
"Rangggaaaa.." Rena memekik dan segera terbangun dari tidurnya
Akhir akhir ini ia Rangga selalu saja hadir mengacau alam mimpinya.Mungkin karna semalam ia tertidur setelah membaca pesan dari Rangga
Rena segera bangkit dari pembaringannya dan menuju kamar mandi,setelah membersihkan dirinya,ia segera menuju lemari dan mangganti pakaiannya.
Ruang Dapur
"Pagi Bunda."
"Pagi sayang, apa kau memimpikan Rangga lagi ?!" Ledek Rani, sebenarnya ia tak sengaja mendengar Rena mengigau memanggil nama Rangga saat ia ingin membangunkan putrinya.
Pipi Rena spontan memerah dengan ledekan Bundanya
"Anak itu selalu mengganggu tidurku !" Gerutu Rena pelan
"Apa kau mengatakan sesuatu ?! Bunda tak mendengarnya !"
"Ah, bukan apa apa bunda !"
Setelah menikmati beberapa irisan roti, Rena beranjak dari tempat duduknya.Kali ini ia memilih menghabiskan waktu paginya dengan beberapa gerakan olahraga dan berakhir berenang di kolam yang tak jauh dari tempatnya berolahraga. Setelah merasa cukup ia segera mengganti pakaiannya yang sudah ia siapkan.Dan kembali ke dapur menemui Bundanya yang sudah selesai menata hidangan di atas meja makan.
"Bunda, ayah kemana ?" Tanya Rena yang sedari pagi tak melihat batang hidung Ayahnya
"Ayah lagi di ruang kerja !"
"Kalau begitu biar Rena panggil makan dulu !"
Rani hanya tersenyum mengangguk
Ruang Kerja
"Ayah !"
"Ada apa sayang ?"
"Udah jam 10.00 pagi, waktunya makan !"
"Sedikit lagi sayang, nanggung nih kerjanya !"
"Kalau begitu, sini biar Rena bantu !" Sambil mendekati ayahnya, dan menarik leptop ayahnya.
Rena terdiam sejenak menatap layar laptop milik ayahnya
"Apa kau bingung ?"
"Ini sangat mudah yah !" Memulai mengetik,matanya terlihat fokus menatap layar
Setelah mengetik beberapa waktu akhirnya selesai,hanya butuh 30 menit ia menyelesaikan pekerjaan ayahnya, dan terakhir ia menekan enter.
Pak pak pak Suara tepuk tangan menggema di ruangan itu
"Wah, anak Ayah memang hebat.Kau menyelesaikan pekerjaan Ayah yang seharusnya membutuhkan waktu satu jam dan kamu hanya membutuhkan setengah jam untuk menyelesaikannya ! Ayah bangga padamu !" Sambil mencium dahi putrinya
"Makan yuk,perut Rena sudah memberontak nih !" Ujar Rena tak menanggapi pujian Ayahnya
"Ya sudah, ayo.. Bunda kamu pasti sudah menunggu !" Sambil beranjak dari duduknya
Meja Makan
"Kalian sangat lama, lihat, semua makanan sudah dingin hampir membeku menunggu kalian berdua,bunda baru saja memanaskan kembali supnya !"
"Maaf bunda, salahkan Ayah karna telah merayuku untuk menyelesaikan pekerjaannya !" Jawab Rena dengan nada sedikit merayu
"Lihat anakmu, sekarang dia sudah pandai untuk menyalahkan Ayahnya !" Jawab Rani sambil menatap Jaya yang hanya tersenyum mendengar pertengkaran kedua wanitanya
"Hahaa aku tidak masalah kalau putriku menyalahkanku kali ini !" Jawab Jaya
"Hmmmp dasar !! Kau terlalu memanjakan anakmu !"
"Tapi aku tak sia sia memanjakannya, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan juga pintar, apa bunda mau tau, tadi dia mengerjakan pekerjaan ayah hanya membutuhkan waktu setengah jam. Sedangkan jika asisten Ayah yang mengerjakannya pasti membutuhkan sejam atau bahkan lebih !"
"Kalau begitu buat dia jadi asistenmu !" Sambil mengisi beberapa lauk di piring suaminya
"Bagaimana sayang, apa kau mau bergabung di perusahaan ayah ?"
"Maaf Ayah, aku sama sekali tidak tertarik dalam dunia bisnis !"
"Yah, sayang sekali, Kalau begitu segeralah terima perjodohanmu dengan Rangga, agar Ayah tak mengusikmu lagi."
"Ayah... !"
"Sudah, sudah, cepat selesaikan makannya, bunda tak sanggup memanaskan kembali makanan kalian." Rani memperingati
•••
Jam 13.00
Rena tertidur setelah membaca beberapa majalah di kamarnya.
Ting Tong
Bel rumah berbunyi, Rani segera keluar membuka pintu, ia sangat tahu siapa yang datang karna sebelumya ia sudah menerima telfonnya
"Rangga, bagaimana kabarmu sayang !" Sambut Rani dengan hangat
"Baik tante." Sambil menyerahkan buket bunga, ia tahu kalau Bu Rani sangat menyukai bunga
"Owh.. cantiknya ! terima kasih ya ?! Ayo masuk !" Ajak Rani
"Rena di mana tant ?!"
