
Mariah yang baru saja kembali di Rumah Sakit sedikit terkejut melihat beberapa perawat masuk ke kamar anaknya.
"Apa yang terjadi ?" Lirihnya. Dan dengan cepat melangkahkan kakinya dengan Moura yang menggenggam tangannya.
"Oma, mengapa oma terburu-buru ?!" Tanya Moura yang kini berlari kecil menyeimbangi neneknya.
"Sesuatu terjadi pada ayahmu." Ucapnya cemas.
.
.
"Apa yang terjadi ?" Tanyanya ketika telah masuk dalam ruangan.
"Ny.Mariah !" Sapa Anggi membantu menyimpan belanjaan wanita itu.
Mariah dengan cepat mencekal tangan Anggi.
"Ada apa dengan putraku ?"
Anggi melirik perawat lain dan memberinya isyarat agar segera pergi. Dia takut kalau salah satu dari mereka keceplosan dan mengatakan yang sebenarnya.
"Sebaiknya ibu beristirahat dulu." Ucap Anggi mencoba menenangkan.
"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku ? ada apa dengan putraku ?!" Seru Mariah sedikit mengeraskan suaranya histeris. Air matanya kini mulai merembes membasahi wajahnya.
Moura terdiam saat menyaksikan hal itu.
"Aku mohon ibu tenang dulu, kondisi pasien bisa terganggu jika ibu membuat keributan seperti ini."
"Bagaimana aku bisa tenang ? jika terjadi sesuatu pada putraku aku akan menuntut kalian semua !" Ancam Mariah.
"Kondisi pasien saat ini dalam tahap pemulihan, mohon pengertian dan kerja samanya." Ucap Anggi dengan sabar.
Ia tidak bisa mengatakan apa yang baru saja terjadi, karna itu bukanlah haknya untuk menjelaskan keadaan pasien.
"Dr.Arka akan segera tiba dan menjelaskannya pada Ibu." Imbuhnya.
Plak..
Sebuah tamparan keras terlayang dan berhasil menerpa kulit wajah Anggi.
"Apa hanya itu yang bisa kau katakan ?!" Bentak Mariah.
Arka yang berjalan menuju kamar Rangga mendengar kegaduhan dari ruangan tersebut. Ia segera berlari mencoba melerai.
Ketika Mariah ingin melayangkan kembali tamparannya, seseorang tiba-tiba saja menangkap tangannya dengan sangat keras. Refleks dia berbalik dan menatap orang yang menghalanginya.
"Beraninya kau meng--" Kalimat Mariah terhenti saat melihat orang yang kini ada di hadapannya.
"Kau..!" Jawab mereka bersamaan.
Selama ini Mariah memang belum bertemu langsung dengan dokter yang menggantikan Rena untuk merawat putranya. Ia juga tidak ada keinginan menemui dokter tersebut karna dirinya hanya bisa terus berharap pada Rena.
Dan Arka juga baru kali ini bertemu dengan Mariah. Ia tidak tahu kalau Ibu yang waktu itu di ajaknya berbicara adalah Ibu dari Rangga. Dengan refleks ia menatap gadis kecil yang berdiri di samping Mariah.
("Jadi dia.. ") Batinnya.
"Paman dokter.. !" Sapa Moura.
Arka melepaskan cekalan tangannya pada Mariah.
"Apa yang terjadi di sini ?" Tanya Arka tegas.
"Aku hanya memberikan pelajaran pada perawat ini." Ucap Mariah lantang.
Arka memicingkan matanya, ia melirik ke arah Anggi yang kini tertunduk menahan sakit di pipinya.
"Apa Ibu tidak tahu aturan yang ada di Rumah Sakit ?! Ibu akan terkena sanksi pidana jika melakukan kekerasan pada perawat yang sedang memberikan pelayanan !" Jelas Arka mencoba menahan amarahnya.
Mariah melototkan matanya tidak percaya.
"Apa sekarang kau mengancamku ?!" Tanya Mariah semakin kesal.
