Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Chap. 138



"Maaf Ren, aku tidak bermaksud untuk tidak memberitahumu." Sesal Anggi.


Tanpa dugaan, Rena merentangkan tangannya membuat Tika Refleks menghindar dan akhirnya dapat memeluk Anggi dengan hangat.


"Selamat untukmu." Ucap Rena dengan tulus.


Anggi tidak menjawab, ia hanya tersenyum haru.


Tika yang berada di tengah-tengah di antara mereka juga akhirnya ikut memeluk kedua sahabatnya.


"Apa kau ingin tahu siapa lelaki pilihan Anggi ?" Tanya Tika membuka suara. Dia benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia.


"Siapa ?" Tanya Rena melepaskan pelukannya merasa penasaran.


Anggi hanya tersenyum.


"Coba tebak." Tantangnya.


Rena mengerutkan alisnya.


"Apa aku juga mengenalnya ?" Tanya Rena.


Tika dan Anggi mengangguk dengan senyum.


.


.


.


"Aaah tidak bisakah kalian memberitahuku saja ? aku benar-benar penasaran." Pasrah Rena.


"Dia Dicky, sahabat Rangga." Jawab Anggi pada akhirnya.


Mata Rena terlihat membola, untuk sesaat dia melirik ke arah Tika, melihat Tika menganggukkan kepalanya. Rena akhirnya hanya bisa tersenyum senang mendengarnya.


Tanpa terasa mereka sudah menghabiskan waktu sehari dengan mendengarkan kisah satu sama lain. Merasa tidak cukup, mereka melanjutkannya dengan Pajamas party (Pesta Tidur).


•••


Singapore.


Suara ponsel berdering.


"Halo mah."


"Halo sayang, bagaimana kabarmu ?"


"Baik, ada apa ?"


"Apa kau masih sibuk ?" Tanya Mariah saat mendengar suara dari beberapa orang lelaki seperti tengah berdiskusi.


"Sedikit. ada apa ? mamah baik-baik saja kan ?" Tanya Rangga, tidak biasanya Ibunya menelfon di jam seperti ini, ia melirik jam yang ada di tangannya menunjuk pukul 22.20.


Beberapa hari di Singapore dia benar-benar sibuk, karna kali ini ia harus menghandle sendiri jadwalnya dikarenakan Reno yang tidak bisa ikut bersamanya.


"Mamah sehat sayang. Apa kau tidak ingin pulang ?"


Rangga mengernyitkan dahinya.


"Sepertinya belum mah, masih ada beberapa hal yang belum terselesaikan."


Ada apa ?" Tanyanya kemudian.


"Apa kau lupa ? besok Keluarga Atmajaya akan melangsungkan pesta pernikahan."


Rangga terlihat menghela nafasnya kasar, namun di detik berikutnya ia melonjak kaget saat perkataan Ibunya terulang kembali di otaknya.


"Apa ? Siapa yang menikah ?" Tanyanya terdengar sangat penasaran.


"Putranya."


Namun entah mengapa Rangga seakan mendengar kalau Ibunya baru saja mengatakan Putrinya.


"Kenapa mamah baru memberi tahu ?!"


"Mamah pikir kau tahu."


"Ya sudah, aku akan check-in malam ini." Jawabnya terdengar terburu-buru.


Tut.


Setelah menutup telfon, Rangga menutup rapat saat itu juga, dia mengatakan akan melanjutkan rapat selanjutnya melalui via zoom.


Semua orang yang berada dalam ruangan tersebut hanya bisa mengangguk mengerti dan akhirnya hanya bisa menatap kepergiannya yang terlihat terburu-buru.


•••


Keesokan harinya.


Rena yang sedang bersama Ibunya di dalam sebuah hotel berkamar VIP tengah duduk santai menatap dirinya dari pantulan cermin. Dengan beberapa orang MUA tengah sibuk mendandani mereka agar tampil secantik mungkin.


.


.


.


"Kau cantik sekali sayang." Ucap sang MUA.


Rena hanya tersenyum.


"Bisakah kita berfoto bersama ?" Tanya sang MUA lagi.


Rena hanya mengangguk setuju, dia memang wanita yang ramah.


Cekrek.


Tanpa sabar sang MUA membagikan fotonya ke sosial media miliknya. Menurutnya, kapan lagi bisa berfoto bersama dengan putri pengusaha ternama itu ?


Tanpa ia sadari postingan yang baru saja ia bagikan membuat nama Rena kembali hangat di perbincangkan di dunia Maya. Tak terkecuali Rangga, dia juga melihat postingan tersebut muncul di beranda miliknya.


Melihat Rena yang memakai gaun berwarna putih tak berlengan dengan rambut yang di sanggul dengan beberapa aksesoris kecil menghiasi rambutnya. Dia terlihat begitu cantik dengan beberapa helai rambutnya dibiarkan terurai di sisi kiri dan kanannya.


Tidak ingin membuang waktu lebih lama, ia dengan cepat meraih jasnya dan menuju tempat di selenggarakannya pesta pernikahan tersebut.


Rendy yang sudah sedari tadi berdiri di depan pendeta menunggu datangnya sang mempelai wanita yang kini berjalan dengan anggun di dampingi oleh lelaki tua yang tidak lain adalah Ayah dari mempelai wanita.


