Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Pria Misterius.



Glashback Off


"Apa yang kau fikirkan sayang ?" Tanya Mariah yang melihat Rangga termenung.


"Eh-tidak ada.. !"


Detik kemudian.


"Mah, apa kau tahu siapa saja yang datang menjengukku saat aku tidak sadarkan diri ?"


"Menurutmu siapa lagi selain mamah dan Moura ?!"


"Bagaimana dengan Papah ?"


"Dia datang hanya beberapa kali, karna harus mengurus pekerjaan yang kau tinggalkan." Ucap Mariah.


"Bagaimana dengan Rena ?!" Tanya Rangga. Membuat Ibunya terkejut namun terdiam.


"Apa yang terjadi ? apa mamah pernah bertemu dengannya ?" Tanya Rangga.


"Jangan terlalu banyak bertanya, kau harus memikirkan kesembuhanmu." Ucap Mariah sembari memperbaiki selimut putranya.


Namun Rangga segera menahan tangan Ibunya.


"Apa benar ? apa dia sering kesini ?" Tanya Rangga yang tidak bisa menahan keingintahuannya.


"Apa kau ingin makan sesuatu ?" Ucap Mariah mengubah topik pembicaraan. Ia segera bergegas mengambil ponselnya untuk memesan sesuatu.


"Aku tidak lapar !" Jawab Rangga mengalihkan pandangannya.


Mariah terlihat menghembuskan nafasnya kasar sembari meletakkan ponselnya. Ia kemudian menoleh ke arah Moura yang hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka.


"Moura.. apa kau juga lapar hem ?!" Tanya Mariah lembut dan berjalan mendekati cucunya di sofa. Ia memilih mengabaikan Rangga dari pada menjawab semua pertanyaan yang tidak ada habisnya.


"Oma.. !" Panggil Moura pelan.


"Ada apa sayang ?!" Jawab Mariah mengelus pipi chabi cucunya.


"Apa papi baik-baik saja ?" Tanya gadis kecil itu dengan suara imutnya.


Mariah tersenyum.


"Tentu saja.. bukankah kau sudah melihatnya ? Ayahmu sudah bangun dari tidur panjangnya."


"Lalu mengapa papi terlihat sedih ?"


"Ayahmu sedih karna.." Mariah tidak tahu apa yang harus ia katakan pada cucunya. Ia tahu kalau Moura akan mengetahui jika dirinya berbohong. Karna Moura anak yang sangat pintar. Ia sangat tahu membaca ekspresi seseorang.


Aaah apa kau mau coklat ?!" Tanya Mariah mencoba mengalihkan perhatian cucunya.


Moura yang terus menatap wajah Ayahnya hanya terdiam.


"Apa papi juga sedih karna mami pergi ?!" Ucapnya dengan suara terbenam. Kini ia juga ikut merasa sedih ketika kembali mengingat wajah Ibunya saat terakhir kali sebelum di kebumikan.


Membuatnya terus terisak menahan kesedihan yang mendalam, ia berusaha sekeras mungkin untuk tidak mengeluarkan suara agar Ayahnya tidak merasa terganggu.


Melihat hal itu membuat Mariah segera memeluk cucunya dengan erat.


"Tidak apa-apa sayang. Kau boleh menangis. Tidak ada yang akan memarahimu !" Ucap Mariah menenangkan.


Bagaimana bisa gadis sekecil itu mampu menahan kesedihan yang mendalam ketika kehilangan orang yang sangat penting dalam hidupnya.


"Maami... waaa.. aaa.." Moura memecahkan tangisannya dalam dekapan Neneknya.


"Tidak apa sayang, shuuuut... shuuu..t." Ucap Mariah mengelus punggung tengah cucunya.


Moura terus menangis hingga ia merasa lelah dan akhirnya tertidur dalam pelukan Neneknya.


"Moura.. ?" Ucap Mariah dengan suara lirih.


Mengetahui bahwa Moura telah tertidur, dengan pelan Mariah melepaskan pelukannya dan membaringkan Moura di sofa.



Sore hari. Moura terbangun dan melihat orang di sekitarnya telah tertidur. Diam-diam ia keluar dari ruangan tersebut dengan boneka teddy yang selalu menemaninya.


Mariah yang merasa lega atas terbangunnya Rangga dari masa kritisnya memebuatnya baru merasa jika dirinya sangat lelah dan membuat dirinya tidak menyadari kepergian Moura.


Ia terus berjalan memperhatikan setiap orang yang akan berpapasan dengannya berharap ia bertemu dengan orang yang sedang di carinya.


Namun gadis kecil itu tidak menyadari kalau dirinya telah mengundang bahaya untuk dirinya sendiri.


Di sudut ruangan, terlihat seorang pria tua memperhatikan setiap langkah gafis kecil itu dan terus mengikutinya dari belakang. Sepertinya ia menunggu waktu yang sangat menguntungkan baginya agar tidak tertangkap.


Moura terus berjalan melewati beberapa koridor Rumah Sakit mencari seseorang yang sangat ia temuinya.


Hingga ia berjalan di sebuah koridor yang terlihat sangat sepi. Tidak ada orang yang berlalu lalang di tempat itu.


