
RS Anutapura.
Cahaya matahari pagi sedikit menyilaukan mata Rangga. Ia mengerjapkan matanya dan membukanya secara perlahan.
Seluruh tubuhnya terasa nyeri. Ia bergerak secara perlahan,dan melihat Reno masih tertidur di sofa yang berada di sudut ruangan.
"Ren..
Reno.. !" Panggilanya.
Reno mengucek matanya pelan kemudian segera terduduk saat melihat Rangga telah sadar dan duduk bersandar di pembaringannya.
Ia kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menuju ke arahnya dengan sangat cepat.
"Sejak kapan kau bangun ?!" Tanyanya.
"Baru saja." Jawab Rangga.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Ucapannya sedikit terburu-buru dan keluar dari ruangan.
Setelah beberapa saat, ia kembali dengan seorang dokter bersama dua perawat wanita.
Dokter tersebut segera memeriksa Rangga.
"Bagaimana dok ?! apa dia baik-baik saja ?" Tanya Reno.
Dokter itu sedikit tersenyum.
"Dia baik-baik saja,tidak ada luka yang cukup serius.
Hanya saja untuk sekarang dia perlu lebih banyak beristirahat.
Dan pastikan untuk memberinya makan tepat pada waktunya.
Karna selain luka di tangannya,dia juga terserang magh." Jelas sang dokter.
"Baik dokter !" Ucap Reno mengerti.
"Baiklah, begitu saja.
Kalau begitu saya permisi." Pamit sang dokter.
Reno menundukkan kepalanya mengerti.
Setelah dokter itu keluar, Reno menatap pasrah pada Rangga. Ia menghela nafasnya pelan.
"Apa yang sebenarnya terjadi ? mengapa kau bisa terlibat perkelahian dengan seseorang ?!" Tanyanya sambil bertolak pinggang.
Rangga menyipitkan matanya menatap Reno sedikit jijik.
"Sebaiknya kau membersihkan dirimu terlebih dahulu !"
Reno kemudian menatap dirinya,pakaiannya terlihat sangat berantakan dengan wajah yang begitu kusut dan rambut yang acak.
"Okey. Kalau begitu aku akan menelfon Dara untuk menemanimu !" Ucap Reno
Rangga menganggukan kepalanya pelan.
Kemudian Reno terlihat menelfon seseorang dan keluar dari ruangan tersebut.
Rangga menyandarkan kepalanya di bantal. Menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih itu sembari mengingat kejadian yang menimpanya semalam.
Dan kemudian mengangkat tangannya yang sudah terlilit perban. Kedua tangannya kini telah terluka.
Untuk sesaat ia memejamkan matanya. dan terlihat sedikit gelisah. Cukup lama ia menunggu Dara,hingga perutnya mulai terasa tidak enak dan ingin muntah.
Dengan cepat ia berusaha untuk turun dari tempat tidurnya, dan menyeret kakinya yang masih terasa nyeri akibat perkelahiannya semalam.
Dan akhirnya ia sampai di kamar mandi dan terdengar muntah beberapa kali. Membuatnya merasa lemas.
Ia memegang pintu kamar mandi untuk segera keluar, namun ia semakin tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya dan
Brrrukh..
Sebuah tangan dengan tubuh kecil segera menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh.
Rangga menatap sayu wajah wanita yang menolongnya.
"Rena.." Lirihnya.
Kemudian ia kembali tidak sadarkan diri.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya ia bangun dan membuka matanya perlahan, kemudian melihat wanita yang kini menatapnya dengan cemas.
"Dara.. " Sapanya pelan.
Dara menganggukkan kepalanya.
Rangga sedikit berfikir, sebelumnya ia benar-benar merasa bahwa Rena menolongnya.
("Apa aku hanya berhalusinasi ?!") Batinnya.
"Apa bapak baik-baik saja ?!
Dokter mengatakan bahwa bapak terserang magh.
Apa bapak ingin makan sesuatu ?!" Tanya Dara.
Rangga mengerjapkan matanya dan menganggukan kepalanya pelan.
Dara segera mengeluarkan bubur yang dibawanya atas perintah Reno.
Ia menyiapkannya sedikit terburu-buru, dan kemudian membantu memperbaiki posisi Rangga.
"Aku ingin minum terlebih dahulu !" Ucap Rangga.
Dara mengangguk dan segera menuangkan segelas air hangat.
"Mengapa air hangat ? aku tidak suka !" Ucap Rangga menolak.
"Saat ini perut bapak sedang tidak baik, sebaiknya minum air hangat !!"
Rangga merasa pasrah, dia sedang tidak ingin berdebat. Kemudian mengambil air tersebut dan meminumnya.
Sementara itu Dara terlihat meniup-niup bubur yang akan di berikan pada Rangga.
Rangga berdecak.
"Jangan meniupnya !"
"Tapi ini masih sangat panas,aku baru saja membelinya." Ucap Dara.
"Tapi kau tidak perlu meniupnya seperti itu." Ucap Rangga sedikit kesal.
"Haaih..bapak sangat cerewet !!" Umpat Dara.