"Ada di kamarnya, mungkin sedang baca buku !"
"Hemm.. dia sangat menyukai buku dari pada pria." Sambil tertwa kecil
"Kau benar, itulah alasan mengapa kami segera menjodohkannya, kalau dia seperti itu terus,bisa bisa dia jadi perawan tua." Bisiknya,membuat Rangga tertawa
"Oh ya, tante dengar,kamu akhirnya mendapat nilai tertinggi di sekolahmu !?" Tanya Rani
"Ah, itu bukan apa apa tante !" Mencoba merendahkan diri
"Kamu mau minum apa ? tante akan ambilkan !"
"Em terserah aja tante,"
"Tante, boleh tidak Rangga ke kamar Rena ?!" Tanya Rangga sedikit malu
Sebenarnya Rani sempat terkejut dengan perkataan Rangga, namun ia segera tersenyum
"Boleh, asal jangan buat yang macam macam ya ?!" Kata Rani
"Baik tante, kalau begitu aku ke atas dulu !" Rangga terlihat sangat bersemangat
"Baiklah..!"
Rangga segera beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamar Rena.
•••
Rangga menatap Rena yang masih tertidur pulas di pembaringannya,ia menutup pintu dan perlahan ia berjalan mendekat duduk tepat di samping Rena.Ia memperbaiki rambut Rena yang menutupi wajahnya, kemudian memandangi wajah yang selalu terlihat kesal saat melihatnya.
"(Hmm wajahnya terlihat sangat polos jika sedang tertidur ! mengapa kau sangat membenciku ? tak bisakah kau membuka sedikit hatimu untukku ?!)"
Perlahan kelopak matanya bergerak, ia merasa terusik dengan belaian seseorang.Ia membuka matanya perlahan, ia melihat Rangga yang duduk tepat di depannya tengah mengelus pipinya lembut.
Melihat Rena yang terbangun, Rangga hanya bisa memasang senyum menawan miliknya.
"Rangga, kenapa kau selalu saja hadir mengganggu tidurku ?!" Gerutu Rena pelan,matanya terlihat sayu seakan berat untuknya membuka matanya lebar.
"Apa maksudmu ?" Rangga sedikit bingung dengan perkataan Rena,tentu saja. Ini adalah pertama kalinya ia membangunkan Rena
"Kau selalu saja mengacau dalam mimpiku, tak bisakah kau absen saja !"
Perkataan Rena membuat Rangga tertawa kecil,baginya itu adalah pemandangan Rena yang sangat menggemaskan.
"Bagaimana tidak aku memikirkanmu ? Kau selalu saja menggangguku di dalam tidurku, sementara di dunia nyata kau sangat dingin padaku !" Tutur Rena dengan mata sayunya, ia masih berfikir kalau kali ini ia sedang bermimpi
"Apa kau merindukan kejahilanku ?"
"Tentu saja aku rindu ! selama ini tak ada yang suka mengusikku selain dirimu !"
Rangga hanya bisa tersenyum bahagia mendengar semua jawaban Rena.
"Bukankah ada Arka yang selalu menemanimu ?"
"Dia sangat membosankan !"
"Kalau begitu, bolehkah aku menciummu ?!"
Mata Rena segera membola mendengar keinginan Rangga
"Ranggaaaa... !" Ia menutup matanya dengan kedua tangannya memekik dan segera terduduk dari tidurnya, namun itu membuat wajahnya lebih dekat lagi dengan wajah Rangga
"Huh.. aku pasti bermimpi lagi, anak itu. Kenapa selalu saja dia mengganggu tidurku ? apa dia belum puas menggangguku tadi pagi ?!" Gerutu Rena
"Kau pasti sangat merindukanku !"
Rena tersentak mendengar suara itu,ia segera membuka matanya.Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah Rangga yang begitu dekat dengan wajahnya.Matanya seketika membola dan berteriak histeris
"Ranggaaaaaaa.... "
Rani yang mendengar teriakan Rena tak bisa tidak untuk pergi menguping, tak tanggung tanggung, ia bahkan mengajak suaminya.
Sedangkan Rangga segera membungkam mulut Rena
"Bisakah kau sedikit lembut memanggil namaku ?!"
"Apa yang kau lakukan dikamarku ?!"
"Aku hanya ingin melihat calon istriku, bagaimana dia tidur."
"Astaga,, aku pasti masih bermimpi !" Sambil menepuk nepuk kedua pipinya
"Kali ini kau sedang tidak bermimpi." Sahut Rangga
"Bagaimana kau bisa masuk di kamarku ?!"
"Tentu saja bisa ! Aku memanjat di balkon kamarmu !" Goda Rangga setengah berbisik di telinga Rena
"Dasar otak mesum !" Rena segera memukulnya dengan bantal
"Keluar.. !" Perintah Rena,ia segera berlari menuju pintu dan memutar gagang pintu, namun tak di sangka, oarang tuanya menjebaknya di dalam kamar itu berdua dengan Rangga
Rangga juga sedikit kaget, mengetahui bahwa pintu kamar Rena telah terkunci
"Kau pasti menguncinya ! cepat, berikan padaku !"
