
RS Anutapura.
Rena yang baru saja masuk di dalam ruangannya sedikit terkejut mendapati mejanya tergeletak sebuket bunga krisan putih.
Ini untuk pertama kalinya ia menerima buket bunga.
Rena sdikit kebingungan dan menatap bunga itu secara menelisik.
("Apa ini darinya ?") Batinnya.
Tapi Arka tidak pernah memberinya bunga krisan, Arka hanya selalu memberinya bunga mawar putih.
Tapi walau bagaimanapun ia berfikir, ia masih tetap menyukai bunga itu. Ia mengambilnya dan menghirup aromanya dengan dalam.
Rena kemudian mengambil gunting dan mulai menata bunga itu di dalam satu vas.
Hingga suara ketukan pintu menganggu aktivitasnya.
Tok. Tok. Tok.
"Silahkan masuk..!" Jawabnya lembut.
Pintu terbuka.
"Kau terlihat sangat bahagia." Ucap Arka.
Rena mengangkat kepalanya dan menatap sumber dari suara itu.
"Apa kau yang memberikan kejutan ini ?" Tanya Rena dengan senyum.
Arka tidak menjawab. Ia berjalan mendekati Rena.
"Happy Birthday." Ucapnya sembari menyodorkan kotak hadiah yang berukuran mini.
Rena sedikit terkejut, bagaimana bisa dia melupakan hari lahirnya ?
"Sebenarnya aku sudah menyiapkan kejutan untukmu semalam, tapi kau ti--"
Rena segera berdiri dan menyela kalimat Arka dengan memberinya ciuman di pipi dengan lembut.
"Maafkan aku." Ucapnya dengan nada bersalah.
Ia tahu Arka terus menelfonnya semalam, tapi dia tidak berkeinginan untuk menjawabnya.
Dan tentu saja Arka tidak bisa lagi berkata apa-apa, dia selalu kalah saat Rena berperilaku seperti itu padanya.
Arka segera menarik tubuh Rena, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Kau tidak bisa di maafkan begitu saja. Aku akan memberimu hukuman !" Ucapnya sembari mendekatkan wajahnya di wajah Rena.
Rena memutar bola matanya ke samping dan melepaskan tangan Arka.
"Emm hemm aku lupa kalau aku ada kunjungan pasien." Ucap Rena beralasan dan segera mengambil stetoskopnya.
"Aku akan menemuimu setelah sepulang kerja." Imbuhnya sembari berjalan menuju pintu.
Namun Arka lebih cepat melangkahkan kakinya dan segera mengunci pintu.
Rena menoleh melihat ke arah Arka dengan tanya.
"Apa yang kau lakukan ?!"
"Aku sudah memeriksa jadwalmu, kunjungan pasien jam 08.30 dan ini baru saja masuk jam 08.00 itu berarti aku masih memiliki kesempatan 30 menit untuk berada di sini bersamamu." Ucapnya dan kembali meraih pinggang Rena.
"Lalu apa yang akan kau lakukan ?!" Tanya Rena.
Arka tidak mengatakan apa pun, dia hanya terus menatap dalam mata indah kekasihnya itu dan perlahan mendekatkan wajahnya.
Rena sedikit gugup, memorinya tiba-tiba saja memutar kembali momen saat mereka berada di villa. Itu membuat jantung Rena berpacu dengan sangat cepat.
Arka memperhatikan wajah Ren dengan senyum.
"Sudah berapa kali kita berciuman ?" Tanyanya
Rena membuka matanya dan sedikit terkejut mendengar pertanyaan Arka yang begitu tiba-tiba.
"Emm, apa maksudmu ?!"
"Kau selalu saja gugup saat aku ingin menciummu." Ucap Arka kemudian menarik Rena duduk.
Arka mendaratkan bokongnya dan kemudian menarik Rena duduk di atas pangkuannya.
"Apa kau merasa tidak nyaman ?" Tanyanya lebih lanjut.
"Eh, itu--aku hanya--." Rena tidak tahu harus menjawabnya dengan kalimat seperti apa.
.
.
Arka sedikit tersenyum, sepertinya dia mengerti kalau Rena sedikit kesusahan menjawab pertanyaannya.
"Lupakan saja." Ucapnya.
Kapan kita bisa merayakan hari jadimu ?" Tanyanya lagi.
Rena sedikit berfikir.
"Bagaimana jika malam ini ? apa kau punya kesibukan ?!"Usul Arka sambil bertanya.
"Emm, bagaimana jika malam minggu ?" Usul Rena.
"Bukankah itu terlalu lama ? ini baru saja hari selasa." Ucap Arka sedikit menolak.
"Sebenarnya setelah kejadian waktu itu, Ayah melarangku untuk pergi kemanapun.
Jika ingin bertemu denganmu, maka aku harus meminti izin Ayah dulu." Jelas Rena.
Arka sedikit mengangguk.
"Apa itu alasan kenapa akhir-akhir ini kau selalu di jemput oleh Rendy ?" Tanyanya.
