
Rangga tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang panik saat melihat darah yang menetes dari jari Rena yang terluka.
Saat Rangga menghisap jarinya, Rena menatap lekat wajah lelaki yang terlihat begitu mencemaskannya.
"Biar aku saja." Ucap Rena menarik pelan tangannya. Ia kemudian berdiri dan mencuci tangannya di wastafel.Dan diikuti oleh Rangga.
"Darahnya akan terus keluar kalau kau terus membilasnya seperti itu." Ucap Rangga dan menarik kembali tangan Rena.
Rena yang berprofesi seorang doktor tentu saja mengetahui dengan jelas tentang hal itu, tapi entah mengapa saat ini dia tidak bisa melakukan semuanya dengan benar. Ia merasa sangat gugup dengan keadaannya saat ini.
Siapa yang tidak akan gugup jika tertangkap basah mendengarkan percakapan orang yang sedang membahas tentang diri kita sendiri ? di tambah lagi dengan sikap intens Rangga yang seperti itu. Itu membuat jantungnya dua kali lebih cepat berpacu dari batas normalnya.
Tanpa disadari mereka saat ini saling menatap lekat satu sama lain. Membuat Mariah yang melihatnya hanya tersenyum dan memilih meninggalkan mereka berdua.
Rangga mengerjapkan matanya, dan segera mengalihkan pandangannya.
"Apa kau punya plester luka ?"Tanyanya sembari menatap tangan Rena yang tidak lagi mengeluarkan darah.
Rena yang tersadar segera mengangguk dan meraih tasnya. Dia menelan salivanya sembari menggeledah tasnya dengan gugup.
Diam-diam Rangga menarik unjung bibirnya membentuk senyuman kecil saat melihat gelagat Rena yang seperti itu.
"Sini biar aku membantumu" Ucapnya sembari meraih tas Rena.
Tidak butuh waktu lama untuk Rangga menemukannya.
Rena terlihat berkali-kali menelan salivanya sembari menatap Rangga membuka bungkusan plester tersebut.
"Biar aku saja, kau bisa pergi." Ucap Rena merampas plester tersebut.
Rangga tidak mengatakan apapun. Sejenak ia menatap Rena yang sedang menunduk mencoba memasang plester tersebut di jarinya yang terluka. Kemudian dia menunduk mengumpulkan satu persatu pecahan kaca yang masih berhamburan di lantai.
Rena yang sudah selesai dengan kegiatannya, menatap Rangga yang dengan telaten mengambil pecahan kaca tersebut dan membuangnya di tempat sampah.
"Terima kasih." Ucapnya dan dengan cepat melangkah pergi meninggalkan Rangga yang masih berdiri menatap kepergiannya.
.
.
.
"Bun.." Sapa Rena pada Ibunya.
Rani berbalik dan menatap putrinya.
"Ada apa sayang..?"
"Apa Bunda dan Ayah masih lama ? kalau iya, aku ingin kembali lebih dulu."
Rani menatap suaminya yang masih asik berbincang dengan John.
"Tapi sayang."
"Ada apa ?" Tanya Mariah tiba-tiba.
Rani tersenyum.
"Ah tidak, Rena hanya tidak enak badan dan ingin kembali lebih dulu." Jawab Rani.
"Bagaimana kalau Rena istirahat di sini saja dulu, nanti Tante akan membangunkanmu kalau pestanya sudah selesai." Usul Mariah.
Rani yang sebenarnya masih ingin berbincang lama dengan Mariah menyetujui usulan tersebut.
"Bagaimana sayang ? yang dikatakan tante Mariah ada benarnya, Bunda takut terjadi sesuatu denganmu kalau kau pulang lebih dulu."Ucap Rani mengingat Rena yang selalu mengalami sesak saat tidur karna selalu mengalami mimpi buruk.
Rena terlihat ragu dengan keputusan tersebut, namun dia juga tidak ingin mengganggu kesenangan kedua orangtuanya. Walau bagaimanapun ini adalah pesta pertama setelah kedua keluarga itu kembali akur.
"Baiklah."Jawabnya sembari menganggukkan kepalanya.
Mariah tersenyum,dia sangat senang Rena menerima tawarannya.
