Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Dua Hati.



Akhirnya setelah melewati semua peristiwa dan mendapatkan penjelasan dari kesalah pahamannya, Rena meminta Arka untuk mengantarnya pulang kerumahnya.


Hingga beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba di depan kediaman Atmajaya.


Arka mematikan mesin mobilnya.


Hening, Mereka berdua saling membisu. Hingga beberapa saat Rena kemudian mengatakan sesuatu.


"Emm.. Terima Kasih untuk hari ini." Ucapnya sembari menatap Arka.


Arka menatapnya dengan senyum dan menganggukkan kepalanya.


"Apa kau tidak ingin mampir ?!" Tanya Rena.


"Kalau kau tidak keberatan..!" Jawab Arka.


Rena sedikit menaikkan alisnya.


"Hahaa aku hanya bercanda, lain kali saja !" Ucap Arka. Ia mengerti kalau Rena masih belum siap untuk mengenalkannya langsung pada orang tuanya.


Rena kemudian melepas sabuk pengamannya dan ingin membuka pintu. Namun aksinya terhenti sejenak saat Arka tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengelus pelan kepalanya.


"Jangan terlalu banyak berfikir. Jika ada masalah, kau bisa memberitahuku." Ucapnya lembut.


Rena yang tidak tahu harus berkata apa, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya menatap Arka dengan senyum.


Namun tiba-tiba Posel Arka berdering.


Dr.Anggi.


Rena melihat jelas nama Anggi muncul di layar ponsel. Arka menatap Rena yang tengah menatap ponselnya.


"Kalau begitu aku akan pe--"


Rena tidak melanjutkan perkataannya saat Arka dengan cepat memegang tangannya dan menahannya.


"Halo ?" Sapanya.


"Dr.Arka ? kau ada dimana ?" Tanya Anggi sedikit panik.


"Ada apa ?" Tanyanya kembali.


"Pasien atas nama Rangga tiba-tiba mengalami penurunan dan saat ini dalam keadaan kritis."


"Apa ? bagaimana bisa ?!"


"Nanti akan ku jelaskan, sebaiknya kau segera kembali ke Rumah Sakit." Titah Anggi kemudian memutuskan sambungan telfon.


Tut.


Rena yang mendengar perbincangan mereka, merasa sangat cemas dan khawatir.


"Aku akan ikut." Ucapnya kembali ingin memasang sabuk pengamannya.


"Tidak perlu, aku takut Ny.Mariah berada disana dan akan menyalahkanmu."


"Tapi aku juga ha--."


"Dengarkan aku untuk kali ini. Aku berjanji akan menolongnya !" Sela Arka lugas.


Rena hanya bisa pasrah dan segera turun dari mobil.


"Beristirahatlah, aku akan segera mengabarimu !" Ucap Arka menyalakan mesin dan dengan cepat memutar balik mobilnya dan melaju sangat cepat.


Takut, cemas, khwatir. Itulah yang dirasakan Rena saat ini. Ia terus menatap kepergian Arka hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.


"Rena.. !"


Rena tersentak saat sebuah tangan memukul bahunya pelan.


"Bunda..!" Ucapnya refleks membalikkan tubuhnya.


"Kau kenapa ? dan siapa yang mengantarmu tadi ?" Tanya Rani celingukan menatap jauh jalanan yang baru saja di lalui Arka.


"Eh-dia.. dr.Arka." Jawab Rena sedikit terbata.


"Owh, benarkah ? mengapa kau tidak mengajaknya masuk kedalam rumah ?!" Tanya Rani yang kini menatap pitrinya.


"Dia harus segera kembali ke rumah sakit, ada pasien yang harus segera di tanganinya."


"Owh, lalu mengapa kau terlihat sangat cemas ?"


"Eh-tidak, aku hanya takut kalau pasien itu tidak bisa di selamatkan." Ucap Rena menundukkan wajahnya.


Rani mengusap pelan bahu anaknya.


"Tidak apa, semua orang pasti akan melaluinya. seorang dokter sepertimu ataupun dokter hebat sekalipun tidak akan pernah bisa mencegahnya. Semua hanya tergantung dari nasib dan takdir seseorang." Jelas Rani.