Rena menganggukkan kepalanya. Ia kemudian mengangkat pergelangannya dan melihat jam.
"Ini sudah hampir setengah sembilan, aku harus segera pergi." Ucapnya kemudian beranjak dari pangkuan Arka.
"Apa kau akan pergi begitu saja ?" Tanya Arka sembari menatap ke arah bunga yang sudah tertata rapi di dalam vas.
Rena sedikit tersenyum dan ingin mencium pipih Arka. Namun Arka segera menoleh membuat bibir mereka saling bersentuhan.
Rena sedikit terkejut namun hanya bisa tersenyum.
Arka ikut tersenyum.
"Aku pergi dulu." Ucap Rena.
Arka hanya bisa mengangguk dan melihat kepergian Rena.
•••
Bangsal Rumah Sakit.
beberapa orang baru saja masuk dengan keluhan yang berbeda-beda.
Dan saat ini Rena tengah menghadapi pasien dengan beberapa luka, sepertinya pasien itu baru saja mengalami kecelakaan bermotor.
Rena terlihat memberikan instruksi dengan perawat yang ada di sampingnya.
Pasien itu sedikit meringis kesakitan. Rena mencoba menenangkan.
"Tidak apa-apa, ini akan akan segera membaik." Ucapnya.
Oke.
Tenang.
Setelah itu balut lukanya." Titahnya pada perawat.
Aku akan menulis resep obat untukmu !
Tapi untuk tiga hari kedepan, jangan biarkan lukanya terkena air !
Oke !" Ucapnya pada sang pasien dengan senyum ramahnya.
Sang pasien hanya mengangguk dan membalas senyum ramah.
"Baiklah, begitu saja. Terima kasih !" Ucapnya lalu pergi.
Dia tidak menyadari ada satu pasien yang sedari tadi memperhatikannya dengan senyum.
"Mengapa tanganmu bisa robek seperti ini ?!" Tanya sang perawat padanya.
Entah sudah berapa kali perawat bertanya dan mencoba berkomunikasi dengannya, tapi pasien itu benar-benar tidak peduli atau mendengarkan.
Ia hanya terfokus dengan dr.Rena, dirinya seakan terhipnotis dengan senyuman dokter cantik itu yang sangat manis.
Hingga ia merasa tangannya terasa sangat perih.
"Aaargh.." Erangnya dengan spontan. Menimbulkan suara yang sangat keras di ruangan itu.
Membuat pandangan Rena mengarah ke sumber suara tersebut.
("Rangga.. ") Batinnya.
Dengan perlahan ia berjalan mendekatinya.
"Apa yang terjadi ?" Tanyanya pada seorang perawat yang menangani.
"Aku mensterilkan lukanya, aku tidak tahu apa yang melukai tangannya, aku takut jika lukanya terinfeksi dengan benda yang melukainya." Jelasnya.
Rena hanya menganggukan kepalanya pelan.
Ia meraih pergelangan tangan Rangga dan memeriksa lukanya.
"Lukanya tidak terlalu dalam.
Segera jahit lukanya, aku akan memberikan resep." Ucapnya pada perawat. Ia sama sekali tidak menatap wajah Rangga.
"Baik !!" Jawab sang perawat.
Rena segera melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dan Rangga, dirinya tidak bisa berkata apa-apa pun. Walau demikian, ia sedikit puas telah menatap wajah yang masih menjadi pujaan hatinya hingga saat ini.
Ia kemudian menatap lukanya dengan senyum. Perawat yang sedari tadi memperhatikannya hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkahnya.
"Tidak sia-sia aku melukaimu !" Ucapnya lirih.
Perawat itu semakin mentapnya dengan tatapan yang bingung. Ia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
"Apa kau melukai tanganmu sendiri ?!"
Arka yang masih menatap tangannya, menganggukkan kepalanya pelan dan tersenyum.
"Ya."
Karna sudah melakukan tugasnya, perawat itu segera mengumpulkan beberapa peralatannya dan pergi.
"Hemm dia tampan, tapi sepertinya sedikit tidak waras !
Kasihan sekali." Lirih sang perawat sembari berjalan meninggalkan Rangga yang masih terduduk di atas ranjang Rumah Sakit.
Ponsel berdering.
Rangga yang tersadar segera mengangkat ponselnya.
"Halo..!" Ucapnya.
"Apa kau sudah menyelesaikan kegilaanmu ?!" Bentak Reno di seberang telfon.
Rangga sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
Suara Reno yang membentak sedikit memekakan gendang telinganya.
"Halo..
Halo.. !" Ucap Reno menunggu balasan.
"Ya..!" Jawab Rangga datar.
"Segera kembali ke kantor !" Titah Reno.
"Ok !"
Flashback On.
Rangga terlihat gelisah di ruangannya. Jika sudah duduk, ia akan kembali berdiri dan terus mondar-mandir.
"Apa kau sedang cacingan ?!" Ucap Reno.
