Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Kesalahan



Malam hari.


Rena yang baru saja memeriksa keadaan beberapa pasien berjalan melewati beberapa ruangan.


Prack...


Langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara gelas yang terjatuh kelantai. Ia memutar badannya dan menoleh ke arah suara tersebut.


Suara itu terdengar jelas dari ruangan yang di tempati Arka saat ini. Ia bergegas berjalan mendekati ruangan tersebut.


Namun betapa kagetnya ia ketika melihat Rangga yang sedang kejang-kejang di tempatnya dengan oksigen yang sudah terlepas dari hidungnya dan beberapa peralatan lainnya sudah terlepas dari tubuhnya. Dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah sosok yang kini berdiri di sampingnya dengan tatapan yang menakutkan.


Rena segera membuka pintu dan berlari menghampiri, mencoba membantu Rangga.


"Rangga !" Serunya mencoba memasang kembali selang oksigen yang sudah terlepas.


Namun, sosok yang melakukannya segera menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.


Dengan berlinangan air mata, ia mencoba memberontak melepaskan diri dari dekapan orang yang mendekapnya dengan erat.


"Arka.. apa yang kau lakukan ? lepaskan aku !" Ronta Rena.


"Tidak Ren, selama dia masih hidup. Kau tidak akan pernah mau menerimaku. Ini adalah satu-satunya cara bagiku untuk bisa memilikimu seutuhnya."


"Tidak ka, ini tidak benar." Elak Rena menggelengkan kepalanya tak percaya.


Arka, aku mohon jangan lakukan ini. Kau tidak harus melakukan hal ini padanya." Imbuhnya


Rena semakin histeris manakala melihat Rangga telah berhenti kejang dan menghembuskan nafasnya dengan panjang.


"Tidaak, tidaak." Rena menggelengkan kepalanya.


Tidaaak.. !" Teriaknya histeris.


Arka yang sedari tadi duduk memandangi Rena yang tertidur dengan peluh membasahi jidatnya, Ia membangunkannya ketika Rena terus mengigau kesakitan.


"Ren.. Rena.. " Ucapnya mengguncang tubuh Rena.


Dengan nafas yang tidak beraturan ia dengan cepat membuka matanya.


Melihat Arka yang kini berada di dekatnya, ia merasa sedikit takut dan bergegas beranjak dari tempat tidurnya.


"Ren, kau ingin kemana ?!" Tanya Arka.


Tanpa meninggalkan jawaban, Rena segera keluar dari ruangan dan berlari menuju ruangan Rangga.


Sesampainya di sana, ia segera memeriksa keadaan Rangga.Mengetahui Rangga baik-baik saja, Rena menghembuskan nafasnya lega dan keluar dari ruangan itu dengan langkah tak berdaya.


Sadar jika dirinya hanya bermimpi, Rena terduduk lemas di kursi yang ada di depan ruangan tersebut.


Pikirannya kacau tentang apa yang baru saja ia lakukan. Dengan jelas ia masih mengkhawatirkan Rangga, dan meninggalkan Arka tanpa sebuah penjelasan.


("Apa yang telah aku lakukan ?!") Batinnya.


Suara langkah sepatu terdengar berjalan mendekatinya. Ia melihat sepatu pria itu dan perlahan mengangkat wajahnya.


"Arka.." Lirihnya dengan mata yang sembab.


"Apa yang kau fikirkan ?"Tanya Arka dengan wajah yang menekuk sedih.


"A-ak-aku.. " Rena terbata, ia tidak tahu harus menjawabnya dengan apa. Apa dia harus berterus terang kalau dirinya telah bermimpi konyol bahwa Arka telah membunuh Rangga ?.


"Apa kau berfikir kalau aku akan melakukan sesuatu pada Rangga ?!" Terka Arka dengan nada dingin.


Rena menatap Arka dengan tatapan bersalah. Membuat Arka benar-benar merasa kecewa dibuatnya.


Arka tertawa hambar.


"Aku memang sangat ingin dia menghilang dari kehidupanmu, tapi bukan berarti aku akan mencelakainya." Jelas Arka.


"Apa kau pikir aku akan sejahat itu ? aku tidak menyangka kalau kau akan berfikir seperti itu tentangku." Sesalnya kemudian pergi meninggalkan Rena dengan sejuta rasa bersalah di dalam hatinya.


•••


Keesokan harinya.


