Lost Love In Bloom Again

Lost Love In Bloom Again
•••



Rumah Sakit Anutapura.


Rena yang kini sudah mulai aktif kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang dokter.


Semua pasien yang ditinggalnya beberapa hari yang lalu merasa sangat senang dengan kehadiran Rena. walaupun dia seorang pemula, namun tidak mengubah fakta bahwa dia sangat di sukai oleh para pasien dengan kinerja yang baik dan keramahannya dalam melayani.


Hingga ia mendapat julukan sebagai dokter wanita terbaik di rumah sakit tersebut.


Membuat beberapa perawat dan dokter pemula sepertinya merasa iri dengan prestasi yang di dapatkan Rena saat ini.


Sama halnya dr.Cindy. Ia selalu merasa dirinya lebih baik dari Rena, sampai ia membuat gosip di kelompoknya bahwa dr.Rena bisa mendapatkan semua itu atas dukungan dr.Arka yang selama ini menjadi pusat perhatian kaum hawa di rumah sakit itu.


Ketika Arka berlari kecil mengejar Rena dari belakang, ia dengan cepat meraih tangan yang kini menjadi gadisnya itu. Membuat seseorang semakin kesal melihatnya.


"Apa kau tidak melihatnya ? setiap saat dia akan selalu menggoda dr.Arka." Ucapnya pada kedua wanita yang kini berdiri bersampingan dengannya.


"Tapi aku tidak melihat dr.Rena menggodanya." Jawab dr.Cesil.


"Ya, secara sekilas memang tidak terlihat. Tapi jika di perhatikan, dia tampak tersenyum manis jika dr.Arka memperlakukannya seperti itu. Tentu saja dia pasti sudah merencanakannya." Sirik Cindy.


Ia tidak tahu, kalau itulah perbedaan besar antara dirinya dengan Rena. Jika dirinya di penuhi ambisi dan kedengkian. Rena malah sebaliknya, Rena juga tidak pernah memilih-milih pasien seperti yang sering di lakukan dr.cindy.


"Aku juga bingung kenapa mereka terlihat sangat akrab ?! bahkan sejak dr.Rena baru bergabung di Rumah Sakit ini." Tanya dr.Lusi.


"Ya, lagian bukankah dia satu angkatan dengan kita ?"


"Dia memang seangkatan dengan kita, tapi umurnya dua tahun lebih tua dari kita. Bukankah itu membuktikan bahwa dia tidak pantas mendapatkan gelarnya saat ini ?" Ucap dr.Cindy.


Namun sesorang tiba-tiba saja datang untuk bergabung.


"Ekhem-ekhem.." Dehem dr.Rico memudarkan suasana.


Apa kalian belum mengetahui kisah mereka ?!"


Ketiga wanita itu refleks menatap tajam ke arah dr.Rico.


"Memangnya apa ? apa sebelumnya mereka memang sudah saling berhubungan."


Dr.Rico yang juga sebagai dokter junior di rumah sakit itu menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku tidak akan menceritakan pada kalian sebelum kalian bersedia mentraktirku makan."


"Aku berjanji !!" Ucap dr.Lusi bersemangat.


"Baiklah.. aku akan menceritakannya."


Sebelumnya dr.Arka dan dr.Rena pernah satu angkatan saat pertama kali masuk kuliah di Unsoed, bukan hanya itu mereka juga satu sekolah SMA yang sama.Namun setelah dr.Rena memutuskan untuk bertunangan dengan anak dari teman bisnis Ayahnya. Dr.Arka pindah ke AS dan melanjutkan studinya di Harvard." Jelas dr.Rico.


"Lalu, bagaimana dengan dr.Rena ?" Tanya dr.Lusi


Kalau saat itu dia sudah bertunangan, bukankah seharusnya saat ini dia sudah menikah ?" Imbuhnya.


"Saat itu dia memang akan menikah, namun di hari pernikahannya keluarga dr.Rena membatalkannya. Entah apa masalahnya, tidak ada yang tahu." Jawab dr.Rico.


"Dr.Rena akhirnya pindah ke AS dan beristirahat selama dua tahun kemudian kembali melanjutkan studinya di Harvard yang mana saat itu dr.Arka telah menjadi asisten dosen dan menjadi asisten termuda di fakultas tersebut.


