
"Ini bayaranmu ! jangan pernah menemuiku lagi, kecuali aku menghubungimu !" Ucap wanita itu sambil menyodorkan amplop kuning yang berisi uang
"Tentu saja, aku akan menunggu tugas selanjutnya !" Sambil mencium amplop itu kemudian segera melajukan motornya
Dan wanita itu terlihat puas dengan senyum liciknya.
•••
kelopak matanya mulai bergerak, retinanya seperti menangkap cahaya yang terang dari pantulan sinar matahari yang tengah menyambut paginya.
Ia perlahan membuka matanya, melihat kedua orang yang tengah memandangnya penuh kecemasan.
"Rena.. !" Sapa Rani dengan suara lirih
"Sssshh " Rena meringis kesakitan di bagian kepalanya
"Ada apa sayang ! jangan menakuti Bunda !" sahut Rani dengan panik
"Bunda, pelan pelan, jangan melemparinya banyak pertanyaan dulu !" Ucap Jaya menenangkan Istrinya
"Aku dimana ? dan... siapa kalian ?! tidak, aku siapa ?!" Lirih Rena dengan suara seraknya
"Tidak, Ayah.. apa yang terjadi !? mengapa Rena tidak mengenali kita ?" Rani memekik histeris ke arah suaminya.
"Dokter.. ! dokter.. !" Jaya berlari keluar ruangan memanggil dokter
Seorang dokter berlari menghampiri jaya, dia adalah dokter yang telah merawat dan memantau perkembangan kesehatan Rena.
"Apa yang terjadi !" Dengan nada panik
"Apa yang terjadi pada putriku ! mengapa dia tidak mengenal kami ?!" Tanya Jaya tak kalah cemas.
Dokter itu segera memeriksa keadaan Rena, dan menanyakan beberapa hal. Dokter itu juga terlihat bingung, menurutnya Rena baik baik saja, dan lukanya tidak terlalu serius yang membuatnya harus kehilangan ingatannya. Apa yang terjadi ?
"Bagaimana dok ! apa yang terjadi padanya ?!"
Dokter itu gugup, ia tak tahu harus berkata apa, dan terlebih yang di hadapinya bukan orang yang sembarang untuk di singgung.
Jaya tak bisa lagi mengontrol emosinya, ia segera menghampiri sang dokter dan menarik kerah seragam dokter tersebut.
"Cepat jelaskan ! apa yang terjadi pada putriku !"
"Pak Jaya, mohon tenang dulu ! biarkan aku memeriksanya sekali lagi !" Sahut Dr. Bima sedikit cemas
Rena mulai tersenyum menahan tawa, melihat tingkah ke dua orang tuanya. Jaya yang menyadari itu segera menghampiri Rena dan menatapnya, butuh beberapa saat hingga Jaya menggelitik putrinya.
"Kau mengerjai Ayah dan Bunda kan !"
"Hahahaaa ampun Yah, ampun !"
"Isssh dasar anak nakal !" Seru Rani dan mencubit paha Rena
"Aaaw.. !" Rena meringis kesakitan
Sedangkan Dr. Bima yang menyaksikan pemandangan itu hanya tersenyum lega menggelengkan kepalanya.
"Apa kau sudah pus telah menakuti Ayah dan Bunda ?!" Tegas Rani
"Hehee maaf ! sambil mengangkat kedua tangannya dengan memohon
Aku fikir, aku sudah berada di surga ! tidurku terasa damai !" Imbuhnya
"Rena, iiisss. Cubitan menyusul lagi
Jangan pernah mengatakan hal seperti itu !" Lanjutnya,kemudian memeluk haru putrinya.
Sebelumnya
Pada malam hari, Rena sudah tersadar dari tidurnya, malam itu terasa sangat sunyi, hanya ada lampu tidur yang dibiarkan tetap menyala.
