Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
...



Setelah beberapa menit berlalu, Sarapan pagi yang hangat itu akhirnya selesai.


"Baiklah, Ayah akan ke kantor sekarang." Ucap lelaki tegas itu kemudian mencium dahi istrinya.


Rendi, aku percayakan Rena padamu !" Titahnya.


"Siap Pak !" Jawab Rendi


"Rena, jangan menyusahkan Rendi, mengerti ?"


"Iya Ayah.. !" Jawab Rena.


••


"Emm, kemana kita akan pergi Nona ?" Tanya Rendi membuka percakapan. Pasalnya, sejak mereka masuk ke dalam mobil, Rena belum pernah mengeluarkan suara atau bertanya sedikitpun.


"Aku juga sedikit bingung, aku ingin menghubungi Rangga dan mengajaknya bertemu, tapi aku sedikit malu." Jawab Rena


"Apa Nona ingin kerumahnya ?!" Tanya Rendi kembali.


"Tidak, aku masih belum siap untuk bertemu langsung dengan orang tua Rangga, bagaimana jika mereka adalah orang tua yang cerewet seperti Bunda ?"


Terlihat lelaki itu tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, ketika mendengar perkataan Rena.


"Nona tenang saja, calon ibu mertua Nona tidak seperti yang Nona fikirkan."


"Sokta (Sok Tau)" Judesnya


Rendi hanya bisa kembali tersenyum, kali ini bukan hanya lubang kecil yang tercetak di pipinya tapi juga memperlihatkan gigi rapihnya.


Rena yang duduk di kursi tengah memperhatikan gerak-gerik Rendi sekilas terpaku melihat senyum yang jarang di perlihatkan lelaki kaku yang kini menjadi penjaganya.


"Manis" Lirihnya tanpa sadar.


"Apanya yang manis Nona ?" Tanya Rendi.


Pertanyaan itu segera menyadarkan Rena.


("Upss") Batinnya.


"Eh-tidak, mengapa kau terus memanggilku Nona ?!" Ucapnya mencari alasan.


"Karna Nona adalah anak majikan saya." Jawab Rendi santai.


"Tapi itu terdengar terlalu berlebihan buatku, lagian umurku tidak terlalu jauh darimu, hanya saja aku sedikit muda."


Lagi-lagi Rendi hanya bisa tertawa tanpa suara mendengar ocehan dari Rena yang tidak lain adalah adik angkatnya sendiri.


"Mengapa kau terus tertawa ?" Tanya Rena sedikit kesal.


"Tidak, saya hanya tidak menyangka bahwa Nona ternyata sedikit cerewet. selama ini saya melihat Nona terlihat cuek dan pendiam." Jelas Rendi.


Hatinya merasa senang, bahwa akhirnya ia bisa berbicang langsung dengan adiknya, setelah untuk sekian lama ia menunggu momen seperti ini.


"Sudah ku bilang jangan panggil aku Nona, panggil saja aku Rena !"


"Baiklah !" Jawab Rendi dengan senyum yang menghangat.


"Kau terlihat sangat bahagia,padahal tadi jelas-jelas aku melihatmu menyeka air matamu waktu di meja makan !"


Apa yang membuat suasana hatimu berubah-ubah ?" Tanya Rena yang kini menatap pemandangan kota dari jendela di sampingnya.


"Eh-itu, saat Ibu menyiapkan roti dan susu untukku, seketika aku merindukan Ibuku."Jawab Rendi.


"Kalau rindu, mengapa kau tidak menemui Ibumu ?!"


Mendengar itu, Rendi hanya bisa tersenyum hambar.


"Beliau sudah lama meninggal."


Seketika Rena memalingkan pandangannya dan menatap Rendi melalui kaca spion yang ada di depannya.


"Maafkan aku,


Aku tidak bermaksud untuk-"


"Tidak mengapa." Sela Rendi.


Kau hanya tidak tahu." Imbuhnya.


"Lalu Ayahmu ?" Tanya Rena sedikit penasaran.


"Beliau lebih dulu pergi sebelum akhirnya Ibuku juga pergi setelah melahirkanku."


"Jadi siapa yang merawatmu selama ini ?"


Dengan senyum Rendi menjawab.


"Ada seorang lelaki berhati malaikat yang terus merawatku hingga sekarang."


"Benarkah ?"


"Emmm !" Jawab Rendi dengan anggukan.


"Lalu, apa yang membuatmu bahagia hingga sepanjang perjalanan kau terus tersenyum ?!"


"Eh-itu, aku hanya--"


Ah, kita sudah sampai." Ucapnya mencoba lari dari pertanyaan.


"Benarkah, cepat sekali."


Dengan intes Rena berpaling dan menatap rumah besar yang kini ada di depannya, dengan bergaya Spanyol.


