Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 142



Rangga mengerjapkan matanya pelan, dengan mata yang masih terpejam, ia meraba mencoba mencari keberadaan wanita yang semalam tidur di sampingnya.


Merasa tangannya tidak menemukan siapapun, ia lantas membuka matanya untuk segera memastikan.


"Kau sudah bangun ?"


Terdengar suara yang begitu hangat tidak jauh dari tempatnya saat ini berbaring. Secara perlahan ia bangun dan duduk agar bisa menikmati pemandangan baru pagi ini.


"Mau kemana ?" Tanya Rangga saat melihat Rena sudah berpakaian rapih dengan gaun hitamnya yang selutut.


"Pemakaman Arka." Jawab Rena dengan tenang tanpa menatap wajah Rangga sedikit pun.


Rangga mengernyitkan dahinya, sudah cukup ia merasa kesal dengan kejadian semalam yang seharusnya menjadi malam romantis baginya, dan sekarang Rena kembali menghancurkan moodnya di pagi hari karna ingin pergi ke pemakaman pria itu.


"Untuk apa ?"Tanya Rangga sedikit memanyunkan bibirnya tanda protes.


"Hanya ingin mengunjunginya." Jawab Rena sembari meraih tas tangannya.


"Tapi ini hari pertama kita setelah menikah." Protes Rangga segera beranjak dari kasurnya.


"Lalu ?"Tanya Rena tanpa menatap Rangga sedikitpun.


.


.


.


Cukup lama Rangga terdiam, dirinya berfikir apakah Rena sengaja membuatnya kesal ? apakah harus ia mengatakan susunan hal yang semestinya di lakukan di pagi hari sebagai sepasang kekasih ? lebih tepatnya sebagai pengantin baru.


Sangat ingin rasanya ia membentak dan memprotes segala kelakuan Rena sejak semalam, tapi di detik kemudian ia mengurungkan niatnya.


"Tidak, pergilah jika kau ingin pergi." Jawabnya lesu sembari meraih handuk yang semalam di lemparnya begitu saja ke lantai kemudian memakainya dan melilitnya kembali di pinggangnya.


"Padahal aku berharap ini akan menjadi pagi yang manis." Gerutunya pelan.


Sebenarnya Rena bukan tidak ingin menatap Rangga atau mengabaikannya begitu saja dari tadi, hanya saja karna penampilan Rangga yang sebelumnya hanya memakai bokser membuatnya enggan untuk menatap keberadaan lelaki itu.


Setelah mengisi segala hal yang ia butuhkan ke dalam tasnya, ia berbalik menatap lelaki yang sedari tadi terus menggerutu pelan tentang nasibnya, membuatnya tersenyum kecil kemudian berjalan dengan cepat menghampiri lelaki tersebut.


Cup.


Sebuah kecupan singkat ia layangkan di pipi Rangga, membuat sang empu hanya bisa terdiam mematung dengan hadiah kecil yang di berikan sang wanita barusan.


"Aku akan pergi, apa kau mau ikut ?" Tanya Rena.


Ia tidak ingin bersikap naif seperti dulu lagi. Sepertinya melakukan hal-hal tanpa pertimbangan yang panjang itu adalah sesuatu hal yang menyenangkan, apalagi jika menyangkut masalah hati.


Dulu saat bersama Arka dia di terlalu banyak berhati-hati dan harus terus menahan diri. Takut bagaimana nanti pendapat orang tentangnya jika melakukan hal yang tidak senonoh. Membuatnya terlalu kaku dan tidak bisa menikmati hidupnya.


Mendapat kecupan dengan tiba-tiba membuat Rangga hanya bisa menggelengkan kepalanya, sepertinya ia masih belum sadar sepenuhnya karna ciuman tadi.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi." Ucap Rena dengan senyum saat melihat ekspresi bodoh di wajah suaminya.


Ia berjalan membuka pintu, kemudian menutupnya kembali. Pada saat itu Rangga baru tersadar, ia memegang pipinya yang masih bersemu merah kemudian dengan cepat melesat masuk ke dalam kamar mandi.


•••


Pemakaman Umum.


"Hai Arka.. maaf karna aku baru bisa menjengukmu." Rena meletakkan sebuket bunga mawar putih yang sering Arka berikan padanya dulu saat lelaki itu masih hidup.


Cukup lama Rena terdiam memandang foto yang terbingkai dan bersandar di batu nisan milik lelaki itu.


"Aku mencintaimu.." Suara lelaki itu kembali terdengar jelas saat mengucapkan kalimat cinta di telinganya. Membuat Rena hanya bisa menitikkan air matanya.


"Kau sangat jahat Arka.." Lirih Rena.


"Maafkan aku, berjanjilah untuk tidak membenciku." Ucapan Arka di saat-saat nafas terakhirnya itu kembali terngiang di telinganya.


Rena memejamkan matanya untuk beberapa saat, ia masih tidak sanggup menatap foto lelaki itu yang menampilkan senyum terbaik miliknya.


"Aku tidak membencimu Arka, aku hanya kecewa, kecewa dengan semuanya, mengapa kau harus melakukan semua ini padaku ?!" Tanyanya sendu dengan suara yang bergetar.


"Aku tidak pernah mencintai seorang wanita sebesar aku mencintaimu."


Kau sangat egois Ka.." Ucapnya kesal.


