Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
Tak Tahan



Pip.. pip..


Satpam segera berlari membuka gerbang. Rani yang sedari tadi menunggu kepulangan Putrinya bergegas membuka pintu


Rena turun dari mobil bersama Rangga


"Rena pulang bund !" Ia mencium pipi Ibunya dan terus masuk menuju kamarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Rangga


"Tante, kalau begitu aku pamit dulu !" Sahut Rangga


"Oh, iya, terimakasih ya ? salam sama mamah kamu !"


Rangga hanya mengangguk senyum pada Rani dan berbalik pergi.


Setelah melihat kepergian Rangga, Rani bergegas menuju kamar putrinya, masih terlihat jelas wajah Rena yang sangat kesal. Perlahan Rani mendekatinya.


"Kamu kenapa sih ?!" Sambil mengusap rambut Rena


"Bunda, pokoknya aku tidak ingin di jodohkan dengannya !?" Pinta Rena merengek


"Loh, ko' tiba tiba mengatakan masalah itu sih ? apa kamu habis bertengkar lagi sama Rangga ?!" Tanya Rani


"Dia laki laki yang sangat menyebalkan bunda !!"


"Tapi, apa masalahnya ?!"


"Rena benci sama dia, pokoknya Rena tidak mau tau ya bund, Bunda harus menyudahi perjodohan ini !" Rena berbalik membelakangi Rani


"Hmmp, sekarang kamu cerita dulu sama bunda, apa masalahnya ? mengapa kamu sangat membencinya ? bukankah kalian baru saja menghabiskan waktu bersama ?! Tanya Rani dengan sabar menghadapi kemarahan putrinya


"Rena tidak ingin saja menghabiskan waktu bersama seseorang yang Rena tidak cinta ! buat apa hidup bersama, kalau tidak saling mencintai ?".Jelas Rena


"Memangnya kamu sudah tahu perasaan Rangga yang sebenarnya terhadapmu ?!" Tanya Rani memancing


"Ya, tadi dia jelas jelas mengatakan, kalau dia lebih suka bersama teman wanitanya itu dari pada bersamaku !" Rena cemberut


Rani kemudian tersenyum,sebenarnya ia sangat ingin tertawa lepas namun ia masih ingin menjaga perasaan putrinya.


"Apa kamu ingin mengatakan kalau kamu cemburu kalau Rangga lebih suka bersama teman wanitanya ?!" Rani menggoda putrinya


"Apaan sih Bund, buat apa aku cemburu ?!" Suara Rena sedikit meninggi


"Sayang, sini, lihat Bunda ! Sambil membalikkan badan putrinya


"Apa kamu tahu, perbedaan antara Cinta dan Benci itu sangat tipis !" Jelasnya


"Maksud Bunda ?!" Tanya Rena bingung


Rani tersenyum menatap putrinya, dia kini tahu kalau sebenarnya Rena mulai mencintai Rangga.


"Biar waktu yang mengajarkanmu sayang !"


Rena hanya terdiam merenungi perkataan Ibunya.


"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju terus tidur, besok kamu harus ke sekolah lagi."


Rena hanya mengangguk,Rani kemudian mengecup kening putrinya dan beranjak pergi meninggalkan Rena yang masih termenung.


"(Benci ? Cinta ? beda tipis ?! apa maksud bunda ?)"


Rena menyadarkan dirinya dan beranjak menuju kamar mandi membersihkan badannya,menggosok gigi,setelah semuanya selesai, ia kembali ke tempat tidur merebahkan dirinya dan mematikan lampu.


Mungkin karna terlalu lelah, dengan cepat ia tertidur dengan lelap.


•••


Rangga yang sudah membersihkan dirinya, duduk di sofa memegang ponselnya.Ia berniat menelfon Monica untuk meminta maaf


"(Mungkin lebih baik besok saja aku meminta maaf padanya,untuk saat ini,dia pasti sangat marah padaku !)"Gumamnya sambil meletakkan ponselnya di atas meja


Ia kemudian merebahkan dirinya di atas kasur dan hanyut dalam lamunan, mengingat kembali momen saat dirinya bersama Rena.


"(Apa dia cemburu pada monica ?! Kenapa dia harus marah saat aku mengatakan kalau aku lebih suka bersama Monica ?! Aaakh.. aku tidak bisa menebak fikirannya ! kalau dia cemburu, kenapa dia sangat membenciku ? Gadis yang menarik !)"


