
Di malam hari, Jaya yang baru saja pulang dari kantornya di sambut dengan kemarahan dari Istrinya.
"Sayang.. " Panggil Jaya dengan suara lelahnya. Kemudian duduk di sofa yang berada di ruang tengah rumahnya.
"Sayang.... " Panggilnya kembali dengan suara sedikit meninggi namun masih terdengar lelah. Ia menyandarkan belakang dan kepalanya di sandaran sofa.
Dirinya menunggu untuk beberapa lama, namun masih saja tak ada jawaban dari seseorang yang di panggilnya beberapa menit yang lalu.
("Apa dia sudah tidur ?") Batinnya
Ia melirik jam tangan yang masih melekat di pergelangannya.
("Baru jam 20.25, tidak seperti biasanya dia tidur cepat.")
Dengan nafas yang berat dan lelah dia beranjak dari duduknya dan meraih jasnya kemudian berjalan menuju kamar utama.
Tok tok tok
"Sayang.. " Ucapnya sembari membuka pintu.
Namun masih saja tak ada balasan yang ia terima, ia merasa dirinya terabaikan apalagi ketika melihat sosok yang dipanggilnya sedari tadi ternyata belum tidur.
Dengan langkah gontai, ia menggantung sendiri jasnya dan meletakkan tasnya di atas meja, sembari menatap wanita cantik yang sedari tadi hanya diam di tempatnya menatap majalah yang disukainya.
"Ekhemm !" Jaya kembali membuat suara dengan dehemannya.
"Ekhemm ekhem !!" Ulangnya dengan sedikit lebih keras.
"Pergilah minum !" Ucap wanita itu dingin, tanpa memalingkan wajahnya dari majalah yang di lihatnya.
Dengan senyum simpul, Jaya perlahan duduk di samping Istrinya.
"Apa yang membuat suasana hatimu dingin seperti ini ?" Tanya Jaya lembut.
.
.
Tak ada jawaban yang ia terima.
"Bund, Ayah lapar." Eluhnya
Namun, kali ini ia bahkan hanya mendapat jawaban yang tidak mengenakkan.
"Kau bahakan telah sarapan pagi dan memakan sesuatu di kantormu, apa kau masih merasa lapar ? jika ia, masaklah sendiri, karna bibi telah beristirahat."
"Apa ini ? apa kau sudah tidak mencintai suamimu lagi ?" Tanyanya mencoba menggoda wanitanya.
"Kau bahkan sudah tidak memperdulikan anakmu lagi, jadi buat apa aku mencintai lelaki sepertimu ?"
"aaaah.. jadi ini masih karna masalah Rena !" Ucapnya lelah.
"Apa dia belum juga keluar dari kamarnya ?" Tanya Jaya yang kini telah menyenderkan kepalanya di sandaran sofa sembari memejamkan matanya.
Lelaki itu terlihat sangat lelah, bukan hanya karna urusan kantor dan bisnis yang ia jalankan, tapi juga lelah memikirkan Putri dan juga Istri yang kini mengabaikannya.
Setelah beberapa lama ia memejamkan matanya, tak terasa dirinya telah tertidur dengan posisi tersebut, hingga ia terbangun karna merasa nyeri di bagian tengkuknya.
Wanita yang tadi di ajaknya berbicara juga tidak lagi berada di tempatnya. Matanya melirik ke arah ranjang besar di kamar itu dan mendapati istrinya telah tertidur lelap.
Perlahan ia bangun dan berjalan pelan mendekati Istrinya yang tidur tanpa memakai selimut.
("Dia benar-benar mengabaikanku hanya karna anaknya !") Batinnya sembari memakaikan selimut untuk Istrinya.
Setelahnya, ia menuju kamar mandi melepas pakaian kerjanya dan membersihkan diri.