Arka tidak memperdulikan dan membantu Anggi keluar dari ruangan tersebut.
Memangnya siapa dirimu ? beraninya mengatakan hal itu padaku ! apa kau tidak tahu siapa aku ?!" cecar Mariah. Mengikuti Arka dari belakang. Ia masih belum merasa puas karna masih belum mendapatkan jawaban atas anaknya.
"Kau pergilah lebih dulu." Titah Arka pada Anggi sedikit berbisik.
Anggi menganggukkan kepalanya kemudian melangkah dengan cepat meninggalkan area tersebut.
"Aku tahu !" Jawab Arka dingin dan berbalik menatap Mariah.
Ny.Mariah Aberald, salah satu pendonasi terbesar di Rumah Sakit ini."
"Kalau begitu, mengapa kau sangat berani mengancamku seperti itu huh !"
"Karna sekarang aku yang bertanggung jawab atas putramu ! apa kau tidak ingin melihat putramu sembuh ?"
Kini semua mata tertuju pada mereka. Moura yang melihat neneknya seperti itu, mencoba menarik tangan Mariah.
"Apa ? jadi kau dr.Arka yang menggantikan dr.Rena ?!" Tanya Mariah terlihat sedikit tidak suka.
Aku tidak yakin kalau kau bisa bekerja sebaik dr.Rena." Sindir Mariah.
Entah mengapa Arka sedikit tersenyum tumpul setelah mendengar perkataan Mariah.
"Apa ibu itu begitu bodoh ?" Bisik perawat pada kepala perawat Jenny.
"Ssyuuut..!" Jenny memberi kode agar tidak bersuara.
"Apa dia tidak tahu siapa dr.Arka ?"
"Sangat Bodoh !"
"Mengapa dia mengatakan hal seperti itu ?"
Beberapa perkataan dan bisikan tertangkap jelas oleh pendengaran Mariah. Ia menatap dalam dokter yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Aku hanya sedikit senang mendengarmu memuji dr.Rena." Terang Arka.
Terlihat jelas, ada kebingungan dan tanya di mata wanita itu saat ini.
"Aku akan menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan Ibu saat ini. Ibu bisa mengikutiku di ruangan." Ucap Arka mempersilahkan Mariah mengikutinya menuju ruangan konselingnya.
Sebelum mengikuti Arka, Mariah terlihat mengatakan sesuatu pada Moura.
"Sayang, Oma akan pergi sebentar. Mau kah kau menemani Ayahmu ?"
"Apa aku tidak bisa ikut ?" Tanya Moura.
Mariah menggelengkan kepalanya dengan senyum.
"Oma tidak akan lama."
"Baiklah oma..!" Jawab Moura.
"Anak yang baik !" Ucap Mariah, kemudian membawa masuk Moura kembali ke dalam ruangan di mana Rangga di rawat. Setelah itu dia bergegas mengikuti arah kemana Arka pergi.
••
Kini Mariah telah berdiri di dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas. Ia memperhatikan segala yang ada didalamnya. Beberpa piala dan piagam penghargaan berjejer rapi di sebuah lemari panjang yang ada di ruangan itu.
("Mahasiswa terbaik ? Harvard ?") Batin Mariah ketika matanya tertuju pada satu bingkai piagam penghargaan milik Arka.
"Silahkan duduk Ny.Mariah.. " Ucap Arka mempersilahkan.
Perlahan Mariah mendaratkan bokongnya dan sekali lagi, ia terkejut dan bahkan lebih terkejut saat melihat beberapa foto Rena dan kebersamaan mereka saat di Harvard terpajang dalam bingkai kecil di atas meja kerja pria yang kini duduk bersebrangan dengannya.
"Apa hubunganmu dengan dr.Rena ?!" Tanya Mariah yang tidak bisa lagi menahan dirinya untuk bertanya.
"Aku rasa itu bukan pertanyaan untuk seorang pasien !" Ucap Arka lugas.