"Seandainya saja sejak awal kau tidak membuat kekacauan ini, maka tidak akan banyak hati yang terluka. Monica tidak perlu mati, Aku dan Anggi tidak perlu saling merasa bersalah dan Moura...


Rena terdiam untuk sesaat.


"Gadis kecil itu tidak perlu menanggung semuanya sendiri." Imbuhnya.


Cukup lama dirinya berargumen dengan bayang-bayangan Arka, hingga dirinya tersadar jika lelaki itu tidak lagi berada di dunia yang sama dengannya.


"Maafkan aku Ka, bukan maksudku datang untuk menuntut atau mengutukmu, kau tahu aku kan ? aku selalu seperti itu jika sedang kesal. Ku harap kau mengerti." Sesalnya dengan tawa hambarnya.


"Aku mengerti mengapa kau melakukan semua itu, dan aku berharap, semoga di kehidupan selanjutnya kau bisa mendapatkan kasih dan cinta yang lebih hingga kau tidak harus melakukan hal-hal yang bodoh lagi seperti sebelumnya." Ucap Rena sembari menyeka air matanya.


"Maafkan aku tidak bisa tinggal lebih lama, aku berjanji setelah ini aku akan lebih sering datang mengunjungimu." Rena mengelus pelan foto lelaki tersebut dengan senyum yang di paksakan.


Ia kemudian berdiri, namun setelah berbalik dirinya sedikit terkejut saat mendapati Rangga sudah berdiri di depannya. Entah sudah berapa lama lelaki itu berdiri di belakangnya, ia sendiri juga tidak tahu.


"Ra-Rangga.." Rena sedikit terbata karna terkejut.


Sudah berapa lama kau disini ?" Tanyanya kemudian.


Namun Rangga sepertinya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Rena. Entahlah, Rangga sendiri juga tidak tahu kenapa dia harus merasa kesal saat mendengar semua yang diucapkan Rena sebelumnya untuk lelaki yang sudah mati itu. Apa dia masih harus cemburu dengan seseorang yang sudah tiada ?


Tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyindir lelaki yang kini telah berbaring di bawah tanah itu dalam hati.


("Hai Arka, apa kau lihat ? pada akhirnya akulah yang menang. Aku sudah menikah dengan Rena, dan kau hanya berbaring sendiri di bawah sana.") Batinnya mengejek menyeringai kemenangan.


("Tapi aku masih tidak bahagia, kau membawa pergi sebagian cinta Rena, dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk merebutnya kembali, bukan karna aku tidak mampu, itu karna semua sudah di luar kendaliku.


Namun aku masih akan berterimakasih, terimakasih karna saat itu telah menyelamatkannya.") Batinnya penuh ketulusan, sembari melirik pada wanita yang kini berdiri di depannya menatapnya penuh tanya.


"Ayo pulang." Ucap Rangga sembari menarik tangan Rena dengan lembut.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, sejak kapan kau berada disini ?" Tanya Rena yang terus berjalan mengikuti langkah kaki lelaki yang masih terus menggenggam tangannya membawanya pergi meninggalkan pemakaman tersebut.


Hingga mereka masuk ke dalam mobil dan melaju menuju tempat selanjutnya yang akan menjadi tujuan mereka.


"Hei, bagaimana dengan mobilku ?" Tanya Rena.


"Aku sudah menyuruh seseorang untuk membawanya kembali ke apartemenku."Jawab Rangga tanpa menatap Rena sedikitpun.


Rena menaikkan alisnya.


"Lalu kita mau kemana ?" Tanyanya.


"Kerumahku, Mamah ingin bertemu denganmu." Jelas Rangga.


Melihat wajah Rangga yang datar seperti itu, membuat Rena seketika terfikirkan hal untuk menjahilinya.


"Kau mau apa ?" Tanya Rangga saat ekor matanya mendapati Rena mencoba untuk membuka sabuk pengamannya.


Rena hanya menyeringai tanpa menjawab pertanyaan Rangga, ia kemudian sedikit bergeser lebih dekat pada Rangga dan mulai menjejalkan tangannya di paha lelaki tersebut.


"Aku pikir kita akan ke Apartemenmu." Ucapnya sedikit berbisik di telinga Rangga.


Terlihat jelas, bagaimana Rangga mulai kehilangan fokusnya dalam mengemudi, bahkan jakunnya mulai naik turun menelan salivanya beberapa kali karena rangsangan yang diberikan Rena.


Dan tentu saja hal itu membuat Rena semakin terhibur, jari lentiknya kemudian terulur menyentuh pelan jakun tersebut dengan lembut dari atas hingga turun ke bawah.


"Ini... sangat menggoda." Bisik Rena lagi.


Rangga yang tidak bisa lagi menahannya segera menghentikan mobilnya dengan pelan, takut jika Rena jatuh tersungkur.


Rena sedikit bingung dan berfikir, apa permainannya berhasil ? apa segampang itu untuk merayu seorang lelaki ?


Rangga berbalik menatap Rena dalam diam. Jujur sebenarnya dia tidak bisa lagi menahan hasratnya untuk tidak menerkam Rena saat ini juga.


Namun seketika ia teringat kembali pembicaraan semalam yang membuatnya berfikir apa Rena juga seliar ini saat berdua dengan Arka dulu ? Membayangkannya saja sudah membuat darahnya mendidih kesal.


Apakah pada akhirnya dia hanya menjadi orang kedua ? walau sebelumnya ia pernah menjadi yang pertama. Tapi tetap saja dia tidak terima.