
Rena yang sudah terlanjur malu memilih untuk kembali ke kediaman pribadinya.
"dr.Dewi..." Sapanya pada bawahannya tersebut.
"Ia dokter."
"Bisakah kau disini dulu untuk hari ini ?
Tenang saja, aku akan memberi tip untukmu untuk hari ini." Imbuhnya merasa tidak enak. Pasalnya ini seharusnya menjadi hari libur untuk dr.Dewi dan Mira.
dr.Dewi yang mendengarnya hanya tertawa kecil mendengar penjelasan Rena.
"Baik dokter." Jawabnya dengan senyum yang ramah.
"Aku harus membawa barang-barang belanjaku tadi ke rumah." Jelas Rena dengan wajah memelas.
Walaupun dr.Dewi adalah bawahannya, namun Rena terlihat sangat segan dan begitu menghargainya yang ia tahu pengalamannya lebih banyak dari dirinya.
"Baik dokter, lagi pula mengapa dokter harus sungkan ? dr.Rena kan adalah bos saya. Saya hanya bisa ikut pengaturannya saja." Ucap dr.Dewi dengan tawa kecilnya.
"Baiklah, kalau begitu tolong pantau terus perkembangan kesehatan bayi, dan jangan lupa untuk memberikan obat tepat waktu pada Ibunya." Pesan Rena.
dr.Dewi lagi-lagi hanya mengangguk dengan tersenyum.
"Okay. Kalau begitu aku pergi." Ucap Rena dan pergi dari ruangan tersebut.
Beberapa detik kemudian.
"Permisi.." Ucap Rangga saat melihat pintu ruang yang terbuka.
Mira dan dr.Dewi secara bersamaan menatap kearah sumber suara.
"Ya, ada yang bisa saya bantu ?" Tanya dr.Dewi.
"Apa aku boleh tahu dimana dr.Rena ?"
"Oh, dr.Rena baru saja pergi." Jawab dr.Dewi memberi arah pada telunjuknya.
"Kemana ?"
"Katanya mau mengantar barang-barang kerumah pribadi beliau."
"Owh, okay terima kasih." Ucap Rangga dengan senyum ramahnya kemudian berlalu dari ruangan tersebut dengan berlari.
Mira yang sebenarnya dari kemarin terhipnotis dengan ketampanan Rangga hanya bisa tertegun di tempatnya kala melihat Rangga yang tersenyum seperti tadi pada mereka.
"Manisnya." Celetuknya tanpa sengaja.
"Huuuss.. ingat, suami orang itu." Ucap dr.Dewi mengingatkan. Pasalnya mereka berdua juga belum mengetahui yang sebenarnya, mereka juga beranggapan kalau Rangga adalah suami Dara.
"Tapi dokter, aku masih belum mengerti, mengapa lelaki yang satu terlihat lebih intim pada pasien Dara ?" Tanya Mira. Dia masih bingung saat pertama kali Reno tiba dan tidak sengaja melihat Dara dan Reno berciuman.
"Ssssst.. sejak kapan kamu belajar bergosip ? kalau dr.Rena sampai tahu bisa di pec----"
"Iya, iya, aku salah. Jangan bilang sama dr.Rena ya dokter." Ucap Mira sembari memukul pelan mulutnya dan memohon pada dr.Dewi.
dr.Dewi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan senyum.
Sedangkan disisi lain. Rangga yang melihat mobil Rena baru saja meninggalkan area parkiran dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti kemana arah perginya mobil tersebut.
Hingga beberapa menit kemudian ia melihat Rena memasuki kawasan perumahan yang semuanya terlihat sederhana dan berhenti di salah satu rumah yang besarnya hanya sekitar 6×10 cm (centi meter)
Rangga menghentikan mobilnya dan sengaja memarkirkan mobilnya sedikit jauh agar tidak ketahuan oleh Rena.
("Tidak disangka, seorang putri tunggal Atmajaya bisa tinggal di rumah sekecil ini ?") Batinnya memperhatikan Rena dari kejauhan.
Rena yang sedari tadi merasa ada yang mengikuti terlihat menatap ke sekelilingnya, membuat Rangga segera menunduk bersembunyi.
Dari kejauhan Rena bisa mengenali kalau mobil yang saat ini terparkir jauh dari rumahnya itu adalah milik Rangga. Tanpa menunggu lama ia segera berjalan dan menghampiri mobil tersebut.
Rangga yang melihatnya mendekat, semakin menundukkan tubuhnya.
("Gawat, apa aku ketahuan ?") Batinnya. Terlihat beberapa butir keringat di wajahnya keluar begitu saja, padahal dirinya sudah menyalakan pendingin yang ada di dalam mobil.
Tok.tok.tok.
"Rangga, aku tahu itu kamu. Ayo keluar."Ucap Rena sembari bersedekap.