Rena terdiam. Ia sangat mengerti dan paham dengan apa yang di katakan Ibunya, namun kali ini berbeda. Jika orang itu bukanlah Rangga mungkin dirinya tidak akan sekhawatir ini.


"Lihatlah dirimu, mengapa kau memakai pakaian seperti ini ?" Tanya Rani saat melihat penampilan anaknya yang memakai jeans panjang sobek dan kaos oblong dengan topi yang terpatri di kepalanya.


"Em ini.. aku hanya memiliki pakaian ini di rumah kakak !" Dalihnya.


"Baiklah, ayo masuk !" Ajak Rani.


Rena menganggukkan kepalanya


•••


"Dokter.. !" Seru Anggi dan perawat lainnya ketika melihat kedatangan Arka.


"Siapkan AED(automated external defibrillator) sekarang !." Titah Arka yang saat ini telah memeriksa nadi dan juga pupil Rangga.


Dengan cepat para perawat membantunya memasang alat di dada Rangga."


"Tegangan 100 J sudah siap !"


"Clear." Ucap Arka meletakkan AED di dada Rangga.


Berikan dia epinetrin. Naikkan tegangannya ke 150 J." Titah Arka.


"Tegangan 150 J sudah siap." Ucap Anggi.


"Clear."


"Tegangan 100 J." Titah Arka kembali.


"Tegangan 100 J sudah siap."


"Clear."


"Tegangan 150 J."


Salah satu perawat kemudian melihat monitor.


Terlihat Rangga membuka matanya pelan namun sayu.


("Dimana aku ? mengapa aku tidak bisa bergerak ?") Batinnya.


Arka dengn cepat mengambil senternya dan memeriksa mata Rangga.


("Ah silau ! apa yang dia lakukan ?")


"Denyut normal, bagaimana dengan tekanan darahnya ?" Tanya Arka.


"Tekanan darahnya juga normal." Jawab Anggi.


("Apa aku dirumah sakit ? aku masih hidup ?") Batin Rangga.


"Tuan Rangga ? apa kau bisa mendengarku ? kau hampir saja mati." Ucap Arka menatap mata Rangga yang terbuka sayu.


"Sudah berapa lama dia di rawat ?" Tanya Arka sembari melihat berkas catatan medisnya.


("Kenapa aku tidak bisa menggerakkan mulutku ? ada apa dengan suaraku ?")


"Dia sudah dirawat disini selama 38 hari."


"Sudah selama itu dia kehilangan kesadarannya. Ini artinya dia berada dalam kondisi vegetative state." Jelas Arka.


("Apa ? 38 hari ?")


Arka mengembalikan berkas catatannya.


"Pantau terus perkembangannya !" Titahnya.


"Baik." Jawab perawat serentak.


Arka kemudian meninggalkan ruangan itu dengan perasaan lega. Ini adalah kemajuan Rangga dalam merespon. Tinggal menunggu beberapa hari untuk dirinya benar-benar sadar dan bangun dari komanya.


"Dokter..!" Panggil Anggi sedikit berlari mendekati Arka.


Arka yang mendengarnya segera berbalik.


"Apa yang sebenarnya terjadi ?" Tanya Arka.


"Aku juga tidak tahu, saat aku datang untuk memeriksanya, aku sudah mendapati selang oksigennya terlepas." Jelas Anggi.


"Apa ?! bagaimana itu bisa terjadi ?" Tanya Arka sedikit terkejut.


"Sebaiknya kita memeriksa rekaman CCTV agar bisa mengetahuinya lebih detail." Usul Anggi.


"Baiklah, lalu dimana Ny. Mariah ?"


"Beliau baru saja keluar beberpa saat yang lalu sebelum aku datang ke ruangan Rangga."


"Syukurlah kalau begitu. Kalau tidak, dia pasti akan segera menuntut Rena atas kejadian tak terduga ini." Ucap Arka bernafas lega.


