Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
•••



Dari kejauhan Arka melihat Rena tengah berjalan ke arahnya.


Melihat tatapan itu membuat Moura memiringkan kepalanya memperhatikan ekspresi wajah Arka kemudian menatap wanita yang kini berjalan mendekat ke arah mereka.


"Apa dia istri paman ?" Tanya Moura dengan serius.


Arka tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan gadis kecil itu.


"Ya, kelak dia akan menjadi istriku." Ucapnya dengan senyum tipis yang sangat menawan.


"Apa itu berarti dia belum menjadi istri paman ?"


Arka menganggukkan kepalanya pelan.


"Emmm !"


Dia sangat cantik bukan ?!" Tanya Arka pada Moura sedikit berbisik.


"Emm ! dia memang cantik !" Jawab Moura menatap Rena yang semakin mendekat ke arah mereka.


"Kalau aku besar nanati, aku juga ingin cantik seperti dia !" Celetuknya.


"Hehee tentu saja, mungkin kau akan jauh lebih cantik dari dia." Ucap Arka mencubit pelan pipi Moura.


Sontak mata Moura berbinar mendengar pujian dari Arka.


"Benarkah ?!"


Arka menganggukkan kepalanya dengan senyum.


"Aku telah mencarimu kemana-mana dan ternyata kau disini ?!" Ucap Rena yang kini sudah berdiri di hadapan mereka.


"Ada apa ?! apa kau merindukanku ?!" Tanya Arka menatap jahil gadisnya.


"Kau terlalu percaya diri !" Umpat Rena menutupi rasa malunya.


Ia kemudian memiringkan kepalanya menatap gadis kecil yang pernah dilihatnya tempo hari.


"Hai ?" Sapa Rena dengan senyum manisnya.


"Hai !" Jawab Moura.


"Boleh aku ikut bergabung ?" Tanya Rena pada Moura.


Moura menganggukkan kepalanya mengiyakan.


"Anak yang manis." Ucap Rena mencubit pelan pipi Moura.


"Oh ya kenalkan, namaku Rena. Nama kamu siapa ?" Tanya Rena mengulurkan tangannya.


"Moura." Jawab Moura.


Tiba-tiba saja Moura menggenggam erat tangan Arka.


"Paman dokter, bisakah paman membawaku kembali pada Oma ?" Pinta Moura.


Arka menatap Rena dengan pandangan sedikit sedih. Namun Rena hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Tidak ada yang bisa ia lakukan, Arka hanya bisa mengelus pelan puncuk kepala Rena


"Aku akan segera kembali !."Ucapnya. Kemudian membawa Moura kembali ke ruangan dimana Rangga di rawat.


.


.


.


"Moura.." Seru Mariah ketika melihat Moura berjalan ke arahnya.


Kau dari mana saja ?!" Tanyanya yang kini sudah mendekap cucunya.


Apa kau tidak tahu kalau Oma sangat khawatir denganmu ? bagaimana jika kau hilang ?!" Cecar Mariah.


"Maaf Oma..!" Ucap Moura dengan nada bersalah.


Mariah kini menatap Arka yang berdiri di belakang Moura.


"Dokter !"


"Sebaiknya Ibu lebih memperhatikannya." Ucap Arka terlihat tegas.


Mariah menganggukkan kepalanya.


"Maafkan aku karna sudah sering merepotkanmu." Ucapnya.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Ucap Arka membungkukkan sedikit badannya. Kemudian berbalik dan melangkah dengan sangat cepat. Ia tidak ingin Rena menunggunya terlalu lama.


Nnmun sebelum ia kembali, ia terlebih dahulu pergi ke suatu tempat.


.


.


.


Rena yang sedang asik memandangi pemandangan yang asri sedikit terkejut ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya. Ia refleks berbalik dan melihat sang pelaku.


Ia tersenyum.


"Apa kau pergi terlalu lama hanya untuk membeli ini ?" Tanya Rena yang kini mengambil es criem dari tangan Arka.


"Apa aku begitu lama ?" Tanya Arka yang kemudian duduk di samping Rena.


"Em hem..!" Ucap Rena sembari membuka bungkusan es cream di tangannya.


"Maafkan aku !" Ucap Arka mengusap pelan pucuk kepala Rena.


"Sebenarnya siapa anak tadi ? mengapa dia sangat sering bersamamu ?" Tanya Rena.


"Dia anakku !" Ucap Arka.


"Hah ?"


Rena menatap Arka dengan curiga. Membuat sang empu tertawa.


