Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 103



Tiga hari telah berlalu sejak Jaya menerima surel dari Rendy. Semuanya berisikan tentang informasi Direktur utama dari perusahaan StarLight.


Jaya memicingkan matanya menelisik menatap kertas yang ada di tangannya, dengan layar leptop yang menampilkan foto Reno. Jika dilihat sekilas, semuanya terlihat normal.Dan tentu saja ia tidak mengenal Reno.


Sedangkan Reno, saat ini ia tengah duduk di kursi kerjanya sambil tersenyum puas melihat berita yang saat ini telah hangat di perbincangkan.


Dirinya puas, karna untuk pertama kalinya perusahaannya menduduki tingkat pertama nilai penjualan terbesar bulan ini, dan tentunya mengalahkan perusahan Royal AT.


Namanya saat ini selalu di sebut-sebut sebagai pengusaha termuda dan pendatang baru yang mampu menyenggol nama perusahaan Royal AT yang selama ini selalu menduduki tingkat pertama sebagai penjualan terbesar di tiap bulannya.


"Tidakkah kali ini kita terlalu terburu-buru menyenggol mereka ?!" Ucap Rangga dengan tatapan sedikit khawatir penuh was-was.


Tentu saja ia merasa khawatir, ini adalah kali ketiga ia memulai perusahannya sendiri. Sebelumnya ia memulai perusahaan di bidang perhotelan dinaungi oleh perusahaan Ayahnya, tapi dengan sekejap mata Atmajaya menghancurkan segalanya sehari sebelum hotelnya memulai beroprasi.


Dan kali kedua ia memulai di bidang shorum jual beli mobil, namun lagi-lagi dihancurkan oleh orang yang sama.


Dan kali ini dia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi, jika sampai terjadi lagi, ia tidak tahu, apakah dirinya harus kembali bangkit dan berjuang ataukah merangkak memohon maaf dan belas kasihan dari Tuan Atmajaya.


Reno berdiri dan menghampiri sahabatnya.


"Tenang saja, semua akan baik-baik saja, sesuai yang kita rencanakan sejak awal." Reno mencoba menenangkan dan menepuk pelan pundak Rangga.


Rangga mendongakkan kepalanya menatap Reno.


"Aku tidak tahu, apakah aku harus yakin dengan keputusanmu kali ini."


"Apa kau meragukanku ?"Tanya Reno menaikkan alisnya sebelah.


Rangga menggelengkan kepalanya dan terdengar menghela nafasnya sedikit kasar.


"Aku yakin saat ini paman Atmajaya pasti sedang mencari tahu segala tentangmu dan profil keluargamu !!"


"Tidak perlu terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Dia hanya mengincarmu, jadi mustahil dia menghancurkan perusahaan kita hanya karena aku menyenggolnya sedikit !"


"Sebaiknya kau pulang saja dan beristirahat ! beberapa hari ini kau sudah bekerja sangat keras." Ucapnya kemudian dan berdiri, lalu kembali ke meja kerjanya.


Rangga meraih jasnya kemudian beranjak dari duduknya, sebelum menutup pintu, ia menatap Reno yang kini memulai memeriksa berkas yang telah menumpuk di atas mejanya.


"Jangan terlalu memaksakan diri, sebaiknya kau juga beristirahat dan meluangkan waktumu untuk berkencan !"


Reno mengabaikan kemudian melambaikan tangannya memerintah Rangga untuk segera pergi, tanpa menatapnya sedikitpun.


Di luar bangunan perusahaannya, Rangga baru saja menuruni beberapa anak tangga dan menuju area parkiran tempat mobilnya biasa ia parkirkan.


Namun suara seorang gadis yang tidak lagi asing terdengar memanggil namanya dengan suara sedikit keras.


"Kak Rangga !!" Panggil Dara.


Dengan intens Rangga berbalik dan menatap sang pelaku yang baru saja memanggilnya.


Dara tersenyum kemudian berlari kecil menghampiri Rangga.


Baru saja ia sampai, Rangga tiba-tiba saja menyentil jidatnya sedikit keras, membuat Dara reflek memegang jidatnya yang terasa sakit dan meringis kesakitan.


"Aaaw... "


Rangga perlahan melepas kacamatanya.


"Sudah ku peringatkan jangan memanggilku kakak jika masih berada di wilayah perusahaan !"


Dara yang masih mengelus jidatnya hanya bisa menundukkan kepalanya meminta maaf.


"Maafkan aku, aku hanya terlalu bersemangat !"


.


.


"Sekarang katakan, mengapa kau memanggilku ?" Tanya Rangga.


Dara mendongakkan kepalanya kemudian memperlihatkan senyum cerianya.


Rangga kemudian menyadari, ada yang sedikit berbeda.