"Ya sudah, kalau begitu sini, biar tante mengantarmu."Ucapnya.
.
.
.
"Ini dia kamarnya." Ucap Mariah saat membuka pintu.
Rena melangkah masuk menatap ruangan tersebut, kemudian berbalik menatap Mariah.
"Terima kasih tant, kalau begitu aku istirahat dulu." Ucap Rena hendak menutup kembali pintu, namun Mariah segera menahannya.
"Eh Ren, bisa kita bicara sebentar ?" Tanya Mariah.
Sejenak Rena terdiam, namun dia segera menganggukkan kepalanya.
"Bisa." Jawabnya sembari mempersilahkan Mariah ikut masuk ke dalam kamar.
.
Mariah meraih tangan Rena. Saat ini mereka sudah duduk di tepi ranjang.
"Apa tante bisa bertanya sesuatu ?" Tanyanya lebih dulu.
"Tentang apa ?"
"Apa Rena masih ada sedikit rasa untuk Rangga ?"
Rena terdiam, dia sedikit terkejut mendengar pertanyaan Mariah.
"Ah, maaf, tidak seharusnya tante menanyakan hal ini padamu." Sesalnya.
Lupakan saja, sebaiknya kau beristirahat." Imbuhnya sembari mengusap pelan pundak Rena.
"Eh, tidak apa-apa tant, lagipula apa yang aku rasakan padanya itu sudah tidak lagi penting. Yang di katakannya benar, kami sudah selesai sejak lama." Jelas Rena dengan senyum hangatnya.
Mariah terlihat menyaring setiap ucapan Rena.
"Apa itu berarti kamu masih memiliki rasa padanya ?
Eem, tante tahu kalau kalian sudah selesai. Tante hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu sebenarnya, takutnya Rangga mengambil keputusan yang salah dan membuatnya kembali menyesal." Jelas Mariah.
"Tant, sepertinya tidak etis jiak kita membahas hal ini untuk saat ini. Aku sangat menghargai maksud tante, tapi biarkan kami memutuskan apa yang terbaik untuk kami.
Lagipula bukankah dia akan menikah dengan Dara ?" Tanya Rena kemudian dengan senyum.
Dara adalah wanita yang baik, dia juga cantik dan pintar, terlebih dia masih sangat muda. Aku yakin kali ini Rangga akan bahagia. Dan aku ingin Tante juga menghargai keputusannya." Imbuhnya mencoba memberi penjelasan dengan lembut.
Mariah seakan familiar dengan kata-kata itu, dia kemudian teringat kembali saat dimana dirinya memuji Dara saat di Rumah Sakit, yang sebenarnya saat itu dirinya hanya ingin mengetes bagaimana ekspresi Rena saat dia memuji wanita lain untuk putranya.
"Apa kau masih membenci tante ?"Tanyanya ragu.
Rena menggelengkan kepalanya.
Mariah tersenyum haru mendengar ucapan Rena. Hingga tanpa ia sadari air matanya kini menggenangi kelopaknya.
Ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata lagi, dan dengan lembut memeluk Rena hangat sembari mengusap pelan rambut dan punggungnya.
•
"Mengapa belum masuk ?" Tanya Rangga berjalan menghampiri Reno.
"Tidak, masih ingin menikmati angin malam saja." Jawab Reno datar sembari mengisap rokoknya dan menghembuskannya secara perlahan.
"Apa kau sedang kesal ?"Tebak Rangga.
"Tidak."
"Baguslah, aku harap kau tidak marah kalau aku menikahi Dara."
"Untuk apa aku marah ? tidak ada hubungannya denganku. Kalau kau ingin menikah dengannya ya menikah saja." Jawab Reno namun entah mengapa terdengar seperti orang yang sedang marah.
"Ohya.. ?! kalau begitu, aku tidak harus merasa bersalah padamu."
"Terserah." Ucap Reno sembari melempar puntung rokoknya, kemudian meraih jasnya berencana pergi.
"Mau kemana ?" Tanya Rangga.
"Balik."
"Tapi acaranya belum selesai."
Namun Reno seolah tidak mendengar ucapan Rangga.
"Ren." Cegah Rangga sembari memegang pundak sahabatnya.
"Kak Rangga.." Sapa Dara tiba-tiba.