Tiba tiba ia mengingat tahi lalat kecil Rena yang membuatnya sangat tergoda, pikirannya terus menjalar kemudian ia mengingat setiap bagian tubuh Rena, entah itu Mata, Hidung, Bibir bahakan lekukan pinggangnya yang sangat seksi menurutnya. Aaakh ! pikirannya terus memperkosa dirinya. Ia kembali terfokus dengan tahi lalat kecil yang berada di garis lurus tulang rahang dekat telinga Rena.


"(Aaaaakh.. mengapa tahi lalat itu sangat menggodaku ?!)" Tiba tiba adik kecil Rangga berdiri dengan menunjuk angka satu


"(Sial !! bahkan dengan hanya mengingatnya membuat juniorku menegang seperti ini !)"


Apakah Onani jalan keluarnya ? entahlah !hanya Kamar yang remang yang menjadi saksi bisu,apa yang di lakukan Rangga pada juniornya pada malam itu.


•••


Pagi yang cerah,mungkin ini masih musim panas, akhir akhir ini tak pernah sekalipun turun hujan.


Di kediaman John Abelard


Ruang Dapur


"Mah, Rangga berangkat ya ?!" Rangga terlihat terburu buru


"Apa kau tidak sarapan dulu !" Tanya Mariah


"Di sekolah saja !" Rangga mencium pipih Ibunya


Setelah beberapa langkah, ia terhenti dan menoleh ke arah Ibunya


"Mah, salam dari tante Rani !!" Serunya, kemudian melanjutkan langkah kakinya


Mariah dan John hanya saling menatap dengan bingung


"Sejak kapan Rangga akrab dengan keluarga Jaya ?!" Tanya John pada Istrinya


"Entahlah, setahuku, semalam ia hanya bersama Monica !" Jelas Mariah


Mereka kemudian menyelesaikan sarapannya


"Mah, Papah juga berangkat !" John terlihat terburu buru setelah melihat jam yang ada di tangannya


Maria hanya geleng geleng kepala melihat Anak dan Suaminya


"Hmmmp Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya !" Umpatnya pelan


"Apa mamah baru saja mengumpat ?!" Tanya John mendekati Istrinya


"Ya, Kau dan Anakmu benar benar tidak jauh berbeda !"


"Dan mamah harus terus bersabar dengan itu" Senyum John sambil mengecup dahi Maria


"Sudah terlambat, papah berangkat sekarang !" Ia meraih jas dan kunci mobilnya lalu pergi


•••


Mariah yang tidak memiliki aktivitas di luar rumah hari ini, memilih membersihkan rumah, walau ada pembantu, tapi Mariah masih akan tetap mengerjakan pekerjaan rumah jika ia merasa tidak terlalu sibuk.


Ia menuju kamar Rangga,memperbaiki tatanan bantal dan seprei.


"Apa ini ?" Ia melihat seprie yang berwarna


"Emmmh.. !!!" Ia menutup hidungnya dan membuka seprei


"(Apa anak itu semalam mengalami mimpi basah ? atau, Hah !!)" Ia terkejut,matanya membola dengan menutup mulutnya


"(Apa sekarang dia mulai menonton film porno !?)


Dasar anak nakal !"


Maria segera mengganti dengan seprei yang baru dan membawa seprei sebelumnya ke ruang laundry.


•••


Di sekolah TUNAS BANGSA, baru saja berbunyi bel bertanda istirahat, Rena segera keluar mencari Arka, ia benar benar merasa bersalah tak bisa menghubunginya malam itu.


Rena mencoba bertanya ke beberapa siswa maupun sisiwi


"Apa kau melihat Arka ?!" Pertanyaan itu terus terlontar dari mulutnya


Namun tak satupun yang melihatnya


"Apa hari ini dia tidak masuk sekolah ?!" Ucapnya dengan suara lirih


Tiba tiba kedua sahabtanya memeluknya dari belakang mengejutkan lamunannya


"Hai Ren... !" Seru Tika


"Kamu cari siapa sih ? dari tadi aku perhatikan kamu mondar mandir menanyakan setiap siswa !" Lanjutnya sambil menatap Rena


Tika memang sosok gadis yang ceria,dia juga selalu spontan jika ingin mengatakan sesuatu, tanpa memikirkan perasaan orang yang ada di sekitarnya.


