Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 109



•••


"Apa yang kau lakukan di sini ?!" Tanya Rena kesal.


"Kau ! apa yang kau lakukan di sini ?" Bentak kembali Rangga dengan nada sedikit tersendat.


Dan, mengapa, rambutmu basah ?!" Imbuhnya.


Rena cepat tanggap. Melihat ekspresi yang ada di wajah Rangga saja, ia sudah mengerti akan alur pertanyaan Rangga dan menebak kalau bunyi alrm kebakaran adalah ulah dari perbuatannya.


Tiba-tiba seseorang muncul dengan hanya memakai balutan handuk menutupi bagian bawahnya, sedangkan di bagian atas memperlihatkan otot perutnya yang sixpack.


"Siapa ?" Tanya Arka mendekat.


Rangga memutar bola matanya dan melihat ke arah Arka. Dengan tampilan yang seperti itu, sebagai sesama lelaki, ia sebenarnya merasa cemburu karna memiliki tubuh sedikit kecil dan tentu saja tidak sesempurna milik Arka.


Walaupun demikian, ia masih memiliki tubuh yang cukup tinggi seperti seorang model yang bisa ia banggakan dengan wajah yang tampan.


Namun pikirannya segera teralihkan, ia menatap kedua orang yang berdiri di depannya dengan tampilan yang sama.


("Apa mereka baru saja ----") Batinnya


Ia membulatkan matanya. Darahnya seakan mendidih membayangkan apa yang ia duga sepertinya benar terjadi.


"Apa kalian telah melakuka--"


"Hei, apa maksudmu ?!"


Ap-apa kau pikir aku seliar itu ?!" Bentak Rena gugup.


"Lalu, mengapa kalian memakai handuk ? dan, rambut kalian, mengapa rambut kalian basah ?" Ucap Rangga terbata.


Aaaarrrgh... " Erangnya dan mendesis kesal. Ia kemudian memegang kedua pundak Rena.


"Katakan padaku, kau tidak mungkin melakukan hal itu dengannya bukan ?" Tanyanya berharap semuanya tidak pernah terjadi


"Tidak, sebaiknya kau ikut denganku !" Imbuhnya dan menarik pergelangan tangan Rena ingin membawanya pergi.


Namun, Arka segera menyekalnya dengan menarik sisi lengan Rena yang lainnya.


Rena menatap tangan Arka cukup lama, kemudian menatap tangan Rangga. Dan akhirnya menghempaskan tangan Rangga dan menyela lalu sedikit mundur ke belakang, membuat Rangga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Memangnya kau siapa ? mengapa aku harus mengatakannya padamu dengan apa yang kami lakukan ? apa hakmu ?!" Tanya Rena.


Rangga terdiam.


Kemudian tersenyum hambar.


"Ren, sadarlah, dia orang yang sangat berbahaya. Kau tidak boleh percaya dengannya begitu saja."


"Mengapa ? mengapa aku tidak boleh percaya dengannya ?! memangnya apa yang telah dia lakukan sehingga kau menuduhnya sebagai penjahat ?! " Tanya Rena terlihat marah dengan perkataan Rangga.


"Ren, dia bukan pria yang baik untukmu ! kau hanya tidak tahu, dia seorang psiko !"


Plaaaak..


Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di wajah Rangga.


"Berhenti menuduhnya yang bukan-bukan, kau tidak berhak mencelanya seperti itu !!" Bentak Rena.


Menurutmu dia mungkin bukan pria yang baik, tapi menurutku dia adalah pria terbaik.


Lagi pula, bukankah kau sudah memiliki seorang wanita ? lalu untuk apa kau kesini dan mengurus kehidupanku ?


Tidak bisakah kau berhenti mengusik kehidupanku huh !!" Bentak Rena dengan suara bergetar sedikit memohon.


"Ren, aku tidak bermaksud untuk ikut campur, dan aku tidak masalah jika kau bersama pria lain." Ucap Rangga dengan suara merendah.


Asal bukan dirinya !!" Imbuhnya menunjuk ke arah Arka.


Arka hanya bisa diam dan memicingkan matanya menatap ke arah Rangga.


"Aku tidak akan pernah setuju jika kau bersama dirinya." Ucap Rangga lebih lanjut.


"Stop !!" Pekik Rena.


"Memangnya kau siapa ? mengapa kau harus setuju ? mengapa jika aku berkencan dengannya ?"


Aku membenci dirimu !! sebaiknya kau pergi."


"Ren... ?!" Ucap Rangga sayu mencoba memberi pengertian.


"Pergi... !!!" Bentak Rena dengan memberi isyarat dengan telunjuknya.


Melihat Rangga yang tidak bergeming.


Rena melesat masuk kembali ke dalam kamar mandi, menyisakan Arka dan Rangga yang kini saling beradu pandangan.


Arka kemudian mengeluarkan senyum yang terlihat sedikit mengerikan seakan meledek keadaan Rangga saat ini.


"Apa kau belum puas melihatnya sedih seperti itu ?!!


Sebaiknya kau pergi saja." Ucapnya, kemudian menutup pintu.


Namun ia terhenti, dan membukanya kembali.


"Berhentilah menjadi penganggu.


Apa kau tahu ? Kami hampir saja akan melakukan." Sejenak dia terhenti lalu tersenyum


Aaaah.. seharusnya aku tidak perlu memberitahumu."


"Kau pasti tahu apa yang akan di lakukan orang dewasa ketika sedang berdua." Ucap Arka, yang sepertinya sengaja membuat darah di kepala Rangga mendidih.


