
"Kau harus tahu kalau Arka adalah Ayah Moura yang sebenarnya !!" Seru Rangga.
Rena terhenti. Kemudian berbalik menatap tajam ke arah Rangga.
Cukup lama ia menatap tajam mata Rangga, kemudian.
Plaaaak...
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat begitu saja di wajah tampan pria itu.
Rangga memegang pipinya yang terasa perih.
"Aku tidak tahu apa yang kau fikirkan saat ini." Ucap Rena dengan masih menatap mata Rangga.
Aku tahu, Moura bukan putrimu. Namun atas dasar apa kau mengatakan bahwa Arka adalah Ayahnya ?!" Kesal Rena, irisnya mulai memerah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ren,, " Arka mendekati dan mencoba menenangkannya.
"Mengapa kau harus membuat hidupku menjadi rumit seperti ini !!
Bahkan sekarang aku tidak peduli jika Moura bukan putrimu. Lalu mengapa kau mengatakan Arka adalah Ayahnya !!" Seru Rena.
Apa kau pikir itu sebuah lelucon huh ?!!" Imbuhnya.
Rena kemudian berbalik dan melangkah pergi, ia tidak tahan lagi dengan permainan Rangga.
Namun Rangga melangkah sangat cepat dan menyekal pergelangan tangannya.
"Aku bisa membuktikannya !!" Ucapnya dengan meyakinkan.
Ia dengan cepat mengeluarkan selembar kertas dari amplop yang sebelumnya ia terima.
"Kau bisa melihatnya lebih dulu." Ucapnya sembari meletakkan kertas tersebut di tangan Rena.
Rena perlahan membaca hasil tes DNA tersebut.
Ia tersenyum getir. Kemudian memberikan kertas tersebut tepat di dada Rangga.
"Apa kau belum puas melihatku menderita huh ?!" Ucapnya pelan namun dengan nada yang begitu dingin.
Rangga sedikit bingung dengan perkataan Rena.
"Jangan pernah mengusik kehidupanku lagi.
Dan Moura." Rena tersenyum getir
Aku tidak peduli siapa Ayahnya. Itu sama sekali bukan urusanku !!" Ucapnya kemudian pergi.
Rangga segera membaca hasil tes tersebut dan menunjukkan bahwa hasil tes genetik menyatakan bahwa kesamaan mereka adalah 0,00 %.
Matanya sedikit membola. Ia tidak bisa menerima hasil tersebut. Firasatnya mengatakan bahwa ada yang salah dengan hasilnya.
Arka berjalan dan melewatinya, ia terlihat tersenyum mencemooh menatap Rangga yang tengah kesal, kemudian melangkah pergi menyusul Rena.
Rangga meremat kertas tersebut dan membuangnya ke lantai, ia berteriak kesal dan menginjak-injak kertas tersebut melepaskan kekesalannya.
•
"Rena.. " Sapa Arka saat memasuki ruang istirahat dokter.
Rena tidak menjawabnya, ia hanya terus menangis dalam diam, mengepalkan pergelangan tangannya dengan erat.
Arka berjalan mendekati kemudian memeluknya dari belakang.
"Jangan menahannya.Kau tidak harus selalu kuat dan tangguh !" Ucapnya lembut.
Rena membalikkan tubuhnya kemudian memeluk Arka dengan erat. Ia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan pria yang telah menjadi sandarannya saat ini.
Arka menepuk pelan punggung Rena.
Butuh beberapa saat, kemudian ia merasa kembali pusing dan hampir sedikit terjatuh.
Rena menyudahi tangisnya.
"Ada apa ?" Tanyanya dengan mata yang masih memerah dan berair.
"Kepalaku terasa sangat pusing." Ucapnya sembari memegang kepalanya yang semakin berkunang.
"Ayo kesini." Ucap Rena sembari membawa Arka duduk di tempat tidur.
"Tunggu aku disini, aku akan segera kembali." Imbuhnya kemudian melesat pergi.
Setelah beberapa menit, ia kembali dengan cairan infus dan beberapa botol kecil obat.
Ia meraih pergelangan Arka yang sudah berbaring menutup matanya.