Rena hanya tersenyum pahit


"Apa kau mencari Arka !?" Anggi mencoba menebak


"He'emm !" Jawabnya, menatap Anggi penuh makna


"Mengapa kamu harus mencarinya ? tanpa kamu cari dia akan datang sendiri menemuimu !" Celetuk Tika


"Kali ini berbeda !" Jawab Rena serius


"Apa yang terjadi ?!" Anggi mencoba mencari tahu


"Ceritanya panjang ! aku tidak bisa memberitahumu saat ini, aku harus mencari Arka !" Tegas Rena


"Yah, padahal kita ingin mengajakmu ke kantin !" Seru Tika


"Jika aku sudah bertemu Arka, aku akan menyusul kalian !"


"Apa kau tahu sekarang Arka dimana ?" Tanya Anggi kembali


Rena hanya menggelengkan kepalanya


"Kau bisa mencarinya di atap sekolah !" Jelas Anggi


Tanpa bertanya ataupun curiga, Rena segera berlari menaiki anak tangga menuju atap sekolah.


Tika merasa bingung menatap Anggi penuh tanya


"Kamu tahu dari mana kalau Arka ada di atap sekolah ?"


"Tahu saja !" Jawab Anggi, tak menghiraikan Tika,ia melangkah pergi menuju kantin


Namun Tika tak pernah menyerah, dia benar benar penasaran kenapa Anggi bisa sangat tahu tentang Arka. Ia terus menyerempet pada Anggi.


"Gi, kasih tau aku, apa kau punya rahasia yang tidak ku ketahui ?"


"Kalaupun iya, aku tak akan pernah mengatakannya padamu !" Jawab Anggi


"Yaah, ko' gitu sih,kita kan teman !"


"Ehemmm, kita memang teman !" Jawab Anggi senyum mencoba mempermainkan Tika


"Lalu ? apa kau tidak percaya padaku ?!" Tanya Tika lebih serius


"Aku percaya padamu, hanya saja,aku tidak pernah percaya dengan mulut embermu itu !" Jawab Anggi terkekeh


Mereka duduk dengan meletakkan makanan mereka masing masing.


"Eh Btw apa yang terjadi pada Rena dan Arka ?" Tanya Tika kembali yang teringat akan Rena


"Hmmmp entahlah !" Anggi hanya mengangkat bahu seakan tak ingin tahu


"Apa menurutmu Rena kini juga menyukai Arka ?" Sambil mengaduk makanannya


"Jika memang benar, bagaimana dengan Rangga ?!" Mulut Tika memang tidak pernah mau diam


Ukhuk... Ukhuk.. !!


"Rangga, apa kau baik baik saja ?!" Tanya Monica yang sudah berbaikan dengan Rangga


Namun, sepertinya kali ini tenggorokan Rangga benar benar terasa gatal.Ia berdiri dan menuju kamar kecil.


Tika tidak menyadari kalau orang yang duduk di belakangnya adalah Rangga. Matanya terbuka lebar dan menutup mulutnya menatap Anggi yang sudah memelototinya.


"Apa kau tak bisa sedikit saja menutup mulutmu ?!" Bentak Anggi pelan


"Aku benar benar tidak sengaja !" Jawab Tika lirih merasa bersalah


Monica hanya menatap tajam ke arah Anggi dan Tika dan pergi menyusul Rangga.


Tok tok tok


"Rangga, apa kau baik baik saja ?" Tanya Monica cemas


Rangga yang masih sedikit batuk masih berdiri di depan cermin. Ia terlihat sangat marah mendengar percakapan kedua sahabat Rena. Rangga membuka pintu


Ceklek


"Apa sudah baikan ?!" Tanya kembali Monica


Rangga hanya menganggukkan kepalanya.


"Sepertinya kita harus ke dokter, meminta obat batuk untukmu ! Sejak tadi malam kamu batuk seperti ini." Sambil mengenggam tangan Rangga


Rangga hanya menatap Monica, Ia kasihan karna sudah mempermainkan sahabtnya sendiri.


Rangga sebenarnya batuk bukan karna dia sakit, dia hanya tersedak mendengar obrolan singkat kedua sahabat Rena, dan mengetahui fakta bahwa Rena lebih memilih Arka dari pada dirinya.