"Hei.. apa maksudmu ?!" Tanya Rangga sedikit tidak suka.
"Apa kau tidak bisa tenang ? kepalaku sakit melihatmu terus mondar-mandir di hadapanku !"Jelas Reno.
"Kalau begitu aku akan keluar !" Jawab Rangga dan dengan cepat berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Ia kembali melakukan aktivitasnya di depan ruangan Reno. Hingga beberapa karyawan melihatnya.
Membuat Reno semakin sakit kepala di buatnya.
Ia segera keluar dan menarik Rangga dengan paksa kembali masuk ke dalam ruangannya.
"Sekarang apa lagi ?" Tanya Rangga.
"Sebenarnya apa yang membuatmu gelisah seperti ini huh !!" Tanya Reno.
Rangga kemudian duduk.
"Aku sangat ingin bertemu dengannya, tapi aku tidak tahu harus bagaimana." Jawab Rangga sedikit frustasi.
Ia mengeluarkan ponselnya, kemudian jarinya menari diatas layar. Dan menatap foto Rena.
"Dia semakin cantik bukan ?!" Tanyanya dengan nada lirih.
Tok. tok. tok.
"Masuk !" Titah Reno.
Dara yang bekerja sebagai asisten Reno masuk membawa dua gelas kopi hangat.
"Letakkan saja di sana !" Titah Reno mengarah di meja depan Rangga yang sedang bersandar di sofa.
Dara terus memperhatikan Rangga, sebenarnya sejak pertama kali ia melihat Rangga masuk di perusahaan itu, dirinya sudah mulai merasa tertarik dengannya.
Hingga ia tidak menyadari posisi gelas yang harus ia letakkan belum sampai di meja, dan akhirnya ia tidak sengaja menjatuhkan gelas tersebut ke lantai.
Praaack..
Ketiganya sedikit terkejut.
"Maafkan aku, maafkan aku." Sesal Dara.
"Apa kau tidak memperhatikannya ?!" Bentak Reno. Ia tidak suka ada kesalahan sedikit pun.
"Aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Dara sembari membersihkan pecahan kaca.
Namun karna takut akan Reno, Dara sedikit ceroboh, hingga pecahan itu melukai jarinya.
"Aakh.. " Ringisnya pelan.
Reno berdecak kesal.
"Apa yang kau lakukan ?!" Bentaknya lagi, ia sudah sakit kepala mengurus temannya, dan sekarang asistennya juga membuat masalah.
"Tidak perlu sekeras itu ! kau membuatnya terkkejut dan takut !" Ucap Rangga kemudian memberi isyarat pada Dara untuk segera keluar dari ruangan tersebut.
Namun setelah melihat tangan Dara yang terluka, ia tiba-tiba mendapat sebuah ide dan dengan cepat berjalan mengambil serpihan kaca yang masih tergeletak di lantai.
Ia menutup matanya dan menggertakkan giginya dengan sangat kuat.
Reno yang kemudian berpaling melihatnya sedikit terkejut ketika melihat Rangga melukai tangannya sendiri.
"Rangga ! apa yang kau lakukan ?!" Serunya mendekati sahabatnya tersebut.
Rangga sedikit tertawa sembari menahan sakitnya.
"Kau selalu mengatakan kalau aku tidak waras bukan ?
Maka kali ini biar aku perlihatkan kegilaanku !" Ucapnya.
"Apa maksudmu ?!" Reno sedikit bingung, ia masih sedikit panik melihat darah yang begitu banyak kini bercucuran keluar dari telapak tangan Rangga.
"Aku akan ke Rumah Sakit !!" Ucap Rangga dengan cepat menutup lukanya dengan jasnya.
Akhirnya Reno sadar. Rangga sengaja melukai tangannya hanya karna ingin bertemu Rena.
"Aku rasa kau bukan hanya gila, tapi benar-benar gila !!" Bentak Reno sedikit tidak suka dengan cara Rangga.
"Aku sudah sering mendengarnya !
Dan ya, aku mungkin memang sudah gila.
Maka jangan halangi aku dengan kegilaanku ini !" Ucapnya kemudian dengan cepat keluar dari ruangan tersebut.
"Tunggu, siapa yang akan mengantarmu ?!" Tanya Reno sedikit berlari.
Rangga mengangkat tangan kanannya.
"Aku masih bisa mengemudi dengan tangan kananku !" Ucapnya kemudian pergi.
Flashback Off.
Saat hendak keluar dari Rumah Sakit, Rangga tidak sengaja berpapasan dengan Arka.
Arka menatapnya dengan tatapan tidak suka, sedang Rangga menatapnya dengan tatapan senyum tidak peduli.
Dan itulah perbedaan mereka.
Jika Arka selalu diam dan berpikir sebelum bertindak, maka Rangga akan melakukan apa saja yang muncul dalam pikirannya.
Dia mungkin sedikit gegabah dan terkadang bertindak ceroboh, tapi selalu mendapatkan hasil yang dia inginkan.