
Baru saja Rena mengangkat wajahnya ingin menjawab, Rangga tiba-tiba menangkap bibir Rena dengan bibirnya, lalu mengecupnya cukup lama, sepertinya dia tidak ingin memberinya kesempatan untuk menjawab.
Rena yang mendapat kecupan tersebut hanya bisa memejamkan matanya menikmati sensasi mesra yang diberikan suaminya.
"Aku benar-benar sangat mencintaimu Rena." Ucap Rangga dengan nada sendu, sembari memperbaiki helai rambut istrinya dan menyelipkannya ke belakang.
"Apa kau tahu betapa kesalnya aku saat itu ?! Saat kau mengatakan kalau kau telah bercinta dengan lelaki itu. Lelaki yang sudah memisahkan kita. Membayangkannya saja sudah membuat kepalaku serasa ingin pecah."Ungkapnya dengan wajah di tekuk.
"Salah sendiri, bagaimana bisa kau percaya padaku begitu saja ? Lagipula aku tidak pernah mengatakan kalau aku sudah bercinta dengannya, aku hanya mengatakan bagaimana jika aku tidak lagi virgin ?! Kau malah menyalah artikannya dan pergi tanpa meminta penjelasan." Ucap Rena membela diri sembari menjauhkan wajahnya beberapa senti ke belakang.
Rangga terdiam, yang di katakan Rena memang benar. Mengapa saat itu ia tidak bertanya dulu ?
Kalau di pikir-pikir Rena tidak sepenuhnya bersalah. Yang salah adalah dirinya yang tiba-tiba saja cemburu buta dan marah dengan sesuatu yang belum pasti.
Ia menatap Rena dengan lekat, dalam benaknya ia berfikir, jika sekarang ia meminta maaf, sudah pasti Rena merasa dirinya benar dan tidak akan diam menurut seperti saat ini. Dan tentu saja dia tidak akan memberi kesempatan padanya untuk mengambil keuntungan darinya.
"Tetap saja, jika kau tidak memancing ku dengan kata-kata seperti itu, aku mungkin tidak akan salah paham dan marah tanpa alasan seperti ini."
"Baiklah, baiklah, jadi apa kau masih marah hmm ?" Tanya Rena sembari menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya dan memutuskan untuk mengalah,ia tahu betul bagaimana perangai suaminya.
"Aku tidak marah, tapi kau... tetap harus di beri hukuman."
"Hmmm ?!"
Rangga memegang pinggang Rena dan menariknya lebih dekat dengan tangan yang lainnya memegang tengkuk lehernya, kemudian mengecup kembali bibir yang membuatnya selalu mabuk merindukannya.
Mereka terus saling bercumbu, hingga sebuah suara membuat mereka terhenti dan saling menatap satu sama lain dengan perasaan canggung.
Entah sejak kapan wanita paruh baya itu berada di ambang pintu
("Apa Mamah melihatnya, aaakh yang benar saja, sangat memalukan.") Batin keduanya.
Houaaammm.....
Mariah merenggangkan otot-otot tubuhnya sembari berjalan kearah lemari pendingin sambil sesekali mengucek kedua matanya.
Setelah mengambil sebotol air, ia kembali ke kamarnya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rena dan Rangga yang wajahnya kini merah merona karna malu.
Hening.
Keduanya hanya bisa tersenyum malu mengingat betapa memalukan nya kejadian tadi.
"I love you Rena." Ucap Rangga, lalu mengecup kening istrinya dengan lembut.
"Apa kau tidak mencintaiku ?" Tanyanya kemudian saat Rena tidak menjawab pengakuan cintanya.
"Emmm.. entahlah." Jawab Rena memalingkan muka sembari menyembunyikan senyum jahilnya.
Membuat Rangga mendengus kasar karna kesal.
"Sepertinya kau memang harus di beri pelajaran !" Ucapnya sembari mengangkat tubuh istrinya.
"Hei apa yang kau lakukan ? turunkan aku !"Pekik Rena.
" Sssst.. diamlah, apa kau ingin membangunkan semua orang ?!" Ucap Rangga memperingati dan membawa Rena menaiki anak tangga hingga masuk ke dalam kamar mereka.