"Hei, bukankah ini baju yang kemarin aku berikan ?!" Tanyanya.


Dara tersenyum mengangguk.


"Bagaimana menurut kak Rangga ?" Tanyanya kemudian.


"Aaaaw.. !" Dara kembali meringis kesakitan.


"Dasar bodoh ! aku memberikanmu baju sebagus ini bukan untuk kau pamerkan di kantor !"


"Lalu untuk apa ?!" Tanya Dara mulai memasang raut wajah yang cemberut.


"Tentu saja untuk berkencan !"


Coba lihat di sekelilingmu, apa mereka memakai baju yang mencolok sepertimu ?!" Ucap Rangga sembari memegang tubuh Dara dan memutarnya mengahadap dan menatap orang-orang yang keluar masuk di pintu utama perusahaan.


Setelah sedikit lama memperhatikan sekitarnya, Dara kembali memutar tubuhnya dan menatap Rangga kembali.


"Sebaiknya kau segera mengganti pakaianmu !" Ucap Rangga, kemudian kembali memasang kacamata hitamnya.


"Kakak mau kemana ?" Tanya Dara.


"Aku akan pulang ! mau kemana lagi ?!"


Dara sedikit mengangguk, namun di benaknya mengatakan kalau Rangga akan pergi menemui Rena, dan itu membuatnya sedikit cemburu. Tidak ingin terlihat mencolok, Ia memutar bola matanya dan menatap ke sekitar.


Namun tiba-tiba matanya menangkap sosok yang mencurigakan. Seseorang yang memakai stelan hitam dan berhelm mengendarai sepeda motor dan terlihat mengeluarkan sesuatu dari saku jeketnya.


Matanya terbelalak, dan segera menatap ke arah Rangga. Sangat jelas orang itu berniat untuk menembak Rangga.


Dengan cepat ia berlari dan meneriaki Rangga.


"Kak Rangga.... "


Rangga yang merasa sedikit kesal mendengar Dara kembali memanggilnya kakak terhenti. Baru saja ia berbalik, Dara tiba-tiba saja berada di hadapannya dengan tatapan yang sedikit panik, kemudian memeluknya dengan sangat erat.


Tiba-tiba suara ledakan pistol memekakan telinganya.


Dorrr....


Tubuh Dara tersentak membentur tubuh Rangga bertanda sesuatu yang keras telah menembus tubuhnya.


Rangga yang tidak siap sedikit terkejut dan menatap Dara yang menatapnya sendu lalu menutup matanya secara perlahan.


Ia sadar bahwa sesuatu telah terjadi. Kemudian perlahan mengangkat tangannya yang kini telah berlumuran darah segar.


Saat itu juga ia mengangkat wajahnya dan mencari sang pelaku yang saat itu telah menyalakan mesin motornya dan segera pergi.


Rangga menggeram kesal, ia sangat ingin mengejar sang pelaku dan memberinya pelajaran yang setimpal. Tapi, ia kembali menatap Dara yang saat ini sudah tidak sadarkan diri dalam pelukannya.


"Dara,,,, Dara... !!" Pekiknya mengguncang tubuh kecil gadis itu.


•••


Rumah Sakit Anutapura.


Suara sirine ambulans berbunyi menandakan bahwa pasien yang baru saja tiba sedang dalam keadaan darurat atau kritis.


Tanpa menunggu waktu lama, Dara segera di pindahkan diatas ranjang rumah sakit dan dengan cepat di larikan ke ruang UGD untuk di periksa lebih dulu secara mendetail.


Setelah semuanya telah siap, Dara segera di pindahkan di ruang oprasi untuk mengangkat peluru yang telah menembus punggung kanannya.


Rangga yang sudah mengabari Reno hanya bisa duduk termenung menunggu selesainya oprasi.


Beberapa menit telah berlalu.


"Rangga... !" Sapa Reno terengah-engah.


Rangga beranjak dari kursinya dan menatap maaf pada Reno. Ia baru saja ingin menjelaskan namun Reno segera menepisnya dan berjalan ke depan pintu ruang tempat Dara sedang di oprasi.


Reno menyenderkan kepalanya di pintu dengan telapak tangan yang mengepal.


"Ren.. " Sapa Rangga memegang pundak temannya.


"Apa dia begitu menyukaimu hingga rela mengorbankan hidupnya demi melindungimu ?!" Ucap Reno terdengar sinis.


Mendengar hal itu, Rangga perlahan melepas pegangannya dan menatap punggung sahabatnya dengan tatapan bersalah.


Sekilas, ia teringat kembali sosok dari pelaku penembakan tersebut. Dirinya yakin, mereka adalah orang yang sama yang sebelumnya telah menyerangnya.


Matanya sedikit memincing, irisnya memerah, ia mengepalkan kedua tangannya sangat erat kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat tersebut.