Bukan hanya itu, yang aku dengar. Dr.Arka sendiri yang terus membimbing dr.Rena saat itu. Itulah mengapa mereka sangat dekat hingga saat ini." Tuturnya.


Jadi sebaiknya kalian berhenti bergosip dan merasa iri pada dr.Rena." Ucap dr.Rico mengingatkan.Kemudian pergi meninggalkan ketiga wanita tersebut.


"Apa kau percaya dengan apa yang dr.Rico katakan ?" Tanya dr.Cesil.


"Aku percaya.. !" Jawab dr.Lusi.kemudian memilih pergi.


Sedangkan dr.Cindy hanya terdiam bersedekap.


dr.Cesil yang melihatnya seperti itu segera pergi menyusul dr.Lusi.



Di ruang istirahat. Arka terus memandangi Rena yang saat itu tengah memeriksa beberapa laporan tentang pasien yang baru masuk.


"Apa kau tidak bosan terus memandangiku seperti itu ?!" Tanya Rena.


"Tidak..!" Jawab Arka dengan senyum.


"Hmmmp.. terserahmu lah.. !" Ucap Rena yang kini sudah menyelesaikan tugasnya.


Namun Arka langsung mencekalnya dan mendorongnya pelan hingga tubuh Rena mengenai dinding.


"Apa yang ingin kau lakukan ?" Tanya Rena yang kini berada dalam kungkungan Arka.


Arka tersenyum sembari memiringkan kepalanya.


"Mengapa hari ini kau selalu mencoba menghindariku ?"


"Tidak, aku tidak mencoba menghindarimu,aku hanya memiliki banyak pekerjaan." Ucap Rena mendalih.


"Benarkah ?" Tanya Arka dengan senyum jahilnya.


"Apa kau tahu konsekuensinya jika kau membohongiku ?" Imbuhnya.


"Apa ?!" Tanya Rena yang kini mulai berani menatap mata kekasihnya itu.


"Aku akan...


Dengan cepat Arka mencium singkat bibir yang kini telah resmi menjadi kekasihnya.


Mmmmucah..


"Apa kau gila ? bagaimana jika ada yang melihatnya ?" Ucap Rena setelah Arka melepaskan bibirnya.


"Memangnya kenapa ? bukankah sekarang kau telah menjadi kekasihku ?" Ucap Arka tersenyum tipis.


"Tapi tidak disini."


"Lalu dimana ?" Tanya Arka semakin jahil.


Rena terdiam karna malu.


("Apa aku baru saja memberinya arahan ?") Batinnya.


Tok.tok.tok


Ceklek


"Eh-Anggi.." Ucap Rena sedikit terkejut. Dan tentu saja refleks mendorong dada Arka sedikit menjauh.


"Eh-maaf, aku akan keluar." Ucap Angggi.


"Anggi.. !" Panggil Rena.


"Ya..!? " Jawab Anggi berbalik.


"Aku ingin mengatakan kalau sebenarnya aku dan Arka--" Rena tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Melihat hal itu membuat Arka bertindak dengan menggenggam tangan Rena dengan erat memperlihatkannya pada Anggi dan tersenyum.


Anggi tersenyum getir melihat hal itu. Namun ia merasa bahagia untuk sahabatnya.


"Selamat. sepertinya usaha dr.Arka tidak sia-sia." Ucapnya dengan senyum.


Kalau begitu, aku pergi dulu." Imbuhnya.


"Tapi kau baru saja masuk !" Ucap Rena.


"Eh-aku baru ingat kalau aku telah melupakan sesuatu." Jawab Anggi dan buru-buru untuk pergi.


Rena hanya bisa menatap kepergian sahabatnya itu. Lalu menatap tangan Arka yang menggenggamnya erat.


"Apa kau sengaja ?" Tanyanya menatap lelaki yang ada di sampingnya.


"Aku tahu kau tidak akan pernah bisa mengatakannya pada Anggi." Jelas Arka.


Dengan begini, dia pasti sudah mengerti tanpa kita mengatakan apa pun." Sembari mengangkat tangan mereka yang bertautan.


Rena tersenyum.


"Kau selalu mengerti dan membuatku merasa tenang !"


"Apa kau baru menyadarinya ?!"


Mereka berdua saling bertatapan dengan senyum kebahagiaan. Kemudian akhirnya pergi ke tempat kerja mereka masing-masing.