
Reno terdiam cukup lama menatap Dara yang ketakutan.
"Apa kau tetap tidak ingin memberitahuku di mana keberadaannya ?" Tanya Rendy dengan nada dingin.
"Sepertinya anda telah salah menyandera orang." Ucap Reno terlihat santai.
Dara mengerutkan alisnya saat mendengar ucapan Reno, ia tidak menyangka kalau dirinya benar-benar tidak berguna di mata Reno.
("Dasar bos berengsek ! lalu mengapa dia memintaku untuk memanggilnya kakak jika dia tidak peduli ?!") Batinnya mengumpat.
Rendy menoleh menatap Dara dalam diam. Dia sangat yakin kalau wanita yang saat ini di sanderanya adalah orang yang terpenting bagi Reno dan Rangga.
("Apa mereka salah memberi informasi ?") Batinnya ragu.
Melihat ekspresi Rendy, Reno tersenyum simpul.
"Aku tidak peduli, jika kau ingin menyakitinya sekalipun." Imbuh Reno menegaskan.
("Apa ? sial !!") Batin Dara.
Rendy kemudian menoleh, beralih menatap Reno.
"Benarkah ?" Ucapnya mengeluarkan pistol dari saku jasnya.
"Kebetulan aku hanya memiliki dua peluru saat ini." Imbuhnya sembari memasukkan satu per satu peluru tersebut di pistolnya.
Dan tersenyum mengerikan.
Membuat Reno dan Dara meneguk salifa secara bersamaan.
"Apa aku harus menembak kepalanya lebih dulu ? atau.."
Dor.. ! ( Suara tembakan )
Deziing.. ! ( Suara peluru )
Prang.. ! ( suara pecahan kaca )
Beruntung peluru itu hanya mengikis rambut Dara dan berakhir mengenai kaca yang ada di belakangnya.
Membuat semuanya terkejut. Sedangkan Dara, matanya membola saat peluru itu benar-benar melesat mengenai rambutnya.
Sisa ada satu peluru lagi, bagaimana jika Rendy benar-benar menembak kepala Dara ?
Reno terdiam saat menatap Dara yang terlihat syok. Dan kemudian menatap Rendy yang tengah duduk menyeringai mempermainkan pistolnya.
"Wah, sepertinya aku harus lebih banyak lagi cara belajar menembak.
Apa aku harus mengulanginya ?" Tanyanya menatap Reno yang saat ini telah menegang.
Cukup lama Rendy menunggu, namun masih belum ada jawaban.
"Baiklah, mari kita akhiri saja !" Ucapnya kesal dan bersiap mengangkat pistolnya.
Mata Reno memincing. Sedangkan Dara, dia benar-benar merasa takut dan memejamkan matanya.
Saat hendak menarik pelatuk.
Reno mencoba untuk mengatakan sesuatu, bersamaan dengan suara ponsel berdering.
Rendy menatap Reno sembari merogoh sakunya mengambil ponsel.
Alisnya sedikit berkerut.
("Nomor baru")
"Halo !"
"Kak... hiks,"
Saat mendengar suara yang ada di balik ponsel, ia sangat tahu bahwa itu adalah suara adiknya.
"Rena.. ! apa yang terjadi ?" Serunya dengan cemas.
"Kak.. aku, hiks."
"Katakan padaku, dimana posisimu saat ini." Titah Rendy.
Setelah mengetahui posisi Rena, ia segera mematikan ponselnya dan beranjak dari kursinya.
Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, ia menatap Reno yang saat ini tengah menatapnya.
"Jika terjadi sesuatu dengan adikku, maka kau akan tahu akibatnya !!" Ucapnya kemudian berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut di ikuti dengan bodyguard dan beberapa bawahannya dari belakang. Menyisakan Dara dan Reno di dalam ruangan tersebut.
Dara terduduk lemas, dengan kedua tangannya yang masih terikat.
Reno yang melihat Dara, dengan cepat berjalan mendekatinya dan segera membantu melepaskan tali ikatannya.
Setelah selesai, ia menatap Dara yang menangis dalam diam. Sepertinya dia benar-benar syok atas kejadian tadi. Membuat Reno merasa bersalah.