Rangga memelototkan matanya dengan marah.
"Letakkan saja di situ,aku akan memakannya sendiri." Ucap Rangga.
Dara sedikit cemberut kesal menghadapi bosnya itu. Ia meletakkan mangkuk bubur tersebut di atas meja dengan kasar.
"Aah.. sepertinya kau ingin di pecat !" Ancam Rangga.
Rangga meraih ponselnya dan menelfon Reno.
"Halo "
"Kau dimana ?" Tanya Rangga.
"Aku sedang di perjalanan." Jawab Reno.
"Baiklah, cepat kesini, aku tidak tahan dengan asistenmu !" Ucap Rangga sedikit melirik ke arah Dara.
"Apa dia melakukan kesalahan ?!" Tanya Reno.
Belum sempat Rangga menjawabnya,Dara segera mendekat merebut ponsel Rangga dan mematikan telfonnya.
"Hei.. kau !" Tunjuk Rangga kesal.
"Maafkan aku pak..
Baiklah,aku akan menuruti setiap perkataan bapak dan tidak akan membantah !!" Ucap Dara memohon.
Eh, apa bapak ingin makan ?!" Tanyanya sembari mengangkat mangkuk bubur sebelumnya.
Aku tidak akan meniupnya lagi." Imbuhnya dengan menggelengkan kepalanya.
"Berikan padaku !" Perintah Rangga.
Dara memberikan bubur tersebut dengan pelan.
Rangga perlahan memakannya.
"Apa bapak ingin minum ?" Tanya Dara
"Tidak, aku tidak suka minum saat sedang makan." Jawab Rangga sembari menikmati buburnya.
"Oh, baik pak." Ucap Dara mengerti.
"Dara, apa menurutmu aku terlihat tua ?!" Tanya Rangga kemudian, namun tidak menatap Dara.
"Eh, itu. Mengapa bapak tiba-tiba bertanya ?" Tanya Dara sedikit canggung.
Rangga mengangkat wajahnya dan menatap Dara.
"Jawab saja !" Ucapnya datar.
"Eh tidak, bapak masih terlihat sangat muda dan tam--" Jawab Dara terlihat bersemangat namun tidak bisa mengakhiri perkataannya di akhir kalimat.
"Dan apa ?" Tanya Rangga.
Iya,itu,dan tangguh." Jawab Dara sedikit terbata dan tertawa paksa.
uhuk.uhuk..
Rangga sedikit terbatuk, membuat Dara dengan cepat menyodorkan air minum untuknya.
"Ini pak.."Ucapnya.
"Jangan lagi panggil aku bapak !" Ucap Rangga sembari mengambil gelas air tersebut.
Iku merasa jadi sangat tua saat kau memanggilku bapak." Imbuhnya.
"Eh,tapi bapak adalah atasan saya !" Jawab Dara merasa canggung
"Kau bukan asistenku, dan atasanmu adalah Reno !" Ucap Rangga.
"Lalu aku harus memanggil bapak apa ?!" Tanya Dara.
"Rangga, panggil saja namaku !" Jawab Rangga.
"Tapi itu terdengar sedikit tidak sopan,dan saya takut jika pak Reno memarahiku karna memanggil nama bapak !" Jelas Dara.
Rangga sedikit berfikir dan kemudian berkata.
"Berapa umurmu ?" Tanyanya.
"Dua puluh Pak..!" Jawab Dara.
"Kau jauh tujuh tahun lebih muda dariku.
Kalau begitu kau bisa memanggilku kakak !" Ucap Rangga.
Dara sedikit tersenyum, di dalam hatinya ia merasa bahagia, sepertinya dia memiliki peluang untuk mendekati duda tampan itu.
Ia tidak menyadari kalau Rangga sebenarnya memperhatikannya.
"Mengapa kau senyum-senyum seperti itu ?" Tanyanya.
Dara sedikit tersentak mendengar ucapan Rangga.
"Eh, tidak, aku hanya-
Aku akan segera kembali." Ucapnya dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Dara menutup pintu dan bersandar memegangi pipinya yang sedikit memerah, ia malu tertangkap basah oleh Rangga.
"Dara.. "
"Emmm.. " Jawabnya dengan senyum tanpa memperhatikan sipa yang memanggilnya.
"Dara.. !!" Seru Reno sedikit membentak.
Membuat Dara terkejut dan tersadar dari kebahagiaannya.
"P-pa-pak Reno ?!" Ucpnya terbata.
"Apa yang kau lakukan di sini huh ! Bukankah aku menyuruhmu untuk menjaga dan merawat Rangga ?!!" Bentaknya.
"Ma-ma-maafkan saya pak." Ucap Dara menundukkan pandangannya. Ia sangat takut menatap wajah atasannya itu, apalagi mendengar suaranya yang selalu membuat jantungnya ingin lompat keluar dari tempatnya.
Reno melangkah ingin masuk, namun Dara melangkah di arah yang sama, Reno kemudian mengambil sisi yang berlawanan, dan lagi-lagi Dara juga melangkah di tempat yng sama.
Reno memegang jidatnya menahan amarah.