"Apa benar ini rumah keluarga Aberald ?" Tanya Rena lirih tanpa memalingkan pandangannya dari rumah tersebut.


"Ya, silahkan." Ucap Rendi sembari membukakan pintu mobil untuk Rena.


"Tapi aku merasa sedikit takut." Ucap Rena memasang wajah cemasnya.


"Tenanglah, mereka adalah orang yang baik." Ucap Rendi dengan senyum.


Perlahan Rena menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan.



Kediaman Aberald


Ting Nong


Butuh beberapa kali Rena menekan tombol bel rumah tersebut sebelum akhirnya terdengar suara langkah mendekati dan membuka pintu.


Ceklek


Mariah sedikit terkejut melihat kedatangan Rena.


"Rena !" Ucapnya.


Dengan senyum gerogi Rena menyapa.


"Siang Tante.. !"


Namun, berbeda dari yang Rena fikirkan, Mariah segera memeluk dirinya dengan hangat.


"Bagaimana keadaanmu ? apa kau sudah baikan ?!" Tanya Mariah lembut sembari melepas pelukannya.


"Ah-aku-" Perlahan ia menundukkan wajahnya.


Sebenarnya aku belum mengingat semuanya." Ucapnya.


"Owh, tidak apa-apa sayang." Ucap Mariah sembari menyapu pelan kepala gadis itu.


Ayo masuk dulu." Imbuhnya.


.


.


.


"Kau mau minum apa ?" Tanya Mariah.


"Eh, air putih saja tante." Jawab Rena masih sedikit gerogi.


"Baiklah, ayo duduk dulu." Ajak Mariah.


"Iya tante." Jawabnya dengan senyum.


.


"Jika kau belum mengingat semuanya, bagaimana kau bisa kesini ?" Tanya Mariah.


"Emm,itu-, aku di temani oleh asisten Ayahku."


"Emm, lantas apa yang membuatmu datang ke rumah tante ?"


"Itu-, sebelumnya, maafkan aku soal Ayahku. Aku tahu kalau keputusan sepihak oleh Ayahku tempo hari, membuat malu keluarga tante."


Mariah terlihat hanya tersenyum kecut mendengar permintaan maaf dari Rena.


"Bagaimana bisa gadis sepertimu lebih bijak dari seorang penguasa seperti Ayahmu ?!"


Jujur saja, tante masih sakit hati oleh perlakuan Ayahmu, dia terlalu memandang rendah keluarga tante." Imbuhnya


Mendengar itu, Rena semakin cemas, untuk mengatakan hal selanjutnya yang ingin ia sampaikan. Ia hanya terus tertunduk dan memainkan kuku jempolnya bersamaan.


"Tapi, tante tidak pernah menyalahkanmu sayang, tante juga mengerti,kalau Rangga mungkin bukanlah yang terbaik untukmu." Ucap Mariah sembari memegang tangan Rena.


Dengan perlahan, Rena memberanikan diri untuk menatap wanita yang kini ada di sampingnya.


"Tante, apa aku boleh meminta sesuatu ?" Tanya Rena.


Dengan senyum Mariah menganggukkan kepalanya.


"Apa yang kau inginkan ?" Tanyanya.


"Aku ingin, pernikahan aku dan Rangga kembali di lanjutkan dengan tanggal yang sama."


.


.


"Tapi, itu tidak mungkin sayang, Tanggal pernikahanmu tiga hari lagi, Ayahmu telah membatalkan semuanya, termasuk bokingan hotel dan katering."


"Tapi, bagaimana dengan gaun pengantin ?" Tanya Rena.


"Kalau itu, tante masih menyimpannya, karna tantelah yang merancang sendiri gaun pernikahanmu dengan Rangga."


"Itu saja sudah cukup !" Ucapnya dengan mantap.


"Tapi, bagaimana mungkin ?"


"Tante, aku tahu keputusanku dulu ingin menikah dengan Rangga adalah keputusan yang benar. Hanya saja aku tidak tahu, mengapa aku tiba-tiba saja kehilangan memori itu semuanya."


Aku akan menikah di gereja tua di kota ini."


"Apa kau yakin ? bagaimana dengan undangannya ?."


"Kalau tante menerimaku kembali, kehadiran tante dan keluarga yang aku butuhkan."


"Kau anak yang baik." Ucap Mariah sembari mengelus pelan pipi Rena.


"Baiklah, tante akan menyampaikan berita gembira ini pada om dan Rangga."


"Tapi bagaimana bisa kau membujuk Ayahmu ?"


Dengan tawa yang kecil Rena menjawab.


"Apa tante tahu ?"


Rena dengan semangat menceritakan apa yang telah ia lakukan pada kedua orang tuanya, hingga orang tuanya dengan pasrah mengiyakan keinginannya.


Mariah yang mendengar cerita gadis itu, hanya bisa tertawa bahagia.