
Gubrak..
Suara bantingan pintu yang sangat keras.
Arka yang sedang duduk mengamati beberapa berkas sedikit terkejut dan terperanjat dari kursinya.
"Mengapa kau mengirim Cindy di tempat seperti itu huh !" Murkah Ferdi dengan tatapan yang menyalang pada putranya.
"Dia adalah bawahanku, aku berhak mengirimnya dimana saja ia di perlukan dan ini adalah hukuman untuknya."
"Hukuman ?
Kesalahan apa yang telah ia perbuat ?!" Tanya Ferdi tidak percaya.
Arka segera mengeluarkan satu map yang berisi berkas tentang prilaku Cindy selama tugas di Rumah Sakit itu.
"Dia bukan hanya memilih-milih pasien, dia juga memecah belah kesatuan Timnya. dan selalu membuat masalah untuk dr.Rena. Terakhir kali ia menyuruh perawat untuk memberikan pasien pada dr.Rena, yang sebenarnya sudah di ambil alih oleh departemen ahli bagian dalam.
Aku tidak ingin kedepannya dia membuat kekacauan pada Tim yang aku pimpin." Jelas Arka.
"Kau bisa mempertimbangkannya dulu dan mendiskusikannya denganku sebelum kau mengirimnya ke tempat itu !" Ucap Ferdi.
"Sepertinya itu tidak lagi di perlukan.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, dia adalah bawahanku.
Lagi pula, tempat itu lebih cocok untuknya. Dan untuk merenungi segala kesalahan yang telah ia perbuat !" Jelas Arka sedikit santai.
Sepertinya Ferdi tidak bisa terima dengan segala penjelasan dari Arka. Ia berjalan dengan cepat ke arahnya lalu
Plaaak..
Sebuah tamparan melayang dan mendarat sangat keras di wajah Arka.
"Aku tidak menyangka bahwa kau telah berubah menjadi arogan seperti ini.
Sepertinya keluarga gadis itu benar-benar telah mempengaruhimu !" Ucap Ferdi sedikit frustasi.
Paaak
Arka membanting telapak tangannya di meja.
"Aku bukan lagi putra anda.
Dan anda tidak berhak menilai wanitaku seperti itu !"
Ferdi tertawa miris.
"Heh.. baiklah ! Kau bukan lagi putraku. Tapi sepertinya kau sudah lupa, bahwa aku memiliki sebagian kendali di Rumah Sakit ini.
Dan sebagai salah satu donatur terbesar atas pembangunan Rumah Sakit ini, Cindy berhak mendapatkan posisi yang layak.
Jika kau tidak menarik kembali Cindy di Rumah Sakit ini, maka aku yang akan melakukannya !"
Arka sedikit tertegun, ia menatap tajam Ayahnya.
"Itu tidak lagi di perlukan paman !"
Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di balik pintu.
"Cindy !!" Ucap Ferdi sedikit terkejut.
Bagaimana kau bisa berada di sini ?" Tanyanya.
Cindy tersenyum.
"Itu adalah pengaturan Ayahku !
Sebenarnya kedatanganku kesini untuk menemuimu. Namun aku di beritahu oleh asisten Jeny kalau anda berada disini." Jelas Cindy.
"Eh mari bicara di ruanganku !" Ucap Ferdi mengusulkan.
Cindy hanya mengangguk dengan senyumannya yang anggun.
••
"Maafkan Arka, dia terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan." Ucap Ferdi sedikit membujuk Cindy.
"Tidak apa-apa Paman, dia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik.
Lagi pula ini memang sepenuhnya kesalahanku." Sesal Cindy.
"Jangan menyalahkan diri sendiri. Dia hanya belum mengenalmu dengan baik !"
.
.
"Aku dengar dr. Arka akan menikah dengan dr.Rena, apakah itu benar ?!" Tanya Cindy.
"Itu tidak benar !" Jawab Ferdi dengan cepat.
Aku tidak pernah merestui hubungan mereka." Imbuhnya.
Cindy sedikit tersenyum.
"Andai saja aku melanjutkan sekolahku di sekolah yang sama dengan Arka saat SMA, mungkin aku yang ada di posisi wanita itu sekarang ini." Lirihnya.
"Jangan terlalu di fikirkan, aku akan mencoba bicara dengannya."
.
.
