Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 125



Anggi yang sedang mengemasi barang-barangnya tidak sengaja melihat kembali sapu tangan pemberian lelaki siang tadi yang sebelumnya telah dicucinya.


Ia kemudian meraihnya.


"D."Lirihnya saat melihat inisial D di bagian sisi sapu tangan tersebut.


"Sepertinya aku pernah melihatnya !?" Lirihnya, memiringkan kepalanya dan mencoba mengingat-ingat sesuatu.


.


.


.


Dengan cepat ia berdiri dan menurunkan sekotak penyimpanan yang berisi barang-barang lamanya dari dalam lemari.


Perlahan ia meletakkannya dan mengeluarkan isinya satu persatu. Hingga ia melihat sapu tangan yang berukuran sama.


Dengan cepat ia meraihnya dan melihat inisial yang sama seperti sapu tangan sebelumnya.


("D. apa Dicky ?!") Batinnya, mengingat kembali saat pertama kali seseorang memberikan sapu tangan untuknya.


("Apa dia pemilik sapu tangan ini ? dan lelaki itu...?")


Sementara itu, di tempat yang berbeda Dicky juga sedang mengemasi barang-barangnya.


"Mau kemana ?" Tanya Reno yang baru saja masuk tanpa meminta izin pada sang pemilik kamar.


"Singapore."Jawab Dicky datar.


"Dalam rangka apa ?"Tanya Reno sembari duduk memangku kaki.


"Liburan."


Reno mengerutkan alisnya.


"Bukankah kau pernah bilang ingin ke London ? mengapa jadi Singapore ?" Tanya Reno sedikit bingung.


"Lagipula Rangga masih di Rumah Sakit, apa kau akan tetap pergi ?" Imbuhnya.


"Aku sudah cukup lama membantunya, dan sekarang semua masalahnya sudah selesai. Sudah waktunya bagiku untuk pergi bersenang-senang." Jawabnya. Kemudian berbalik menatap Reno sembari berkacak pinggang.


Lagipula dia bukan Putraku yang harus terus aku jaga." Imbuhnya berkelakar.


Reno hanya tersenyum simpul.


"Lalu kau ? apa kau yakin tidak ingin Dara kembali menjadi sekertarismu ?" Tanya Dicky yang kini sudah duduk di sampingnya.


Reno menggelengkan kepalanya menatap gelas berisi wine yang di pegangnya sedari tadi.


"Aku tidak ingin bertemu atau mengenalnya lagi." Ucapnya kesal karna selama ini merasa telah di bohongi.


"Apa kau serius ?" Tanya Dicky sembari memangku kaki.


"Tapi bukankah kau mencintainya ?" Imbuhnya.


"Tidak. Siapa yang mengatakan kalau aku mencintainya ?"


"Rangga."


"Ck. Dia hanya sok tau, lagipula aku tidak pernah mengatakannya." Ucap Reno mendalih.


Dicky mengerutkan alisnya sembari memasang wajah idiotnya.


"Benarkah ? tapi mengapa dulu kau sangat membelanya ? bahkan aku sempat berfikir kalau kau memang benar mencintainya." Cecar Dicky mencoba mengejek temannya.


"Itu karna dia adalah sekertarisku, orang kepercayaanku di kantor." Jelasnya.


Lagipula bagaimana bisa aku jatuh cinta dengan gadis culun sepertinya ? masih banyak gadis di luar sana yang lebih menarik darinya."


"Apa kau lupa kalau culunnya dia hanyalah bentuk dari penyamarannya ?"


Mengingat hal itu membuat mood Reno berubah dan menjadi kesal pada teman yang sedari tadi mencoba memancing kekesalannya itu.


"Sudahlah, tidak perlu membahas yang tidak penting." Ucapnya sembari beranjak dari duduknya.


"Pergilah jika kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu." Ucapnya kesal dan keluar dari ruangan tersebut.


"Hei, mau kemana ?" Tanya Dicky sembari menahan tawa karna berhasil membuat Reno kesal.


"Mau nge-gym" Jawabnya dan menutup pintu dengan keras.


"Wkwkwkwk" Tawa Dicky menggelegar.


