Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 141



Entah sudah berapa kali ia memukul bantal sofa di tangannya merutuki kebodohannya sendiri, mengacak rambutnya kesal, hingga gagang pintu terlihat berputar dan perlahan terbuka.


Mengetahui Rena akan keluar, ia segera memperbaiki posisinya seperti semula menatap layar ponselnya dalam diam.


Sedangkan Rena, ia berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dengan berjalan ke sisi meja hias, mengambil hair dryer dan mengeringkan rambutnya yang basah.


Ekhemm..


Dehemnya kemudian mencoba mencairkan suasana yang sedikit sepi penuh dengan kecanggungan.


"Apa kau sibuk ?" Tanyanya memulai percakapan.


Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saja Rangga mendongak menatap ke arah Rena yang masih mengenakan bathrobe yang panjangnya hanya selutut dengan duduk menyamping mengeringkan rambutnya yang basah.


Glek..


Rangga kembali meneguk salivanya. Pemandangan yang diberikan Rena membuatnya seketika merasa gerah.


Huuuuft...


Ia menghela nafasnya sedikit kasar.


("Apa dia sedang mengujiku ?") Batinnya.


Rena yang tidak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaan, tentu saja merasa kesal.


("Apa dia benar-benar mengabaikanku ? sial. Jika tahu seperti ini, aku tinggalkan saja dia tadi.") Batinnya mengumpat kesal sembari meletakkan hair dryer dengan kasar, kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Rangga.


Rangga yang melihat Rena ingin menghampirinya, seketika berdiri dengan gugup, berfikir kalau Rena akan segera memangsanya lebih dulu.


Tujuan Rena sebenarnya ingin sekali mengumpat lelaki itu, tapi entah mengapa saat melihat ekspresi Rangga yang seperti itu membuatnya mengurungkan niatnya.


Ia menghela nafasnya pelan.


"Hmmmp.. kau kenapa ?" Tanyanya yang kini berdiri tepat di depan Rangga.


"Eh ? ti-tidak." Jawab Rangga sedikit terbata, ia kembali meneguk salivanya, bahkan jakunnya naik turun karna merasa gugup.


"Apa kau gugup ?" Tanya Rena semakin mendekat tatkala melihat telinga Rangga yang memerah.


"Tidak, kenapa aku harus gugup ?!" Elak Rangga, ia tidak terima kalau Rena menangkap basah dirinya.


Rangga mungkin berstatus duda, tapi bukan berarti dia pernah melakukan ritual malam pertama saat masih bersama Monica, atau sekedar melampiaskan nafsunya pada wanita yang menginginkannya.


Baginya hanya ada satu wanita dalam hidupnya,dan hal itu membuatnya berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu pada wanita lain, sebelum Rena benar-benar tidak lagi memeberinya harapan.


Namun siapa sangka kalau keinginannya itu benar-benar terwujud ? dia benar-benar menikahi wanita pujaan hatinya tersebut. Meski dia tidak tahu pasti apakah wanita yang saat ini telah ia nikahi masih virgin ? mengingat entah sudah berapa kali ia memergoki Rena berada di apartemen Arka saat itu.


"Sepertinya kita perlu bicara." Ucap Rena.


"Em ? baiklah." Jawab Rangga kemudian kembali duduk seperti semula, dan diikuti oleh Rena yang kini duduk di sampingnya sedikit berjarak.


"Ada apa ?" Tanya Rangga memulai percakapan.


"Tidak, aku hanya ingin tahu, mengapa tiba-tiba kau memutuskan untuk menikahiku ?"


Sesaat Rangga terdiam,namun di detik kemudian ia tersenyum .


"Tidak ada alasan bagiku untuk memutuskannya, bukankah sudah jelas bahwa aku mencintaimu ?" Jelasnya sembari menatap dalam mata wanitanya itu cukup lama.


Lalu kau sendiri ? mengapa kau mau menerima tawaranku ?" Tanya Rangga kemudian.


"Aku ?" Rena sedikit berfikir.


Itu karna kau selalu berada di sekitarku,entah bagaimana kerasnya aku mencoba untuk menjauh. Membuatku merasa kita memang ditakdirkan untuk terus bertemu, dan berfikir sepertinya harus menuntaskan hubungan yang dulu sempat putus dengan bersama." Jelas Rena dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin Rangga menangkap basah jika dirinya sebenarnya masih menyimpan rasa sukanya sejak dulu sampai saat ini.


Rangga terlihat mengangguk mengerti.


"Lalu, apa kau mencintaiku ?" Tanya Rangga sedikit ragu.


