
Rangga yang sudah lebih dulu masuk di dalam mobil,melepaskan kekesalannya. Ia melempar jasnya dan membuka kancing kerah kemejanya dengan kasar.
Reno yang baru saja masuk ke dalam mobil hanya bisa menatap pasrah pada temannya itu.
"Aku sudah memperingatimu untuk tidak membuat masalah !" Ucapnya sembari menyalakan mesin mobil.
Rangga yang sudah melepas semua kancing bajunya, segera melepasnya dan melemparnya ke samping.
"Sepertinya baju ini membawa kesialan bagiku !" Umpatnya kesal.
Reno mengernyitkan dahinya. Ia mendesis kesal melihat tingkah Rangga hari ini.
"Aku rasa kau harus memeriksakan otakmu kembali !
Bagaimana bisa kau menyalahkan segalanya pada baju ini huh !?
Aku sudah membiarkanmu memakainya, dan kau malah membuatnya seperti ini ?!" Cecar Reno. Ia sangat kesal. Ingin rasanya ia memukul kepala sahabatnya itu.
Dan akhirnya mobil itu keluar dari area parkiran dan melaju di jalanan yang padatakan kendaraan.
Rangga menurunkan kaca jendela mobil dan menatap setiap gedung yang mereka lewati. Ia termenung memikirkan kembali kejadian sebelumnya.
("Yaaa.. ! kau otak mesum !")
Ia sedikit tersenyum ketika kata-kata itu terlintas kembali di kepalanya. Itu terasa tidak asing baginya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di depan area perusahaan.
"Turunlah..!" Titah Rangga.
Reno sedikit bingung namun tetap menuruti perkataan Rangga. Ia keluar dan menutup kembali pintu, dengan cepat Rangga beralih ke kursi kemudi.
Tok. tok. tok.
Rangga menurunkan kaca jendela mobil.
"Apa kau tidak turun ?" Tanya Reno.
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana dengan klien yang akan kita temui ?"
"Aku yakin, tanpa aku, kau bisa mengatasinya !" Jawab Rangga kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.
Membuat Reno berteriak kesal.
"Rangga.. woy..!!"
Pada akhirnya, lagi-lagi dia hanya bisa menghela nafasnya pasrah dan masuk ke dalam gedung.
•••
RS Anutapura.
Rena baru saja keluar dari ruang UGD. Ia berjalan perlahan sembari memasukkan tangannya di masing-masing saku seragam yang di kenakannya.
Kemudian langkah kakinya terhenti dan duduk di salah satu kursi, ia mengeluarkan ponsel dan mengamatinya.
Tapi pikirannya kembali teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Itu mengingatkannya kembali saat masa remajanya, dimana ia dan Rangga selalu bertengkar dan saling menjahili.
Rena tersenyum, entah mengapa kenangan itu membuatnya merasa lucu.
"Apa yang kau fikirkan ?!" Tanya seseorang tiba-tiba dan membuyarkan lamunannya.
"Eh ?! Ka'Ren !?" Ucap Rena sedikit terkejut.
Apa yang kau lakukan disini ?" Tanyanya.
"Bukankah kau menelfonku beberapa menit yang lalu ?" Tanya Rendy.
"Benarkah ?!" Tanya Rena sedikit bingung dan memeriksa ponselnya.
Setelah melihat panggilan keluar, ia mengerutkan alisnya dan segera meminta maaf.
"Maafkan aku, sepertinya jariku tidak sengaja menghubungimu !" Ucapnya dengan senyum.
Rendy menghela nafasnya dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Aaaah.. yang benar saja.
Apa kau tahu ? Aku meninggalkan pekerjaanku karna aku mengira sesuatu terjadi padamu." Kesalnya.
"Maafkan aku." Bujuk Rena memohon.
.
.
"Apa jam tugasmu sudah berakhir ?" Tanya Rendy.
Rena melihat jam di pergelangan tangannya dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang !" Ucap Rendy beranjak berdiri.
Rena memegang pergelangan tangan kakaknya.
