
Akhirnya setelah melewati segala peristiwa yang menimpa kedua keluarga itu, kini saatnya hari yang telah di nanti telah tiba.
Rena yang memakai gaun putih tak berlengan memperlihatkan dada yang putih dengan hiasan kalung yang menggantung di lehernya. Sedangkan disisi lain Rangga memakai stelan jas yang senada dengan gaun yang di pakai ole pengantin wanita.
Rena yang masih duduk di depan meja hias tampak memperlihatkan raut wajah yang begitu tegang, entah sudah berapa kali ia mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya yang di penuhi keringat. Jaya yang ingin menghampiri putrinya melihat hal tersebut dan tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
"Sayang, ada apa ?" Tanya Jaya dengan suara tegasnya namun mengandung kehangatan.
"Ayah !" Ucap Rena segera beranjak untuk berdiri dari kursinya. Namun Jaya segera menghentikannya.
"Duduklah, kau adalah ratu hari ini !" Ucap Jaya sedikit menggoda putrinya.
"Ayah.." Ucap Rena dengan malu dan manja.
"Anak gadis ayah akhirnya akan menikah, tapi apa yang membuatmu terlihat cemas ?" Tanyanya.
"Aku juga tidak tahu ayah, tiba-tiba saja aku merasa sangat gugup dan khawatir."
"Apa yang kau khawatirkan ?"
"Entahlah." Jawab Rena.
"Kau tenang saja, ayah akan mengurus segalanya untukmu."
Tapi ingatlah Rena, ini adalah kesempatan terakhir Ayah untuk Rangga, dan permintaan terakhir untukmu untuk bersamanya. Jika terjadi sesuatu, ayah akan segera mengirimmu ke AS dan tidak akan pernah mengampuni keluarga mereka !" Imbuhnya.
Setelah mengatakan hal itu, Jaya melangkah pergi meninggalkan putrinya yang masih duduk dengan wajah yang masih di penuhi rasa kekhawatiran.
Entah mengapa, semakin waktu terus bergerak membuat dirinya semakin merasa di penuhi rasa kekhawatiran yang tak beralasan.
("Setelah aku memeriksa Nona beberapa kali, aku bisa memutuskan kalau hilangnya ingatan Nona Rena hanya kemungkinan kecil di sebabkan oleh kecelakaannya dua tahun yang lalu, kemungkinan terbesarnya adalah emosi atau tingkat kesetresan yang berlebih. Yang mana tubuhnya tidak bisa menerima dan membuat ingatannya secara alami menghapus kenangan yang membuatnya merasa terpukul dan tidak berdaya.")Terang Dokter psikiater itu yang biasa di panggil Dr.Richard.
Perkataan dokter itu kembali terngiang dalam pikiran Jaya, sampai ia tak sengaja berpapasan dengan Rendi dan masuk ke dalam lift bersamaan.
"Ayah !" Ucap Rendi pelan.
"Rendi !" Sahut Jaya tersadar dari lamunannya.
"Apa yang tengah ayah fikirkan ?" Tanya Rendi, ia sedikit berani memanggil Jaya sebagai Ayah karna hanya ada mereka berdua di dalam lift tersebut.
"Tidak ada yang bisa membuatku khwatir kecuali adikmu ! Ia sangat mencintai lelaki itu yang ia tidak ketahui seberapa berengseknya dia !" Jawab Jaya frustasi.
Apa kau sudah menyiapkan segalanya ?" Imbuhnya dengan sebuah pertanyaan.
"Ayah tenang saja, aku telah menyiapkan segalanya." Jawab Rendi dengan mantap.
"Terima kasih Rendi, kau adalah harapanku satu-satunya. Jika adikmu hanya bisa membuatku selalu khawatir, maka kaulah yang selalu mengangkat kekhawatiran itu dan membuatku selalu merasa tenang !" Ucap Jaya penuh kasih sembari memegang bahu Rendi sebelah.
"Mengapa ayah berterima kasih padaku ? sedangkan ayah sudah memberikan segala yang aku tidak mungkin pernah memilikinya sejak aku di lahirkan ? apa kau tidak pernah menganggapku sebagai anakmu ? sehingga kau selalu saja berterima kasih.