Rangga menoleh menatap Dara yang berjalan dengan anggun mendekatinya.
"Papah mencarimu." Imbuh Dara sembari merangkul mesra lengan Rangga.
Sekilas Reno melirik ke arah mereka.
"Aku capek, sampaikan salamku pada paman dan bibi."Ucapnya kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Rangga dan Dara menatap punggung Reno yang menjauh, kemudian saling menatap satu sama lain dan tersenyum.
•••
Kediaman Atmajaya.
Pukul 01.00
Rena yang keadaannya masih belum begitu pulih membuat Rani yang selalu merasa cemas, setiap malam akan selalu pergi mengecek keadaan putrinya.
Ceklek.
Perlahan Rani melangkah masuk dan berjalan mendekati putrinya kemudian duduk di sampingnya. Ia menatap wajah tenang putrinya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Tangannya terulur membelai lembut pucuk kepala anaknya.
"Lupakan semuanya sayang. Jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini." Ucapnya lirih.
Merasa ada yang membelainya,Rena mengerjapkan matanya dan menatap sayu wajah Ibunya yang sedang duduk menatapnya.
"Bun.." Ucapnya dengan suara seraknya.
Rani tersenyum.
"Apa Bunda menganggu tidurmu ?"
Rena menggelengkan kepalanya pelan dan mengulurkan tangannya memeluk paha Ibunya.
"Ya sudah, tidurlah lagi." Ucapnya sembari memperbaiki rambut putrinya yang menutupi sebagian wajahnya kemudian mengecup pelan pucuk kepalanya.
"Mimpi indah sayang." Ucapnya. Kemudian memperbaiki posisi selimut putrinya.
Waktu terus berputar, hingga tak terasa pagi tiba.
"Pagi sayang." Ucap Rani sembari menarik gorden jendela.
"Pagi Bun." Jawab Rena masih menutup matanya karna merasa silau.
"Bagaimana tidurnya ? apa masih bermimpi buruk ?" Tanya Rani yang kini telah duduk di samping putrinya.
Rena menggelengkan kepalanya.
"Baguslah, ayo bangun. Ayah dan Kakak sudah menunggumu di bawah."
Rena hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
•
"Pagi Yah, kak." Sapa Rena.
"Pagi sayang, bagaimana tidurnya semalam ?" Tanya Jaya, yang sebenarnya Rani sudah memberitahunya lebih dulu kalau untuk pertama kalinya Rena tidak lagi bermimpi buruk setelah Tiga Bulan berlalu sejak kematian Arka.
"Sudah lebih baik Ayah."
"Bagus,berarti sudah ada kemajuan. Apa mungkin karna pesta semalam ?" Tanya Jaya mengira-ngira.
Rena hanya tersenyum mengangkat kedua bahunya. Ia merasa Ayahnya terlalu melebih-lebihkan.
"Wah, bisa jadi." Timbal Rendy setuju.
"Kalau begitu apa mungkin akan lebih efektif kalau berkunjung ke tempat keramaian ?" Sambung Rani sembari meletakkan segelas susu di depan Rena.
"Makasih Bun." Ucap Rena.
Tapi semuanya, Rena ingin mengatakan sesuatu." Imbuhnya.
"Apa itu ?"Tanya Jaya.
"Aku ingin melanjutkan kuliahku."Ucap Rena. Membuat ketiganya tertegun sedikit terkejut dengan keinginannya.
"Tapi sayang, bukankah kau sudah menjadi seorang dokter ? untuk apa sekolah lagi ?" Tanya Rani.
"Aku ingin jadi dokter spesialis kandungan."
Jaya dan Rani hanya bisa saling melempar pandangan.
Bukan tanpa alasan Rena ingin menjadi dokter kandungan, dengan profesinya yang sekarang dia tidak akan pernah bisa melupakan Arka, apalagi kalau sudah berdiri di depan meja operasi. Setiap tingkah Arka akan selalu bermain di kepalanya seakan memutar kembali memori yang telah mereka lalui bersama.
Rendy yang mengerti apa yang dipikirkan adiknya akhirnya bersuara.
"Aku setuju." Ucapnya.
Rani dan Jaya kembali hanya bisa saling melempar pandangan. Mereka tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan kedua anaknya tersebut.