Ciuman mesra. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang mereka lakukan saat ini.
Ting tong..
Ting tong..
Ting tong..
Ting tong..
Ting tong..
Pak,pak,pak.
Ting tong..
Ting tong..
Pak,pak,pak..
Suara bel pintu yang beruntun terus berbunyi dan sesekali terdengar gedoran pintu yang sangat keras.
Dan kali ini suara alarm kebakaran berbunyi, menggema memenuhi gedung tersebut.
Membuat kedua orang yang tengah bercumbu merasa sedikit terganggu dan akhirnya menyudahi aktivitas mereka.
"Apa terjadi kebakaran ?" Tanya Rena.
"Aku akan memeriksanya." Ucap Arka pelan dan berbalik ingin mengambil handuk.
Sedangkan Rena, ia melipat bibirnya yang terasa perih.
("Apa yang akan aku lakukan ? Apakah aku harus menunggunya dan kembali ?")
("Aaaaah ! Mengapa otakku menjadi seliar ini ?!")
Ketika Arka ingin membuka kaosnya.
Dengan cepat Rena berkata.
"Biar aku saja."
"Emm.. ?" Ucap Arka berbalik menatap Rena.
"Biar aku saja, lagi pula aku sudah selesai. Bukankah kau juga harus mandi ?!"
Tanpa menunggu jawaban dari Arka, Rena segera melesat mengambil bathrobenya dan bergegas keluar dan berjalan membuka pintu.
Ceklek.
Rena terkejut saat melihat seseorang yang berdiri di balik pintu.
("Rangga !!?")
Rangga sama terkejutnya saat melihat penampilan Rena yang saat ini hanya memakai handuk mandi dengan rambut basahnya yang dibiarkan terurai, belum lagi dengan tanda merah yang berbekas di lehernya.
Sebenarnya itu adalah pemandangan yang menyegarkan,tapi kali ini dia lebih terlihat kesal bercampur khawatir.
Rena dengan cepat ingin menutup kembali pintu, namun Rangga segera mencekalnya.
"Apa yang kau lakukan di sini ?!" Tanya Rena kesal.