"Apa yang membuatmu datang menemuiku ?!" Tanya Ferdi.
"Oh.. " Ucapnya kemudian mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam tasnya.
Surat Pengunduran Diri.
Ferdi sedikit terkejut.
"Apa kau akan mengundurkan diri ?" Tanyanya.
Cindy mengangguk pelan.
"Aku datang untuk berpamitan langsung dengan Paman." Ucapnya.
"Tapi kenapa ? apa kau akan menyerahkan kariermu hanya karna masalah ini ?!" Tanya Ferdi.
"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya merasa sepertinya aku memang tidak cocok dalam bidang ini." Jawab Cindy.
"Lalu apa rencanamu kedepannnya ?" Tanya Ferdy.
"Emm aku mungkin akan membantu Ayahku di Perusahaan !"
"Aku sangat menyayangkannya !" Ucap Ferdi sedikit menyesal.
Apa Ayahmu sudah tahu dengan keputusanmu ini ?" Tanyanya.
Cindy sedikit mengangguk dan mengiyakan.
"Lalu, apa Ayahmu tidak mengatakan sesuatu ?!" Tanyanya lagi.
"Tidak !" Jawab Cindy sembari menggelengkan kepalanya.
Ferdi sedikit merasa lega setelah mendengar jawaban dari Cindy.
•••
Pukul 20.00
Arka yang sudah menyelesaikan beberapa tugasnya segera menuju ruangan dimana Rena biasanya beristirahat.
Arka mengetuk pintu sebelum akhirnya ia membukanya.
"Dr.Arka !" Ucap Anggi berdiri menyambut kedatangan Arka.
Arka sedikit tersenyum.
"Dimana dr.Rena ?" Tanyanya tidak ingin berbasa-basi.
"Eh, dia sudah pulang beberapa jam yang lalu." Jawab Anggi.
Arka sedikit terkejut, ini sudah kali ke lima Rena pulang tanpa memberitahunya.
"Apa kau tahu siapa yang menjemputnya ?" Tanyanya sedikit tersenyum canggung.
Anggi yang mengerti jika Arka khawatir segera memeberitahunya.
"Akhir-akhir ini dia selalu di jemput oleh Rendy !"
Apa dia tidak memberitahumu ?!" Tanya Anggi.
Arka tersenyum kecut lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ." Jawabnya.
"Oh, apa kalian bertengkar ?!" Tanya Anggi ingin tahu.
"Tidak."
"Owh..!"
"Kalau begitu aku akan pergi !" Ucap Arka.
Anggi hanya sedikit mengangguk.
Ketika Arka berbalik dan menutup pintu, Anggi tidak sengaja menyentuh dan menjatuhkan gelas yang ada di atas meja.
Praak..
Suara itu mengejutkan Arka dan membuatnya kembali membuka pintu.
Ia melihat Anggi tertunduk mencoba menopang tubuhnya dengan berpegang erat di sudut meja.
"Dr.Anggi !!" Seru Arka dan berlari menangkap tubuh anggi yang akan hampir terjatuh karna tidak mampu menahan keseimbangan tubuhnya.
"Apa yang terjadi ? apa kau baik-baik saja ?" Tanya Arka terlihat khawatir.
"Aku baik-baik saja !" Jawab Anggi pelan dan mencoba berdiri dengan tegap.
Namun ketika Arka baru saja melepaskan pegangannya, Anggi lagi-lagi sedikit terjatuh, membuat Arka segera menangkapnya kembali.
"Kau tidak baik-baik saja !" Ucap Arka kemudian mengangkat tubuh Anggi dan membaringkannya di tempat tidur.
"Biarkan aku memeriksamu !" Ucap Arka sembari memeriksa denyut nadi di pergelangan Anggi.
"Apa kau merasa pusing ?!" Tanyanya sembari memeriksa detak jantung.
Anggi hanya mengangguk menatap dalam wajah lelaki yang masih menjadi cintanya di dalam hati.
"Detak jantungmu tidak stabil, ini sangat cepat !" Ucapnya menatap Anggi.
"Mengapa wajahmu memerah ? apa kau juga demam ?" Tanya Arka kemudian menempelkan punggung tangannya di dahi Anggi.
"Ini tidak panas !" Ucapnya sedikit bingung.