Perlahan ia memalingkan wajahnya ke sisi sofa panjang yang berada di sudut ruangannya.Ia melihat ke dua orang tuanya telah tertidur lelap, terlihat dari raut wajah mereka yang penuh dengan penat dan lelah. dengan posisi Rani yang berada dalam rangkulan Ayahnya,Sedangkan Jaya menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kepala terangkat.
Pemandangan itu sangat manis menurut Rena.Ia tak ingin membangunkan orang yang sudah sangat mencemaskannya untuk sekian lamanya.
•••
"Pah, aku tak mendapatkan informasi apapun pada teman Rena !" Sahut Rangga sambil mendekati Ayahnya di ruang kerja
"Orang suruhan Papah sudah mengkonfirmasi, ini semua memang salahmu Rangga !" Sambil menatap tajam ke arah putranya
Rangga segera menjauh menutupi kedua pipinya. Ia takut akan mendapatkan tamparan lagi dari Ayahnya
"Apa maksud papah ! aku masih belum mengerti, mengapa papah masih menyalahkanku ?!" Sahut Rangga
"Dasar anak bodoh ! Ketus John
Saat di halaman kampus hari senin kemarin, kau bersama siapa ?" Tanya John
"Waktu itu, aku bersama Monica, kami mengambil jurusan yang sama, dan dia mengajakku untuk bersama mengambil formulir pendaftaran !" Jelas Rangga
"Hmmmp gadis itu sepertinya tidak sepolos pemikiranku !" Lirihnya
"Apa yang ayah katakan ?!" Tanya Rangga
Apa kau tau, Rena melihatmu pada waktu itu dan tiba tiba ada pengendara motor yang melaju ke arahnya, seandainya anak Dr.Ferdi tidak cepat menariknya, mungkin kecelakaannya akan lebih parah dari yang saat ini !" Jelasnya
"Apa ?! Jadi korban tabrak lari saat itu benar Rena ?!" Sahut Rangga dengan nada sedikit meninggi
"Apa maksudmu ? apa kau juga mengetahuinya ? lantas mengapa sampai sekarang kau masih berpura pura terlihat bodoh heh !" Ucap John dengan murka
"Tunggu dulu, bukan itu maksudku. Aku hanya mendengar seseorang berteriak memanggil nama Rena ! aku mencoba mencari tahu, tapi saat itu aku terlambat,sepertinya Arka lebih sigap membawa Rena ! dan aku fikir aku hanya salah mendengar karna terlalu memikirkannya ! aku tak pernah menyangka bahwa korban saat itu benar benar Rena !" Rangga mencoba menjelaskan, ia sangat takut menghadapi kemurkaan Ayahnya.
"Lantas, setelah itu, apa yang kau lakukan ?!" Tanya John
"Ya, aku melanjutkan langkahku bersama Monica !" Jawab Rangga lugas
Ia tak tahu, kalau darah Ayahnya sudah mendidih sedari tadi menahan emosi karna kekacauan yang ia buat.
"Setelah itu, apa kau tak mencoba menghubungi Rena ?!" Tanya John
"Tidak, aku sangat sibuk, bahkan untuk menjawab panggilan papah aku tak sempat ! dan Monica membutuhkan bantuanku !"
"Dasar anak berandal. John berdiri dari kursinya menatap tajam ke arah Rangga, ia tak tahu harus bebrbuat apa,ia ingin memukulnya, namun percuma saja.
Mengapa kau sangat bodoh !" Imbuhnya
"Pah, ini juga bukan sepenuhnya salahku ! bagaimana aku bisa tahu kalau Rena ada di situ !" Sahut Rangga sedikit takut,ia sudah mengambil posisi untuk lari ketika ayahnya akan memukulnya
John hanya menghela nafas dengan kasar
"Pergilah, sebelum Papah memeberimu pelajaran !"
Dengan sigap, Rangga segera berlalu meninggalkan ruang kerja milik Ayahnya.
•••
"Kau harus makan yang banyak !" Perintah Rani
"Bunda, tapi aku tidak ada nafsu untuk memakannya !" Rena dengan frustasi mengaduk buburnya
"Apa kau ingin terus berlama lama disini hah !"