Ia melihat ke kanan dan kekiri, memastikan dirinya tidak tersesat. Orang yang terus mengintainya sedari tadi tersenyum dengan sangat menyeramkan dengan matanya yang mengeluarkan aura jahat yang menakutkan.


Lelaki itu mempercepat langkah kakinya mendekati gadis kecil itu. Baru saja ia ingin membekap mulut Moura, tiba-tiba saja gadis itu berlari dan meraih tangan seorang seorang yang di carinya sedari tadi.


"Paman dokter.. !" Sapanya.


Refleks membuat Arka membalikkan tubuhnya menatap tubuh gadis kecil yang kini berdiri menatapnya.


"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Arka.


Ia menatap ke arah lelaki yang sejak tadi mengikuti Moura dan memicingkan matanya. Lelaki itu segera menunduk dan berbalik pergi. Dirinya semakin sedikit curiga, menurutnya orang itu sangat asing. Apalagi dengan seragam dokter yang lelaki itu kenakan.


"Berhenti.. !" Seru Arka. kemudian berjalan mendekati orang tersebut.


Lelaki misterius itu terhenti dengan wajah yang menunduk.


"Selamat sore dr.Arka !" Sapanya sebaik mungkin, tidak ingin terlihat mencurigakan.


Arka memicingkan matanya menelisik.


"Sore, kau siapa ? mengapa aku belum pernah melihatmu sebelumnya ?!" Tanya Arka terdengar mengintrogasi.


"Ah-saya staf baru di rumah sakit ini, saya mencari ruang penyimpanan obat. Namun sepertinya saya salah jalan." Jelasnya sedikit terbata.


Arka menatapnya semakin curiga.


"Maksudmu kau tersesat ?!" Tanya Arka.


"I-Iya..!"


"Paman dokter..!" Panggil Moura menggoyangkan tangan Arka.


Arka menatap Moura. Membuat lelaki itu mengambil kesempatan untuk segera pergi.


"Kalau begitu, saya permisi untuk pergi." Ucapnya membungkukkan sedikit tubuhnya dan bergegas pergi.


Terlihat Arka melihat papan pemberitahuan yang ada di depannya.


"Rg.Penyimpanan Obat."


Lelaki itu tidak menyadari kalau ruangan yang tadi ia maksud berada tepat di belakangnya. Membuat Arka semakin curiga dan teringat kembali kejadian yang menimpa Rangga beberapa hari yang lalu.


"Moura, mengapa kau berjalan sendirian ?" Tanya Arka.


Gadis kecil itu menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan di tempat seperti ini ?" Tanya Arka.


"Aku mencari paman dokter !" ucap Moura.


"Ada apa ?"


Moura segera memberikan coklat yang sedari tadi di pegangnya. Sebenarnya sebelum ia pergi, ia sempat mengambil coklat dari tas Neneknya untuk di berikan kepada seseorang yang telah menyelamatkan nyawa Ayahnya.


"Aku ingin memberikan hadiah ini pada paman dokter, karna telah membuat Papi sembuh."


Arka menatap coklat itu kemudian tersenyum dan menerimanya.


"Apa kau mencariku hanya karna ingin memberikan ini ?" Tanya Arka.


Moura menganggukkan kepalanya pelan.


"Terima kasih..!" Ucapnya mengelus pelan rambut Moura.


"Apa kau ingin jalan-jalan bersma paman ?"


Moura terlihat tersenyum riang.


"Baiklah, mari kita ke taman." Ajak Arka.



Mereka akhirnya sampai dan duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan di taman Rumah Sakit itu.


"Apa kau tidak takut berjalan sendiri di Rumah Sakit ?"Tanya Arka sedikit cemas melihat Moura, apa lagi dengan lelaki misterius yang sempat mencuri perhatiannya.


"Aku takut, tapi aku yakin aku pasti bisa menemukan paman." Ucap Moura sangat percaya diri.


"Bagaimana bisa kau seyakin itu ? bagaimana jika ada yang menculikmu ?!"


Moura memiringkan wajahnya menatap tanya pada Arka.


"Apa di rumah sakit juga ada orang jahat ?!" Tanyanya.


Arka menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja !" Ucapnya menatap Moura sedikit ibah.


"Bagaimana jika Oma mencarimu ?! dia pasti akan merasa sangat sedih karna tidak melihatmu." Jelas Arka.


Moura terdiam, detik kemudian Arka melanjutkan kalimatnya.


Maukah kau berjanji satu hal padaku ?"


Moura kembali menganggukkan kepalanya.


"Lain kali kau tidak boleh melakukan hal ini lagi. Jangan pernah keluar sendirian jika tidak di temani Oma." Ucap Arka.


"Tapi, paman dokter juga harus berjanji kalau paman dokter akan terus merawat papi dan menemuiku." Ucap Moura mencoba membuat kesepakatan.


Arka tergelak, bagaimana bisa anak yang masih berumur 5/6 tahun sudah pandai membuat kesepakatan ?


"Baiklah, aku berjanji !" Ucap Arka memberikan tangannya.


Moura tersenyum dan menerima tangan Arka bahwa mereka setuju dengan kesepakatan yang telah mereka lakuakan.


Namun di sisi lain pria misterius itu terlihat terus memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.