"Luka apa yang ada di lenganmu ini ?" Tanya Rena setelah melihat ada plaster yang melekat
Ia kemudian membukanya perlahan ingin memeriksa.
Itu seperti bekas jarum infus yang berukuran besar.
"Apa kau baru saja mendonorkan darahmu ?!" Tanya Rena.
Arka mengangguk pelan, saat ini ia sedikit tidak berdaya.
"Seharusnya kau tidak melakukan hal itu saat sedang bertugas !" Ucapnya kemudian memasang jarum infus di sisi yang lain.
"Apa kau sudah makan sesuatu ?!" Tanyanya lagi.
Arka menggelengkan kepalanya.
"Apa kau seorang superhero ?! bagaimana bisa kau tidak makan setelah mendonorkan darahmu ?!"
Rena terus memarahi Arka. Namun Arka hanya terlihat tersenyum.
"Hei.. kau tersenyum ?! apa kau pikir aku sedang melucu ?!" Kesal Rena.
Arka tidak menanggapi. Hatinya terasa menghangat saat Rena terus mencemaskannya seperti itu.
Dia sama seperti seorang istri yang memarahi suaminya.
"Bagaimana kalau kita menikah saja ?!" Tanya Arka yang masih memejamkan matanya.
Rena sedikit tertegun mendengar ungkapan itu.
"Berhentilah bercanda, sebaiknya kau tidur dan beristirahat." Ucapnya kemudian.
Ia memperbaiki posisi tidur Arka dan menyelimutinya dengan selimut tipis miliknya.
Rena tidak mengatakan sesuatu, ia kembali duduk dan menatap wajah Arka yang begitu menenangkan.
•••
Di sisi lain Rangga yang kembali ke kantornya, membuka pintu ruangan Reno dengan sangat kasar lalu membantingnya dengan keras.
Ia kemudian berjalan dan mendaratkan bokongnya dengan kasar di sofa.
"Sekarang, apa lagi yang membuatmu kesal ?!" Tanya Reno.
Rangga tidak menjawab, ia hanya terfokus dengan tatapan kosongnya.
Reno berjalan menghampiri kemudian duduk di sampingnya.
"Apa terjadi sesuatu ?!" Tanya Reno pelan dengan meletakkan telapak tangannya di pundak Rangga.
Rangga berpaling kemudian menatapnya dengan dingin.
"Aku ingin kau mencari tahu hubungan Arka dan Monica saat tujuh tahun yang lalu !!" Titahnya.
Reno menaikkan sebelah alisnya sedikit tidak mengerti, mengapa Rangga tiba-tiba ingin mencari tahu hubungan kedua orang tersebut ?
"Apa yang harus aku cari tahu ? bukankah mereka tidak saling berhubungan ?
Kau sendiri juga tahu, sejak lulus SMA Monica hanya terus lengket denganmu !" Ucap Reno.
"Lakukan saja apa yang aku perintahkan !!" Titah Rangga sedikit kesal.
Reno menghela nafasnya pasrah lalu mengiyakan.
"Baiklah, aku akan melakukannya untukmu !!"
Ini lah pekerjaan Reno yang sebenarnya, menjadi seorang hacker. Saat SMA ia di kenal sebagai raja game karna selalu menang saat memainkan game. Ia adalah penikmat game dan komputer. Tidak salah jika sekarang ia menjadi seorang hacker.
Tentang statusnya sebagai seorang presdir. Itu karna ia hanya berdiri menutupi status Rangga yang sebenarnya. Ia seperti tameng untuk Rangga.
"Berikan aku waktu dua hari." Pintanya pada Rangga.
"Apa tidak bisa lebih cepat dari itu ?!"
Reno menggelengkan kepalanya.
"Tidak segampang itu, kau menyuruhku untuk mencari tahu tentang tujuh tahun yang lalu !!" Jawab Reno.
"Baiklah.. !!" Ucap Rangga pelan.
"Tapi apa aku boleh tahu ? mengapa kau tiba-tiba menyuruhku mencari tahu tentang hubungan Arka dan Monica ?" Tanyanya menelisik.