"Berikan aku buah, untuk saat ini aku hanya ingin makan buah !" Seru Rena
"Baiklah, bunda membantumu mengupasnya dulu !"
"Ayah, bagaimana dengan pendaftaranku ?"
"Kau tenang saja, Ayah sudah mengurusnya, kau hanya perlu memperhatikan kesehatanmu saat ini !" Jawab Jaya sambil mengusap rambut Rena.
Entah mengapa ia merasa seperti kembali ke masa kecilnya, dimana kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang memanjakannya. Kemudian ia teringat pada seseorang
"Kenapa Rangga dan tante Mariah tidak pernah datang menjengukku ?!"
Raut wajah Jaya tiba tiba berubah mendengar kedua nama itu
"Jangan pernah menyebut nama itu lagi di hadapan Ayah !" Titahnya
"Loh, kenapa ?!" Rena masih terlihat bingung
"Apa kau belum menyadari kalau kecelakaanmu ini diakibatkan oleh dia !" Sahut Jaya
"Apa maksud Ayah ? ini semua hanya real kecelakaan Ayah ! tak ada sangkut pautnya dengan Rangga !" Jelas Rena
"Apa sekarang kau ingin membelanya ? bukankah kau sangat tidak menyukai Rangga ?! seharusnya, Ayah mendengarkan saja perkataanmu waktu itu !"
"Ayah, mengapa Ayah jadi membencinya ? bukankah selama ini Ayah yang memaksaku untuk menerima perjodohanku dengannya ?!"
"Ya, itu adalah kesalahan terbesar Ayah ! dan sekarang ayah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama !" Jelasnya
"Ayah.. tapi kini aku merindukannya, biarkan dia menemuiku !" Rengek Rena sambil menarik manja lengan Ayahnya
"Rena !! berhenti merengek seperti itu pada Ayahmu ! kau sangat tahu kelemahan Ayahmu ! tapi tidak untuk Bunda !" Seru Rani, ia masih terlihat sangat kesal jika mendengar nama Rangga
Bukankah, kau melihatnya sendiri dia di rangkul oleh wanita lain ?! mengapa kau masih ingin menemuinya ? bunda tak akan pernah setuju lagi !" Imbuhnya
"Ayah, Bunda, aku mengenal wanita itu ! dia adalah teman kecil Rangga, dan yang aku tahu, Rangga tak pernah menyimpan rasa padanya melainkan wanita itu yang terus menempel pada Rangga seperti permen karet. Wajah dan tingkahnya selalu terlihat manis bila di depan Rangga ! Jangan jauhkan aku pada Rangga,tapi jauhkan wanita itu dari Rangga !" Jelas Rena
"Kalau kau mengenalnya, mengapa kau bisa lalai dari pengendara liar ? bukankah saat itu kau cemburu melihat mereka berdua ?!" Tanya Jaya sedikit penasaran
"Cemburu ?! emm aku memang sedikit cemburu, tapi.. aku juga tidak pernah menyangka akan ada pengendara gila yang akan sengaja ingin menabrakku ! situasinya terlalu tiba tiba."
"Apa maksudmu, seperti kesengajaan ?!" Tanya Jaya
"Emm aku juga tak bisa berasumsi seperti itu. tapi, itu bisa jadi !" Jawab Rena
Jadi Ayah, bolehkan Rangga menemuiku ya ?!" Ia kembali merengek
Jaya dan Rani hanya saling menatap dan tertawa melihat tingkah putrinya. Sepertinya Benci yang besar berubah menjadi Cinta yang besar !
Yakinlah.. Cinta dan Benci itu hanya memiliki perbedaan yang sangat tipis.
Jangan pernah mencintai seseorang dengan berlebih, karna, entah sampai kapan engkau akan membencinya. dan jangan pernah membenci seseorang dengan berlebih, karana, entah kapan kau akan mencintainya !