Ia mencoba untuk menyeka air mata Dara yang terus mengalir. Namun saat ia hendak menyekanya, Dara menepisnya dan berusaha untuk berdiri sendiri.
Sayangnya ia tidak lagi berdaya, dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Reno dengan cepat menangkapnya dan menelfon ambulans.
Sebenarnya, ia sangat ingin membantu Dara, tapi saat ini mereka sedang berada di kantor, dia tidak ingin karyawan lainnya menilai dirinya memiliki hubungan yang spesial dengan sekertarisnya sendiri.
Dan yang lebih penting, ia harus mencari keberadaan Rangga saat ini, sebelum Rendy menemukannya lebih dulu.
Beruntung Ia sudah memasang alat pelacak di ponsel Rangga, sehingga ia dengan mudah menemukan keberadaannya saat ini.
•••
Halte Bus.
Dengan hanya memakai kaos putih berukuran besar dan rambut yang terurai, Rena duduk dengan wajah yang tertunduk sedih.
Beberapa orang menatapnya aneh, bahkan menganggapnya orang gila. Tidak ada yang tahu kalau dia sebenarnya adalah dr. Raehana yang pernah mendapatkan gelar sebagai dokter terbaik dan tercantik di kota ini.
Hingga sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan mereka.
Rendy segera turun dari mobil dengan memakai masker dan juga topi, dia takut orang-orang akan mengenalinya dan mengetahui bahwa wanita menyedihkan yang duduk di antara mereka adalah adiknya.
Ia menatap kaki Rena yang sudah memerah dengan luka-luka kecil karena tidak memakai alas kaki.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, ia dengan cepat berjalan menghampiri, kemudian menutupi wajah adiknya dengan jas yang di bawanya dan mengangkatnya masuk ke dalam mobil dengan bantuan bawahannya.
Semua orang hanya bisa terpaku melihat kejadian tersebut, mereka tidak menyangka wanita yang di sangka orang gila sedari tadi sebenarnya adalah orang yang sangat kaya.
Mereka terus terpaku menatap mobil-mobil hitam tersebut, hingga menghilang dari pandangan mereka.
Rendy memeluk adiknya dengan lembut, membiarkan Rena melepaskan semua kesedihannya yang di telah dibendungnya sedari tadi.
Untuk kedua kalinya ia melihat adiknya menangis seperti itu, setelah sekian lama. Dan penyebabnya adalah orang yang sama.
Ia mengepalkan tangannya dengan erat, matanya memincing bak mata elang yang siap menerkam.
•••
Ruang VVIP.
Terlihat dua bodyguard berdiri di depan pintu ruangan tersebut.
Dengan langkah yang cepat dan wajah yang di penuhi rasa cemas. Arka berjalan menuju ruangan dimana Rena dirawat saat ini.
Dia sendiri mendapat kabar dari dokter yang memeriksa langsung keadaan Rena. Namun saat ia tiba, Dia bukan hanya tidak di bolehkan masuk, dia juga di larang untuk berada di sekitar ruangan tersebut.
"Aku adalah tunangannya !" Serunya pada kedua bodyguard yang mencoba membawanya pergi.
"Rendy ! Rendy !" Teriaknya kesal.
Ceklek. ( Suara pintu terbuka )
Membuat para bodyguard berhenti dan memberi hormat pada atasannya.
Melihat Rendy, Arka segera berlari mendekatinya.
"Ren, bagaimana keadaan Rena ? biarkan aku masuk !" Ucapnya ingin melesat.
Namun Rendy dengan cepat menahannya.
"Sebaiknya kau pergi saja." Ucapnya dengan datar.
"Tapi kenapa ? aku sangat mencemaskannya."
Tolong biarkan aku melihatnya !" Imbuhnya kembali mencoba untuk menerobos masuk, namun Rendy menahannya dan mendorongnya sangat keras.
"Ren ! apa yang kau lakukan ?!" Tanyanya kesal.
Rendy berjalan.
satu langkah.
dua langkah.
Plaaaaak..
Sebuah tamparan mendarat dengan keras di wajah Arka.
"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk menjaganya ?!!" Bentak Rendy.
"Ren, maafkan aku. Aku memang salah. Aku minta maaf." Ucap Arka yang kini mengerti.