.


.


.


Rangga yang baru saja memarkirkan mobilnya segera berlari masuk ke dalam gedung yang kini terlihat ramai dengan tamu undangan.


.


.


.


Pada saat Rendy dan Tika ingin mengucapkan janji suci pernikahan, Rangga tiba-tiba datang dengan nafas yang tidak beraturan karna sedari tadi berlari, bahkan pandangannya terlihat buram karna kelelahan. Membuatnya tidak bisa melihat jelas siapa yang berdiri di atas sana


"Tunggu..." Serunya dengan nafas terengah-engah.


Sontak membuat semua mata tertuju padanya, termasuk Rena yang tidak begitu jauh dari tempatnya berdiri.


"Rangga." Lirihnya.


"Ren, aku mohon jangan menikah dengannya." Pinta Rangga masih dengan nafasnya yang tak beraturan.


"Apa anak itu sudah mabuk ?" Tanya John membisik Istrinya merasa malu.


Rendy dan Tika yang tadinya sudah siap mengucap janji hanya bisa melongo menatap Rangga yang terlihat sudah berantakan.


"Rangga.." Sapa seorang wanita.


Rangga yang sangat mengenal suara itu segera menoleh menatap ke arah sumber suara.


"Rena.." Lirihnya sedikit terkejut. Saat mendapati Rena sudah berdiri tepat di sampingnya.


("Lalu siapa yang ada disana ?") Batinnya menatap kembali pasangan pengantin yang berdiri di depannya, tidak jauh dari tempatnya saat ini.


Melihat Rangga yang terlihat linglung, Rena segera menarik lengan pria itu dan menjauh, dan kembali bergabung dengan tamu undangan lainnya.


"Apa kita bisa melanjutkannya ?" Tanya sang pendeta.


Rendy dan Tika berbalik menatap sang pendeta, kemudian mengangguk setuju.


"Saya mengambil engkau menjadi istri/suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Ucap Mereka berdua secara bergantian.


Hingga akhirnya, acara itu selesai dengan pendeta yang memberikan doa pemberkatan sebagai penutup.


Semua tamu akhirnya bisa memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai tersebut secara bergantian, kemudian berakhir menikmati jamuan yang sudah di sediakan.


"Apa yang kau lakukan tadi ?" Tanya Rena yang kini menikmati segelas wine di tangannya.


"Ah ? aku--" Rangga terbata, ia tidak mungkin mengatakan secara gamblang apa yang baru saja ia coba lakukan ketika berfikir yang akan menikah adalah wanita yang sampai saat ini masih di cintanya.


Ia meneguk salivanya beberapa kali, berharap Rena tidak mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


Hingga sepasang kekasih tiba-tiba datang dan ikut bergabung.


"Hai Rangga." Sapa Dicky.


"Eh hai." Jawab Rangga menatap pasangan tersebut.


"Aku pikir kau tidak akan datang." Ucap Dicky sembari mempersilahkan istrinya duduk terlebih dahulu setelah menarik salah satu kursi.


Rangga semakin canggung mendengarnya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kebetulan pekerjaanku sudah selesai, jadi aku berinisiatif untuk pulang lebih cepat." Ucapnya terlihat gugup.


Rena mengangkat alisnya sebelah.


"Apa tadi kau berfikir yang menikah adalah aku ?" Terkanya.


Rangga menoleh kembali menatap kearah Rena.


"Apa ? tidak, aku tahu yang menikah adalah Rendy." Jawabnya berbohong.


Tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil nama Rena dengan cukup keras.


"Rena..."


Rena menengadah menatap sang pelaku.


"Apa ?" Tanyanya memberi isyarat.


Namun saat melihat beberapa gadis dan pria lajang mengambil posisi, ia akhirnya mengerti, kalau sudah saatnya acara lempar bunga pengantin.


Rena yang sedikit tertarik segera berjalan dan ikut menggambil posisi. Rangga yang sudah mengerti dengan acara tersebut hanya diam di tempatnya memperhatikan. Menurutnya acara seperti itu hanyalah sebuah permainan.


"Apa kau tidak ikut ?" Tanya Anggi.


"Untuk apa ?" Tanya Rangga kembali, sepertinya ia tidak begitu tertarik dengan permainan tersebut.


Namun Dicky dengan cepat berdiri dan menariknya ke arah kerumunan tersebut dan mengambilkan posisi untuknya dekat dengan Rena. Kemudian ia kembali duduk di dekat istrinya.


Untuk sesaat Rena dan Rangga saling menatap satu sama lain, hingga keduanya terlihat memaksakan senyumnya yang canggung dan akhirnya beralih ikut memberi hitungan mundur secara serempak.


Tiga...


Dua...


Satu....


aaaaaaaa...


Terdengar pekikan dari semua yang ada diruangan tersebut bergemuruh riang.


Sebuah buket bunga melayang di udara, dan


Hap...


Rena tersenyum saat berhasil menangkap bunganya, namun ia sedikit terbelalak saat menyadari bahwa bukan hanya dirinya yang menangkap bunga tersebut, tapi juga Rangga.


Mereka menangkap buket bunga tersebut secara bersamaan. Sekali lagi, mereka saling melempar pandangan satu sama lain dan kali ini berlangsung cukup lama.