
Monica yang telah tiba di rumahnya, memilih untuk berbaring di atas tempat tidur miliknya. Ia masih terus teringat akan ucapan lelaki yang semalam menghabiskan waktu berdua dengannya.
Ia meletakkan tangan di atas dahinya, menatap kosong langit-langit kamarnya. Dirinya masih tidak percaya dengan sifat asli lelaki itu, mengapa tidak ! saat mereka berpacaran, lelaki itu tidak sekalipun berbuat hal lebih terhadapnya, hanya sekedar ciuman atau saling berpegang tangan. Saat itu dia memang terlihat begitu bijak dan baik.
"Aahk.. apa maksud dari ucapannya ?" Lirihnya
Pikirannya terus berputar mencari maksud dari ucapan lelaki itu, sampai akhirnya ia menemukan satu titik temu. Seketika ia bangun dan terduduk di tempatnya, terlihat wajah yang tadinya gusar, kini terbesit secercah cahaya muslihat yang terpancar dari aura wajah dan senyum tipisnya yang mengembang.
"Baiklah !" Serunya, sambil menggulung rambutnya dan beranjak pergi mengganti pakaiannya.
Kini ia terlihat sangat bersemangat melakukan segala aktivitas seperti biasanya, membersihkan kamar, memasak makanan untuknya dan bersih-bersih. Entah apa yang sempat ia pikirkan, sehingga membuatnya kembali setenang itu.
Kediaman Dr. Ferdiansyah
Arka yang sudah selesai berkemas barang miliknya, pergi menemui Ayahnya di ruang kerja.
"Ayah !" Sapanya
"Ada apa Arka ?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu !"
"Duduklah !" Ucap Lelaki dingin itu, sambil terus membuka lembaran berkas di tangannya.
Arka yang mendengar ucapan Ayahnya, segera menarik kursi di depan meja kerja.
"Kau ingin mengatakan apa ?" Tanya Lelaki itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Arka.
"Aku akan melanjutkan studiku di Harvard !" Jawabnya datar.
Seketika, Lelaki itu menghentikan aktivitas tangannya dan menoleh menatap Arka dengan lekat, Arka yang mendapat tatapan dari Ayahnya, hanya bisa menundukkan pandangannya.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran ?" Tanya lelaki itu mengintimidasi.
"Akuu, aku pikir perkataan Ayah waktu itu memang ada benarnya, aku hanya terlalu bodoh untuk tidak menanggapi." Ucapnya.
Flash back on
Pria yang kini telah berdiri mengepalkan kedua tangannya, meremas berkas penerimaan mahasiswa kedokteran UNSOED yang ada ditangannya. Matanya memerah, dan urat urat yang ada di pelipisnya terlihat timbul akibat menahan segala amarah.
"Jelaskan padaku ! apa ini huh !" Tanya lelaki itu dengan suara meninggi, melempar berkas yang diremasnya di hadapan Putranya.
"Bukankah Ayah sudah melihatnya ? buat apa mempertanyakanku lagi ?" Ucap Arka datar
"Arka ! mengapa kau ingin menyia-nyiakan kesempatanmu untuk belajar diHarvard huh ! dan apa ini ? kau malah mendaftar di universitas ini ?! apa kau sudah tidak waras ?"
Bentak lelaki itu
"Ini sudah menjadi keputusanku ! dan Ayah tidak bisa mengubahnya !"
"Dasar anak tidak berguna !
Plaaak !
Sebuah tamparan melayang dan mendarat dengan keras di wajahnya.
"Kemasi barangmu ! besok kau akan segera berangkat ke US, Ayah sudah menyiapkan segalanya !" Titah lelaki itu
"Tidak ! aku tidak akan pergi ! kau tidak berhak untuk terus mengaturku !" Ucap Arka dengan suara meninggi
"Brengsek ! mengapa kau sangat keras kepala ? apa begini cara Ibumu mengajarimu huh ?" Bentak lelaki itu.
Arka yang mendengar ucapan Ayahnya, tidak bisa lagi mengontrol emosinya, matanya menyalang menatap lelaki yang berdiri di depannya penuh kebencian.
"Jangan pernah menghina Ibuku ! kau tidak berhak menghinanya seperti itu !" Teriaknya.
"Lalu apa ? aku tidak pernah mengajarimu untuk membangkang seperti ini !"
"Itu karna kau terlalu egois !" Bentak Arka, kemudian pergi meninggalkan lelaki dingin yang tak lain adalah Ayahnya sendiri.
Sejak ia kecil, keluarga mereka memang terbilang sedikit kurang harmonis, Sikap Ayahnya yang terlalu tegas dan keras membuat Ibunya tidak tahan lagi dan memilih pergi meninggalkan Arka yang saat itu masih berumur 13 Tahun. Namun begitu, Ibunya diam-diam terus berkomunikasi dengannya.