"Kak, bisakah aku main di rumahmu ?!" Tanya Rena memohon.
"Tidak !" Jawab Rendy spontan.
"Kakak.. " Rena sedikit merayu.
"Tidak, tidak ! aku tidak bisa mengawasimu setiap saat.
Dan bukankah Ayah menghukummu saat ini untuk tidak pergi kemanapun di saat tidak bertugas ?!"
"Tidak bisakah kakak meminta Ayah agar mengizinkanku untuk tinggal bersamamu ?!" Bujuk Rena.
"Walaupun Ayah mengizinkan, aku juga tidak akan menerimamu untuk tinggal bersama." Jawab Rendy.
Mereka terus berdebat, hingga Rena menyadari kalau percakapan mereka menjadi sorotan semua orang yang ada di ruangan itu.
Tentu saja mereka dengan mudah menjadi sorotan. Selain berparas tampan dan cantik, mereka juga adalah keturunan dari orang berpengaruh di kota ini.
Rena tersenyum canggung dan menarik Rendy menjauh dari tempat itu.
"Owh.. bukankah dia sangat tampan ?!"
"Jika aku ada di posisi dr.Rena, aku akan lebih memilih tinggal di rumah, menjadi seorang putri, dari pada harus bekerja seperti ini."
Ucap para perawat setelah menyaksikan kepergian mereka.
•
Di sisi lain, di ruangan Ferdiansyah.
"Dengan siapa ?" Tanya Ferdi datar seolah tak peduli.
Arka tersenyum miris mendengar pertanyaan Ayahnya. Ia merasa bahwa Ayahnya benar-benar tidak peduli dengannya.
Di saat semua orang tahu dan membicarakan tentang hubungannya dengan Rena, bagaimana mungkin Ayahnya sendiri bisa tidak tahu ?.Ia tertawa hambar.
Ferdi melirik tajam ketika mendengar tawa putranya.
Arka beranjak dari tempat duduknya.
"Maaf jika aku telah mengganggu waktu anda !
Aku hanya selalu lupa bahwa kau tidak peduli dengan siapa pun bahkan dengan putramu sendiri !" Ucapnya kemudian berbalik pergi.
Paaaak..
Ferdi membanting mejanya dengan sangat keras.
"Arka.. ! beraninya kau berbicara seperti itu dengan orang tuamu ! dimana rasa hormatmu ?!" Murkahnya.
Arka terhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Apa anda sangat ingin di hormati ?!"
Lalu bagaimana denganku ? apa anda pernah menghargaiku sebagai putramu ?!
Bahkan untuk sekali pun kau memujiku tak pernah. Lalu bagaimana bisa kau menyuruhku untuk menghormatimu ?!" Kesalnya. Ia merasa frustasi dengan dirinya sendiri. Batinnya selalu mengeluh, bagaimana bisa dia memiliki Ayah seperti itu.
Sejak kecil ia tidak pernah menerima kasih sayang ataupun perhatian dari Ayahnya. Dan semakin ia tumbuh dewasa,semakin kebencian di hatinya membesar untuk Ayahnya.
"Kau semakin melewati batasmu Arka !!" Bentak Ferdi.
Namun Arka tidak peduli. Ia kembali ingin pergi, namun sekali lagi langkah kakinya terhenti setelah Ayahnya mengatakan sesuatu.
"Aku menentangmu menikahi putri Atmajaya !!"
"Mengapa ?!" Arka menelisik. Sejauh ini Ayahnya memang tidak terlalu suka mendengar keluarga itu.
"Bukankah sudah ku katakan padamu sedari dulu ? aku akan menjodohkanmu dengan keluarga Elianor ! dan kau tentunya tahu mengapa aku menempatkan Cindy di timmu !!" Tegasnya.
"Dan aku sudah mengatakan bahwa aku menolak perjodohan ini !!"
"Arka.. !!" Seru Ferdi dengan sangat marah.
Mau tidak mau kau harus menerima perjodohan ini !!" Titahnya.