"Pppft.. apa kau percaya ?!"


Kini pandangan Rena berubah sedikit kesal. Ia terus menatap Arka yang menertawainya sembari memakan es yang mulai meleleh.


"Apa itu sangat lucu ?" Ucapnya kesal.


Arka hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Rena menatapnya. Ia perlahan mendekatkan wajahnya.


"Kau sangat lucu !" Ucap Arka melap sisa es yang menempel dibibir Rena dengan jempolnya. Lalu mengisapnya.


Mata Rena sedikit berkedip melihat aksi Arka seperti itu. Menurutnya itu sedikit jorok.


"Bukankah itu sedikit--"


"Bagaiman jika seperti ini ?!" Sela Arka yang mengetahui apa yang sekarang ada di fikiran Rena.


Ia menyentuhkan kembali es di bibir Rena lalu membiarkan mulutnya membersihkannya. Rena yang mendapatkan sensasi itu menatap mata Arka yang lembut penuh karisma, ia kemudian memjamkan matanya dan menikmati setiap kecupan yang Arka daratkan di bibirnya.


Namun mereka lagi-lagi tidak menyadari kalau seseorang sekali lagi telah mengambil gambar mereka.


Setelah merasa cukup puas, Arka menarik bibirnya dan menatap Rena dengan sayu.


"Bagaimana ? apa kau masih merasa itu menjijikkan ?!"


Mata Rena sedikit membola.


"Bagaimana kau tahu aku--"


Arka tersenyum, membuat Rena tidak bisa melanjutkan lagi kalimatnya.


Ia menghela nafasnya pasrah.


"Hemmm.. sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu !" Ucapnya dengan senyum.


Arka tertawa kecil.


"Bukankah sudah pernah ku katakan, jika kau berani membohongiku, maka kau harus membayar konsekuensinya."


"Baiklah.. aku menyerah ! sepertinya kau selalu mendapatkan keuntungan dariku."


Arka tersenyum.


"Tapi bukankah kau juga menyukainya ?!" Tanya Arka kembali jahil.


Membuat Rena benar-benar malu dibuatnya.


"Hei.. lihatlah, pipimu memerah lagi..!" Ucap Arka mengejek.


Rena yang kesal dan tidak bisa menahan dirinya segera beranjak dan pergi meninggalkan Arka yang terus menertawainya.


"Kemana kau ingin pergi !" Seru Arka.


"Aku akan kembali memeriksa pasien !" Ucap Rena melambaikan tangannya tanpa berbalik.


•••


Di sebuah gedung tua, terlihat dua orang pria sedang melakukan pertukaran tranksaksi.


"Apa kau yakin telah menyelesaikan tugasmu ?" Tanya salah satu pria tua yang berpakaian rapi. duduk di dalam mobil mewahnya, memberikan arahan pada bawahannya yang kini sedang melakukan pertukaran.


Sepertinya dia adalah salah satu orang yang berpengaruh di kota itu.


"Kau bisa melihatnya !" Jawab lelaki yang selama ini diam-diam mengambil gambar Rena dan Arka di setiap kesempatan.


Pria yang menjadi pengawal itu mengambil camera tersebut dan melihatnya kemudian memberikannya pada Tuannya.


"Ini Tuan !" Sembari menyodorkan camera yang ada di tangannya.


Lelaki tua itu menyipitkan matanya, bibirnya bergerak dan melengkung ke atas menyeringai.


Sepertinya ia sangat puas dengan hasil fotografer abal-abal itu.


"Berikan dia bayarannya !" Titah lelaki tua itu.


Pengawalnya memberikan segepok uang yang di aimpan dalam sebuah amplop coklat.


Sang fotografer itu terlihat membuka amplop dan menghitung isinya, ia menyeringai.


"Terima Kasih." Ucapnya.


"Kau harus terus memperhatikan mereka terus ambil gambar mereka yang lebih menarik dari sebelumnya." Ucap pengawal itu menyodorkan kembali camera itu setelah dia mengeluarkan memori cardnya.


"Yang ini akan aku ambil." Imbuhnya.


"Tidak masalah." Jawab sang fotografer kemudian berbalik pergi dan mengendarai mobilnya.


"Apa yang akan kita lakukan dengan ini tuan ?" Tanya sang pengawal.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan !" Jawab Lelaki tua itu.


Kita akan memulai permainan.


Atmajaya.. !" Ucapnya menyeringai.


Pengawal itu mengangguk mengerti, kemudian masuk ke dalam mobil, dan segera melaju meninggalkan bangunan tua tersebut.