Rena menatap Rangga cukup dalam. Ia tersenyum, entah apa yang di fikirkan-nya saat ini. Dengan pelan ia mendekatkan dirinya pada Rangga, mengahapus jarak di antara mereka, membuat Rangga kembali merasa gugup.


Perlahan Rena mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Rangga dengan lembut.


"Sebelum aku menjawabnya, apa kau yakin keputusan ini tidak akan membuatmu menyesal ?" Tanya Rena lembut.


Glek..


Rangga meneguk salivanya, jakunnya kembali naik turun.


"Kenapa harus menyesal ?" Tanya Rangga kembali.


"Apa aku harus menjelaskannya ? aku tahu kau pasti sangat tahu bagaimana hubunganku dulu bersama Arka ."


Rangga terlihat menaikkan alisnya sebelah sedikit tidak mengerti.


"Bagaimana jika aku katakan kalau aku sudah tidak lagi virgin ? apa kau masih mau mencintaiku ?"


Seketika memori Rangga kembali berputar dimana terakhir kali ia memergoki Rena berada di apartemen Arka hanya memakai handuk dengan rambut yang basah.


"Jika kau tidak keberatan, maka malam ini kita bisa--" Ucap Rena menggantung kalimatnya dengan tangan yang lainnya mulai meraba dada Rangga secara lembut.


Untuk sesaat Rangga tertegun di tempatnya tak bersuara. Sentuhan Rena benar-benar membuatnya terangsang. Tapi, pernyataan Rena yang mengatakan kalau mungkin dirinya tidak lagi virgin membuatnya tidak fokus dan merasa sedikit kesal.


"Sepertinya aku harus mandi." Ucapnya segera berdiri dan meninggalkan Rena begitu saja.


Setelah Rangga menghilang di balik pintu, Rena hanya bisa tertawa. Sangat puas melihat ekspresi Rangga karna berhasil menggodanya seperti tadi.


"Itu hukumanmu karena selama ini terlalu banyak mempermainkan ku." Ucapnya lirih kemudian melesat menuju lemari mengambil baju tidurnya.


Sedang di kamar mandi. Rangga yang sudah melepas pakaiannya berdiri di bawah shower, dengan air hangat yang menerpa tubuhnya.


Rahangnya sedikit mengeras membayangkan bagaimana kejadian waktu itu, membuatnya semakin kesal.


Ia tidak ingin percaya kalau Rena tidak lagi virgin, tapi mengingat bagaimana lihainya wanita itu saat menyentuh dan mencoba menggodanya, dia tidak bisa tidak berfikir kalau saat itu mereka pasti telah melakukannya.


Sekali lagi, ia merasa telah di kalahkan oleh Arka.



Sudah hampir sejam Rangga belum juga keluar dari ruangan kecil tersebut, membuat Rena bertanya-tanya apa yang di lakukan lelaki itu di dalam sana sangat lama ?


Hingga suara pintu terdengar terbuka, membuat Rena segera memejamkan matanya.


Rangga yang baru saja keluar sejenak melirik ke arah Rena, melihat wanita itu sudah tertidur, ia hanya menghela nafasnya pelan.


("Apa aku harus menerimanya ?") Batinnya resah.


Dengan gontai ia berjalan ke sisi lemari. Ia baru mengingat kalau dirinya tidak membawa baju ganti saat melihat lemari tersebut hanya ada pakaian Rena. Dengan cepat ia meraih ponselnya dan mengetik sesuatu sebelum akhirnya meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Ia kemudian berjalan ke sisi ranjang dan duduk tepat di samping Rena. Cukup lama ia memperhatikan wajah wanita itu hingga tangannya terulur untuk menyentuh wajah cantik tersebut.


"Kau sudah tidur ?" Tanyanya lembut sembari mengusap pelan wajah wanitanya dengan ibu jarinya.


Ia kembali menghela nafasnya kasar.


"Apa kau sengaja mengatakan hal tadi hanya untuk mengujiku ?"


Tahukah kau betapa kesalnya aku saat kau mengatakan hal seperti tadi ?


Jujur saja aku kecewa Ren, tapi mau bagaimana lagi ? aku begitu mencintaimu." Ucapnya lirih.


Setelah merasa cukup puas menatap wajah wanitanya, ia berdiri dan memilih berbaring di sisi lainnya dengan hanya mengenakan bokser miliknya.


Sedangkan Rena, perlahan ia kembali membuka matanya saat merasa Rangga berbaring di belakangnya dengan tangan yang perlahan melingkar di perutnya dan memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu." Ucap Rangga sembari mengecup kepala Rena dari belakang kemudian memejamkan matanya secara perlahan.


Rena hanya bisa tersenyum dan menikmati pelukan tersebut hingga dirinya juga akhirnya tertidur.