Untuk sementara, kau harus lebih memperhatikannya dan pantau terus perkembangannya." Titahnya


"Baik pak." Jawab Anggi dengan Anggukan.


Arka yang merasa ponselnya selalu bergetar segera merogoh ponselnya.


"Dok--" Ucap Anggi terlihat ingin mengatakan seusatu namun ia tidak jadi melanjutkan kalimatnya, ketika dia melirik ponsel Arka dan nama Rena naik di layar ponsel.


"Halo Ren ?!"


"Bagaimana keadaan Rangga ?!" Tanya Rena.


Arka berbalik dan melangkah pergi begitu saja tanpa mengucapkan sesuatu pada Anggi.


Entah, saat itu Anggi harus merasa sedih atau senang. Ia tahu kalau dia sudah mengikhlaskan Arka pada Rena, tapi tetap saja hati kecilnya merasa cemburu jika melihat Arka selalu mementingkan Rena dari pada dirinya.


Sedang Arka terus berjalan menuju ruangannya.


" Sekarang dia sudah baik-baik saja, kau tidak perlu merasa cemas !"


"Syukurlah.. kalau begitu." Ucap Rena merasa lega.


"Apa kau begitu mencemaskannya ?" Tanya Arka terdengar sedikit tidak suka.


Rena yang mengerti maksud pertanyaan Arka segera mendalih.


"Tidak, bukan seperti itu. Aku hanya takut jika terjadi sesuatu dengannya dan Ny.Mar--."


"Aku mengerti." Sela Arka, dia merasa sedikit senang. Walaupun dia tahu kalau Rena sedang membohonginya, setidaknya dia melakukan itu karna ingin menjaga hatinya.


"Sekarang katakan padaku, mengapa kau tidak beristirahat ?! dan malah mencemaskan orang lain !"


"Em-Aku.. aku hanya.. merasa tidak bisa beristirahat dengan tenang."


"Apa kau tengah memikirkan sesuatu ?" Terka Arka.


("Bagaimana bisa dia tahu apa yang sedang aku rasakan ?!") Batin Rena.


"Aku--"


"Bukankah aku sudah memberitahumu agar untuk tidak banyak berfikir ?" Sela Arka.


"Mau bagaimana lagi ? Aku tidak bisa untuk tidak berfikir." Umpat Rena pelan di seberang telfon. Namun Arka tentu saja masih bisa mendengarnya.


"Apa kau memikirkanku ?" Tanya Arka jahil. Ia terlihat tersenyum manis setelah menanyakan hal itu.


"Hei ! mengapa akhir-akhir ini kau terlalu percaya diri ?! apa aku mengatakan kalau aku sedang memikirkanmu ?!" Kesal Rena.


"Jadi kau memikirkan siapa ?" Tanya Arka.


"Itu-- tentu saja aku memikirkan keselamatan Rangga. Kau tahu konsekuensinya bagiku jika terjadi sesuatu padanya." Dalihnya, yang sebenarnya ia lebih memikirkan apa yang akan menjadi jawaban dari pernyataan cinta Arka beberapa waktu yang lalu.


"Benarkah ? tapi mengapa aku merasa kau sedang membohongiku ?!" Tanya Arka, ia tertawa kecil memikirkan bagaimana wajah Rena saat ini. apakah semerah tomat ?.


"Me-mangnya kau dukun ? yang bisa mengetahui apa aku berbohong atau tidak ?!" Kesal Rena.


"Aku memang bukan dukun. Tapi aku adalah wujud dari cinta yang akan selalu mengerti dengan perasaanmu."


Rena tersenyum mendengarnya.


"Sudahlah, aku merasa sangat geli mendengarmu !" Ucap Rena.


Arka tergelak. Memang benar, ia tidak pernah mengatakan hal-hal konyol seperti ini sebelumnya. Apakah ini bukti bahwa dia sangat BuCin pada Rena ?.


"Baiklah, I Love You." Ucap Arka dan memutuskan sambungan telfonnya sebelum mendengar Rena menyemprotnya dengan segala macam umpatan.


Tut.


Rena menatap diam ponselnya.


("Apa aku juga mencintaimu ?") Batinnya.