Mendengarnya saja sudah bisa membuatnya berkhayal. Dan hal itu membuatnya semakin menggila, hingga sangat ingin rasanya ia memberi pelajaran pada pria brengsek yang telah merusak kehidupannya selama ini.


Namun dia masih menahan diri dan hanya mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat.


Arka yang melihat ekspresi Rangga yang seperti itu, tersenyum puas dan menutup pintu dengan pelan.


Saat pintu tertutup. Dengan kesal Rangga menendang pintu tersebut dengan semua kemarahan yang ia miliki.


Flashback Off.


RS ANUTAPURA.


Rangga terlihat sedang mencari keberadaan Rena. Namun informasi yang ia dapatkan, Rena telah pulang bersama Arka.


Ia menghela nafasnya kasar, dan merasa gusar. Bahkan dia sangat ingin memarahi Ibunya karna telah menyindir Rena seperti itu.


Namun ia mengurungkan niatnya, dan berakhir mengantar Dara kembali ke rumahnya.


Saat malam harinya. Ia kembali ke apartemen dimana ia telah menyewanya.


Beruntung, alat penyadap yang ia sempat pasang belum di ketahui oleh Arka, sehingga ia bisa mendengar setiap obrolan dan bahkan pergerakan yang Arka lakukan di apartemennya bersama Rena.


Setelah terjaga cukup lama, ia tidak mendengar obrolan apa pun ataupun pergerakan yang mencurigakan. Sehingga ia merasa lega dan akhirnya melepas earphonenya dan tertidur.


Pukul 06.20.


Ia terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya.


Setelah melakukan aktivitas di kamar mandi, ia segera keluar untuk membeli beberapa makanan mengisi perutnya yang sedari malam tidak di isinya.


Pada saat ia kembali, tanpa sengaja ia melihat Arka berdiri di teras pintu utama gedung apartemen tersebut dan berbincang dengan seorang yang sepertinya karyawan dari jasa pencucian (Loudry).


Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya orang itu pergi menyisakan Arka sendiri, pada saat itulah ia melihat Arka mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.


Arka terlihat menatap botol kecil di tangannya cukup lama, dan akhirnya berjalan mendekati tempat sampah dan membuangnya. Ia kemudian berjalan kembali masuk ke dalam gedung.


Sedangkan Rangga, jiwa detektifnya yang tiba-tiba meronta seakan mencium aroma sesuatu yang tidak beres, segera berlari menuju tempat sampah dan mengobarak-abrik seluruh isinya.


Hingga salah satu scurity yang berjaga tidak jauh dari tempat tersebut melihatnya.


Ia segera berjalan menghampiri Rangga dan menghentikan aksinya.


Priiiiiit.. (Suara peluit)


Namun Rangga tidak memperdulikannya, bola matanya terus mencari benda yang tadi di lihatnya.


"Aaaach sial. Dimana dia membuangnya ?" Umpatnya pelan.


"Hei, apa yang kau lakukan !!" Bentak petugas tersebut.


Ia memegang punggung Rangga mencoba untuk menghentikannya, namun Rangga mengabaikan dan mengelak.


Priiiiiiit...


Petugas itu kembali meniup peluitnya, namun kali ini ia meniupnya dekat di telinga Rangga, sehingga Rangga dengan spontan menutup lubang telinganya.


"Aaaarrrgh...!" Erangnya kesal disusul dengan desisan kecil dan berbalik, menatap sang pelaku.


"Apa yang kau lakukan dengan sampah-sampah itu huh ?!" Bentak sang petugas.


Rangga tidak mempedulikan, ia memang kesal, tapi ia lebih terfokus dengan botol kecil yang di carinya.


"Apa kau seorang tunawisma ?!" Tanya petugas itu yang mulai terlihat kesal karna di abaikan.


Rangga tidak menjawab. Hingga bola matanya membulat seakan telah menemukan harta Karun yang berharga.


Ia meraihnya, dan membaca tulisan yang ada di botol tersebut.


Seketika raut wajahnya berubah dan terlihat kesal.


"Sial, apa yang coba ia lakukan ?!!" Umpatnya pelan.


"Maaf, apa anda seorang tunawisma ?!" Tanya petugas itu sekali lagi.


Rangga berbalik dan menatap sang petugas.


"Aku bukan seorang tunawisma. Aku salah satu penyewa di gedung ini !!" Bentaknya kesal dengan tegas, sembari mengeluarkan kartu kamarnya dari saku celananya dan memperlihatkannya kepada sang petugas.


Petugas tersebut melihatnya secara seksama, dan kemudian menatap wajah Rangga.


Wajah yang tampan, serta kulit yang bersih. Sudah bisa di pastikan, dia memang bukan seorang tunawisma.


"Seharusnya kau mengatakannya sedari tadi." Ucap sang petugas dengan pelan dan membalikkan tubuhnya karna merasa salah tingkah.


Lagi pula, apa yang kau lakukan dengan sampah-sampah itu, ketika kau mampu membayar sewa di gedung ini." Umpat petugas itu lirih kemudian kembali berbalik.


Namun ia tidak mendapati keberadaan Rangga.


Ia mendesis pelan, dan menatap punggung Rangga dari kejauhan memasuki gedung tersebut.


"Pemuda sekarang benar-benar telah kehilangan sopan-santunnya, mereka bahakan tidak menghargai petugas tua sepertiku." Ucapnya sembari memperbaiki kartu pengenalnya.


"Beruntung dia memiliki wajah yang menyegarkan !." Imbuhnya dan berjalan kembali ke pos penjaga.


Flashback off.