Mariah mengatup mulutnya. Sepertinya dia baru sadar, kalau dirinya tidak bisa menganggap remeh pria yang ada di hadapannya.
"Apa Ibu sadar ? apa yang baru saja ibu lakukan bisa mengganggu mental juga perkembangan pasien dan itu bisa sangat berakibat fatal pada proses kesadarannya !" Kesal Arka namun masih terlihat tenang.
Mariah membisu, ia sadar seberapa besar kesalahan yang telah ia perbuat beberapa waktu yang lalu.
Melihat Mariah membisu, Arka tidak bisa menunggu lama dan segera melanjutkan pernyataannya.
"Keadaan Rangga saat ini jauh lebih baik dari sebelumnya." Ungkap Arka.
Mariah mengangkat wajahnya dengan perasaan haru bercampur tanya, ia menatap Arka menunggu pernyataan selanjutnya.
"Walaupun sebelumnya pasien telah mengalami pemberhentian detak jantung. Tapi keinginannya untuk bertahan hidup masih sangat tinggi hingga ia bisa melewati masa kritisnya dengan sangat baik." Jelas Arka
Mariah tidak bisa untuk tidak merasa sedih dan juga bersyukur. Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, menahan isak yang mendorongnya ingin keluar.
"Anggap saja ini sebuah mukzizat untuknya karna telah di berikan kehidupan yang ke dua.
Untuk pertama kalinya pasien telah mulai membuka matanya. Aku yakin, selama ini dia sudah merespon dengan sangat baik semua kasih sayang yang ibu berikan padanya." Jelasnya.
Mariah hanya bisa terus menangis bahagia.
Melihat hal itu membuat Arka merasa ibah dan segera pergi mengambilkan Mariah segelas air putih.
"Sebaiknya ibu minum dulu agar bisa tenang." Ucap Arka sembari menyodorkan segelas air.
"Terima kasih !" Ucap Mariah menahan isaknya.
Setelah meminum beberapa tegukan, Mariah meletakkan gelasnya dan dengan anggun melap mulutnya dengan sapu tangan miliknya.
"Jadi, apa ada kemungkinan anak saya akan segera siuman ?" Tanya Mariah.
"Ya ! tentu saja. kita hanya harus sedikit bersabar menunggunya." Tutur Arka.
Hanya itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini."Imbuhnya.
"Terima kasih Dokter !" Ucap Mariah kemudian beranjak dari duduknya.
"Ny.Mariah !"Panggil Arka.
"Ya ?" Jawab Mariah berbalik menatap Arka.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu ?" Tanya Arka sedikit sungkan.
"Apa itu ?"
"Apa.. Moura adalah putri Tn.Rangga ?" Tanya Arka.
Mariah menganggukkan kepalanya.
"Ya ! dia putri anakku,Ada apa kau menanyakan Moura ?" Jawab Mariah sedikit tersenyum.
"Owh, tidak. Hanya ingin tahu saja." Ucap Arka dengan senyum.
Mariah mengangguk kemudian tersenyum.
"Sebelumnya, aku minta maaf atas sikapku tadi. Seharusnya aku tidak bersikap begitu kasar pada perawat tadi." Ungkap Mariah masih merasa bersalah.
Bisakah kau menyampaikan perminta maafanku padanya ?!"
Arka menganggukkan kepalanya.
"Akan saya sampaikan !"
"Terima kasih, kalau begitu aku permisi dulu !" Ucap Mariah kemudian berbalik dengan pelan dan pergi.
Sebelum ia menutup kembali pintu ruangan tersebut, Mariah kembali menoleh dan mengatakan sesuatu.
"Sebenarnya Moura juga sering menanyakanmu padaku." Ucapnya dengan senyum. Lalu menutup pintu dengan pelan dan melangkah pergi.
Arka yang mendengar ucapan Mariah hanya terdiam di tempatnya, tatapannya terlihat kosong karna memikirkan sesuatu.