Aku anakmu ! walaupun aku tidak memiliki darahmu, tapi aku memiliki keringat dan kasih sayangmu. Dan aku selalu menganggap Rena sebagai adikku yang sangat aku sayangi, walau kami di lahirkan dari wanita yang berbeda." Ucapnya hingga tak terasa ia meneteskan air mata kebahagiaan.
"Ya ! kau memang anakku, dan akan selalu menjadi anakku !" Ucap Jaya dan memeluk Rendi dan Rendi pun menyambut pelukan hangat itu.
Hingga akhirnya mereka sampai di lantai bawah dan pintu lift terbuka dan menampilkan seorang wanita yang tidak lain adalah Maharani.
Melihat pemandangan yang ada di hadapannya, wanita itu kebingungan dan tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Ada apa ini ?" Tanyanya menelisik.
"Apa yang telah terjadi disini ? mengapa kalian menagis dan saling berpelukan ?!" Tanya Rani kembali.
"Eh-sayang, kau ada disini ? aku sedari tadi mencarimu !" Ucap Jaya mencoba mengalihkan pertanyaan yang sebelumnya di lontarkan untuknya.
"Kau mencariku ? bukankah aku sudah mengatakan padamu sebelum aku pergi,bahwa kau akan ke parkiran untuk mengambil beberapa barangmu di mobil ?!"
"Oh benarkah ? mengapa aku tidak mengingatnya ?"Ucap Jaya mencoba mendalih.
Rani hanya bisa berdecak pasrah.
"Lihatlah dirimu ! bagaimana bisa kau menjadi pelupa ? bahkan untuk sesuatu yang belum beberpa jam yang lalu. Inilah sebabnya aku menginginkan Rena segera menikah, agar kita bisa cepat melihat dan menyaksikan kelahiran cucu kita."
Aku tidak ingin menua dan mati sebelum melihat kelahiran cucu pertama kita." Ucap Rani.
Dengan cepat, Jaya merangkul istrinya, dan memberi isyarat pada Rendi untuk segera pergi.
"Hei, apa yang kau katakan ? kita masih muda dan pastinya masih memiliki kesempatan hidup yang lebih untuk bisa melihat cucu kita nanti.
Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Kalau Rena mendengarnya, dia pasti akan sangat marah !" Ucap Jaya mencoba menghibur istrinya.
Hingga akhirnya Rani melupakan kejadian sebelumnya, dan berhenti bertanya.
•••
Akhirnya semua keluarga berangkat bersama-sama menuju gereja yang sudah di pesan sebelumya untuk menjadi saksi pernikahan kedua anak mereka.
Jaya sengaja memesan hotel yang sama untuk keluarga Aberald agar dia dengan leluasa bisa memantau pergerakan dari keluarga itu.
Setelah beberapa waktu, tibalah mereka di depan sebuah bangunan gereja tua yang telah di bentangkan karpet merah untuk pasangan pengantin dan sudah di penuhi dengan tamu undangan serta para kerabat.
Rangga yang keluar lebih dulu dari mobil dengan tegas melangkahkan kakinya dan membukakan pintu untuk mempelai wanitanya.
Dengan penuh haru dan bahagia, senyum Rena kian merekah dan menyambut tangan yang sebelumnya telah terulur untuknya.
"Kau sangat cantik !" Bisik Rangga, ketika mereka telah berdiri sejajar.
Dan membuat Rena hanya bisa tersipu malu, entah mengapa, padahal kata-kata itu sudah sangat sering ia dengar dari mulut lelaki itu. Namun, ia terus saja tersipu ketika mendengar pujian itu terlontar dari pria yang kini akan menjadi suaminya.
Saat hendak melangkahkan kakinya, diiringi kedua orang tua mereka. Tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang menjerit histeris dan ingin menghampiri mereka, namun pengawal dengan sigap menangkap dan menghentikannya.
Semua orang akhirnya tertuju pada wanita itu.
"Tidak, lepaskan aku !"
Aku harus menemuinya !"
Mereka tidak boleh menikah !" Jerit wanita itu mencoba menerobos pengawal yang kini ada di depannya.
Rangga yang melihat wanita itu yang tidak lain adalah Monica, segera menarik tangan Rena untuk melanjutkan pernikahannya. Namun, Rena menahannya karna sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Rangga !"
Aku mohon jangan menikah dengannya !"
Jaya memberikan kode pada pengawal itu untuk memberi ruang pada monica. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Rangga dan bagaimana reaksi Aberald mengetahui apa yang telah di perbuat oleh anaknya.