Tapi aku mohon, izinkan aku melihatnya sekali saja !" Pinta Arka memohon.
Rendy tersenyum menyeringai.
"Sepertinya kau terlalu menyepelekanku !!" Ucapnya.
Saat Rendy bersiap ingin memukul Arka, tiba-tiba suara pintu kembali terbuka.
"Kakak !" Ucap Rena yang saat ini berdiri memegang cairan infusnya dengan memakai pakaian rumah sakit.
Membuat Rendy membatalkan niatnya dan menoleh menatap adiknya.
"Aku menyuruhmu untuk beristirahat, mengapa kau bangun ?!" Ucapnya pelan mendekati adiknya.
Saat Rendy hendak ingin kembali membawanya masuk. Rena menahannya dan memegang tangan kakaknya.
"Jangan sakiti Arka, ini sama sekali bukan kesalahannya !" Pinta Rena.
"Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa ini bukan kesalahannya ? dia telah berjanji untuk menjagamu, tapi apa yang terjadi ? dia bahkan tidak bisa melindungimu !" Bentak Rendy.
"Kaaaak.. semuanya terjadi sangat tiba-tiba." Jelas Rena.
"Tidak perlu membelanya !" Elak Rendy.
Rena yang tidak bisa lagi membujuk kakaknya hanya bisa diam tak bersuara.
Tiba-tiba Rena merasa sedikit pusing dan hampir saja akan terjatuh,beruntung Rendy segera menangkapnya dan mengangkatnya, membawanya kembali berbaring di ranjang Rumah Sakit.
Sedangkan Arka, ia di tahan oleh kedua bodyguard yang berjaga dan tidak membiarkannya masuk kedalam ruangan tersebut.
•••
Reno akhirnya berhasil menemukan mobil Rangga.
"Dimana dia ?!" Lirihnya saat melihat mobil tersebut kosong.
Ia mencoba menelfon, namun ponsel Rangga tertinggal di dalam mobil.
"Sial !" Umpat Reno saat mendengar suara ponsel berdering di dalam mobil.
"Kemana perginya ?"
Ia akhirnya memutuskan untuk menyusuri pinggir pantai mencari keberadaan Rangga.
"Ranggaaa.. Ranggaa.. "
Setelah mencari ke sana kemari ia merasa capek dan putus asa, hingga ia tidak sengaja tersandung oleh sepasang sepatu yang telah basah karna hempasan air laut.
Ia menatap sepatu itu secara seksama, dan akhirnya mengingat sesuatu. Itu adalah sepatu yang pernah ia perebutkan dengan Rangga saat membelinya di salah satu toko sepatu bermerk.
Matanya kemudian menatap ke arah laut, dan seketika membola.
Ia melihat Rangga yang sedang berjalan ke tengah laut dengan air yang hampir akan menenggelamkan kepalanya.
Tanpa berpikir panjang, Reno segera melepaskan sepatunya dan melemparnya ke sembarang arah, begitu juga dengan jas dan ponselnya.
"Rangga.... !!" Teriaknya dan segera menyusul.
Beruntung ia sedikit ahli dalam berenang. Dan dengan cepat menyusul Rangga dan menariknya kembali ke daratan.
Rangga yang telah dipenuhi rasa bersalah karna telah memperlakukan Rena seperti itu, mencoba melawan Reno dan tetap ingin mengakhiri hidupnya.
Sedangkan Reno, dia tidak ingin membiarkan sahabatnya melakukan hal yang sia-sia, membuat mereka akhirnya berkelahi di dalam air.
"Jangan hentikan aku !" Seru Rangga.
"Apa kau bodoh ? ayo kembali !"
"Tidak ! biarkan aku mati !!
Pergilah !!" Ucap Rangga mendorong Reno menjauh.
Namun, Reno tidak ingin menyerah, ia segera menyusul dan kembali menghentikan Rangga.
"Kalau kau ingin mati, maka baiklah, mari kita mati bersama !!" Ucap Reno menegaskan dan berenang melewati Rangga.
"Apa kau gila ?!!" Bentak Rangga mencoba menghentikan Reno.
"Bukankah kau ingin mati ? lalu untuk apa aku hidup ? cepat atau lambat aku juga akan segera mati karna semua masalah yang kau ciptakan !"