Rangga menurunkan kaca mobilnya dengan wajah gerogi karna ketahuan.
"Apa yang kau lakukan disini ?" Tanya Rena.
"Emm-ituuu-akuuuu." Rangga tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Rena terlihat menghela nafasnya pelan.
"Apa kau ingin mampir ?" Tanya Rena berbasa-basi.
"Sebenarnya aku hanya ingin melihat-lihat, tapi kalau kau memaksa, baiklah, aku akan mampir." Ucapnya, kemudian dengan cepat turun dari mobil.
"Cih, sejak kapan aku memaksanya ?" Umpat Rena lirih, kemudian berjalan kembali kerumahnya dan diikuti oleh Rangga dari belakang.
"Apa kau tinggal disini ?" Tanya Rangga memecah keheningan.
"Yap." Jawab Rena singkat.
"Aku masih tidak menyangka, seorang putri tunggal pewaris Royal AT---" Rangga tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat Rena membungkam mulutnya dengan cepat mengikis jarak di antara mereka.
"Ssssst.. jangan keras-keras bicaranya, nanti kalau ada yang mendengar bagaimana ?!" Ucap Rena sedikit berbisik sembari melihat lingkungan sekitarnya.
Rangga tidak bisa mengedipkan matanya kala tubuh mereka saling bersentuhan.
("Sudah sangat lama, tapi aroma tubuhnya masih tetap sama, bahkan aroma rambutnya pun tidak pernah berubah.") Batin Rangga menikmati aroma wangi dari tubuh Rena yang menyeruak akibat hembusan angin yang menerpa.
Rena yang memperhatikan mimik wajah Rangga, memicingkan matanya.
Tap.
"Aaaww..." Pekik Rangga memegangi lututnya yang terasa sangat sakit, akibat tendangan Rena yang secara tiba-tiba.
"Dasar mesum." Umpat Rena pelan, kemudian berbalik berjalan mendekati bagasi mobilnya yang sudah terbuka.
Mendengar kata mesum, membuat raut wajah Rangga tiba-tiba berubah.Ia yang tadinya merasa kesakitan kini berubah menjadi kebahagiaan.
"Dasar, sifatnya masih saja tidak berubah." Umpat Rena dengan suara lirih, sembari mengangkat beberapa kantong belanjaannya.
Namun tiba-tiba Rangga meraihnya dari samping.
"Sini, biar aku saja." Ucapnya sembari mengangkat katong belanjaan tersebut dan berjalan mendahului Rena.
"Ayo cepat." Imbuhnya saat melihat Rena yang masih berdiri tertegun di tempatnya.
"Eh, iya." Jawab Rena dan menutup bagasi mobilnya, kemudian dengan cepat mengeluarkan kunci rumahnya.
.
.
.
Saat pertama masuk, Rangga hanya bisa tertegun saat melihat isi rumah Rena yang sederhana namun terlihat lengkap dengan beberapa fasilitas mahal.
"Silahkan duduk." Ucap Rena mempersilahkan.
Kau mau minum apa ?" Tanyanya kemudian.
"Air putih saja." Jawab Rangga dengan matanya yang masih berkeliaran menatap satu persatu isi rumah tersebut.
Rena yang melihatnya hanya bisa tersenyum, dia tahu benar apa yang ada dipikiran Rangga saat ini.
.
.
.
.
"Apa kau hanya tinggal sendiri ?"Tanya Rangga.
"Emm." Jawab Rena sembari meletakkan segelas air di atas meja.
"Apa kau tidak takut ? bagaimana kalau ada pencuri ?" Cecar Rangga saat melihat kunci rumah Rena yang biasa.
"Kau tenang saja, lingkungan disini aman dari pencuri." Jelas Rena.
"Aku masih tidak habis pikir denganmu, kau bisa saja meminta pada Ayahmu untuk membelikanmu sebuah rumah yang lebih besar dan layak untukmu, atau tidak sebuah apartemen. Mengapa kau malah memilih tinggal di rumah kecil seperti ini ?" Tanya Rangga masih tidak mengerti.
Sedangkan Rena hanya tersenyum santai mendengar pertanyaan Rangga.
"Jawabannya hanya satu, aku nyaman dirumah ini. Lagi pula buat apa aku tinggal di rumah besar ? toh aku hanya hidup sendiri." Jelas Rena.
"Lalu, mengapa tadi di depan kau seperti orang yang ketakutan saat aku mengatakan--"
"Tidak ada yang tahu dengan status keluargaku disini." Sela Rena. Selama berada dikota ini dia memang tidak pernah memakai nama Ayahnya di belakang namanya.
"Mengapa ?" Tanya Rangga bingung.
"Aku hanya ingin hidup tenang Rangga, jauh dari sorotan media. Tanpa aku jelaskan kau pasti paham apa maksudku." Jelas Rena.
Pada akhirnya Rangga hanya mengangguk mengerti.