Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 95



Di ruangan yang cukup luas.


Seorang asisten dengan stelan hitam nan rapih masuk ke dalam ruangan dan berjalan menuju seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk memandangi selembar foto yang berukuran sedang.


Itu foto Moura.


Asisten tersebut terlihat menunduk memberi hormat, lalu membisikkan sesuatu. Membuat lelaki paruh baya itu mengepalkan telapak tangannya.


"Lalu apa yang dia lakukan saat ini ?" Tanya lelaki itu dingin.


"Dia menghabiskan waktu di kantor sahabatnya !" Jawab sang asisten.


"Kau seharusnya tahu apa yang harus di lakukan !!"


Asisten itu menunduk patuh kemudian pergi.


•••


Di Ruang kerja Reno.


"Ini informasi yang kau inginkan !" Ucap Reno sembari menyerahkan beberapa lembar kertas.


Itu adalah catatan panggilan telfon Arka dan Monica Tujuh tahun yang lalu.


"Mereka tidak pernah saling menghubungi satu sama lain !" Ucap Reno


Bola mata Rangga terus menari memperhatikan catatan tersebut. Ia sedikit tidak percaya melihat catatan itu.


"Bagaimana dengan tempat yang sering Monica kunjungi ?


Bar, Hotel atau restoran. Apa kau sudah mencari tahu ?" Tanya Rangga sedikit tidak puas dengan hasil yang ia terima.


"Aku telah mengirim orangku ke beberapa tempat. Dan mereka belum memberiku informasi sampai saat ini." Jawab Reno.


"Apa dua hari belum cukup ?!" Tanya Rangga sedikit kesal.


"Kau sendiri tahu, hampir semua tempat telah di jelajahi Monica !" Jawab Reno tanpa daya.


"Kau tidak perlu mencari kesemua tempat, cukup fokus pada tempat-tempat tertentu. Dia pasti memiliki tempat yang menjadi favoritnya !" Ucap Rangga.


Ponsel Reno berbunyi, itu suara pesan masuk.


Reno meraih ponselnya dan membuka pesan.


Itu nama sebuah club malam.


"Ada apa ?!" Tanya Rangga.


"Salah satu orang suruhanku mengirimiku alamat dari salah satu club malam !"


"Apa kau tahu tempat itu ?" Tanya Rangga.


Reno menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menelfonnya." Ucap Reno sembari mengetik layar di ponselnya.


"Halo !"


"Apa yang kau dapatkan ?!" Tanya Reno.


"Aku telah berbicara dengan bartender di club itu. dan kebetulan dia sudah bekerja di tempat itu selama 13 tahun." Jelas pria di seberang telfon.


"Lalu ?!" Tanya Reno.


"Monica adalah salah satu pelanggan tetap mereka yang cukup sering datang ke tempat itu !


Hanya saja dia tidak tahu pasti pria mana yang kita maksud. Dia mengatakan kalau Monica sering bersama pria yang berbeda." Jelasnya.


Reno mengerutkan alisnya.


Rangga yang juga mendengar percakapan mereka hanya bisa tersenyum kecut. Ia tidak menyangka kalau Monica sekotor itu.


Telfon terputus.


"Masalah ini sedikit rumit !" Ucap Reno pada Rangga.


Aku tidak yakin apakah kita bisa mendapatkan informasi tentang mereka !" Imbuhnya.


Rangga hanya diam termenung. Sepertinya dia sedikit putus asa.


Reno yang melihat Rangga seperti itu sedikit iba.


Rangga kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke ruangan rahasia yang ada di ruangan tersebut.


Tempat itu berukuran sedang, namun di lengkapi dengan beberapa fasilitas .


Rangga mengambil bir di dalam kulkas dan meminumnya dengan sangat rakus.


Sedang Reno, dia hanya berdiri di balik pintu menunggu Rangga merasa baikan. Ia terus berdiri dan bersandar, mengamati pergerakan yang di buat Rangga di dalam.


Hingga ia mendengar Rangga berteriak dan suara yang keras jatuh ke lanti.


Reno bergegas masuk ingin memeriksa, namun langkah kakinya terhenti saat melihat Rangga terisak sedih di lantai meratapi ketidak berdayaannya.


"Aku mencintaimu Ren.. " Lirihnya dengan berlinangan air mata.


Aku saangat mencintaimu." Tenggorokannya tercekat,membuatnya terasa sangat sakit dan perih. Air matanya terus mengalir.


Mungkin dia telah sampi di bawah titik jenuh dengan ketidak berdayaan yang ia miliki.


"Aku hanya ingin memperbaiki semuanya,


Mengapa begitu sulit untuk mendapatkan kembali hal yang seharusnya menjadi milikku ?


Mengapa takdir terus mempermainkanku seperti ini ?


Sampai kapan aku harus terus berjuang ?!


Aku lelah.. dan mengakhiri segalanya.


Tapi hatiku tidak bisa merelakanmu..


Apa yang harus aku lakukan ?


Aku selalu berfikir untuk terus melupakanmu,


Tapi hatiku,


Hatiku terasa sakit dan tidak ingin melepasmu.


Lalu, apa aku harus terus berjuang ?


Aku tidak berdaya Ren..


Tidak bisakah tadir berpihak kepadaku sekali saja ?"


Kata-kata Rangga mampu membuat Reno tersentuh dan meneteskan air mata. Ia kemudian melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, kemudian membantu Rangga untuk berdiri.