Ia kemudian melepaskan kacamata Anggi. Kemudian mencoba kembali memeriksa suhu tubuhnya.
"Ini aneh, wajahmu memerah tapi kau sama sekali tidak demam !" Ucap Arka.
Anggi melipat bibirnya, entah apa yang harus ia katakan. Di dalam hatinya ia menggerutu, mengapa Arka tidak peka sama sekali dengan perasaannya ?
"Aku baik-baik saja, sebaiknya kau pergi saja. Aku ingin beristirahat !" Ucapnya.
Arka menatapnya dalam diam.
"Mengapa kau menatapku seperti itu ?" Tanya Anggi sedikit canggung.
"Maafkan aku !" Ucap Arka.
"Mengapa kau meminta maaf padaku ?!"
"Maaf karna aku tidak pernah memperhatikanmu, padahal kau adalah temanku dan juga Rena !
Dan terima kasih karna selalu menseport hubunganku dengan Rena ! Jika bukan karna dirimu aku--" Arka tidak dapat menyelesaikan kalimatnya.
"Kau tidak perlu berterima kasih, Kau adalah pria yang baik. Tidak ada alasan bagi Rena untuk tidak menerimamu !" Ucap Anggi dengan senyum, walau sebenarnya hatinya sedikit sakit mendengar hal itu.
Arka kemudian berdiri dan segera pergi mengambil infus dan cairan.
Sementara itu, Anggi hanya bisa menangis dalam diam,sampai ia tidak merasa air matanya menetes begitu saja.
Hingga akhirnya Arka kembali dan memasangkan infus untuknya.
"Selain merawat pasien, kau juga wajib memeperhatikan kesehatanmu !" Ucap Arka memperingati.
Anggi hanya mengangguk.
"Pergilah !" Ucapnya.
"Apa sekarang kau mengusirku ?!"
"Tidak, aku tidak bemaksud mengusirmu ! aku hanya ingin sendiri."
"Hei, bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendiri di sini ?
Bagaimana jika kau memerlukan sesuatu ?!" Tanyanya.
"Aku bisa mengurus diriku sendiri !" Jawab Anggi.
"Aku tahu kau orang yang mandiri, tapi apa kau tidak melihat kondisimu sekarang ?!" Tanya Arka sembari mengangkat lengan Anggi yang sudah terpasang infus.
"Aku akan merasa lebih baik setelah istirahat sebentar !" Jawab Anggi menolak, walau sebenarnya hatinya sangat ingin Arka terus berada di sampingnya. Namun ia menyadari, hal itu akan membuatnya semakin tidak bisa melepaskan Arka dan terus bergantung padanya.
Arka menghela nafasnya pasrah.
"Hemm, baiklah ! cepat sembuh, dan kembali membantuku,Rena, dan juga Tim kita !" Ucap Arka sembari mengusap pelan pucuk kepala Anggi.
"Kalau begitu aku akan pergi !" Imbuhnya dan kemudian berdiri.
"Telfon aku jika kau butuh sesuatu !" Imbuhnya lagi.
Anggi menganggukkan kepalanya pelan.
Baru beberapa langkah ia melangkahkan kakinya. Ia terhenti dan ingin kembali membuat alasan agar dia bisa tetap tinggal.
"Tapi aku--!" Arka menghentikan kalimatnya ketika melihat Anggi telah tertidur.
"Mungkin obatnya sudah mulai bekerja !" Lirihnya.
Sebelumnya Arka memang telah menyuntikkan obat tidur dan vitamin di dalam cairan infus Anggi, agar dia bisa beristirahat.
Ia tahu kalau Anggi mengalami susah tidur, setelah sebelumnya melihat botol obat yang ada di atas meja beberapa saat yang lalu.
Arka menatap sayu wajah Anggi yang tertidur lelap saat ini. Ia merasa sedikit bersalah karna selama ini tidak memperhatikan sahabat wanitanya yang kini juga telah menjadi sahabatnya saat ini.
"Maafkan aku !" Ucapnya kemudian pergi mematikan lampu dan dengan pelan menutup pintu.
Dan saat itu juga, Anggi membuka matanya dengan sayu.
Ia menangis.
Dirinya semakin membenci hatinya yang dengan seenaknya menguasainya dengan rasa cinta yang tidak ada habisnya untuk lelaki yang kini telah menjadi calon suami sahabatnya.