Arka sudah merasa muak dengan perintah Ayahnya.
"Mengapa Ayah terus memaksaku ! aku tidak pernah menyukai wanita itu !" Bentak Arka.
Ruangan itu semakin gaduh. Bahkan sang asisten yang berjaga di luar tersentak mendengar beberapa barang yang di hancurkan.
Ini adalah perang antara Ayah dan Anak.
Ferdi akhirnya tertawa hambar melihat putranya yang membangkang.
"Heh.. sepertinya aku benar-benar gagal mendidikmu menjadi seorang putra !"
Jika kau tidak menuruti perintahku, maka aku akan menghapus namamu dari anggota keluarga. Dan kau tidak akan mendapatkan apa pun dariku !" Ucap Ferdi mengancam.
"Aku tidak peduli. Jika itu membuatmu puas, maka baiklah. Jangan pernah menganggapku sebagai putramu lagi.
Kau mungkin sukses dengan gelarmu dan usahamu saat ini, tapi kau telah gagal menjadi seorang Ayah !
Dan untuk Cindy, anda tidak perlu khawatir. Aku sudah membereskannya !" Ucap Arka mengakhiri pertengkaran itu kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Ferdi sedikit tercengang, ia tidak menyangka akan mengakhiri hubungannya dengan putranya seperti itu.
"Ia berubah menjadi arogan setelah mengenal wanita itu !" Lirihnya, tanpa sadar bahwa yang membuat putranya dingin seperti itu adalah perbuatannya sendiri.
Ia bahkan tidak menyadari putranya kini menjadi seorang yang berdarah dingin. Arka bisa melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang di inginkannya.
Ferdi kemudian teringat akan perkataan Arka sebelumnya.
"Apa maksudnya dia telah membereskan Cindy ?!" Lirihnya.
Dan dengan cepat menelfon asistennya untuk segera mencari tahu.
Beberapa menit kemudian.
Dia akhirnya mengetahui bahwa Cindy telah di pindahkan ke salah satu cabang yang terpencil.
Pada saat itu pula Ferdi mendapat telfon dari Elianor.
Suara ponsel berdering.
"Halo.." Ucap Ferdi.
"Sepertinya anda telah melanggar kesepakatan kita dr.Ferdi !"
"Apa yang anda coba katakan Tn.Elianor ?" Tanya Ferdi pura-pura tidak tahu.
"Apa kau benar-benar tidak tahu bahwa putramu telah memindahkan putriku dari departemennya ?!"
Dia bahkan mengirimnya ke cabang yang terpencil !" Murkah Elianor.
"Maafkan aku, Aku lalai dalam memperhatikannya." Ucap Ferdi.
"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan tentang hal ini ?!"
"Apa yang anda ingin aku lakukan ?"
"Berikan putriku satu posisi yang tidak ada yang bisa menyentuhnya !"
"Baiklah, aku akan mencobanya, dan membicarakannya ke beberapa departemen dan dewan direksi."
Kemudian telpon itu terputus.
••
Elianor adalah salah satu pesaing bisnis dari keluarga Atmajaya. Namun perbedaannya, Jika Atmajaya bergerak di beberapa bisnis, Elianor memfokuskan perusahaannya bergerak di bidang Interior furniture.
Walau dia sudah mencoba mengembangkan perusahaannya beberapa kali, namun tetap saja tidak bisa menyaingi harga pembeli di pasaran dari perusahaan Atmajaya.
Itu karna dia tidak memiliki cukup pengaruh dengan beberapa orang yang berpengaruh di negara itu.
Dan Grasiela Cindy Elianor, dia sudah lama memendam rasa pada Arka sejak ia masih berumur 9 tahun.
Demi mendapatkan perhatian Arka, dia rela menjadi seorang dokter yang sebenarnya bukan menjadi impiannya sejak kecil.
Dia hanya tidak menyangka bahwa Arka telah mencitai satu wanita sejak dia duduk di bangku SMA, dan sekarang mereka akan segera menikah. Dan itu membuatnya sangat frustasi.