Bruuukh..
Rangga melepaskan Rena begitu saja di atas ranjang, membuat Rena sedikit meringis kesakitan.
"Aaargh.. kau kasar sekali."
Namun Rangga tidak lagi menghiraukan perkataannya, ia malah melepaskan atasannya di susul dengan melepaskan tali pinggang celananya.
Membuat Rena meneguk salivanya dengan detak jantung yang memburu.
"Rangga, apa yang akan kau lakukan ?" Tanyanya.
"Menurutmu apalagi yang pantas menjadi hukuman mu selain hal ini ?!" Tanya Rangga kembali dengan seringai nakalnya.
Ia perlahan naik ke atas kasur, dan memegang kedua pundak Rena dengan lembut.
"Kenapa ? Kau terlihat sangat gugup." Tanyanya lagi dengan tangannya yang perlahan naik membelai surai istrinya.
"Tidak, aku tidak gugup, aku hanya..." Rena tidak dapat melanjutkan kalimatnya.
"Hanya apa ?"
"Rangga, sebenarnya aku... Aku sedang datang bulan." Jelasnya dengan suara melemah.
Rangga tersenyum, bahkan ingin tertawa setelah mendengar penjelasan Rena.
"Yaaa... ! apa kau ingin menipuku lagi ?"
"Tidak, kali ini aku serius." Ucap Rena sembari menggelengkan kepalanya cepat.
Rangga kembali tertawa, bahkan kali ini ia sampai mengeluarkan suara.
"Hahaa.. Sayang sekali nona, kali ini aku tidak akan tertipu."
"Rangga, aku tidak bercanda. Aku benar-benar sedang datang bulan." Rena sedikit menegaskan kalimatnya untuk meyakinkan.
Membuat Rangga menghentikan tawanya dan terdiam, ia juga melepaskan tangannya dari tubuh Rena dan menatap wajahnya dengan seksama.
"Apa kau serius ?" Tanyanya.
Rena mengangguk pelan di susul dengan senyum yang di paksakannya.
Namun tiba-tiba Rangga kembali mengeluarkan seringai nakalnya dan mendorong tubuh Rena lalu menindihnya.
"Tapi aku masih tetap tidak percaya." Ucapnya sembari menyerang istrinya dengan beberapa kecupan.
"Rangga, Rangga.. Stop! Aku benar-benar serius." Ucap Rena sekali lagi mencoba menahan kepala suaminya agar berhenti untuk menciumnya.
"Ren, ayolah, kau sudah merusak malam pertama kita, apa sekarang kau juga masih ingin menolak ?!" Ucap Rangga dengan wajah di tekuk.
"Mau bagaimana lagi, aku benar-benar sedang datang bulan."
"Serius ?!"
"Haah.. ? Tidak, tidak, itu tidak perlu. Baiklah, aku percaya."
Dengan penuh rasa kecewa Rangga melepaskan tubuh Rena dan berbaring lemas di sampingnya.
"Sejak kapan mulainya ?" Tanyanya dengan mata terpejam.
"Sejak tadi, sehabis makan malam."
"Itu berarti aku harus menunggu seminggu lagi ?"
"Ya.. Sepertinya begitu."
"Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita tidur saja." Ucapnya mengakhiri percakapan dan menutup matanya dengan rasa kecewa.
Rena yang mendengar kalimat terakhir suaminya hanya bisa tersenyum dan berbalik menatap wajah Rangga yang mulai terlelap.
"Maafkan aku sudah membuatmu kesal beberapa hari." Ucapnya lembut sembari mengecup wajah suaminya.
"Berhentilah terus menggodaku Ren." Rangga kembali bersuara dengan suara beratnya.
Sebenarnya di dalam benaknya ia berkata bahwa ada baiknya mereka tidak melakukan hubungan intim malam ini. Ia tidak bisa menampik kalau dirinya saat ini merasa sangat lelah.
Dalam diam, ia tersenyum dengan mata yang masih terpejam, kemudian perlahan mengulur tangannya memeluk erat tubuh Rena dan lambat laun terlelap hingga pagi menyambut sinarnya mentari.
Kediaman Atmajaya.