Dua tahun kemudian, ia mendengar kabar bahwa Ibunya telah meninggal dalam sebuah kecelakaan kereta, tepat di hari dimana ia ingin merayakan hari ulang tahunnya bersama Ibunya.
Flash back Off
"Baiklah ! Ayah akan memberitahu teman Ayah yang ada disana, agar mempersiapkan segala fasilitas yang kau butuhkan setelah kau tiba !"
"Terima kasih !" Ucapnya
"Apa kau sudah memberitahu Bibimu ?" Tanya lelaki itu (Bibi yang biasa di panggil Mamah oleh Arka)
"Aku baru saja ingin memberitahunya, setelah mendapat persetujuan dari Ayah !" Jawab Arka
Dr. Ferdi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Kalau begitu, aku pergi dulu !" Pamit Arka
"Hemm !" Jawab Lelaki itu datar.
•••
Hotel Royalty yang akan menjadi tempat pesta pertunangan Rena dan Rangga di selenggarakan, telah disulap menjadi istana bak di negri dongeng. Bunga-bunga dan lampu yang berkedap-kedip menjadi hiasan setiap sudut ruangan.
Besok malam akan menjadi malam yang membahagiakan untuk dua insan yang saling mencintai.
Rangga yang baru saja selesai voice bersama Rena, berbaring di atas pembaringannya. Hatinya yang telah dibalut oleh kebahagiaan, kini teringat kembali oleh teman kecilnya, sampai sekarang ia masih merasa bersalah akan dirinya.
("Bagaimana kabarnya sekarang ? apa dia baik-baik saja ?") Gumamnya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar
Drrrrt drrrrt
Satu pesan masuk "Monica"
Ia meraih kembali ponselnya yang letaknya tak jauh darinya.
Monica [Hai Rangga !]
^^^[Hai Mon ! bagaimana kabarmu ?^^^
^^^apa kau baik-baik saja ?]^^^
Monica [Aku baik-baik saja, apa kau punya.
...waktu untuk malam ini ?]...
^^^[Emm ada apa ? mengapa kau menanyakannya?]^^^
Monica [Aku dan Ayah hanya ingin
...mengundangmu berpesta di rumahku]...
^^^[Dalam rangka apa ?]^^^
Monica [ Aku hanya ingin merayakan
...perpisahan kita, kau akan segera...
...menikah ! anggap saja ini sebuah...
...pesta perpisahan lajangmu, dariku !]...
^^^[Maafkan aku Mon ! tapi sepertinya^^^
Monica [Apa kau begitu membenciku?
...padahal aku dan Ayah sudah...
...menyiapkan segalanya ! Baiklah, aku....
...tidak akan mengganggumu lagi.]...
^^^[ Bukan maksudku seperti itu.]^^^
^^^[Baiklah, aku berangkat sekarang !]^^^
••
Rangga yang sudah tiba di depan pintu rumah Monica segera menekan bel yang terpasang di tembok dekat pintu.
Teng Tong
Ceklek
"Hai Mon !" Sapa Rangga
"Hai ! ayo masuk !" Ajak Monica
Mereka memasuki ruangan dan terus berjalan menuju meja makan yang diatasnya sudah tertata rapi dengan berbagai makanan dan sebotol wine.
"Halo Rangga !" Sapa Gilbert, ayah Monica.
"Halo Paman !" Jawab Rangga, sedikit membungkukkan badannya.
"Ayo, silahkan duduk !"
"Iya !" Jawabnya, sambil menarik satu kursi yang kosong.
"Maafkan Monica yang tiba-tiba mengundangmu kesini !" Ucap Gilbert sedikit berbasa-basi.
"Oh, itu sama sekali tidak masalah, seharusnya, aku yang berterima kasih karna telah di undang ke ruamh ini."Jawabnya sopan.
Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang yang tengah tertawa. Rangga hanya menatap Monica dengan tanya.
"Hehee kau pasti penasaran !"
"Apa kau juga mengundang beberapa orang lainnya ?"
Monica menganggukkan kepalanya dengan senyum.
"Aku juga mengundang teman-teman kita ! aku hanya tidak ingin kau berpikir buruk denganku !" Jawabnya.
Tiba-tiba ponsel Gilbert berbunyi, itu sebuah panggilan dari seseorang. Setelah pergi mengangkat telpon untuk beberapa saat. Ia akhirnya kembali.
"Rangga ! maafkan Paman, Ayahmu telah menelfon dan memberiku beberapa pekerjaan mendadak !" Ucapnya
"Iya Paman, tidak apa-apa !"
Gilbert kemudian berlalu pergi, dan Monica segera menarik tangan Rangga dan berkumpul bersama sahabat mereka lainnya.
