
Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar. Terlihat beberapa buku tertata rapi di atas sebuah meja kerja di ruangan itu.
Tok tok tok
Ceklek
"Pak.. " Sapa Anggi
"Owh, dr.Anggi. Masuklah !" Titah Arka
Anggi mengangguk dan masuk setelah menutup pintu kembali.
"Silahkan duduk.. !"
Sebenarnya Anggi tidak tahu mengapa ia di panggil keruangan Arka yang sekarang telah menjadi atasannya itu.
Hatinya gelisah, entah apa maksud Arka memanggilnya. Jika menyangkut urusan pekerjaan, bukankah mereka sudah menyelesaikan rapat beberapa menit yang lalu ? Jantungnya semakin memompa dengan kencang saat harus menatap orang yang kini duduk di depannya.
"Mengapa kau menunduk seperti itu ? apakah wajahku terlihat menyeramkan ?!" Tanya Arka berkelakar.
"Eh-tidak, aku hanya-" Anggi merasa tidak tahu harus menjawabnya apa.
"Apa Rena menghubungimu ?" Tanya Arka tidak ingin menunggu lama. Ia juga tidak ingin membiat Anggi merasa canggung lebih lama.
Anggi mendongakkan kepalanya, namun tak berani menatap langsung ke mata Arka.
"Iya, dia menghubungiku pagi tadi."
"Apa saja yang dia katakan ?" Tanya Arka.
"Dia hanya mengatakan kalau akan izin seminggu untuk tidak masuk bekerja."
"Apa tidak ada hal yang lain ?"
Anggi menggelengkan kepalanya.
Untuk beberapa saat Arka terdiam dan tidak lama stelah itu ia terdengar menghembuskan nafasnya pasrah karna tidak mendapatkan informasi yang ia inginkan dari Anggi.
"Hhmmmp.. baiklah. Itu saja, kau boleh pergi." Ucap Arka frustasi.
Melihat Arka yang seperti itu. Anggi kemudian mengerti kalau Arka sedang mencari informasi tentang Rena darinya.
"Pak, ada yang ingin ku katakan !"
Arka melirik tanya pada Anggi. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Katakanlah.. " Silah Arka.
Tapi sebelumnya, kau tidak perlu memanggilku Pak atau dokter jika hanya kita berdua ataupun dengan Rena. Bukankah kita seumuran ?!
Aku merasa diriku sangat tua jika kau memanggilku seperti itu." Terangnya.
Anggi tidak bisa menyembunyikan tawa kecilnya karna merasa sangat lucu mendengar keluhan Arka padanya.
"Baiklah.." Pasrah Anggi.
"Emm sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau katakan tadi ?" Tanya Arka.
"Sebelumnya Rena mengatakan padaku, kalau Ny.Mariah terus menemuinya dan meminta Rena untuk kembali merawat Rangga.
Ny.Mariah mengatakan kalau dirinya akan merasa tenang jika yang merawat anaknya adalah dr.Rena, dan menurutnya beliau sangat yakin dengan seperti itu akan membantu mempercepat pemulihan Rangga.
Meskipun Rena sudah menjelaskan bahwa Rangga akan diambil alih oleh dokter hebat sepertimu, Ny.Mariah tetap menolaknya dan mengancam jika seminggu ini Rena tidak menyetujuinya dan terjadi sesuatu pada anaknya, maka Ny.Mariah akan membicarakan hal ini pada pimpinan Rumah Sakit." Jelas Anggi.
Arka terlihat menyimaknya dan mencernanya dengan baik. Satu-satunya cara baginya adalah harus membantu Rangga bangun dari tidur panjangnya sebelum waktu yang di tentukan.
"Apa dia tidak mengatakan hal yang lain ?" Tanya Arka kembali.
"Itu---. Anggi merasa sungkan untuk mengatakannya.
Dia bilang kalau dia merasa sangat bersalah denganmu atas kejadian kemarin dan semalam dia--" Ucapan Anggi terhenti ketika Arka langsung saja menyelanya.
"Aku mengerti."
Baiklah, maafkan aku karna telah mengganggu waktumu !" Ucapnya kemudian beranjak berdiri.
"Tidak masalah, bukankah kita teman !?" Ucap Anggi kemudian pamit untuk pergi.
•••
Kediaman Atmajaya.
Rena, terlihat duduk di pinggir kolam renang sembari meminkan kakinya di dalam air.
Rani yang sangat tahu kebiasaan putrinya, mengerti jika anaknya saat ini memiliki masalah. Ia berjalan dan menghampiri putrinya dari belakang.
"Sayang, apa yang kau fikirkan ?"
"Eh-Bunda !?" Sapa Rena sedikit terkejut.
Rani tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya.
"Ada masalah apa ?" Tanya Rani.
Rena tersenyum menggelengkan kepalanya
"Tidak.."
Apa tingkah pasienmu membuatmu pusing lagi ?!" Tanya Rani dengan kelakarnya.
Rena tertawa mendengar pertanyaan Ibunya.
"Ya, ada satu pasienku yang masih terbaring koma tapi sudah banyak memberiku kesusahan."
Rani menaikkan alisnya sebelah.
"Benarkah ? bagaimana bisa orang yang tidak bisa bergerak atau berbicara bisa memberimu banyak kesusahan ?!"