Hari itu mereka akan mengadakan pertemuan kelompok membahas mengenai masalah penyakit dari salah satu pasien yang akan segera melakukan operasi.


"Dimana dr.Rena ?" Tanyanya pada yang lain.


"Maaf. aku lupa memberitahu, Rena meminta izin untuk tidak masuk seminggu ini." Jawab Anggi


Awalnya Arka tertegun sejenak di tempatnya, ia kembali terfikir akan kejadian semalam.


Flash Back On


Ia yang awalnya ingin menemui Rena untuk meminta maaf karna telah membentaknya siang itu, membatalkan niatnya ketika mendapati Rena yang tengah tertidur pulas.


Karna tidak ingin membangunkan Rena, ia memilih duduk memandangi wajah cantik yang selalu membuat hatinya berdetak tak karuan.


Dengan pelan ia menyelipkan beberapa helai rambut yang kini menutupi wajah gadis itu. Ia tersenyum manakala teringat dengan celotehan atau umpatan yang di lontarkan gadis itu padanya.


"Kau terlihat begitu anggun ketika diam seperti ini." Lirihnya.


"Mengapa kau selalu galak denganku ?!" Tanyanya kemudian tersenyum malu.


Dirinya merasa sangat konyol karna telah bertanya pada orang yang jelas-jelas tidak akan mendengarnya.


Ia menghela nafasnya dan menopang dagunya dengan sebelah tangannya.


"Tapi jika di pikir-pikir, aku lebih suka melihatmu mengumpatku dengan berbagai umpatan dari pada kau mengabaikanku."


Hingga tidak berapa lama, Rena terlihat gelisah dalam tidurnya. Ada raut ketakutan di wajahnya, bibirnya terus menyebut nama Rangga dan memohon pada dirinya.


"Rangga..!" Ucapnya terdengar sedih.


"Arka.. tidak, aku mohon !" Lirihnya dengun keringat yang membanjiri dahinya.


"Tidaak, tidaak."


"Tidaaaak..!" Ucap gadis itu dengan isak tangisnya.


Arka yang tidak tega melihat Rena mengigau kesakitan, segera membangunkannya.


"Ren.. Rena.. " Ucapnya sembari mengguncang tubuh Rena.


Dengan nafas yang tidak beraturan, Rena membuka matanya dengan cepat.


Melihat Arka yang kini berada di dekatnya, ia merasa sedikit takut dan bergegas beranjak dari tempat tidurnya.


"Ren, kau ingin kemana ?!" Tanya Arka.


Tanpa meninggalkan jawaban, Rena segera keluar dari ruangan dan berlari menuju ruangan Rangga.


Melihat ekspresi Rena memandangnya membuat Arka bingung dan akhirnya mengikuti kemana perginya Rena.


Arka menyadari bahwa Rena telah berfikir buruk tentangnya ketika melihat Rena dengan panik memasuki kamar di mana Rangga di rawat.


Setelah beberapa saat, Rena keluar dari ruangan tersebut dengan gontai tak berdaya. Ia melihat betapa frustasinya gadis itu meratapi dirinya sendiri duduk diatas kursi.


Flash Back Off


"Dokter, apa kita bisa memulai rapatnya ?" Tanya dr.Cindi.


"Oh-baiklah,mari kita mulai." Ucap Arka kemudian membuka leptopnya dan menghubungkannya ke proyektor.


Setelah masing-masing dari mereka memiliki pendapat tentang bagaimana cara menangani penyakit itu dengan benar. Akhirnya Arka mendapat satu kesimpulan dan mengakhiri rapat tersebut.


"Baiklah ! sudah di putuskan, kita akan melakukan operasi jam 21.00 malam nanti.


"Persiapkan diri kalian, aku tidak ingin terjadi kesalahan dalam oprasi." Perkataan ini selalu ia layangkan pada juniornya ketika akan melakukan operasi.


"Siap.. pak !" Jawab mereka serentak.


"Dr.Anggi, temui aku di ruangan !" Titah Arka.


"Baik pak." Ucap Anggi pelan.


Arka kemudian meninggalkan ruangan tersebut di susul oleh Anggi dan yang lainnya.


Akhirnya rapat hari itu berjalan dengan lancar. Walau seperti itu, Arka merasa masih ada yang kurang karna tidak mendengar suara dari gadis yang selalu akan berdebat dengannya jika melakukan setiap keputusan.