"Hay Rangga ! kemarilah !" Seru Dicky
Akhirnya malam itu mereka bersenang-senang, menikmati musik yang sengaja di putar dengan keras dan beberapa botol minuman beralkohol.
Rangga yang tidak bisa menolak setiap gelas yang disodorkan kepadanya, akhirnya mabuk hingga tak sadarkan diri.
•
Jam hias telah menunjukkan arah pukul 08.30
Rangga yang awalnya tertidur nyenyak, segera terperanjat bangun, setelah mendengar sebuah tangisan dari seorang wanita, yang berada di dalam kamar mandi.
"Aakh ! kepalaku sakit sekali !" Lirihnya, meringis memegang kepalanya yang terasa berdenyut.
Kemudian matanya membola, kala mendapati dirinya yang sudah bertelanjang di balik gumpalan selimut.
"Astaga ! apa yang aku lakukan !" Serunya, dan segera beranjak dari tempat tidur dengan cepat memakai celananya.
Matanya, tiba-tiba tertuju pada seprei putih yang kini memiliki bercak merah di bagian tengahnya. Rangga meremas rambutnya sendiri dan kemudian jatuh berlutut. Ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya, tapi, bercak merah itu membuktikan bahwa dia telah melakukan sesuatu pada sahabatnya saat dirinya mabuk dan tak sadarkan diri.
"Apa yang telah aku lakukan !" Lirihnya
Rangga kembali tersadar setelah mendengar tangisan Monica yang semakin menjadi-jadi. Ia segera beranjak dan mengetuk pintu kamar mandi yang tak jauh darinya
Tok tok tok
"Mon !" Serunya
Tak ada jawaban.
Setelah menunggu beberapa menit, Rangga yang tidak tahan lagi, segera menerobos masuk, namun sebelumnya, ia meraih bathrobe dan segera menutupi badan Monica yang bertelanjang di bawah siraman air.
Dengan perlahan Rangga menuntun Monica kembali dan duduk di atas kasur.
Hening..
Itulah yang terjadi saat mereka berdua di dalam ruangan yang sama.
Rangga yang sudah memakai kembali kemejanya, mondar mandir di hadapan Monica, ia tidak tahu harus berkata dan berbuat apa.
Namun kemuadian ia menghentikan langkah kakinya dan menatap lekat pada Monica yang masih tertunduk pilu, meratapi nasibnya.
"Mon ! maafkan aku !" Sahut Rangga, memulai percakapan.
Namun tak ada jawaban, Monica hanya tertunduk sedih tanpa suara.
"Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya ! bahkan aku sampai tidak mengingatnya sama sekali." Ucapnya lebih lanjut.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan ?" Tanya Monica lirih.
"Aku juga tidak tahu, tapi, aku mohon ! jangan sampai Rena mengetahui hal ini !" Jawab Rangga sedikit panik
"Apa maksudmu ? setelah kau melakulan ini, kau tidak berniat untuk bertanggung jawab ?" Pekik Monica, air matanya kembali jatuh membasahi wajahnya.
"Mon ! kau sendiri tahu kalau ini hanyalah sebuah kecelakaan ! aku tidak mungkin meninggalkan Rena, dia segalanya bagiku !"
"Lantas bagamana denganku ? bagaimana kalau aku hamil ? siapa yang akan bertanggung jawab ?" Pekiknya
"Maafkan aku Mon ! jika benar kau hamil, aku harap kau menggugurkannya !" Jawabnya lirih.
"Apa ? tidak ! itu tidak mungkin Rangga !"
"Lalu apa yang harus aku lakukan huh ! aku akan segera bertunangan ! aku tidak mungkin membatalkannya dan meninggalkan Rena begitu saja !" Bentaknya.
"Hiks, hiks, hik !" Monica hanya bisa menangisi dirinya, dan tertunduk lemah.
Rangga yang menyadari dirinya telah membentak Monica, hanya bisa menghela nafasnya kasar dan perlahan mendekati Monica.
"Mon ! aku mohon padamu, maafkan aku, dan biarkan aku bahagia dengan Rena ! kau tahu, ini hanyalah sebuah kecelakaan dan Rena ! dia adalah segalanya bagiku !" Ucapnya pelan, sambil memohon memegang kedua telapak tangan Monica.
"Aku ingin kau pergi Rangga ! bagaimana bisa kau melakukan ini padaku ? kau sangat jahat Rangga ! aku membencimu."
"Mon !"
"Pergi !" Teriaknya
Rangga segera berdiri dan meraih jeketnya, dan melangkah pergi meninggalkan Monica. Ia merasa sangat kesal akan dirinya, sedangkan Monica yang tadinya tertunduk pilu, perlahan mengangkat wajahnya dengan senyum licik yang mengembang di kedua bibirnya.