Rena menganggukkan kepalanya.
"Setiap hari ibunya akan selalu datang menemuiku untuk menanyakan kondisinya. Aku sampai bosan untuk menjelaskan padanya kalau anaknya akan baik-baik saja."
"Dia pasti sangat menyayangi anaknya." Ucap Rani.
Rena menghela nafasnya pelan.
"Hmmmp.. aku tidak tahu bagaimana jadinya jika dia telah sadar. Mungkin hari itu akan menjadi musibah dan hari sial bagiku."
Rani tergelak lepas mendengar ungkapan putrinya.
"Wkwkwk.. kau ada-ada saja.
Apakah dia orang yang sebelumnya kau kenal ?" Tanya Rani.
Rena terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.
"Oh ya ? siapa dia ?!" Tanya Rani semakin ingin tahu.
"Bukan siapa-siapa, hanya kenalan lama !" Jawab Rena singkat. Ia tidak mungkin memberitahu ibunya kalau pasien yang ia maksud tidak lain adalah Rangga.
Rani menganggukkan kepalanya mengerti.
"Baiklah, kalau begitu bunda pergi dulu."
Jangan merendam kakimu sangat lama." Ingatnya.
"Baik bund.. " Jawab Rena dengan senyum.
Senyum kepalsuan.Itulah yang selalu ia tampilkan. Dirinya tidak mengerti, mengapa takdir selalu mempermainkannya seperti ini.
•••
Di dalam sebuah club malam, di tengah ramainya hiruk pikuk teriakan pengunjung dan detuman musik DJ yang semakin menambah semangat untuk terus bergerak bebas mengikuti irama energik menggairahkan.
Tapi tidak untuk satu gadis yang sedari tadi murung di depan meja bartender. Ia terus meminta pramutama untuk mengisi gelasnya kembali jika telah kosong.
"Ren, apa yang kau lakukan ?!" Seru Clara salah satu kenalannya yang bekerja di tempat itu. Ia merampas kasar gelas yang ada di tangan Rena.
"Tidak perlu mengurusku !"Jawab Rena dengan kasar kemudian merampas kembali minumannya.
"Hentikanlah.. kau sudah cukup mabuk !" Perintah Clara.
"Hanya ini cara agar aku bisa melupakan segalanya."Ucap Rena sedih.
Namun beberapa saat, seseorang memanggilnya. Clara tidak bisa menemaninya sangat lama, karna bosnya akan memarahinya jika melihatnya seperti itu.
"Sebaiknya kau menelfon kakakmu, kau sudah cukup mabuk. Aku tidak bisa mengurusmu, aku tidak bisa menemanimu lama." Ucap Clara mengingatkan. Ia kemudian pergi namun masih memperhatikan Rena dari jauh.
Rena yang sudah cukup mabuk tidak bisa lagi mengangkat gelasnya. membuat beberapa pasang mata meliriknya dengan berbagai keinginan yang menjijikkan.
Siapa yang tidak akan tergiur melihat gadis dengan tubuh yang proporsional dengan pakaian yang sedikit terbuka telah mabuk tanpa seorang yang menjaganya ?
Hingga seorang lelaki berani mendekatinya dan mulai merangkulnya.
"Hai cantik, apa kau perlu bantuan ?" Tanyanya.
Baru saja ia ingin membopong Rena, tiba-tiba sebuah tangan kekar memegang pundaknya, refleks lelaki itu berbalik dan akhirnya mendapat pukulan keras di wajahnya.
Blam!..
Gedebug!
Lelaki itu terjatuh ke lantai dengan sangat keras. Beberpa orang melihatnya, namun tidak ada yang berniat membantu. Hal itu sudah di anggap biasa dan sering terjadi di sebuah club atau doskotek.
Dengan setengah sadar. Rena tersenyum frustasi melihat samar orang yang kini membopongnya keluar dari tempat tersebut.
"Kau !" Ucapnya menatap dalam orang yang menggendongnya.
Maafkan aku !" Lirihnya. Kemudian mengalungkan tangannya dengan manja di leher Arka.
"Aku ingin hubungan kita baik-baik saja seperti dulu." Sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arka.
Dapat ia rasakan aroma parfum yang menyejukkan penciumannya dari kemeja lelaki tersebut. Bukan hanya itu, ia juga dapat merasakan otot-otot yang mengencang dari lengan dan dada lelaki itu karna mengangkat beban dari bobot tubuhnya yang berisi.
"Kau sangat wangi." Bisik Rena yang tidak bisa lagi mengontrol diri dan perkataannya.
Arka hanya bisa tersenyum konyol mendengar celotehan Rena. Ia tahu jika Rena dalam keadaan sadar, dia tidak akan pernah berani mengatakan hal konyol seperti itu.
"Diamlah." Ucap Arka yang kini sudah mendudukkan Rena di dalam mobil miliknya.
Saat hendak memakaikan sabuk pengaman, Rena tiba-tiba saj muntah dan tentu saja mengenai kemeja Arka. Dengan sabar dia membersihkan pakaiannya dengan tisu basah dan juga wajah Rena.
Kemudian ia menutup pintu dan bergegas menuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju apartemen miliknya.