Rangga hanya bisa tertawa kecil membayangkan perlakuan calon mertuanya yang ternyata begitu sangat antusias mendukungnya,ia akan melanjutkan permainannya.
Melihat Rangga yang tersenyum licik dengan tatapan horor menurutnya,membuat Rena sedikit merinding, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan Rangga padanya, apalagi sekarang mereka hanya berdua di dalam kamar yang terkunci
"Kenapa kau tersenyum seperti itu !"
Rangga tak mempedulikannya, ia terus berjalan mendekati Rena
"Jangan mendekat, menjauhlah dariku !" Raut wajah Rena sedikit cemas
"Aku tidak bisa,kau sangat menggoda !" Namun batin Rangga tertawa terbahak bahak melihat ekspresi Rena
Rena sadar akan pakaiannya yang terlalu ketat, belum lagi ia hanya memakai celana pendek memperlihatkan pahanya yang putih mulus
"Sepertinya, orangtuaku tidak salah memilihkanku calon istri ! kau benar benar sangat seksi dan menggoda."
"Apa maksudmu ? jangan berani menyentuhku !"
Rangga tetap saja tak mempedulikannya, ia mengekang Rena di antara kedua tangannya yang telah bersandar di tembok.
"Aku mohon jangan menyentuhku, aku harus menjadi dokter !" Teriak Rena dengan suara memekik dan menutup kedua matanya
Batin Rangga benar benar ingin jungkir balik tertawa melihat tingkah Rena
"Tapi,aku sudah tidak bisa menahannya !" Bisik Rangga yang kini membelenggu badan Rena perlahan ia mendekatkan bibirnya di leher Rena, membuat seluruh bulu kuduk Rena Meremang.
"Tolong, jangan lakukan ini, aku mohon !" Pinta Rena
"Baiklah, tapi jika kau setuju menjadi pacarku dan menyetujui perjodohan kita." Rangga sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar dari luar
"Itu tidak mungkin !"
"Ok, sepertinya aku tidak ada pilihan lain selain.." menatap Rena dari atas hingga ke bawah
Rena sangat tahu arti tatapan itu,bagaimana bisa ia rela melakukan hubungan intim hanya karna menolak keinginan Rangga, ia baru saja lulus sekolah.
"(Sial, dia menjebakku !)"
"Bagaimana ?"
"Baiklah, aku akan menjadi pacarmu dan menerima perjodohan kita !" Jawab Rena dengan suara lantang
Rani dan Jaya yang sedari tadi menguping, mendengar jelas jawaban Rena,mereka begitu sangat gembira "Pak" mereka saling bertepuk tangan menandakan misi mereka akhirnya berhasil. Setelahnya ia membuka kunci secara perlahan dan meninggalkan tempat mereka.
"Ok, terima kasih,aku merekamnya !" Sambil mengeluarkan ponsel dari saku hodeenya.
"Brengsek, kau menjebakku ?!"Teriak Rena
"Apalah daya, hanya ini yang bisa ku lakukan !" Sambil tersenyum menyimpan kembali ponselnya
Ia kembali mendekati Rena, Rena masih terlihat menegang melihat Rangga kembali mendekatinya.Ia kembali terjebak
"Sekarang, apa yang ingin kau lakukan ? bukankah aku sudah mengiyakan keinginanmu ?!"
Rangga hanya bisa tersenyum, menepuk pelan kepala Rena membuat rambutnya sedikit acak.
"Sayang, sebaiknya aku segera pulang, aku semakin tak bisa menahannya bila berlama lama disini." Sedikit berbisik di telinga Rena
sambil memutar gagang pintu dan kemudian membukanya
Rena hanya bisa menegang di tempatnya, entah mengapa kata sayang yang baru saja ia dengar, membuat sekujur tubuhnya terasa meremang. Melihat ekspresi Rena,sekali lagi Rangga hanya bisa tertawa lepas dalam hati dan berlalu meninggalkan Rena sendiri
•••
"Sepertinya kamu berhasil " Seru Rani menyapa kedatangan Rangga
"Ini semua berkat tante !" Jawab Rangga
"Sssst.. jangan sampai Rena mengetahuinya !" Dengan nada sedikit berbisik
"Hahaa baiklah, tante kalau begitu aku pamit dulu !" Sambil meraih tangan Rani dan menciumnya
"Apa kamu tidak ingin minum dulu ?"
"Sepertinya, dahagaku sudah hilang tante !"
Rani tahu maksud Rangga
"Baiklah, ini buat mama kamu." Sambil menyodorkan rantang makanan
"Wah,tante gak perlu repot repot seperti ini !"
Rangga sedikit sungkan
"Tidak apa apa,tante akan merasa sedih jika kamu tak mengambilnya !"
"Emm baiklah, kalau begitu Rangga permisi tante !"
Rani hanya mengangguk dengan senyum.Rangga berbalik dan melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Atmajaya dengan senyum yang merekah.