Pukul 08.00.
"Pagi Yah, Bun." Sapa Rendy bersama Tika.
"Pagi sayang." Jawab Rani dengan senyum. Sedangkan Jaya hanya menatap keduanya sesaat dan mengangguk pelan.
"Bagaimana tidurmu sayang ?" Tanya Rani pada Tika, masih dengan wajah ramahnya.
"Nyenyak Bun." Jawab Tika seadanya.
"Yakin.. ? Apa Rendy tidak mengganggumu ?" Tanya Rani kembali mencoba menggoda menantu barunya tersebut.Membuat Tika tak bisa bersuara dan tersenyum malu.
"Bun..." Ucap Rendy dengan nada memohon untuk tidak menggoda istrinya.
Membuat Rani hanya bisa tertawa.
"Maaf sayang, Bunda hanya bercanda." Ucapnya kemudian.
Namun berbeda dengan Atmajaya, ia sedari tadi hanya diam menatap tablet di tangannya sambil sesekali menyesap kopinya.
Membuat Tika merasa sedikit kiku. Sampai saat ini, Tika masih belum bisa mengambil hati pria paruh baya itu. Tapi, ia juga tidak begitu merasa sedih karna selain suaminya, masih ada Rena dan juga Ibu mertua yang selalu baik padanya.
Jaya meletakkan tabletnya di atas meja, kemudian memperbaiki posisi duduknya bersiap untuk menikmati sarapan paginya.
"Apa ada kabar dari Rena ?" Tanyanya memulai percakapan.
Rani,Rendy dan Tika hanya bisa saling melempar pandangan satu sama lain.
"Anak itu, apa dia sesibuk itu hingga tidak pernah memberi kabar ?!" Umpat Jaya pelan.
"Biar aku coba menelponnya." Ucap Rendy kemudian berdiri dan sedikit menjauh dari ruangan tersebut.
Di sisi lain.
Keluarga Aberald.
"Bagaimana keadaanmu sayang ?" Tanya Mariah pada Rena yang baru saja duduk bergabung di meja makan.
"Jauh lebih baik mah."
"Apa Rangga sudah pulang ?"
Rena sedikit terkejut mendengar pertanyaan Ibunya, nyatanya bukankah semalam Ibunya telah memergoki mereka berdua di tempat ini ?
"A.. Iya, semalam dia pulang." Jawabnya senormal mungkin.
"Emm baguslah. Lalu dimana dia ?"
"Em.. mungkin masih mandi." Jawab Rena asal.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nah, itu dia." Ucap Mariah dengan senyum menyambut kedatangan putranya.
"Pagi Mah, Pah." Sapa Rangga kemudian menarik salah satu kursi dekat dengan Rena.
"Pagi sayang, tumben mandinya lama, habis keramas ya..?" Goda Mariah.
Mendapat ejekan secara tidak langsung dari Ibunya, Rangga hanya memberikan ekspresi biasa saja, bahkan sedikit tidak bersemangat.
Rena yang juga mendengarnya hanya bisa tersenyum,namun setelah menatap wajah Rangga ia memaksa senyuman itu tetap ada.
"Wajahnya sampai lesu begitu, pasti capek ya." Goda Mariah lagi.
"Capek apanya ? Dia lagi datang bulan !!" Umpat Rangga pelan sembari meraih sendok dan garpu yang ada di depannya.
Namun umpatan itu masih dengan jelas terdengar di pendengaran Mariah, bahkan Ayahnya yang baru saja tiba di meja makan pun sempat mendengar di akhir kalimatnya.
"Datang bulan ? Siapa ?" Tanya John sembari duduk di kursinya.
Mariah yang mendengarnya hanya bisa tertawa lucu, sedangkan Rena, ia hanya bisa mencubit pinggang suaminya dengan gemas, hingga suara ponselnya berdering.
Ia meraih ponselnya dan menatap nama yang tertera di atas layar.
"Siapa ?" Tanya Rangga.
"Kak Rendy." Jawabnya.
Akhirnya Rena memiliki kesempatan untuk keluar dari percakapan memalukan itu, ia lalu meminta izin sebentar kemudian beranjak menjauh dari ruangan tersebut.