...*****...


Tiga Bulan Kemudian.


Pukul 02.30


Di dalam sebuah kamar yang cukup luas, dengan pencahayaan lampu yang minim, Rena terlihat gelisah dalam tidurnya dengan peluh yang membasahi wajahnya.


"Tidak,Arka, tidak." Lirihnya sembari menggelengkan kepalanya. Ia terus mengucapkan kata-kata itu dengan meneteskan air mata.


Nafasnya tercekat dan mulai tak beraturan.


"Aku bahagia, akhirnya,aku bisa melihatmu menangisiku"


"Aku mencintaimu, percayalah, aku tidak pernah mencintai wanita lain sebesar aku mencintaimu."


"Ren, berjanjilah padaku, bahwa kau tidak akan pernah membenciku !" Ucap Arka semakin terbata sembari memegang erat tangan Rena yang sedari tadi menggenggam tangannya.


"Aku mencintaimu.." Ucapnya sekali lagi, tapi terdengar begitu sayu, bahkan hampir tidak terdengar.


"Tidak....." Pekiknya.


Suara pintu terbuka dan disusul suara petakan saklar lampu, membuat kamar itu kembali terang.


"Sayang, apa kau baik-baik saja ?!" Ucap Rani dengan tergesa-gesa mendekati putrinya.


Rena yang sudah merubah posisinya menjadi duduk, hanya menganggukkan kepalanya pelan.


Rani mengusap sisa-sisa keringat yang masih membasahi wajah putrinya, kemudian mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di kamar tersebut.


"Minumlah." Ucapnya sembari menyelipkan helai rambut putrinya ke telinga.


"Bagaimana ?" Tanyanya kemudian.


"Sudah lebih baik Bun." Jawab Rena pelan.


Rani mengusap pelan rambut putrinya, ia merasa tidak tega melihat Rena seperti itu yang masih saja di penuhi rasa bersalah akan kematian Arka.


Sudah Dua Bulan lebih Rena mengikuti terapy dari seorang psikolog tapi masih belum membuahkan hasil sepenuhnya.


Bayang-bayangan itu masih terus menghantui tidurnya.


"Ini masih malam, sebaiknya kau tidur kembali. Bunda akan menemanimu." Ucap Mariah pelan.


Rena hanya mengangguk dengan senyum simpulnya, kemudian berbaring.


Rani kembali mematikan lampu, kemudian berjalan di sisi ranjang yang lainnya dan berbaring.


"Bunda mencintaimu." Ucapnya sembari mengecup lembut dahi putrinya kemudian memeluknya.



Rena mengerjapkan matanya saat netranya menangkap cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela besar yang tirainya baru saja dibuka Rani.


"Pagi sayang." Ucap Rani mengecup lembut pucuk kepala putrinya.


"Pagi Bund."Jawabnya lirih.


Melihat Rena yang sudah bangun, Rani akhirnya keluar dan kembali ke dapur mempersiapkan sarapan pagi untuk semuanya.


.


.


.


"Pagi Yah, kak.." Sapa Rena dan duduk bergabung dimeja makan.


"Pagi sayang." Jawab Jaya.


"Pagi dek." Jawab Rendy.


"Oh ya, Yah. Keluarga Aberald mengundang kita untuk datang di perayaan Tiga Tahun perusahaan Rangga malam nanti." Ucap Rendy.


"Oh ya ?" Tanya Rani sembari meletakkan segelas susu di depan Rena.


"Ini susunya sayang." Ucapnya mengusap rambut putrinya.


"Makasih Bun." Ucap Rena, yang hanya di jawab anggukan oleh Rani.


"Iya Bun." Jawab Rendy.


"Kenapa acaranya malam ?"Tanya Rani.


"Acara keluarga Bund, lagian ini acara yang di buat langsung oleh Om John. Mungkin untuk hari ini acaranya hanya untuk para karyawan saja dan para pemegang saham yang lainnya.


Rani akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Lalu bagaimana dengan proyek yang kau kerjakan ?" Tanya Jaya mengalihkan topik.


"Sudah hampir selesai Yah." Jawab Rendy mantap.