"Apa yang sebenarnya kau lakukan !!" Bentaknya.
Membuat Dara semakin takut. Ia sedikit gemetar.
Reno memegang kedua bahu Dara dan menyeretnya sedikit kesamping.
"Diam disini !!" Titahnya, kemudian berjalan masuk kedalam ruangan dan menutup pintu.
"Apa yang terjadi ?"Tanya Rangga melihat wajah kesal temannya.
"Tidak ada." Jawab Reno datar, kemudian duduk di samping Rangga.
"Bagaimana keadaanmu ?!" Tanyanya kemudian.
"Aku sudah merasa lebih baik !!"
"Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi tadi malam ? Mengapa orang itu menyerangmu ?."
Rangga perlahan menceritakan bagaimana kronologi saat ia di serang.
"Apa kau dapat mengenali wajahnya ?"
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Ia tidak melepaskan helmnya, yang aku tahu, dia memiliki postur tubuh yang ideal dan tingginya sekitar 170 cm.
Ah, dan satu lagi, dia memiliki bekas luka sayatan di pergelangan tangannya." Jelasnya.
"Apa kau memiliki orang yang dapat kau curigai ?!" Tanya Reno.
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Tidak.. aku tidak dapat memikirkan siapa pun kecuali-"
Reno menatap Rangga dengan menelisik.
"Atmajaya ?!" Jawab Reno.
"Tapi itu tidak mungkin." Ucap Rangga mengelak tak percaya.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa ini bukan perbuatannya ?!" Tanya Reno terlihat tidak suka.
"Aku sangat mengenalnya, ia tidak akan pernah mengotori tangannya dengan hal-hal yang seperti ini." Jawab Rangga.
"Lalu siapa lagi kalau bukan dia ?!" Tanya Reno.
"Entahlah, untuk saat ini sebaiknya kita jangan berasumsi dulu. Lagi pula kita tidak memiliki bukti atau petunjuk yang mengarah kepadanya."
Reno menganggukkan kepalanya mengerti.
"Apa kau sudah meminum obatmu ?!" Tanyanya kemudian.
Rangga menggelengkan kepalanya.
Reno kemudian berdecak kesal dan berjalan mengambil obat yang berada di atas meja.
"Mengapa pekerjaannya tidak pernah becus." Umpatnya.
Rangga sedikit tertawa tanpa membuat suara.
"Apa sebaiknya aku memecatnya saja.
Bagaimana menurutmu ?!" Tanya Reno pada Rangga.
Seketika saja Dara menerobos masuk dan memohon kepada Reno, ia bersujud sambil memeluk kaki atsannya itu.
Membuat kedua lelaki itu sedikit terkejut melihat aksinya.
"Jangan pecat saya pak ! saya mohon !"
"Hei.. apa kau menguping lagi ?!" Tanya Reno dengan suara sedikit keras.
"Saya mohon jangan pecat saya pak !!" Dara terus memohon tanpa mempedulikan emarah Reno lagi.
"Lepaskan.." Ucap Reno mencoba menarik kakinya dari pelukan Dara, namun Dara tidak lagi mendengarkan. Ia tidak ingin di pecat begitu saja oleh bosnya, terlebih dia baru saja dekat dengan Rangga.
"Pak, maafkan saya. Tolong jangan pecat saya." Ucapnya terus menerus memohon.
Reno mengerutkan alisnya tak berdaya, membuat Rangga menahan tawa di tempatnya.
"Baiklah,baiklah.. aku tidak akan memecatmu !" Ucap Reno.
Dara mengangkat wajahnya dan menatap Reno dengan senyum, ia kemudian berdiri dan memeluk Reno dengan sangat erat.
"Terima kasih pak.. terima kasih." Ucapnya sangat senang.
Reno yang mendapatkan pelukan dari Dara yng secara tiba-tiba sedikit terkejut, ia membolakan matanya.Namun segera tersadar dan mendorong tubuh Dara.
"Apa yng kau lakukan ?!" Bentaknya.
Aku sudah memperingatimu untuk menjaga batasanmu !!"
"Maafkan saya pak, saya hanya terlalu senang dan bersemangat !" Ucapnya menundukkan wajahnya.
Reno menatapnya sinis kemudian berjalan mendekati Rangga.
"Apa kau belum puas menertawakanku ?!" Bentaknya pada Rangga.
"Hei.. apa kau membentakku huh ?!" Ucap Rangga.
Lagi pula itu terserah padaku, aku ingin tertawa." Imbuhnya kemudian.
Reno selalu kalah jika berdebat dengan Rangga,ia menghela nafasnya kasar.
"Baiklah terserah dirimu.
Sekarang minum obatmu !!" Ucapnya kemudian, sembari menyodorkan piring berisi obat yang ada di tangannya.
"Ah.. Pak, biar saya saja." Ucap Dara menyambar piring dan gelas air minum di tangan Reno.
"Kak Rangga, silahkan di minum obatnya."Ucap Dara lembut.
Reno yang mendengar perkataan Dara sedikit terkejut dan mengerutkan alisnya tak percaya, matanya menatap sipit asistennya itu.
("Kak ?!") Batinnya.