"Sudah cukup Rangga !" Ucap Reno pelan.


"Ren, hatiku sakit !" Ucapnya sembari memukul-mukul dadanya.


"Kau terlalu banyak minum !" Ucap Reno membantu Rangga ke tempat tidur.


Ia membaringkannya sedikit kasar, kemudian membersihkan kaleng-kaleng bir yang berserakan di atas meja.


"Kau seharusnya melupakan wanita itu sejak lama !" Umpat Reno pelan.


Namun aktivitasnya terhenti, ia kemudian menghela nafasnya pelan. Matanya tertuju pada satu arah dengan tatapan yang tajam. Dia seperti berfikir sesuatu.


Setelah membereskan segalanya, ia kembali ke ruangannya. Namun ia sedikit terkejut saat mendapati Dara berdiri di ruangannya.


"Dara.. !


Apa yang kau lakukan disini ?"


"Eh, aku mengantarkan berkas yang bapak minta !" Jawabnya sedikit gugup.


Reno menatapnya menelisik.


"Mengapa kau terlihat gugup ?" Tanyanya.


Matanya tiba-tiba membola.


"Apa kau menguping ?!" Imbuhnya dengan nada tidak suka.


"Eh.. tidak !" Jawab Dara menggelengkan kepalanya.


Reno sedikit terdiam.


"Ingat batasanmu Dara, aku membiarkanmu mengetahui ruang rahasia itu tapi bukan berarti kau juga harus tahu segalanya !!" Bentak Reno.


Dara menundukkan kepalanya. Ia takut dan juga mengerti.


"Keluarlah !" Titah Reno kemudian.


•••


Malam harinya, saat Rangga tersadar. Ia merasa perutnya terasa nyeri dan sangat lapar.


Segera ia beranjak dan keluar dari ruangan tersebut. Ia membuka pintu namun melihat Reno sudah tidak lagi berada di ruangannya.Ia melihat ruangan di sekitarnya. Semuanya gelap.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya.


Pukul 01.00.


Rangga menghela nafasnya panjang.


"Hemm.. ini sudah sangat malam." Ucapnya pelan.


Ia mengambil ponselnya dan menelfon Reno.


"Halo.. !" Ucap Reno.


"Kau dimana ?" Tanya Rangga.


"Aku menjemput Ibuku di bendara." Jawab Reno


"Lalu mengapa kau tidak membangunkanku ?" Tanyanya.


"Aku tidak ingin menganggu istirahatmu !"


"Kapan kau pulang ?!" Tanya Rangga.


"Kau bisa kembali lebih dulu,


Setelah mengantar Ibuku aku akan segera kembali menemuimu !" Jawab Reno.


"Emm baiklah..!" Ucap Rangga. Kemudian memutuskan telfon.


Ia mengambil kunci mobilnya di atas meja dan keluar dari gedung tersebut.


Saat di perjalanan ia singgah lebih dulu di supermarket membeli beberapa bahan makanan, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju apartemen Reno.


Hingga beberapa menit kemudian ia sampai dan memarkirkan mobilnya.


Ia berjalan dan membuka bagasi untuk mengambil belanjaannya.


Saat hendak menutup pintu, Ia mendengar suara motor menuju ke arahnya dengan sangat cepat.


Brukkh..


Rangga terjatuh. ia tidak sempat untuk menghindar.


Pengendara itu berbalik dan kembali mengarahkan motornya pada Rangga.


Rangga melirik ke arah bagasi mobil, dan melihat tongkat baseballnya masih ada di sana.


Dia melesat dengan sangat cepat mengambil tongkat tersebut dan memukul kepala si pengendara dengan sangat keras saat pengendara itu sekali lagi mencoba ingin menabraknya.


Membuat pengendara itu kehilangan keseimbangannya dan akhirnya terjatuh.


Tapi si pengendara itu tidak berhenti di situ saja, ia berjalan dengan sedikit berlari mendekati Rangga.


Rangga sekali lagi mengayunkan tongkat baseballnya dengan kedua tangannya, namun pria itu berhasil menghindar dan menendang lengan Rangga dengan sanagt kuat, hingga tongkat itu jatuh terpental ke lantai.


Mereka terus bertarung, hingga keduanya merasa sedikit kewalahan. Pria itu akhirnya mengeluarkan pisau dari sabuk yang melekat di pinggangnya.


Dan dengan cepat menyerang Rangga dan akhirnya berhasil melukai lengannya. Tidak sampai di situ saja, pria itu kembali ingin menyerang Rangga, tapi Rangga dengan cepat menangkisnya dan memegang mata pisau yang hampir saja mengenai bola matanya.


Mereka saling menahan satu sama lain. Keringat Rangga terlihat menetes dan memenuhi dahinya, bersamaan dengan darah yang mulai bercucuran dari telapak tangannya.


Ujung pisau itu semakin mendekat, hingga akhirnya terdengar suara letusan tembakan.


Pria itu menatap sang pelaku yang menembak.


Dan melihat dua security berlerai mendekati mereka.


Rangga yang sadar memiliki kesempatan segera menendang perut pria tersebut hingga terpental beberapa jarak darinya.


Melihat situasi yang tidak menguntungkan, pria tersebut dengan cepat berlari dan menaiki motornya kemudian melajukannya dengan sangat cepat.


Kedua security sebelumnya segera membantu Rangga yang sudah terduduk lemas di lantai. Hingga ia jatuh dan tidak sadarkan diri.