Jaya hanya mengangguk sembari menikmati sarapan paginya.


••


Malam tiba.


Pukul 09.00.


Acara santapnya baru saja selesai. Namun Rangga tiba-tiba saja berdiri sembari memegang tangan Dara.


"Perhatian semuanya, karna semuanya telah berkumpul di tempat ini, maka aku ingin menggunakan kesempatan malam ini untuk mengumumkan sesuatu.


.


.


Aku dan Dara akan menikah." Ucapnya.


Semuanya sedikit terdiam mendengar ucapan lelaki tersebut. Selain kedua orangtuanya yang sebenarnya masih mengharapkan perjodohannya dengan Rena kembali di lanjutkan, Reno yang sebenarnya masih mencintai Dara juga sama kagetnya.


Rangga menaikkan alisnya melihat ketegangan yang terjadi sebab pengumumannya.


Namun tanpa di duga keluarga Atmajaya lebih dulu memberikan tepuk tangan selamat atas pengumuman tersebut.


"Ekhemm." John berdehem seolah tidak enak hati dengan keluarga Atmajaya.


"Selamat Rangga." Ucap Jaya dan di susul oleh Rendy.


"Selamat Dara." Ucap Rena dengan senyum pada Dara, dan di balas senyuman yang merekah oleh Dara.


"Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat padaku ?" Tanya Rangga menatap Reno yang hanya menikmati wine di tangannya.


"Selamat." Ucapnya datar kemudian berdiri.


"Mau kemana ?" Tanya Rangga.


"Merokok."Jawab Reno dan berbalik pergi menjauh menuju balkon.


"Rangga, mamah ingin bicara sebentar denganmu." Ucap Mariah sembari menarik pelan lengan putranya dan menuju dapur.


.


.


.


"Apa ini Rangga, mengapa kau tidak mengatakannya lebih dulu pada mamah ?"


"Tentang apa ?"


"Kau dan Dara. Mengapa tiba-tiba ingin menikah ?"


"Memangnya mengapa ? apa ada yang salah ?" Tanya Rangga tanpa merasa bersalah.


"Mamah tidak setuju kau menikahi wanita itu." Ucap Mariah dengan tegas.


"Mengapa ?"


"Rangga,,, pikirkan baik-baik. Dia bukan wanita yang tepat untukmu. Kau sendiri tahu kalau dia dibesarkan oleh Gilbert, mamah tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali." Jelas Mariah menolak.


Lagipula mamah masih mengharapkan kalau kau menikah dengan Rena." Ungkapnya.


"Mah...!" Seru Rangga. Ia menghela nafasnya kasar dan kembali memelankan suaranya.


"Mah, cobalah untuk tidak menilai seseorang dari latar belakangnya.Dia mungkin di besarkan oleh Gilbert, tapi belum tentu dia akan sama jahatnya sepertinya.


Lagipula aku dan Rena sudah tidak memiliki hubungan apapun sekarang. Perjodohan itu sudah selesai sejak lama."


Praang.


Keduanya sedikit terkejut mendengar suara tersebut.


Rena yang sebelumnya lebih dulu ke kamar mandi, tidak sengaja mendengarkan percakapan Ibu dan anak tersebut. Ia tidak sengaja menjatuhkan botol parfumnya saat mendengar ucapan Rangga yang terakhir.


Mariah dengan cepat membuka pintu kamar mandi yang berada di depannya.


"Rena.."Ucapnya sedikit terkejut saat melihat Rena yang berusaha mengumpul pecahan kaca parfumnya yang sudah berserakan.


Rena mendongak menatap kedua orang tersebut yang telah menangkap basah dirinya.


"Tante.." Ucap Rena lirih.


Dengan cepat ia kembali mengumpulkan pecahan tersebut. Karna merasa gugup akhirnya pecahan tersebut melukai tangannya.


"Aaaaw.." Ucapnya sembari memegang jarinya yang sudah mengeluarkan darah segar.


"Rena.." Pekik Mariah.


Baru saja dia ingin membantu, tapi Rangga lebih dulu melewatinya dan dengan cepat berjongkok meraih tangan Rena dan menghisapnya.