Rangga kemudian menceritakan yang sebelumnya terjadi.
Flashback On.
Rangga yang baru saja tiba di depan lorong Rumah Sakit tidak sengaja melihat Arka keluar dari ruang UGD. Ia kemudian bersembunyi dan mendengar percakapan Arka dan Ibunya.
"Dok, bagaimana keadaan Moura ?!" Tanya Mariah.
Arka menatap wajah Mariah yang sendu, ia tahu bahwa Moura bukan putri Rangga, dan itu berarti tidak ada kemungkinan bahwa di keluarga mereka memiliki golongan darah yang sama.
"Maafkan aku, aku harus segera pergi." Ucap Arka kemudian berlari dengan sangat cepat.
Melihat Arka berlari ke arah yang berbeda, dia berfikir jika terjadi sesuatu dengan Rena. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti Arka secara diam-diam.
Hingga tiba di salah satu ruangan. yang entah itu ruangan apa, Rangga sedikit tidak mengerti tentang ruang-ruang yang ada di Rumah Sakit.
Arka masuk dan menutup pintu kemudian menguncinya, setelah beberapa lama Rangga menunggu, akhirnya pintu terbuka, memperlihatkan Arka yang sedang memegang sekantong darah di tangannya.
Ia sedikit tergesa-gesa kemudian kembali ke ruangan sebelumnya.
Sedangkan Rangga, ia masuk ke dalam ruangan yang di masuki Arka sebelumnya.
Tidak ada apa-apa di ruangan tersebut, kemudian matanya tertuju pada selang infus yang sedikit keluar dari tempat sampah.
Rangga segera membuka penutup sampah dan memeriksa selang infus tersebut. Kelihatannya darah yang melekat masih sangat segar. Ia juga melihat beberapa kapas yang masih berwarna sangat merah. Jelas, semuanya baru saja di gunakan.
Ia berfikir sejenak, alisnya naik sebelah bertanda ia sedang menelisik sesuatu.
Dengan cepat ia berlari menuju ruang kerja pribadi Arka.
Asisten yang bertugas untuk berjaga mencoba menghalangi Rangga untuk masuk, namun apa daya, dia hanyalah seorang wanita yang kekuatannya di bawah laki-laki.
Rangga membuka pintu dan menelisik ruangan itu dengan sangat cermat.
"Apa yang kau lakukan ?
Aku sudah mengatakan kalau dr.Arka sedang tidak berada di ruangannya." Ucap sang asisten sedikit kesal.
Namun Rangga tidak memperdulikannya. Ia menuju washtavel dan melihat sebuah sikat gigi.
Tanpa berpikir panjang, ia sgera mengambil sikat gigi tersebut kemudian pergi tanpa sepatah kata.
Flashback Off.
Rangga kemudian menceritakan apa yang terjadi setelah tes DNA itu keluar.
.
.
"Aku pikir kau hanya terlalu curiga, bisa saja golongan darah mereka sama tapi bukan berarti mereka adalah Ayah dan Anak bukan ?!" Ucap Reno.
"Tapi firasatku mengatakan kalau mereka memiliki hubungan yang erat !" Ucap Rangga.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan hal seperti itu ?
Bukankah tes DNA menyatakan bahwa mereka tidak memiliki gen yang sama ?!"
"Jika Moura bukan anaknya, mengapa dia harus sembunyi untuk mendonorkan darahnya ?!" Tanya Rangga.
Sebenarnya ia lebih pintar dari yang difikirkan orang-orang yang ada di sekitarnya, hanya saja terkadang dia tidak bisa mengontrol emosinya dan bertindak ceroboh.
"Aku juga menanyakan pada perawat yang mendampinginya saat itu, dan mereka mengatakan hal yang berbeda. Bahwa pendonor yang mendonorkan darahnya untuk Moura adalah teman dari Arka.
Padahal aku sangat jelas melihatnya masuk dan keluar dari ruangan itu. Dia hanya sendiri !" Jelas Rangga.
Perlahan Reno mulai mengerti, firasat Rangga mungkin ada benarnya. Dan bisa jadi Arka telah menukar hasil tes yang sebenarnya.