Cukup lama ia berdiam diri di kamar mandi dengan air hangat yang terus mengguyuri kepala hingga tubuhnya. Entah apa yang dipikirnya, matanya menatap tajam dinding yang ada di depannya seakan melihat mangsa dan segera ingin menerkamnya.
••
Rena yang masih setia berdiam diri di kamarnya, masih terus di selimuti rasa bingung. Pasalanya ia benar-benar tidak tahu kenapa tiba-tiba saja ia tidak bisa mengingat kekasihnya itu.
Bukan hanya itu saja, Anggi yang sudah lama menjadi sahabatnya, terlihat seakan tak suka jika Rena selalu bertanya tentang Rangga pada dirinya.
("Apa yang sebenarnya terjadi ?") Batinnya menelisik.
("Jujur saja,walau aku tak mengenali pria itu, tapi entah kenapa aku merasa jantungku berdetak tak beraturan saat dia mendekatiku saat itu") Merujuk pada kejadian saat di Rumah Sakit.
("Jika aku ingin mengetahui yang sebenarnya dan membuat ingatanku kembali, aku harus tetap melanjutkan pernikahan ini, bagaimanapun caranya.")
"Haa.. itu benar !" Serontaknya membenarkan apa yang dipikirkannya.
"Kalau begitu aku harus lebih berusa lagi untuk membujuk Ayah !" Ucapnya
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kembali terdengar setelah sekian lama.
"Rena.. buka pintunya sayang !
Lihatlah, Bunda membawakan makanan kesukaanmu, Bunda baru saja memasaknya. Seru Rani mencoba merayu Putrinya.
Apa kau tak lapar ?
Tok tok tok
"Rena, Jika kau tak ingin bertemu dengan Ayahmu, biarkan Bunda masuk untuk melihatmu !" Imbuhnya
.
.
"Rena, maafkan Bunda sayang, Bunda berjanji akan melakukan segalanya untukmu. Tapi Bunda mohon, biarkan Bunda masuk untuk melihatmu. Bunda khawatir kau akan jatuh sakit lagi."
Mendengar perkataan Ibunya, Rena merasa sedikit ibah dan sedih, tapi ia tahu, ia melakukan semua ini demi kebaikan semuanya.
Jika ingatannya kembali, ia akan merasa lega, dan tentu saja hal itu akan membuat kedua orang tuanya juga merasa lega tanpa merasa khawatir lagi tentang dirinya.
Walau kemungkinan besar jika ingtannya kembali akan membuatnya terluka, ia sudah siap menerima segala konsekuensinya.
"Rena..!"
Suara itu terdengar semakin sayu, tak lama kemudian di sambung dengan suara isakan. Tentu saja ia tahu kalau Ibunya sedang menahan tangis.
("Bunda, maafkan aku !")
••
Jaya yang awalnya ingin melangkah menuju ruang kerjanya, terhenti saat melihat Rani dengan tergesa-gesa menyiapkan makanan di wadah dan menaruhnya di atas nampan. Ia mengira jika Istrinya diam-diam memasakkan makanan untuknya.
Dengan senyum yang mengembang ia ingin menyapa Istrinya.
"Sa-ya-." Namun suaranya tertahan saat melihat Rani dengan cepat melesat menaiki anak tangga menuju kamar Putri mereka.
Akhirnya ia sadar, kalau semua itu untuk Putri mereka yang masih setia dengan aksinya mogok makan. Diam-diam ia melangkahkan kakinya mengikuti Istrinya dari belakang. Namun kemudian ia berhenti di seper stengah jalannya, dan dengan seksama mendengar ratapan Istrinya.
Jika kelemahan Rani ada pada Putrinya, maka kelemahan Jaya ada pada Istrinya.
Namun saat ini, ia harus sedikit bertahan dan harus mengorbankan perasaan Istrinya. Ia tidak tahu kalau Putrinya akan tumbuh dengan watak yang keras membatu seperti dirinya.
Dengan wajah yang sedikit tertekuk ia kembali menuruni anak tangga dan melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja pribadinya.